Wajah si bocah juga tampak pucat pias.
Terlebih-lebih waktu itu kebetulan sekali kilat telah melancarkan sinarnya, maka Eng Song bisa melihatnya betapa sosok tubuh yang telah bangkit dari peti tersebut tidak lain dari seseorang yang memiliki wajah yang sangat menakutkan dan memakai jubah warna hitam.
Dengan sendirinya, mau tidak mau tentu saja hal ini membuat Eng Song jadi merasa ketakutan sekali.
Terlebih-lebih wajah dari orang yang duduk didalam peti mati itu berlekuk-lekuk seperti muka tengkorak.
Dengan sendirinya keadaannya sangat menyeramkan sekali, dengan rambut yang diriap panjang dan sebagian menutupi sepasang matanya yang cekung dan memancarkan sinar menakutkan.
"Apakah aku benar-benar sedang menghadapi hantu...?" berpikir Eng Song di dalam hatinya.
"Apakah ada hantu yang berani muncul didalam ruangan kuil...!?" Namun ketika dia berpikir begitu, disaat itu pula terdengar sosok bayangan hantu itu telah tertawa mengekeh lagi.
Suara tertawa itu demikian menakutkan sekali, seakan juga menggetarkan ruangan kuil itu.
Eng Song memandang dengan perasaan takut yang bukan main, dia juga jadi mengeluh didalam hatinya.
Dilihatnya sosok tubuh itu telah melangkah turun peti mati itu.
"Hei bocah......
engkau sungguh berani mati datang ditempatku!?" tegur ?mayat? itu dengan suara yang menakutkan sekali.
129 Kolektor E-Book Kepada Eng Song kembali terasa membesar dan berat sekali.
Dan juga tenggorokannya seperti telah tersumbat rapat-rapat dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga.
Dia tampak jadi ketakutan bukan main.
"Siapa namamu, bocah?" tegur ?mayat? hidup itu lagi dengan suara yang menakutkan.
"Aku........
aku bernama Eng Song.........!" menyahuti si bocah.
Saking ketakutannya, dia sampai lupa menyebutkan shenya.
Hantu itu telah tertawa.
"Hemmmm....
kau seorang bocah yang cukup tabah dan berani......
aku merasa kagum padamu, karena engkau berani datang ditempat seperti ini hanya berseorang diri saja! Apa keperluanmu datang kemari?!" "Untuk...
untuk menghindarkan diri dari derasnya air hujan....!" menyahuti Eng Song dengan suara yang tergetar disebabkan rasa takutnya.
Dengan sendirinya, didalam hal ini, mau tidak mau memang Eng Song ketakutan sekali.
Sedangkan hantu yang menakutkan itu, yang memakai jubah warna hitam, telah mengeluarkan suara tertawa yang mengikik.
"Hemmmm...
kau berteduh untuk menghindarkan diri dari terjangan air hujan...
tetapi kau telah mengetahui diriku.....
kau telah melihat aku.....
maka.....
maka..." dan berkata sampai disitu, si hantu tidak meneruskan perkataannya, dia telah tertawa lagi dengan suara yang menakutkan bukan main.
Eng Song jadi tambah ketakutan.
Yang, ditakutinya ialah kalau hantu itu mencekiknya.
Karena sebagai seorang manusia, Eng Song menyadarinya tidak akan ada gunanya jika dia bermaksud untuk melawan hantu itu.
Akan sia-sia saja, sebab manusia tidak mungkin berhasil untuk berurusan dengan hantu.
Dengan sendirinya pula, diantara menderunya angin dan suara rintiknya air hujan, suara tertawa hantu itu sangat mengerikan sekali.
Terlihat Eng Song telah terduduk, karena dia tidak kuat untuk berjongkok.
Sepasang kakinya telah lemas tidak bertenaga sama sekali.
Saat itu, si hantu hidup itu telah tertawa lagi dengan suara menakutkan bukan main.
Tetapi belum lagi berkata-kata, tiba-tiba dari arah luar kuil itu juga terdengar suara orang tertawa mengikik dengan suara yang menakutkan sekali.
Di antara suara air hujan, suara tertawa yang terdengar saat itu, benar-benar menakutkan sekali, lebih nyaring dari hantu dalam ruangan kuil ini.
Eng Song jadi terbang semangatnya.
"Apakah...
apakah aku tengah berada dikerajaan hantu?!" berpikir Eng Song didalam hatinya dengan perasaan takut bukan main.
Biar bagaimana memang dia telah mendengar suara tertawa yang menyeramkan dari luar kuil itu.
Dengan sendirinya dia mau menduga bahwa tentunya tengah mendatangi hantu lainnya.
130 Kolektor E-Book Dan hal ini bisa membuatnya celaka.
Sedangkan tampak saat itu, Eng Song telah mengawasi kearah hantu yang satunya.
Terlihat perobahan pada hantu yang satunya ini, yang tadi keluar dari peti mati.
Dia tampaknya agak gelisah dan telah melangkah mundur satu tindak.
"Hemmm....
dia datang juga...!" mengumam hantu tersebut.
Sedangkan suara tertawa yang menyeramkan itu terdengar semakin keras juga.
Dan tampak jelas sekali, betapa suara tertawa itu telah menggelisahkan hantu pertama.
Di susul tidak lama kemudian tampak berkelebat sesosok tubuh dengan gerakan yang terlalu ringan.
