ampunilah jiwaku!!" "Bangunlah!" kata Eng Song waktu dia melihat lelaki ini sesambatan.
"Aku mengampuni jiwamu, karena kulihat engkau bukan sebangsa manusia jahat! Tadi saja engkau masih bisa menganjurkan aku agar meninggalkan tempat ini, hal itu membuktikan hatimu tidak terlalu jahat jahat amat! Tetapi sejak sekarang, kau harus merobah cara hidupmu, tidak boleh meneruskan pekerjaan jahatmu ini! Kau harus hidup baik-baik....!" "Baik Kiehiap....
aku akan mengingat seluruh perkataan Kiehiap!" kata lelaki itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dalam berlututnya itu.
"Nah pergilah....." kata Eng Song.
Setelah mengucapkan terima kasih, lelaki itu telah pergi dengan cepat.
Eng Song pun telah meninggalkan tempat itu, sedangkan mayat orang tua yang ganas itu menggeletak diatas tanah dan diatas batu gunung tampak bentuk tubuhnya tercetak dalam sekali.....
190 Kolektor E-Book ? ? ooo O ooo ? ? ????????? 16 ????????? PERKAMPUNGAN Su-san-cung merupakan sebuah perkampungan yang sangat besar dan ramai, padat penduduknya.
Dan juga merupakan kampung yang mirip-mirip sebuah kota, disebabkan bangunannya yang sangat besar-besar dan megah-megah.
Di samping itu, perkampungan Su-san-cung ini memiliki empat buah rumah makan yang sangat besar-besar dan juga sangat mewah, selalu ramai dikunjungi oleh tamu-tamunya.
Di antara keramaian yang ada itu, tampak jelas sekali tamu-tamu dari berbagai golongan yang manghadiri rumah-rumah makan tersebut.
Salah satu rumah makan yang paling ramai dikunjungi pengunjungnya adalah rumah makan Pha-song-tiam.
Rumah makan ini memiliki bangunan dua tingkat dan selalu meja-meja penuh terisi tamu yang datang untuk bersantap, maka dengan sendirinya, mau tidak mau hal itu telah membuat segalanya diliputi kesibukan yang sangat.
Belasan orang pelayan juga telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Meraka telah melayani para tamu dengan gesit dan ramah sekali.
Tetapi di antara keramaian yang ada tiba-tiba telah terjadi suatu peristiwa dirumah makan ini.
Karena disaat itu terdengar suara bokhie diketuk berirama dan rumah makan ini telah didatangi oleh seorang hweshio yang bertubuh gemuk pendek.
Ditangannya tampak teecekal sebuah bokhie yang diketuk-ketuknya tidak hentinya.
Dia telah memukul-mukul bokhie itu dengan berirama.
Dan juga segera terlihat betapa hweshio tersebut telah duduk melintang menghadang dimuka pintu.
Tentu saja hal ini membuat panik orang-orang didalam rumah makan itu.
Tamu-tamu yang ingin keluar atau datang tidak dapat melalui pintu itu.
Dan dengan sendirinya, telah menyebabkan keadaan jadi ribut sekali.
Namun hweshio tersebut seperti sengaja tidak mengacuhkan dan tidak memperdulikan keadaan yang mulai ribut itu, dia telah terus juga memukuli bokhie ditangannya dengan berirama.
Seorang pelayan yang bertubuh tinggi besar telah menghampirinya.
"Taysu....
mengapa kau duduk melintang dipintu, bukankah itu akan mengganggu orang orang yang ingin keluar dan masuk kemari!" tegur si pelayan.
"Aku meminta derma!!" kata si hweshio menyahut dengan suara yang dingin.
Dan tangannya terus juga memukuli bokhie ditangannya itu.
191 Kolektor E-Book Si pelayan tampak mendongkol bukan main.
"Jika ingin meminta derma bukan dengan cara demikian......
cepat Taysu berlalu!" katanya dengan suara yang garang.
Tetapi hweshio itu seperti tidak meladeninya, dia terus juga memukuli bokhie ditangannya.
"Kalau memang Taysu tidak mau pergi, biarlah aku akan melemparkan kau dari tempat ini!" "Hemmm....
aku meminta derma!!" kata si hweshio, terus juga memukuli bokhie.
