Dia menyangka hantu itu mentertawai dirinya disebabkan dia telah bertanya apakah kedua hantu ini manusia atau memang hantu.
Dan tentu saja hantu-hantu tersebut jadi merasa lucu dan telah tertawa geli begitu.
Disaat itulah, dengan cepat sekali, tampak si hantu hitam telah menyahuti : "Tentu saja kami manusia biasa...
sama seperti kau!" katanya.
"Hah?" Eng Song jadi kaget sekali.
"Kau...
kalian manusia biasa?!" Kedua hantu itu telah menganggukkan kepala mereka dengan cepat.
"Tepat! Memang kami ini manusia biasa." "Tetapi...." "Kenapa?" "Mengapa kalian bisa terbang?" "Terbang?" "Ya, tadi waktu kau bertempur, telah saling terbang begitu ringan!" 144 Kolektor E-Book Mendengar perkataan Eng Song yang terakhir ini, kedua hantu, atau tepat nya memang kedua manusia biasa yang bergelar Hek Pek Siang-sat itu, telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang geli.
"Kami bukannya terbang, namun disebabkan Gingkang (ilmu meringankan tubuh) kami memang telah sempurna, dengan sendirinya kami dapat bergerak ringan dan sekehendak hati kami belaka.........!!" "Oh begitu?" Eng Song setengah mempercayainya.
"Masih tidak percaya?" "Tetapi.....
mengapa tadi kau telah keluar dari peti mati itu....! Jika memang engkau sugguh-sungguh seorang manusia, tentu tidak nantinya mau tidur didalam peti mati seperti itu!" Kembali hantu hitam telah tertawa dengan suara yang tawar.
"Kami memiliki persoalan yang sangat panjang sekali jika hendak diceritakanya maka dari itu, mau tidak mau memang kami harus dapat untuk menyembunyikan ?? SEBAGIAN TEKS TELAH HILANG ?? Tecu telah bersumpah untuk taat pada setiap perintah dari jiwi suhu!" Hek Pek Siang-sat tampaknya girang mendengar sumpah dari si bocah.
"Bagus! Bagus! Cuma saja sumpahmu itu terlalu berat sekali! Sudahlah! Mari kau ikut dengan kami! " kata Hek Pek Siang-sat.
Maka mulai saat itu, memang Ma Eng Song telah menjadi murid kedua orang yang mirip mirip hantu itu.
Sesungguhnya Hek Pek Siang-sat merupakan dua orang jago yang luar biasa sekali.
Mereka memiliki kepandaian yang bukan main tingginya dan juga merupakan dua orang jago yang memiliki kepandaian yang tidak ada tandingannya.
Setiap mereka terjun kedalam rimba persilatan, Hek Pek Siang-sat merupakan pasangan suami isteri yang ditakuti penjahat.
Namun naas, pada suatu hari, dimalam hari yang sunyi, Hek Pek Siang-sat telah menciptakan semacam obat.
Yaitu obat untuk mempercantik diri selamanya, secara abadi.
Namun apa lacur, justeru disebabkan kelebihan semacam ramuan, maka ketika Hek Pek Siang-sat telah mempergunakan obat itu, justeru muka mereka telah berobah buruk sekali, dengan daging-daging muka mereka yang telah lumer dan membuat muka mereka itu bagaikan muka hantu.
Tentu saja kedua pendekar ini jadi merasa malu.
Namun jika sang suami disebabkan oleh seorang lelaki, masih suka keluyuran, tetapi si Hitam itu, yang telah jadi buruk, sebagai seorang wanita jelas merasa rendah diri.
Dia sengaja telah bersembunyi didalam sebuah peti mati tidak mau berjumpa dengan orang.
Dan urusan ini tentu saja merupakan pertentangan yang tidak ada habisnya diantara pasangan suami isteri tersebut.
Akhirnya mereka jadi sering bentrok dan satu dengan yang lainnya sering kali bertandin.
Namun tidak ada kesudahannya, sebab kepandaian mereka berimbang.
