Halo!

Pendekar Bunga Chapter 32

Memuat...

Karena mereka telah melihatnya betapa pada kedua punggung kuda itu tergemblok sesuatu.

Waktu kuda tunggangan itu berlari telah mendekat ketempat Ang Sam Kay dan Eng Song berada, maka dengan cepat pengemis tua itu telah melompat menghadangnya.

Dia telah mencekal tali pelana kuda tersebut, dan menghentikan larinya kedua kuda tersebut.

Ternyata dipunggung itu terdapat dua sosok tubuh manusia! Dan dua sosok tubuh manusia itu telah membeku menjadi mayat.

Dari kedua sosok tubuh tersebut juga memancarkan hawa yang dingin bukan main.

Seperti juga kedua sosok mayat ini memang telah direndam didalam air kolam es.

Cepat-cepat Ang Sam Kay telah menurunkan kedua sosok tubuh itu.

Ternyata kedua mayat itu tidak lain dari kedua pemuda yang pernah bertemu dengan mereka.

Eng Song dan Ang Sam Kay sampai mengeluarkan suara seruan kaget karena tercekat hati mereka.

Terlebih-lebih Eng Song, boah ini merasakan hatinya ngiris.

Karena dia melihat kedua pemuda itu telah menemui kematiannya disebabkan tubuhnya telah kaku dingin, dan Eng Song yang memang memiliki kecerdikan yang bukan main segera dapat menerkanya, bahwa kematian kedua orang pemuda ini tentunya disebabkan oleh serangan senjata es yang dingin dari gadis yang bernama Cu Sing Hong, yaitu peluru Sin Tan yang tangguh itu.

Kedua mata dari mayat kedua pemuda itu tampak mendelik lebar-lebar, tampaknya mereka sebelum menemui kematiannya, telah menderita ketakutan yang bukan main, dan juga tubuh mereka dingin memucat seperti juga telah terserang oleh hawa udara yang dingin sekali.

Tampaknya kematian yang mereka alami begitu tiba-tiba dan membuat mereka menderita sekali.

Tentu saja kenyataan seperti ini membuat Ang Sam Kay serta Eng Song jadi memandang bengong tanpa bergerak di tempat mereka.

Begitu ngiris hati mereka melihat kematian yang dialami oleh kedua pemuda ini.

Karena mereda mungkin juga telah mati tanpa mampu untuk memberikan perlawanan sama sekali, karena mereka didalam waktu sekejap mata telah menjadi mayat demikian rupa.

Dan juga rupanya si gadis Cu Sing Hong yang telah sengaja meletakan kedua mayat mereka diatas punggung kuda mereka masing-masing.

Dengan sendirinya, mau tak mau di dalam hal ini telah membuat Ang Sam Kay tidak senang juga, karena dari kematian kedua pemuda ini menunjukkan tangan si gadis Cu Sing Hong memang telengas.

"Hemmmm.....!" akhirnya Ang Sam Kay telah memhela napas panjang.

"Kalau kulihat demikian keadaannya, tentu sangat menakutkan sekali perkembangan didalam rimba persilatan! Setidak-tidaknya tentu didalam rimba persilatan akan timbul pergolakan yang hebat! Entah mengapa, akhirnya ini telah bermunculan banyak sekali jago-jago yang muda usianya tetapi memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Sungguh suatu hal yang sangat menguatirkan.

Dan juga, disamping itu, memang harus diakui bahwa gelombang dari golongan muda telah mendamparkan gelombang-gelombang tua." 115 Kolektor E-Book Eng Song telah memeriksa kedua mayat pemuda itu, dia tidak melihat luka pada tubuh kedua mayat itu.

Hanya terlihat mereka menerima kematian dengan sepasang mata mendelik begitu saja dan dari mayat mereka memancarkan hawa udara yang dingin bukan main.

Ang Sam Kay telah mengajak Eng Song untuk menggali tenah ditepi jalan itu.

Mereka menggali kuburan untuk kedua pemuda yang telah menjadi mayat tersebut.

