Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 24

Memuat...

"Memang lebih baik kita bersabar saja, jangan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan." Di saat bersamaan, tampak Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin menghampiri mereka sambil tersenyum.

"Ternyata kalian berada di sini!" ujar Tui Hun Lojin.

"Kalian sedang membicarakan apa?" "Membicarakan Beng Kiat dan Soat Lan," jawab Toan Wie Kie.

"Sudah lima tahun lebih mereka berdua ikut Tayli Lo Ceng, namun masih belum pulang." "Jadi kalian rindu kepada mereka?" tanya Lam Kiong hujin.

"Ya, Ibu." Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Kami pun sangat merindukan mereka, tapi kita harus tetap sabar menunggu," ujar Lam Kiong hujin.

"Tadi Pit Lian mengusulkan...." Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.

"Ke Gunung Thay San menemui mereka.

"Tidak mungkin." Tui Hun Lojin menggelengkan kepala.

"Sebab akan menggusarkan Hong Ya." "Karena itu, usul Pit Lian kami tolak," ujar Toan Wie Kie.

"Lebih baik tetap bersabar menunggu mereka pulang." "Begini...," ujar Tui Hun Lojin.

"Biar aku yang ke Gunung Thay San menemui mereka, sebab aku pun ingin ke markas pusat Kay Pang menemui Han Tiong." "Kalau begitu...," sela Lam Kiong hujin.

"Aku ikut, karena aku memang sudah rindu sekali kepada Soat Lan." "Baik." Tui Hun Lojin mengangguk.

"Setelah itu, kita ke mari bersama Beng Kiat dan Soat Lan." "Tapi Ibu harus berunding dulu dengan Hong Ya," ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Tentu." Lam Kiong hujin manggut-manggut sambil tersenyum.

"Tidak mungkin kami akan pergi secara diamdiam." "Kalau begitu, mari kita pergi menemui Hong Ya!" ajak Tui Hun Lojin sekaligus melangkah kedalam.

Lam Kiong hujin segera mengikutinya, sedangkan Lam Kiong Bie Liong, Toan Pit Lian, Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng cuma saling memandang.

Sementara Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin sud?h sampai di ruang tengah, kebetulan Toan Hong Ya sedang duduk di situ.

"Hong Ya!" Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin memberi hormat.

"Oh!" Toan Hong Ya tersenyum.

"Silakan duduk!" Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin duduk.

Toan Hong Ya memandang mereka seraya bertanya, "Ada sesuatu penting?" "Hong Ya!" Tui Hun Lojin memberitahukan.

"Kami sangat rindu kepada Beng Kiat dan Soat Lan, maka...

kami ingin ke Gunung Thay San menemui mereka." "Oooh!" Toang Hong Ya manggut-manggut.

"Baiklah!

Tolong sampaikan salamku kepada Tayli Lo Ceng!" "Ya, Hong Ya." Tui Hun Lojin mengangguk.

"Kapan kalian mau berangkat ke Tionggoan?" tanya Toan Hong Ya.

"Besok" jawab Lam Kiong hujin.

"Kalau begitu..." ujar Toang Hong Ya.

"Aku akan menyuruh pengawal menyediakan dua ekor kuda jempolan untuk kalian." "Terima kasih, Hong Ya!" ucap Lam Kiong hujin dan Tui Hun Lojin serentak, lalu meninggalkan ruangan itu dan kembali ketaman bunga.

"Bagaimana Ibu?" tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Hong Ya memperbolehkan ibu ke Gunung Thay San?" "Ya." Lam Kiong hujin tersenyum.

"Kapan Kakek berangkat?" tanya Gouw Sian Eng.

"Besok," Sahut Tui Hun Lojin.

"Kakek juga ingin ke markas pusat Kay Pang menemui ayahmu, karena sudah lama kakek tidak bertemu ayahmu." "Hati-hati Kakek!" pesan Gouw Sian Eng.

"Hati-hati Ibu!" pesan Lam Kiong Bie Liong.

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin tersenyum sambil manggut-manggut, kemudian Tui Hun Lojin berkata, "Kalian tidak usah mencemaskan kami, kami pasti kembali bersama Beng Kiat dan Soat Lan." Siapa pun tidak akan menyangka, bahwa kepergian Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin justru untuk selama-lamanya.

