"Aku mau bergabung untuk main catur, kalian tidak berkeberatan, bukan?" "Tentu tidak," sahut Sam Gan Sin Kay.
"Pasti kami terima dengan dada terbuka." "Hi hi hi!" Mendadak Kou Hun Bijin tertawa geli.
"Eh?" Sam Gan Sin Kay heran.
"Bijin, kenapa engkau tertawa geli" Apa yang menggelikan?" "Barusan engkau bilang apa, pengemis bau?" sahut Kou Hun Bijin.
"Aku bilang...
pasti kami terima dengan dada terbuka," ujar Sam Gan Sin Kay.
"Kenapa?" "Dada terbuka" Jadi kalian ingin terima suamiku dengan dada terbuka?" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Eh" Itu..." Wajah Sam Gan Sin Kay langsung memerah.
"Itu cuma arti kiasan lho!" "Hi hi hi..." Kou Hun Bijin masih tertawa cekikikan.
"Oh ya!" Tio Tay Seng teringat sesuatu.
"Karena Goat Nio akan belajar di sini, maka kalianpun harus tinggal di sini." "Itu sudah pasti," sahut Kou Hun Bijin.
"Pulau Hong Hoang To ini sangat indah dan tenang, aku ingin menikmatinya." "Bagus, bagus!" Sambung Kim Siauw Suseng.
"Jadi aku juga bisa main catur dengan pengemis bau dan Tio Tocu!
Ha ha ha...!" -oo0dw0oo- Siang Koan Goat Nio berlatih bersama Lie Ai Ling.
Kelihatannya mereka sangat cocok, karena rnerek?
selalu bercanda ria di saat beristirahat.
"Goat Nio!" ujar Lie Ai Ling.
"Aku tidak menyangk?, ibumu s?dah berusia seratus tahun lebih.
Pada hal kelihatan baru berusia empat puluh?n, lagi pula ibumu cantik sekali." "Al Ling!" Siang Koan Goat Nio tersenyum.
"Kedua orang tuaku awet muda, maka tampak masih muda." "Engkau juga awet muda?" "T?ntu tidak, karena aku tidak pernah makan buah ajaib, yang membuat diriku awet muda" sahut Siang Koan Goat Nio.
"Oh ya, usia ibumu bar?
empat puluhan, namun...." "Tampak tua dan rambutnya pun mulai memutih, bukan?" "Aaaah!" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.
"Ibuku sungguh menderita, dia hidup dengan batin tertekan." "Ai Ling?" Siang Koan Goat Nio menatapnya lemb?t.
"Terus terang, aku tidak menyangka ayahmu..." "Tak punya perasaan dan nurani, bukan?" "Ya" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan, "Aku jadi takut kepada kaum lelaki.
Daripada punya suami seperti ayahmu, lebih balk tidak menikah." "Benar." Lie Ai Ling mengangguk . . . "Aku sependapat denganmu, tapi...
tidak semua lelaki seperti ayahku.
Misalnya paman Cie Hiong, dia begitu mencintai dan menyayangi anak isterinya." "Oh ya!" Mendadak wajab Siang Koan Goat Nio tampak agak memerah.
"Bagaimana sifat Tio Bun Yang?" "Dia adalah pemuda yang paling baik di dunia," sahut Lie Ai Ling memberitahukan.
"Lemah lembut, penuh pengertian dan berhati bajik pula." "Oh?" Wajah Siang Koan Goat Nio berseri.
"Ai Ling, kalian berdua besar bersama, tentunya saling...
mencintai, kan?" "Memang." Lie Ai Ling mengaugguk.
"Dia sangat menyayangi dan mencintaiku, begitu pula aku terhadapnya." "Oh, ya?" Wajah Siang Koan Goat Nio langsung berubah muram.
"Kalian kalian akan menikah kelak." "Apa"!" Lie Ai Ling terbelalak.
"Kami akan menikah kelak?" "Lho" Bukankah kalian sudah saling mencinta" Tentunya akan menikah kelak.
Ya, kan?" "Tidak mungkin." Lie Ai Ling tertawa geli.
"Kenapa?" Siang Koan Goat Nio tercengang.
"Karena..." Lie Ai Ling memberitahukan.
"Hubungan kami bagaikan saudara kandung, tentunya tidak akan menikah kelak.