Tentu saja si pelayan tambah mendongkol, tampaknya dia gusar sekali.
Tetapi disaat itu tampak kasir rumah makan tersebut telah keluar dan membawa lima tail, diberikan pada hweshio itu.
"Kami memberikan derma ini kepada Taysu dan kami minta agar Taysu jangan mengganggu kami dengan kelakuan Taysu yang menghadang dipintu seperti itu." Si hweshio telah melirik kearah uang yang diangsurkan padanya.
Dan dia telah berkata sambil memejamkan matanya lagi : "Lolap meminta derma sebesar lima ratus tail!" "Apa?" berseru si kasir dengan suara yang keras saking terkejutnya.
"Lolap meminta derma lima ratus tail!" "Mana mungkin itu!?" berteriak si kasir.
Si hweshio sudah tidak mau mengacuhkannya lagi, dia telah memukuli terus bokhie.
Tentu saja hal ini telah membuat pelayan dan si kasir jadi gusar.
Dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali : "Hemmm.....
jika memang demikian, kami bisa mengambil tindakan kekerasan, jika kau tidak mau menggelinding pergi!!" kata si pelayan yang bertubuh tinggi besar itu.
Tetapi si hweshio tidak juga mengacuhkannya, dia telah memukul terus bokhie ditangannya.
Si pelayan telah habis sabarnya, dia mengulurkan tangannya mau menjambak jubah si pendeta untuk melemparkan pendeta itu keluar.
Namun ketika tangannya terulur, dan disaat dia belum sempat menjambak, tiba-tiba si hweshio telah menggerakkan tangannya.
Gerakan yang dilakukannya itu bukan main cepatnya, dia telah menyampok.
Dan.....
luar biasa sekali, tubuh si pelayan yang tinggi besar telah terlantarkan, ambruk menimpah sebuah meja.
Keras bukan main! "Bukkkk!" mangkok-mangkok telah bertumpahan, dan dua orang tamu yang lengah bersantap di meja itu tentu saja jadi terkejut.
Mereka telah melompat berdiri sambil memaki-maki dan telah memandang mendelik pada si pelayan.
Peristiwa ini telah mengejutkan si kasir rumah makan itu.
192 Kolektor E-Book Sedangkan si hweshio tetap saja duduk dimuka pintu memukuli bokhie.
Dia terus juga tidak mengacuhkan keadaan didalam rumah makan yang mulai panik.
Pelayan yang bertubuh tinggi besar itu tampaknya gusar sekali, berdiri dengan muka yang bengis.
Empat orang pelayan telah maju untuk membantuinya mengurung si hweshio.
Mereka telah menerjang untuk memukuli pendeta itu, namun dengan sekali menggerakkan tangannya, kembali keempat pelayan itu telah dapat dibikin terjungkel balik dengan keras.
Tubuh si pelayan tampak berlumuran darah, karena mereka telah terbanting dengan keras.
Seketika itu juga keadaan jadi kacau balau dan panik.
Dan disaat itu, terlihat jelas sekali, betapa beberapa orang pelayan lainnya yang dengan gusar telah meluruk akan melancarkan serangan.
Namun kenyataannya mereka telah kena dirubuhkan juga oleh si hweshio.
Dan malah salah seorang pelayan, yang tadi bertubuh besar dan tegap itu, yang telah kena dirubuhkan oleh si pendeta dengan nekat telah menerjang dan melancarkan serangan pula.
Tetapi kali ini si hweshio telah mengayunkan tanganya.
"Plakk!" kepalanya kena ditepuk.
Kontan kepala pelayan itu hancur berantakan, dengan sendirinya telah menyebabkan tubuh pelayan itu jadi terjungkel rubuh.
Dan tidak bergerak lagi menggeletak tidak bergerak sedikitpun juga.
Dengan sendirinya, tidak ada pelayan lainnya yang berani maju ketika melihat pelayan yang seorang itu telah binasa.
Dan si kasir rumah makan juga jadi panik ketakutan sendirinya.
Dia telah menghampiri si hweshio.
"Taysu, jangan membalikkan mangkok nasi kami! Baiklah kami akan memberikan derma seratus tail!" kata si kasir kemudian.
