"Siapakah Taysu?" tanya pengemis tua tersebut dengan suara yang tawar.
"Lolap bergelar Wie Ceng Siansu!" menjelaskan pendeta tua itu.
"Dan merupakan pengurus dari kuil ini!" Si pengemis telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah menjurah memberi hormat.
"Aku biasa dipanggil dengan sebutan Ang Sam Kay, tetapi disamping itu, aku juga biasanya dikenal sebagai pengemis tidak bernama!" menjelaskan pengemis tua itu.
"Dan kalau memang sekiranya Taysu tidak keberatan, kami ingin menumpang dikuil Taysu".
"Hemmmm....
urusan menumpang dikuil kami memang bukan merupakan hal yang sulit, kami selalu akan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk menumpang! Tetapi menurut penglihatan Lolap, tidak sepantasnya Siecu (tuan) melakukan kekerasan pada anak murid Lolap!" Teguran pendeta itu bernada dingin sekali.
Tampaknya dia tidak senang melihat anak muridnya si Totong cilik itu telah dihajar oleh pengemis tua tersebut.
Pengemis tua itu, ternyata tidak lain dari Ang Sam Kay, dan pengemis cilik itu adalah Eng Song, telah tertawa.
"Mungkin Taysu salah mata....!" kata Ang Sam Kay dingin.
"Sesungguhnya kami datang secara baik, tetapi Siauw Suhu itu telah menerima kami dengan kasar dan mengeluarkan kata kata makian yang terlalu kotor! Apakah sebagai seorang pengikut muda dari sang Budha pantas memiliki mulut yang begitu kotor?" Ditegur demikian oleh Ang Sam Kay, wajah Wie Ceng Siansu jadi berobah.
100 Kolektor E-Book "Tegasnya Lolap tidak senang jika kedatangan siecu hanya menimbulkan onar!" kata si pendeta tua tersebut.
"Lalu apa yang diinginkan oleh Taysu?" "Jelas Lolap ingin melihat berapa tinggi kepandaian Siecu sehinga ingin mengacaukan kuil kami!!" Muka Ang Sam Kay jadi berobah.
Itu urusan yang mudah! Aku juga bersedia untuk main-main beberapa jurus dengan Taysu!" Waktu menyahuti begitu, hati Ang Sam Kay gusar sekali, sebab dilihatnya betapa pendeta tua ini juga memiliki sifat yarg terlalu kukuh, dan terlalu mau mempercayai keterangan anak muridnya belaka.
"Hemmmm......
biar bagaimana kenyataan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!" kata Wie Ceng Siansu saat itu.
"Karena sekarang bisa terjadi urusan seperti ini, dan dilain waktu nanti bisa muncul peristiwa-peristiwa seperti ini pula! Maka Siecu harus mempertanggung jawabkan apa yang telah Siecu lakukan terhadap murid Lolap!!" "Dengan cara apa Taysu ingin menyelesaikan persoalan ini?" tanya Ang Sam Kay dengan suara yang tawar.
"Hemmmmm......." mendengus pendeta tua itu dengan suara yang tawar juga, wajahnya juga dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.
"Tentunya sebagai seorang yang mengerti boge (ilmu silat) dan juga berkeliaran didalam rimba persilatan, tentunya Siecu mengerti apa yang diinginkan oleh Lolap!!" Dan pendeta ini menyelesaikan perkataannya dengan menggerakkan tangannya dia mengibaskan lengan jubahnya yang longgar itu.
Kebutan lengan jubahnya ternyata membawa angin serangan yang luar biasa kuatnya.
"Wuttttt....!" angin serangan itu telah menerjang kearah pengemis tua itu.
Gerakan yang dilakukan oleh pendeta itu sangat cepat sekali.
Tentu saja hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga dalam yang dimiliki oleh pendeta ini.
Dan Ang Sam Kay juga menyadarinya bahwa ia tidak boleh main-main dengan pendeta yang tangguh ini.