Bagaikan kedua kakinya itu tidak menginjak sama sekali tanah atau lantai didalam kuil tersebut.
Eng Song mementang matanya lebar-lebar.
Dan kembali hatinya jadi ciut.
Biar bagaimana sosok tubuh yang baru muncul ini memiliki wajah yang tidak kalah seramnya dengan hantu yang pertama.
Mukanya geradakan, seperti juga orang yang terserang kusta.
Sepasang matanya juga memiliki sorot yang tajam bukan main, disamping memang terlihat jelas pula bibirnya yang menyeringai menakutkan.
Dia memakai baju serba putih, dan juga memang telah memiliki kulit yang putih.
Berbeda sekali dengan hantu yang pertama tadi, yang memakal jubah warna hitam.
Maka disebabkan jubahnya berwarna putih, walaupun ditempat segelap itu, kenyataannya Eng Song masih bisa melihatnya cukup jelas.
"Hikhijkkkhikkkhikkkkk...
ternyata engkau telah memelihara seorang kacung cilik!!" kata hantu yang baru datang itu, yang memakai jubah warna putih, dengan suara yang menakutkan sekali.
Dan dengan cepat dia telah berdiri berhadap-hadapan dengan hantu yang berjubah hitam.
"Hemmm, aku tidak pernah mau memiliki kacung!" kata hantu yang memakai jubah warna hitam itu.
"Aku hanya menerima kedatangan seorang bocah yang tersesat dijalan dan menghantarkan kematian buat dirinya!" Maka terlihat jelas sekali, betapa bola mata dari hantu yang memakai jubah warna putih itu telah mencilak-cilak memandang kearah Eng Song.
Dia memperhatikan bocah yang telah lemas tidak bertenaga sama sekali.
Biar bagaimana memang dia tampaknya tertarik pada Eng Song, karena tidak hentinya hantu yang berjubah putih itu telah mengeluarkan suara seruan : "Anak yang bagus! Anak yang baik! Bahan yang baik!" Eng Song tidak mengerti, entah apa yang diocehkan bantu itu.
Namun yang pasti, kedua hantu itu telah membuatnya jadi ketakutan.
Dia jadi duduk merengket, seperti juga dia ingin melompat berdiri dan berlari keluar dari kuil itu, untuk menghindarkan diri dari kedua hantu yang sangat menakutkan tersebut.
Namun disebabkan sepasang kakinya lemas tidak bertenaga begitu, mau tidak mau memang Eng Song masih juga duduk mendekam dilantai.
Napas Eng Song juga telah memburu keras karena dia sangat ketakutan sekali.
Saat itu, si hantu berjubah putih itu telah berkata tawar : 131 Kolektor E-Book "Baiklah, jika memang bocah ini tidak menarik hatimu, biarlah aku yang mengambilnya.....!!" katanya dengan suara yang dingin dan mengawasi hantu yang berjubah hitam itu.
"Hikkkhkkkk, hikkkkk, hikkkk, enak saja kau bicara........
enak saja kau bicara....!!" kata hantu yang berjubah hitam itu dengan suara yang dingin.
"Jangan suka bicara enak saja, asal putar lidah...
bocah itu sudah menjadi milikku, jangan kau utik-utik dia....!" "Ihhhh......
bukankah tadi kau telah mengatakan bahwa bocah itu tidak menarik hatimu?" tegur si hantu yang memakai jubah serba putih.
"Benar! Tetapi dia telah datang terlebih dahulu menemui aku, maka aku yang berhak atas dirinya......!" menyahuti hantu berjubah hitam itu.
"Janganlah kau mencari-cari persoalan dengan diriku, karena biar bagaimana hari ini kita harus menentukan siapa yang berhak memakai gelar sebagai It Sat Kang-ouw (Iblis nomor satu didalam rimba persilatan)." Dan setelah berkata begitu, maka Hantu berjubah hitam itu telah tertawa gelak-gelak.
Tampaknya dia bergusar dan murka sekali, karena dia telah memandang pada hantu berjubah putih yang baru datang itu dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.
Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini memang memperlihatkan mereka berdiri berhadap hadapan, bagaikan kedua hantu tersebut ingin saling terjang, untuk saling menghantam dan melakukan pembunuhan.
Tentu saja hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat aneh dan lucu, karena tidak mungkin untuk dapat menyaksikan kejadian seperti ini diwaktu-waktu lainnya.
Terlebih-lebih memang Eng Song melihat, dua hantu penasaran yang hidup dapat saling ancam dan saling memaki.
Tampaknya kedua hantu ini akan melakukan suatu perkelahian.
Bukankah hal seperti merupakan suatu kejadian yang sangat langka dan juga sangat mengherankan sekali, disamping menakjubkan?! Dengan sendirinya, Eng Song dapat menarik napas dalam untuk meluruskan napasnya, biar bagaimana jika kedua hantu itu saling tempur, tentu dirinya akan dapat terlindungkan dari cengkeraman hantu tersebut.
Maka dari itu Eng Song sangat mengharapkan sekali agar kedua hantu itu saling terjang dan saling serang.
Saat itulah, dikala hantu berjubah hitam tengah tertawa gelak-gelak, hantu berbaju putih telah mendengus.
"Hemmm...
aku harus memperoleh bocah itu!" katanya dengan suara yang dingin.
"Tidak dapat!" "Harus dapat!" "Engkau datang kemari untuk menyelesaikan persoalan kita!" kata hantu yang berpakaian jubah hitam dan menakutkan itu.