-oo0dw0oo- Tampak dua ekor kuda berlari kencang meninggalkan Tayli.

Penunggangnya adalah Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin, yang keduanya tampak berseri-seri.

"Lam Kiong hujin," ujar Tui Hun Lojin.

"Kita mampir dulu ke markas pusat Kay Pang, setelah itu barulah ke Gu?ung Thay San.

Bagaimana?" "Tidak apa-apa," Sahut Lam Kiong hujin.

"Sebab harus melewati daerah markas pusat Kay Pang, tidak ada salahnya kalau kita mampir dulu ke sana." "Lam Kiong hujin!" Tui Hun Lojin tertawa.

"Sudah lima tahun lebih kita tidak bertemu Beng Kiat dan Soat Lan, mereka pasti sudah besar." "Tentu." Lam Kiong hujin tersenyum.

"Kini mereka sudah remaja.

Jangan-jangan kita tidak akan mengenali mereka lagi." "Mungkin." Tui Hun Lojin tertawa gelak.

"Ha ha ha...!" Beberapa hari kemudian, mereka sudah memasuki daerah Tionggoan, maka kedua-duanya merasa gembira.

Ketika hari mulai sore, sampailah mereka disebuah lembah.

Tiba-tiba Tui Hun Lojin mengerutkan kening seraya berkata, "Lam Kiong hujin, kenapa perasaanku tidak enak" Mungkinkah akan terjadi sesuatu?" "Oh?" Lam Kiong hujin juga mengerutkan kening, dan kemudian mereka menghentikan kuda masing-masing.

"Heran!" gumam Tui Hun Lojin.

"Kenapa mendadak muncul perasaan yang tidak enak?" Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa yang sangat menyeramkan lalu melayang turun sosok bayangan kebijau.hjjauan.

"Siapa!

bentak Tui Hun Lojin sambil meloncat turun dan punggung kudanya.

Begitu pula Lam Kiong hujin.

"Hmm!" dengus orang yang baru muncul itu.

Orang itu mengenakan jubah bijau, mukanya berbentuk segi empat, bermata besar dan memancarkan sinar kehijau~hijauan.

"Engkau pasti Tui Hun Lojin!" Orang itu menunjuknya kemudian menunjuk Lam Kiong hujin.

"Dan engkau pasti Lam Kiong hujin!" "Benar!" Tui Hun Lojin mengangguk.

"Siapa engkau, kenapa menghadang perjalanan kami?" "He he he!" Orang itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Hari ini kalian berdua harus mampus!

Setelah kalian mampus, aku akan ke Kwan Gwa Siang Koay mencani Siang Koay dan Lak Kui!" "Beritahukan!" desak Tui Hun Lojin.

"Siapa engkau" Ada permusuhan apa di antara kita?" "Aku adalah Seng Hwee Sin Kun (Si Malaikat Api Suci), adik seperguruan Ang Bin Sat Sin (Algojo Muka Merah)!" Orang itu memberitahukan.

"Maka hari ini kalian harus mampus!" Tui Hun Lojin dan Lam Kiong bujin saling memandang, kelihatannya mereka berdua sudah siap bertarung dengan Seng Hwee Sin Kun.

"He he be?" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh dan mendadak sepasang telapak tangannya berubah kehijauhijauan, bahkan mengeluarkan hawa yang sangat panas.

"Lam Kiong hujin!" pesan Tui Hun Lojin.

"Kita harus berhati-hati!

Kita tidak membawa senjata, terpaksa melawannya dengan tangan kosong!" "He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh lagi, lalu mulai menyerang Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.

Mereka berdua segera berkelit dan balas menyerang dengan ilmu andalan masing-masing.

Terjadilah pertarungan sengit.

Kira-kira dua puluh jurus kemudian, Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mulai berada di bawah angin.

Betapa terkejutnya mereka berdua.

Sebab hawa pukulan pihak lawan membuat mereka terasa seperti terbakar, dan mereka sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apa itu.

"He he he!

He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa seram.

