Muka Ang Sam Kay pucat pias.
Dan di antara semua itu, terlihat jelas sekali, betapa keadaan pertahanan diri dari pengemis tua ini semakin lemah semakin lemahnya dari napasnya.
Tentu saja Eng Song semakin berkuatir saja, dia sampai menangis sesenggukan dan berkata : "Paman pengemis.....
kau jangan tinggalkan aku seorang diri didunia ini...
paman pengemis....!" Tetapi dikala Eng Song tengah sesenggukan begitu, disaat itulah terdengar suara 'nggrrrroookkkk!' dari leher si pengemis tua.
125 Kolektor E-Book Dan pengemis tua Ang Sam Kay telah memburu keras napasnya, dia juga telah jatuh pingsan tidak sadarkan diri lagi.
Dengan sendirinya, mau tidak mau memang keadaan seperti ini telah membuat Eng Song jadi tambah berkuatir saja.
Dan dalam keadaan pingsan, suara ?ngrrroookkkk!? itu tidak hentinya terdengar dari leher si pengemis.
Maka, tampak jelas sekali, betapa si pengemis diambang kematian.
Terlebih-lebih memang tubuhnya juga telah panas sekali, suhuna terlalu tinggi.
Eng Song bmgung sekali, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Dan belum lagi si bocah mengetahui apa yang harus dilakukanaya itu, di saat itulah si pengemis tua telah habis napasnya.
Mati dalam keadaan pingsan! Eng Song mengeluarkan suara pekikkan yang menyayatkan hati.
Dia menangis menggerung-gerung dengan perasaan berduka bukan main.
Dengan cepat dia telah menggoncang-goncangkan tubuh pengemis tua itu tersebut.
"Paman pengemis! Paman pengemis!" Tetapi biarpun Eng Song sesambatan begitu, namun pengemis tua tersebut sudah tidak akan bangkit dan tidak akan hidup lagi.
Maka dari itu, dengan sendirinya, di saat itu telah hilang pula seorang tokoh rimba persilatan yang sesungguhnya memiliki nama sangat harum dan nama yang sangat terkenal sekali di dalam rimba persilatan....! Pagi harinya dengan penuh kedukaan, Eng Soog telah mengubur jenazah Ang Sam Kay, juga dia telah mengubur mayat kedelapan pendeta dari kuil tersebut.
Dihadapan kuburan mereka, Eng Song telah bersumpah : "Disaksikan langit dan bumi, maka aku bersumpah akan membalas sakit hati paman, paman pengemis dan kedelapan suhu-suhu ini! Biar bagaimana aku akan berusaha untuk dapat mempelajari ilmu silat yang tinggi dan kemudian mencari orang yang tangan kirinya memiliki jari empat buah itu, karena jari kelingkingnya telah putus!" Lalu setelah bersumpah begitu, Eng Song telah menangis berduka lagi.
Setelah puas menangis, barulah si bocah itu bangkit dan kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Dia bertekad dihatinya, biar bagaimana dia harus mencari seorang guru yang liehay untuk berguru dan mempelajari ilmu silat padanya, untuk meyakinkan kepandaian yang tinggi, agar kelak dia bisa mencari musuh-musuhnya, untuk membalas sakit hati yang selama ini diterimanya.
Seluruh penasaran dan rasa muak terhadap kehidupan yang selalu dibuntuti oleh penderitaan ini, Eng Song jadi bertekad, walau bagaimana dia harus berhasil.
Dan hati bocah ini juga telah dingin sedingin es, dia hanya berpikir harus mencari seorang guru yang liehay untuk berguru padanya.
Dan juga dibayangkannya, gadis cantik seperti Cu Sing Hong bisa memiliki kepandaian yang tinggi begitu.
Maka dari itu Eng Song percaya, apa lagi dia seorang pria, tentunya dia akan dapat memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kepandaian yang dimiliki gadis Cu Sing Hong.
Mau tidak mau didalam hai ini memang kenyataannya Eng Song telah bertekad untuk mencari seorang guru yang pandai untuk diangkat menjadi gurunya.
126 Kolektor E-Book Dan dari hari itulah, Eng Song telah mengembara dari kota yang satu ke kota yang satunya lagi dan dari kampung yang satu ke kampung yang satunya.