Dengan sendirinya semakin lama hal ini membuat si isteri yang memang telah tergempur jiwanya disebabkan mukanya yang telah rusak, tambah penasaran.
Cepat sekali mereka berjanji untuk melakukan pertandingan pula.
Dan kebiasaan bertanding seperti itu telah dilakukannya berulang kali.
145 Kolektor E-Book Namun tetap saja mereka berimbang.
Dan terakhir kalinya, memang kebetulan sekali Eng Song telah berteduh dikuil rusak tersebut, sehingga Ma Eng Song dapat menyaksikan pertandingan yang tengah berlangsung antara Hek Pek Siang-sat.
Siapa nyana, nasib Eng Song rupanya mulai baik, karena tanpa diduga-duga, pasangan suami isteri yang kosen ini telah menaruh simpati padanya dan juga telah mengangkatnya menjadi murid dari kedua orang tersebut.
Sejak hari itulah, Eng Song telah menerima didikan dari pasangan suami isteri Hek-pek Siang-sat, sehingga didalam waktu, yang sangat singkat sekali, Eng Song telah memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.
Apa lagi memang Eng Song memiliki kecerdasan yang bukan main, dengan sendirinya pula setiap pelajaran yang diturunkan oleh kedua gurunya itu dapat diterimanya dengan mudah.
Dia telah mempelajari, seluruh ilmu yang diturunkan oleh sepasang suami isteri tersebut.
Sesungguhnya kepandaian Hek Pek Siang-sat masing-masing telah tinggi bukan main.
Apa lagi sekarang, dikala kepandaian mereka telah digabung menjadi satu dan diolah agar Eng Song dapat menggabungkannya.
Dengan sendirinya, ilmu yang dimiliki oleh Eng Song jadi jauh lebih hebat.
Dua macam kepandaian yang luar biasa dari pasangan suami isteri itu telah dilebur menjadi satu dan merupakan kepandaian yang sulit diukur sampai dimana kehebatannya.....
Hari demi hari telah lewat dan juga bulan demi bulan telah berlalu.
Tanpa terasa, Eng Song telah dididik selama tujuh tahun oleh kedua gurunya.
Dengan pesat Eng Song telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan memiliki kepandaian yang luar biasa.
Mungkin sulit mencari duanya kepandaian setinggi yang di miliki Eng Song........
? ? ooo O ooo ? ? ????????? 11 ????????? SEEKOR kuda tampak berlari perlahan-lahan dilereng pegunungan Po-ling-san.
Yang menunggangi kuda itu adalah seorang pemuda yang berusia diantara sembilan belas tahun, tuhuhnya tegap, wajahnya tampan dan juga dia begitu tenang, disamping sepasang matanya yang bersinar.
Ternyata pemuda tampan tersebut tidak lain dari Ma Eng Song, yang telah menjelang dewasa.
Ma Eng Song yang sekarang berbeda dengan Eng Song tujuh tahun yang lampau.
Karena Ma Eng Song sekarang telah memiliki kepandaian yang bukan main.
Dan dia juga memiliki kepandaian yang sangat tangguh sekali.
146 Kolektor E-Book Disamping itu, memang Ma Eng Song juga merupakan seorang pemuda yang telah berhasil menerima seluruh kepandaian yang diwariskan gurunya, yaitu Hek Pek Siang-sat, pasangan suami isteri yang kosen itu.
Cepat sekali Ma Eng Song telah menjadi seorang pemuda yang tangguh.
Dan dia telah diperintahkan oleh gurunya untuk turun gunung guna melakukan pekerjaan mulia menolongi si lemah memberantas si jahat.
Hal ini disebabkan Hek Pek Siang-sat telah melihatnya bahwa kepandaian yang dimiliki oleh Eng Song telah sempurna.
Eng Song girang bukan main, bercampur perasaan berduka harus berpisah dengan kedua orang gurunya yang baik hati itu.
Girang, karena dengan memiliki kepandaian yang demikian tinggi, tentunya ia bisa mencari pembunuh Ang Sam Kay.