"Kini sudah waktunya kalian mampus!" Mendadak sepasang telapak tangan Seng Hwee Sin Kun tampak membara, dan ia langsung menyerang Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin.

Mereka berdua terpaksa menangkis, karena tiada kesempatan untuk berkelit.

"Aaaakh!

Aaakh!" Terdengar suara jeritan yang sangat menyayat hati.

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin terhuyung-huyung kemudian roboh dan nyawa mereka melayang seketika.

Sungguh mengerikan kematian mereka, sekujur badan mereka hangus seperti terbakar.

"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak, lalu melesat pergi dan masih tertawa.

Mayat Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin dibiarkan tergeletak di situ.

-oo0dw0oo0 Hening sekali suasana dimarkas pusat Kay Pang, para anggota semuanya diam dan tampak berduka pula.

Di ruang depan, tampak Lim Peng Hang, Gouw Hang Tiong dan empat pelindung hukum duduk di situ dengan kening berkerut-kerut.

Wajah Gouw Han Tiong pucat pias dan matanya agak membengkak.

"Saudara Gouw, jangan terlampau berduka!

Yang penting kita harus menyelidiki siapa pembunuh ayahmu dan Lam Kiong hujin." kata Lim Peng Hang sambil menatapnya.

"Aku yakin ayahku dan Lam Kiong hujin menuju kemari dan Tayli, tapi mereka berdua terbunuh di lembah itu.

Siapa pembunuh itu?" gumam Gouw Han Tiong "Sekujur badan mereka hangus, terkena semacam pukulan," ujar Lim Peng Hang.

"Kita tidak pernah mendengar ada ilmu pukulan seperti itu dalam rimba persilatan." "Itu adalah ilmu pukulan yang mengandung api," ujar salah seorang pelindung hukum.

"Dapat dibayangkan, betapa tingginya lweekang pembunuh itu!" "Benar." Lim Peng Hang manggut.-manggut.

"Mungkin aku juga tidak akan sanggup menyambut pukulan itu.

Heran" Kenapa bisa muncul ilmu pukulan seperti itu dalam rimba persilatan?" "Aaaah!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Aku tidak menyangka kalau ayahku dan Lam Kiong hujin akan mati begitu mengenaskan.

Kenapa mereka kemari.,.?" "Saudara Gouw," ujar Lim Peng Hang sungguh-sungguh.

"Kita harus menyuruh beberapa orang pergi menyelidiki pembunuh itu." "Kami berempat siap melaksanakan tugas itu, ketua," ujar salah seorang pelindung hukum.

"Kalian berempat tidak boleh meninggalkan markas pusat ini," sahut Lim Peng Hang.

"Lebih baik suruh beberapa orang anggota peringkat ketujuh untuk menyelidikinya!" "Ya, Ketua." "Saudara Gouw!" Lim Peng Hang menatapnya.

"Engkau punya rencana?" Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Bagaimana kalau begini...," usul Lim Peng Hang.

"Saudara berangkat ke Tayli memberitahukan kepada Siang Eng dan Lam Kiong Bie Liong, sedangkan aku berangkat ke Pulau Hong Hoang To memberitahukan kepada ayahku dan Tio Cie Hiong?" "Ngmm!" Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Aku memang harus ke Tayli memberitahukan kepada mereka." "Kalau begitu, kita berangkat besok pagi," ujar Lim Peng Hang.

"Baik." Gouw Han Tiong mengangguk.

"Si Hu Huat (Empat Pelindung Hukum)!" Lim Peng Hang memberi perintah.

"Kalian berempat tidak boleh meninggalkan markas, suruh beberapa anggota peringkat ketujub menyelidiki pembunuh itu!" "Kami terima perintah, Ketua," sahut keempat pelindung hukurn serentak sambil memberi hormat.

Keesokan harinya, Gouw Han Tiong berangkat ke Tayli dengan menunggang kuda, sedangkan Lim Peng Hang berangkat ke pulau Hong Hoang To.

Belasan hari kemudian, Lim Peng Hang sudah tiba di pulau tersebut.

Kedatangannya membuat Sam Gan Sin Kay, Tio Tay Seng dan lainnya terheran-heran, sebab wajah Lim Peng Hang tampak murung.

"Ayah!

Post a Comment