Eeeh" Kelihatannya engkau sangat memperhatikan Kakak Bun Yang, jangan2 . . . ." "Aku...." Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.
"Oooh!" Lie Ai Ling tersenyum, "Ternyata engkau tertarik kepadanya.
Terus terang, Kakak Bun Yang tampan sekali.
kalau engkau melihatnya, pasti akan jatuh cinta." "Ai Ling Wajah Siang Koan Goat Nio memerah lagi.
"Jangan bicara yang bukan-bukan!" "Aku bicara sesungguhnya." Lie Ai Ling tampak serius.
"Sejak kecil kami selalu bersama, jadi aku tahu jelas bagaimana sifat, watak dan prilakunya.
Engkau cantik sekali, juga lemah lembut.
Maka...
kalian merupakan pasangan yang serasi "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio tertawa kecil "Aku belum bertemu dia, dia pun belum bertemu aku...." "Namun begitu bertemu, kalian pasti saling jatuh cinta," sahut Lie Ai Ling.
"Aku yakin itu." "Ai Ling," tanya Siang Koan Goat Nio setengah berbisik.
"Betulkah dia pandai sekali meniup suling?" "Betul" Lie Ai Ling mengangguk dan menambahkan, "Bahkan kepandaiannya pun sudah tinggi sekali" "Tapi" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Belum tentu dia ?k?n menaruh perhatian kepadaku." "Goat Nio!" Lie Al Ling tersenyum.
"Pokoknya aku siap membantu dalam hal ini.
Terus terang, aku tidak menghendaki dia jatuh cinta kepada gadis yang tak kusukai." "Kenapa begitu?" tanya Siang Koan Goat Nio.
"Sebab dia kakakku," sahut Lie Ai Ling sambil menatapnya.
"Aku menyukaimu, maka dia boleh jatuh cinta kepadamu." "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio tersenyum.
"Engkau harus ingat satu hal, itu ada baiknya bagimu." "Mengenai hal apa?" tanya Lie Ai Ling heran.
"Cinta jangan dipaksa, lagi pula harus tumbuh di kedua pihak." Siang Koan Goat Nio memberitahukan.
"Kalau cuma tumbuh sepihak, itu percuma." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.
"AkU mengerti, terima kasih atas petunjukmu!" "Ha ha ba!" Terdengar suara tawa, kemudian muncul Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin, TIo Cie Hiong dan Lim Ceng Im.
"Kenapa kalian tidak berlatih, malah terus mengobrol tak henti-hentinya?" "Ayah, Ibu, Paman, Bibi!" panggil Siang Koan Goat Nio.
Lie Ai Ling juga memanggil mereka sambil tertawa.
"Kami berdua sedang membicarakan sesuatu." Lie Ai Ling memberitahukan.
"Oh?" Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kalian mem- bicarakan apa" Bolehkah aku tahu?" "Itu...
mengenai kakak Bun Yang." Lie Ai Ling memberitahukan, Lalu menunjuk Siang Koan Goat Nio.
"Dia terus bertanya tentang Kakak Bun Yang." "Eh" Ai Ling!" Wajah gadis itu langsung memerah.
"Aku...." "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Bagus, bagus sekali!
Goat Nio memang harus tahu jelas mengenal Bun Yang.
Hi hi hi...!" "Ibu!" Siang Koan Goat Nio menundukkan wajahnya dalamdalam.
"Ai Ling," ujar Tio Cie Hiong.
"Engkau boleh memberitahukannya mengenai Bun Yang, tapi...
tidak boleh menambah bumbu.
"Paman!" Lie Ai Ling tersenyum.
"Ai Ling memberitahukan apa adanya, tidak dikurangi maupun ditambah.
Itu juga sudah cukup membuat Goat Nio tertarik.
Padahal Goat Nio belum melihat Kakak Bun Yang, apa lagi melihatnya...." "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio mencubit lengan gadis itu.
"Aduh!" jerit Lie Ai Ling sambil tertawa.
"Engkau jangan galak-galak terhadapku!
Nanti aku tidak mau membantumu, baru tahu rasa!" "Ha ha ha!" Kim Siauw Suseng tertawa gelak.
"Ai Ling, biar bagaimana pun engkau harus membantunya.
Sebab...
dia sudah tertarik kepada Bun Yang." "Ayah!" Siang Koan Goat Nio cemberut.