Setelah mengubur baik-baik kedua mayat tersebut, maka tampak Ang Sam Kay menepuk pantat kedua ekor binatang tunggangan itu, agar pergi dari tempat tersebut.

Sedangkan Ang Sam Kay dan Eng Song telah melanjutkan perjalanan mereka lagi dengan langkah kaki agak lesu.

Eng Song memikirkan mengapa gadis yang bernama Cu Sing Hong dapat memiliki kepandaian begitu tinggi, sedangkan Ang Sam Kay memikirkan bahwa heboh dan pergolakan yang akan timbul didalam rimba parsilatan tentu hebat sekali.

Karena belum lagi berselang lama, telah berguguran korba-korban ditangan gadis berbaju putih.

Dan mungkin juga, jika gadis cantik Cu Sing Hong tidak melihat bahwa usia Ang Sam Kay dan Wie Ceng Siansu telah lanjut, maka kedua jago tua ini akan dibinasakan juga.

Dan disebabkan Cu Sing Hong melihat bahwa Wie Ceng Siansu dan Ang Sam Kay merupaksn jago jago tua, maka dia segan untuk turun tangan keras.

Hanya mempermainkan belaka dengan mempergunakan Sin Tannya.

Namun yang jelas, bahwa gadis berbaju putih yang menamakan dirinya Cu Sing Hong itu, pasti akan membuat gelombang dan badai yang sangat hebat sekali, kekacauan dan pembunuhan yang mengerikan akan bergolak di dalam rimba persilatan.

Seperti gadis itu saja, dia memiliki Sin Tan, peluru saktinya itu, yang benar terlalu hebat, sehingga dapat membinasakan seorang korban dengan mati tubuh beku.

Ang Sam Kay sendiri tidak bisa membayangkan, entah kejadian hebat apa yang akan melanda rimba persilatan dengan munculnya jago-jago muda seperti Cu Sing Hong ini....

karena peristiwa-peristiwa hebat seperti apa yang akan terjadi tidak dapat diramalkan oleh Ang Sam Kay.

Hanya yang dapat dirasakan oleh pengemis tua ini, bahwa di dalam rimba persilatan akan terjadi pergolakan yang hebat.

Hari telah mendekati senja, maka Ang Sam Kay dan Eng Song mencari salah satu rumah penduduk untuk bermalam, menghindarkan diri dari serangan hawa udara malam yang dingin.

Namun malam itu, Ang Sam Kay tidak dapat tidur nyenyak, karena pengemis tua ini memikirkan betapa kalangan Kang-ouw yang akan diamuk oleh gelombang yang sangat hebat, kancah kekacauan dan juga banjir darah yang akan terjadi....

sebab jago-jago muda yang seperti Cu Sing Hong itu, jelas akan memiliki darah muda, sehingga akan mudah pula jago-jago seperti dia menurunkan tangan telengas pada lawan-lawannya, merenggut nyawanya si korban.....

Keesokan paginya Ang Sam Kay telah mengajak Eng Song untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Pagi itu udara sangat cerah, matahari juga memancarkan sinarnya yang sangat cemerlang.

Angin berhembus sejuk, diantara burung-burung yang berkicauan.

Ang Sam Kay mengajak Eng Song mengambil kearah barat, karena Ang Sam Kay bermaksud untuk mengunjungi seorang sahabatnya yang lama tidak berjumpa, yaitu seorang jago tua yang bernama Cung So Liong, bergelar Kun Lun It Kiam (Pendekar Pedang Tunggal dari Kunlun-san), dikota Ma-leng-kwan.

Letak kota itu dari tempat Ang Sam Kay berada terpisah seratus lie lebih.

Dan kurang lebih memakan waktu masa perjalanan tiga hari.

Hari pertama selama dalam perjalanan tidak terjadi suatu urusan yang menarik untuk diceritakan.

Tetapi dihari kedua telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan Ang Sam Kay dan Eng Song.

116 Kolektor E-Book JILID 7 WAKTU sore dihari kedua dalam perjalanan mereka itu, Ang Sam Kay dan Eng Song telah menumpang menginap di sebuah kuil kecil yang tampaknya agak mesum, yang merupakan satu-satunya kuil yang terdapat dikota Siang-ku-kwan.