Dan juga, tampak jelas sekali, betapa Eng Song bertekad sungguh-sungguh, untuk dapat mencari seorang guru yang pandai....
karena setiap ada kesempatan, tentu Eng Song akan mendatangi tempat-tempat keramaian, untuk melihat-lihat, apakah ada seseorang yang memiliki kepandaian tinggi dan dapat diangkat sebagai gurunya.
Serta Eng Song tidak jarang mendatangi gunung-gunung dan tempat-tempat sunyi lainnya.
Karena menurut pikiran Eng Song, di tempat-tempat yang sunyi seperti itu tentu ada satu atau dua tokoh rimba persilatan yang telah hidup mengasingkan diri.
Namun, selama itu, Eng Song masih belum juga berhasil untuk memperoleh seorang guru yang diinginkannya.............
? ? ooo O ooo ? ? ????????? 10 ????????? DI LUAR kampung Su-liang-cung, tampak sesosok bayangan tengah berlari-lari diantara lebatnya air hujan yang turun deras sekali.
Waktu itu belum terlalu larut malam, namun disebabkan hujan yang lebat ini, maka sepi sekali tidak terlihat orang yang berkeluyuran.
Sosok bayangan itu ternyata seorang bocah cilik yang bertubuh kurus dan berpakaian tambal-tambalan seperti pengemis kecil.
Ia tidak lain dari Eng Song.
Dan saat itu dia telah melihat sebuah kuil tua yang telah rusak dan tidak terurus dipermukaan kampung tersebut.
Cepat-cepat Eng Song telah menghampiri kuil itu, maksudnya akan berteduh dikuil tersebut, menghindarkan diri dari derasnya air hujan.
Keadaan dikuil yang telah rusak dan banyak dindingnya yang telah gugur itu, tampak gelap gulita.
Tidak terlihat ada penerangan sedikitpun juga.
Hanya sekali-sekali, dikala kilat berkelebat, maka di sekitar kuil itu agak terlihat jelas.
Eng Song telah mendorong pintu kuil yang telah reyot dan akan rubuh itu, melangkah masuk kedalam kuil dan dia telah menuju keruangan tengah, dimana tampak meja sembahyang yang telah dilumuri abu yang sangat tebal sekali, yang menutupi permukaan meja tersebut dengan debu yang setebal beberapa dim.
Dan juga terlihat jelas sekali, batang-batang hio yang telah berabu tidak terurus.
Berbeda dengsa kuil-kuil yang masih terurus, yang selalu akan terlihat hio dan dupa yang terbakar tidak hentinya, maka kuil rusak ini malah merupakan yang sudah tidak pernah terkena asap hio dari orang-orang yang sembahyang.
Karena sudah tuanya usia kuil ini, dan sudah banyak kerusakan-kerusakannya, disamping tidak ada orang yang datang mengunjunginya untuk sembahyang, juga sudah tidak terlihat seorang hweshiopun yang mengurusinya.
Dengan sendirinya kuil tersebut seperti juga kuil tua yang kosong tidak berpenghuni.
Setelah berdiri sejenak, akhirnya Eng Song menghampiri meja sembahyang itu.
Dia telah berjongkok disitu untuk berdekatan tangan, agar tubuhnya lebih hangat.
127 Kolektor E-Book Seluruh baju dan celananya telah basah kuyup.
Tentu saja ia jadi menderita kedinginan yang sangat.
Keadaan diruangan kuil ini sangat gelap sekali.
Lama juga Eng Song mendekam dipinggir meja sembahyang.
Dengan berdiam dan berteduh didalam ruangan kuil ini, walaupun banyak bagian-bagiannya yang telah bocor dan menetes air, namun tidak semenderita seperti tadi.
Maka dari itu, dengan sendirinya, mau tidak mau memang didalam hal ini Eng Song menderita kedinginan yang sangat.
Suatu kali, kilat telah menerangi keadaan disekitar ruangan itu, disusul suara petir yang keras bukan main.
Dan kebetulan pula Eng Song dapat melihat sesuatu! Bulu tengkuknya jadi berdiri! Ternyata disamping meja sembahyang yang satunya lagi, terlihat sebuah peti mati yang berukuran besar....
peti mati itu dalam keadaan tertutup.