Cepat sekali, Ang Sam Kay telah mengempos seluruh kekuatannya, dipusatkan didalam pusarnya, lalu menyalurkan enam bagian ketelapak tangannya.
Dia telah menangkisnya, keras dilawan dengan kekerasan pula.
Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay juga cepat bukan main.
Hal ini disebabkan Ang Sam Kay juga penasaran, ingin sekali dia mengetahui berapa tinggi kepandaian yang dimiliki oleh pengurus kuil yang sudah lanjut usianya ini.
"Bukkkkkkkkk!" dua kekuatan yang dahsyat telah saling bentur ditengah udara.
Dan benturan kedua tenaga raksasa yang kuat itu telah menggetarkan keadaan disekitar tempat tersebut, sehingga Eng Song yang berdiri dilatar kuil itu merasakan getaran yang terjadi.
Cepat bukan main, tampak pula angin serangan yang dilancarkan oleh Ang Sam Kay bukan merupakan satu jurus, karena telah memecah kebeberapa bagian, sehingga jubah pendeta tua itu berkibar-kibar.
"Ihhhh....!" Wie Ceng Siansu telah mengeluarkan suara seruan.
101 Kolektor E-Book Tampaknya dia terkejut sekali menerima kenyataan seperti ini, karena dia telah melihatnya betapa kepandaian yang dimiliki oleh pengemis tua Ang Sam Kay bukan main tingginya dan juga tenaga lwekangnya ternyata tidak berada disebelah bawahnya.
Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay ternyata merupakan gerakan dari ?Naga Melangkah Sepuluh Penjuru?, maka dari itu, tidak mengherankan jika tenaga serangannya juga bisa memencar begitu banyak jurusan.
Cepat-cepat pendeta tua Wie Ceng Siansu telah mengempos semangat dan tenaganya.
Dengan gerakan yang bukan main cepatnya dia telah menyalurkan tenaga dalamnya pada lengannya.
Dia menggerakkan kedua lengannya seperti juga gerakan seekor belut.
Disamping itu, dia juga telah mengempos mempergunakan tenaga yang hebat sekali.
Maka tidak mengherankan dari sekujur tubuhnya telah mengalir keluar tenaga yang sangat kuat sekali.
Dan juga disebabkan tenaga dalam yang meluncur keluar itu dari sekujur tubuhnya tidak mengherankan pula jika jubahnya telah berobah keras bagaikan baja.
Ternyata, kedua orang yang tengah mengadu kekuatan tenaga dalam ini, memiliki kekuatan yang berimbang dan kepandaian yang sebanding.
Cepat sekali, diantara angin yang menderu-deru itu, tampak Ang Sam Kay telah mendengus, dia telah merangkapkan sepasang tangannya.
Dengan sikap seperti seorang yang membungkuk sedikit bagaikan memberi hormat, cepat sekali dia telah menghembuskan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa sekali.
Sedangkan pandeta tua Wie Ceng Siansu telah merangkapkan sepasang tangannya dengan sikap seperti juga sikap seorang Lohan, dia telah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya dengan sikap kedua tangan melintang dimuka dadanya.
Kembali dua kekuatan yang bukan main kuatnya telah saling bentur ditengah udara.
Benturan yang terjadi itu memang memiliki kekuatan yang sangat hebat sekali.
Dengan sendirinya, keadaan disekitar depan kuil itu tergetar lagi, bagaikan terjadinya sebuah gempa bumi.
Si Totong kecil yang tadi kena dihajar oleh Ang Sam Kay jadi berdiri bengong.
Dia jadi menggidik ngeri sendirinya membayangkan betapa tadi dia begitu berani mati berlaku kasar terhadap Ang Sam Kay.
Coba tadi kalau sampai Ang Sam Kay menurunkan tangan keras padanya, bukankah berarti dia sudah akan terbinasa disaat itu juga, sebelum gurunya itu muncul keluar dari dalam kuil? Teringat akan hal itu, hati si Totong jadi ngiris sendirinya.