"Eeeeh?" Kou Hun Bijin terbelalak.
"Tak kusangka anakku sudah bisa cemberut, itu pertanda ada kemajuan!
Hi hi hi!" "Ibu...." Slang Koan Goat Nio membanting-banting kaki.
"Wuah!" Kim Slauw Suseng tertawa terbahak-bahak.
"Bertambah maju lagi sekarang, karena sudah bisa membanting-banting kaki!" "Ayah...." Siang Koan Goat Nio betut-betul salah tingkah digoda kedua orang tuanya.
"Goat Nio!" Lim Ceng Im tersenyum lembut sambil mendekatinya, kemudian tanyanya berbisik, "Betulkah engkau tertarik kepada Bun Yang?" "Maaf, Bibi!" jawab Siang Koan Goat Nio dengan suara rendah.
"Goat Nio tidak berani memastikan, sebab...
belum bertemu dia." "Menurut bibi...." Lim Ceng Im tersenyum lagi.
"Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi." "Bibi...." Wajah Siang Koan Goat Nio memerah.
"Jangan bisik-bisik!" ujar Kou Hun Bijin.
"Kami tidak dengar nih." "Itu tidak apa-apa," sahut Kim Siauw Suseng sambil tertawa.
"Mereka memang harus ada pendekatan." "Adik kecil!" Kou Hun Bijin menatapnya.
"Bagaimana menurutmu, putriku cocok dengan putramu?" "Menurutku, mereka memang cocok," ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Tapi itu juga tergantung pada mereka, sebab mereka belum bertatap muka." "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa.
"Aku senang sekali, apabila putriku berjodoh dengan putramu." katanya blakblakan.
"Aku pun senang sekali," sambung Kim Siauw Suseng.
"Sama," ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Mereka memiliki sifat yang sesuai, lemah lembut dan serasi pula." "Ngmm!" Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Oh ya, kapan putramu pulang?" "Entahlah." Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Mungkin...
dua tahun lagi, sebab dia berlatih lweekang di Gunung Thian San!" "Kalau begitu...," ujar Kou Hun Bijin sungguh-sungguh.
"Kami akan tinggal di sini dua tahun." "Asyiiik!" seru Kim Siauw Suseng girang.
"Lho?" Kou Hun Bijin mengerutkan kening.
"Kok engkau yang asyik?" "Karena aku bisa terus main catur dengan pengemis bau dan Tio Tocu.
Nah, bukankah itu asyik sekali?" sahut Kim Siauw Suseng sambil tertawa.
"Ha ha ha!" -oo0dw0oo- Bagian Ke Sepuluh Dibunuh orang misterius Sudah lima tahun lebih Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan ikut Tayli Lo Ceng.
Maka tidak heran kalau Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng rindu sekali kepada putra mereka.
Begitu pula Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian, mereka pun rindu sekali kepada Lam Kiong Soat Lan, putri mereka itu.
"Sudah lima tahun lebih, kenapa mereka masih belum pulang?" keluh Toan Wie Kie sambil menggeleng~ge1engkan kepala.
Mereka berempat duduk dekat taman bunga.
Wajah mereka tampak muram memikirkan Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.
"Mungkin mereka belum berhasil menguasai ilmu-ilmu yang diwariskan Tayli Lo Ceng," tukas Gouw Sian Eng.
"Itu memang mungkin." Toan Wie Kie manggut-manggut.
"Biar bagaimana pun...," ujar Lam Kiong Bie Liong.
"Kita harus tetap bersabar, mungkin tidak lama lagi mereka akan pulang." "Bagaimana kalau kita ke Gunung Thay San menemui mereka?" tanya Toan Pit Lian mendadak seakan mengusulkan.
"Tidak mungkin." Toan Wie Kie menggelengkan kepala.
"Lagi pula ayah tidak akan mengijinkan kita pergi ke sana." "Benar." Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Lebih baik terus bersabar menunggu saja." "Tapi...." Toan Pit Lian menghela nafas panjang.
"Aku sudah rindu sekali kepada Soat Lan." "Kami pun rindu sekali kepada Beng Kiat," ujar Gouw Sian Eng.
"Namun kita tidak boleh kesana menemui mereka, karena ayah pasti gusar." "Betul." Toan Wie Kie mengangguk.