Entah mengapa, mengetahui didalam ruangan tempat dia berteduh itu, terdapat sebuah peti mati yang bersama-sama berada diruangan ini bersamanya, Eng Song merasakan hatinya jadi berdebar dan bulu tengkuknya jadi berdiri merinding.
Beberapa kali kilat telah memancarkan sinarnya yang menyilaukan.
Dan selama beberapa kali Eng Song dapat melihat jelas peti mati itu.
Dan di dalam kegelapan, peti mati tersebut hanya merupakan sebungkah bayangan hitam yang berukuran besar dan menakutkan sekali.
Perasaan tidak enak yang menyerang hati Eng Song semakin lama jadi menyiksanya.
Dan hampir saja Eng Song bangkit dari mendekamnya dan akan meninggalkan kuil itu, menerjang air hujan untuk mencari tempat berteduh lainnya.
Namun disebabkan hujan turun semakin lama semakin lebat saja, akhirnya Eng Song tetap mendekam disamping meja sembahyang.
Namun berulang kali matanya telah melirik kearah peti mati itu.
Perasaan seram masih saja terus juga menyelubungi hatinya.
Dalam saat-saat seperti itu, telah membuat Eng Song jadi merasa ngeri sekali.
Dan suatu kejadian, telah membuat mata Eng Song jadi terpentang lebar-lebar mengawasi peti mati itu.
Karena disebabkan seringnya Eng Song melirik kearah peti mati itu, suatu kali di kala dia tengah melirik, tiba-tiba hatinya tercekat ketakutan, sebab dia melihat betapa tutup peti mati itu bergerak! Mengerikan sekali! Eng Song telah mengucek-ngucek matanya, dia menganggap bahwa penglihatannya yang kabur dan juga disebabkan rasa takutnya telah menimbulkan khayalan yang tidak-tidak.
Namun biarpun Eng Song telah mengucek-ngucek matanya berulang kali, ternyata tetap saja tutup peti mati itu masih bergerak perlahan-lahan seperti juga akan terbuka tutupnya.
Seluruh semangat Eng Song seperti lelah kabur dari raganya, dia merasakan tubuhnya lemas bukan main.
Tubuhnya juga agak menggigil, bukan disebabkan hawa dingin saja, tetapi disebabkan rasa takut yang bukan main.
Dengan sendirinya, mau tidak mau memang dalam hal ini telah membuat Eng Song jadi mementang matanya lebar mengawasi kearah peti mati itu.
128 Kolektor E-Book Dan dia telah melihatnya, tutup peti mati itu telah terbuka semakin lebar.
Dan segera juga terlihat betapa sepotong tangan telah terjulur keluar.
Hati Eng Song seperti copot dari dadanya, dia jadi mengeluh lemas.
Untuk berlari keluar dari dalam kuil itu, Eng Song sudah sanggup.
Sepasang kakinya dirasakan menggigil lemas tidak bertenaga sama sekali.
Diam-diam Eng Song jadi mengeluh.
Mungkin kalau menghadap urusan hebat yang lainnya, si bocah tak akan sengeri ini.
Tetapi kali ini dia berada diruangan yang gelap dan hanya seorang diri, lalu ada sebuah peti mati, dan peti mati itu tampak terbuka perlahan-lahan tutupnya, terlihat sepotong tangan.
Siapa yang tidak akan merasa ngeri menghadapi peristiwa seperti ini? Dan yang tambah mengejutkan Eng Song lagi, dia mendengar suara tertawa mengekeh dari arah dalam peti mati tersebut.
"Khikkkk, hikkkk, hikkkk, hikkkk......!" menyeramkan sekali suara tertawa itu.
Seluruh bulu-bulu ditengkuk dan ditubuh Eng Song telah berdiri.
Dan Eng Song merasakan kepalanya jadi seperti membesar sebesar tetampah.
Sepasang matanya tidak berkedip sedikitpun juta ketika tampak sesosok tubuh telah bangkit, duduk dalam peti mati itu! Rupanya mayat yang ada didalam peti itu telah bangkit! Eng Song saking merasa ngeri melihat pemandangan yang ada dihadapannya ini, sampai mengeluarkan seruan tertahan, tubuhnya menggigil.