"Hemmmmmm....
limaratus tail!" kata si pendeta.
"Dan bukan limaratus tail perak, tetapi limaratus tail emas!" "Hah?" muka si kasir rumah makan jadi berobah seketika itu juga.
"Lima......
limaratus tail emas?" tanyanya dengan suara tergetar.
"Ya..........
lima ratus tail emas......!" kata si hweshio dengan suara yang keras.
"Mana......
mana mungkin itu? Kami dari mana uang sebanyak itu?" "Hemmmm.......
kalau memang kau memberikan limaratus tail emas, aku akan angkat kaki........!!" katanya kemudian.
"Tentu saja hal itu tidak mungkin Taysu.....
karena kami mana memiliki uang sebanyak itu!" Tetapi betum lagi si kasir menyelesaikan perkataannya, si hweshio telah menggerakkan tangannya.
"Wutttt......!" keras bukan main tubuh si kasir telah dilontarkannya.
193 Kolektor E-Book Tentu saja si kasir jadi ngeri bukan main, dia sampai mengeluarkan suara seruan keras.
Dan tubuhnya telah terbanting dilantai.
Si hweshio telah memukuli bokhie itu pula, dan dia tampaknya tenang sekali.
Karena pendeta ini duduk melintang dimuka pintu, dengan sendirinya orang yang telah menjadi panik itu tidak bisa untuk keluar atau masuk.
Saat itu, disudut ruangan itu, disebuah meja, duduk seorang pemuda yang berpakaian serba putih.
Dia telah menyaksikan kejadian ini.
Dengan tenang, pemuda ini waktu merasakan segalanya telah cukup, dia bangkit, menghampiri si hweshio.
"Taysu, jangan bersikap begitu....
jika memang engkau ingin meminta derma, mintalah secara baik-baik...." katanya sabar.
Si pendeta membuka matanya, dia melihat yang menegur dirinya seorang pemuda berpakaian putih.
Dia mendengus.
Dan tidak mengacuhkan pemuda itu, si pendeta telah memejamkan matanya.
"Taysu....." panggil pemuda ini yang jadi hilang kesabarannya.
"Jika Taysu tidak mau menyudahi segalanya ini, biarlah aku yang mengambil tindakan untuk meminta Taysu meninggalkan tempat ini!" Mendengar perkataan pemuda itu, si hweshio jadi membuka matanya.
Dia telah memandang tajam pada pemuda itu, tanpa mengatakan suatu apapun juga.
Hanya tangannya yang terus juga memukuli bokhie.
Pemuda berbaju putih itu telah tersenyum dingin, dia telah berkata lagi : "Terpaksa aku harus melemparkan hweshio jahat seperti kau ini ketengah jalan!" Muka si hweshio merah padam, tampaknya dia gusar sekali.
"Siapa kau hei bocah ingusan?" bentaknya.
"Aku she Ma dan bernama Eng Song!" "Hemmmmmm....
kalau memang kau ingin main dengan lolap, silahkan!" kata si pendeta dengan suara yang dingin, kemudian dia telah memejamkan matanya lagi sedangkan kedua tangannya terus juga memukuli bokhie.
Pemuda yang berbaju putih itu, yang tidak lain dari Ma Eng Song, telah tertawa dingin.
"Hemmm...
rupanya Taysu memang keterlaluan sekali!" katanya.
Dan membarengi dengan perkataannya dia mengulurkan tangannya.
Namun belum lagi Ma Eng Song sempat mencekal baju pendeta itu, si hweshio telah menggerakkan tangannya.
Maksud si pendeta ingin menyampok seperti apa yang dilakukannya terhadap si pelayan.
Namun Eng Song lain dengan pelayan itu, maka waktu itu dengan memutar tangannya, dia telah meloloskan diri dari sampokannya dan dapat mencekal baju si hweshio.
"Pergilah!" Dibarengi deagan bentakan Eng Song, tubuh si hwesbio yang tinggi besar itu telah berhasil dilontarkan ketengah jalan.
194 Kolektor E-Book Jatuh ambruk dijalanan, sehingga si hweshio merasakan kesakitan bukan main.
Tentu saja hal ini telah membuat si hweshio telah murka bukan main.