Kota ini memang merupakan sebuah kota yang tidak begitu besar.

Penduduknya juga tidak begitu banyak.

Di dalam kuil tempat Ang Sam Kay dan Eng Song menginap itu, diurus oleh delapan orang paderi yang masing-masing mengerti ilmu silat.

Mereka terdiri dan hweshio-hwesio yang ramah dan menyambut kedatangan Ang Sam Kay serta Eng Song dengan sikap yang ramah dan baik hati.

Ang Sam Kay berdua Eng Song telah diberikan kamar yang terletak dibelakang kuil, letaknya cukup baik dan kamar itu walaupun tidak begitu besar, namun merupakan kamar yang baik.

Tetapi menjelang tengah malam, di saat Ang Sam Kay dan Eng Song tertidur nyenyak, telah terdengar beruntun suara jeritan yang menyayatkan hati.

Dengan terkejut, Ang Sam Kay telah terlompat bangun dari tidurnya, dia membangunkan Eng Song.

Di saat itu telah terdengar pula suara jeritan yang melengking tinggi, mengiriskan bahi, seperti juga orang yang mengeluarkan suara jeritan itu mengalami suatu bencana yang menakuti hatinya atau juga memang menghadapi suatu kematian yang mengerikan.

"Kau dengar suara jeritan itu?" tanya Ang Sam Kay pada Eng Song.

Pada saat itu sesungguhnya Eng Song masih mengantuk, karena dia tadi tengah lelap sekali dalam tidurnya.

Eng Song mengangguk, sambil menghapus matanya.

"Suara jeritan itu mengerikan sekali, apa yang sesungguhnya telah terjadi, paman pengemis?" tanya Eng Song kemudian dengan suara yang ragu-ragu.

"Hemmmm......

tentu telah terjadi suatu urusan yang hebat! Mari kita pergi lihat!!" kata Ang Sam Kay.

"Atau engkau tunggu saja disini, aku yang pergi melihatnya keluar!" Eng Song mengangguk mengiyakan.

Karena bocah ini berpikir, ia ikut serta juga hanya atau merepotkan belaka Ang Sam Kay jika suatu saat mereka menghadapi suatu ancaman bahaya.

Maka dari itu, dia telah berdiam diri saja didalam kamar itu, untuk menantikan kembalinya Ang Sam Kay.

Dengan cepat Ang Sam Kay telah keluar dari kamarnya itu.

Dengan gerakan yang ringan pengemis tua ini telah berlari-lari keruangan depan kuil.

Suasana saat itu sangat gelap, karena api-api penerangan disekeliling kuil itu tampak tidak ada yang menyala, semuanya telah mati.

Maka dari itu, dengan sendirinya hal ini telah membuat pengemis tua tersebut jadi heran sekali.

Tidak biasanya sebuah kuil tidak memasang api penerangan.

117 Kolektor E-Book Namun sedang Ang Sam Kay berlari-lari begitu, tiba-tiba kakinya telah tersandung sesuatu.

Benda yang agak lunak dan hampir membuat Ang Sam Kay tergelincir.

Untung saja Ang Sam Kay memiliki kegesitan yang bukan main.

Dengan cepat dia dapat mengimbangi keseimbangan tubuhnya, sehingga dia tidak perlu sampai jatuh terguling diatas tanah.

Ang Sam Kay memperhatikan benda yang menggeletak ditengah jalan itu.

Tampaknya seperti buntalan besar.

Cepat-cepat Ang Sam Kay berjongkok mendekati dengan sikap yang hati-hati.

Astaga.....! Rupanya sesosok mayat seorang manusia yang sudah tidak berjiwa lagi.

Menggeletak dalam keadaan yang mengenaskan sekali, karena dadanya telah berlobang dengan batok kepala yang hancur bagaikan telah dihajar sesuatu.

Darah merah juga telah menggenangi sekeliling sosok mayat tersebut.

Mayat itu adalah mayat seorang hweshio! Tentu saja Ang Sam Kay telah terkejut bukan main.

Post a Comment