Urusan Ong Peng Hin telah dianggapnya selesai, karena gurunya telah menyelidikinya, betapa waktu penyerbuan ke Gobie Pay oleh Ong Peng Hin dan orang-orangnya, Ong Peng Hin sendiri ternyata telah terbinasa.
Maka sekarang tugas Eng Song hanyalah mencari jejak dari pembunuh Ang Sam Kay.
Dan ciri dari pembunuh Ang Sam Kay itu telah diketahuinya, yaitu memiliki hanya empat jari belaka di tangan kirinya, karena jari kelingkingnya telah kutung.
Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini memang kenyataannya tugas Eng Song cukup berat, dia harus mencari jejak pembunuh itu.
Didalam waktu yang sekejap mata saja, memang Eng Song telah berkelana dibeberapa kota, dan hari ini dia baru tiba di gunung Po-ling-san.
Saat itu udara sangat cerah dan pemandangan di Po-ling-san memang sangat indah sekali.
Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini telah membuat pemuda tersebut menikmati pemandangan yang ada disekelilingnya.
?? SEBAGIAN TEKS TELAH HILANG ?? Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini memang terlihat jelas sekali, betapa diantara berkesiuran angin serangan itu, mata golok telah terjepit oleh kedua telapak tangan Eng Song.
Dan golok itu tidak bisa meluncur turun lebih jauh.
Orang yang melancarkan serangan membokong itu jadi terkejut bukan main.
Saking kagetnya orang itu sampai mengeluarkan suara seruan kaget.
Dia berusaha untuk menarik pulang goloknya, namun dia gagal.
Dan tenaganya seperti tidak mencukupi menarik pulang senjatanya itu.
Saat itu pula sosok bayangan yang tadinya bermaksud membokong merasakaan dari goloknya itu meluncur hawa yang panas bukan main.
Rupanya Eng Song telah mengerahkan semangat dan tenaga dalamnya, sehingga tersalurkan semacam hawa murni bersifat Yang (panas), sehingga mau tidak mau orang yang tadinya mau membokong Eng Song harus melepaskan cekalan pada goloknya itu.
Sedangkan dia sendiri telah melompat kebelakang dan mengawasi Eng Song dengan sorot mata yang bengis.
Eng Song telah dapat melihat tegas orang yang ingin membokongnya itu.
147 Kolektor E-Book Ternyata seorang lelaki dengan tubuh yang tinggi besar dan juga memiliki wajah yang bengis sekali.
Dia tengah memandang kearah Eng Song dengan sorot mata yang bengis dan kejam.
Usia orang ini mungkin baru empat puluh tahun dan bajunya juga ketat sekali.
"Siapa kau? Mengapa engkau ingin membokongku?" tegur Eng Song dengan suara yang dingin.
"Aku............?" tanya orang itu dengan suara mengejek.
"Akulah Houw Sian Po Ling (Dewa Harimau dari Po-ling-san) Bwee Sian Kwan!" "Hemmmm..........
mengapa kau bermaksud membokong diriku?" tegur Eng Song lagi.
Orang yang menamakan dirinya sebagai Houw Sian Po Ling Bwee Siang Kwan telah tertawa dingin dengan sikap yang mengejek.
"Hemmmmm.........
kalau memang nasibmu baik, tentu kau tidak akan mampus ditanganku! Tadinya aku ingin membinasakan saja kau karena korban-korbanku yang lainnya juga telah mengalami hal seperti itu! Aku bermaksud untuk membinasakan engkau! Nah cepat engkau serahkan barang-barangmu itu, jika engkau menginginkan jiwamu tetap berada dan menjadi milikmu!" Mendengar perkataan orang itu, wajah Eng Song telah berobah dingin.
"Kau dusta!" bentaknya.
"Engkau bukan perampok yang sewajarnya!" Mendengar bentakan Eng Song seperti itu, orang yang mengakui dirinya bernama Bwee Siang Kwan, telah berobah mukanya.
"Hemmm....!" akhirnya dia telah mendengus dengan suara mengejek.