Di saat itulah, dengan mengeluarkan suara seruan yang nyaring, tampak Ang Sam Kay telah menggerak-gerakan kedua tangannya.
Dia bagaikan ingin melancarkan serangan dengan kekuatan yang ada untuk menggempur dinding pertahanan dari hweshio tua Wie Ceng Siansu.
Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay bukankah gerakan biasa saja.
Karena gerakan yang dilancarkan oleh Ang Sam Kay ini memiliki nama ?Sepasang Naga memperebutkan Mutiara? (Jie Liong Jo Cu).
Juga diantara gelombang tenaga yang kuat seperti itu, mengandung tenaga yang bisa melumpuhkan.
102 Kolektor E-Book Tentu saja pendeta tua Wie Ceng Siansu jadi terperanjat bukan main.
Dia mengeluh sendirinya, karena biar bagaimana dia harus dapat mempertahankan diri untuk dapat mempertahankan serangan dari Ang Sam Kay agar dirinya tidak rubuh terguling diatas tanah.
Biar bagaimana memang Wie Ceng Siansu harus mengakuinya bahwa kepandaian yang dimiliki oleh Ang Sam Kay tangguh sekali.
Maka dari itu, sambil menghadapi terjangan-terjangan dari tenaga serangan Ang Sam Kay, Wie Ceng Siansu diam-diam juga telah berpikir keras.
Entah siapa sesungguhnya pengemis tua yang bergelar sebagai Ang Sam Kay.
Selama usianya yang telah lanjut itu, sesungguhnya Wie Ceng Siansu telah banyak sekali memiliki pengalaman dan juga memang telah berkelana dibanyak tempat di dalam rimba persilatan.
Namun kenyataannya selama itu dia tidak pernah mendengar gelaran Ang Sam Kay.
Jika memang Ang Sam Kay merupakan tokoh baru didalam rimba persilatan, mengapa kepandaiannya sudah begitu tinggi dan juga memang usianya telah begitu lanjut? Hal inilah yang telah membuat Wie Ceng Siansu jadi terheran-heran dan juga diliputi oleh berbagai pertanyaan.
Di saat itu, serangan yang dilancarkan oleh Ang Sam Kay telah menerjang datang dengan terjangan yang kuat sekali.
Mau tidak mau Wie Ceng Siansu tidak bisa berpikir lebih lanjut.
Karena biar bagaimana dia memang harus dapat mengempos tenaganya, dia telah menangkis lagi.
Begitulah, kedua orang ini telah saling terjang dan menangkis tidak hentinya.
Dan juga disaat itu pula, tampak Wie Ceng Siansu karena menyadari lawannya merupakan seorang pengemis yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, iapun tidak berani memandang remeh dan juga.
telah bersungguh-sungguh hati untuk menghadapinya.
Di samping itu, pendeta tua Wie Ceng Siansu merasa kagum juga.
Dia penasaran pula ingin melihat betapa tinggi sesungguhnya kepandaian Ang Sam Kay.
Maka telah diemposnya seluruh kekuatannya.
Waktu dilihatnya ada kesempatan, Wie Ceng Siansu dengan cepat sekali telah melancarkan serangan yang luar biasa dahsyatnya disertai oleh suara bentakannya.
"Rubuhlah kau!" bentaknya.
Angin serangannya menderu kuat sekali, menghantam Ang Sam Kay.
Ang Sam Kay terkejut melihat cara menyerang Wie Ceng Siansu.
Terlebih lagi ketika Ang Sam Kay merasakan betapa angin serangan itu mengandung kekuatan yang mematikan.
Maka cepat-cepat Ang Sam Kay juga telah menangkis.
Tangkisan yang dilakukannya ini bukan sembarangan tangkisan.
Ang Sam Kay telah menangkis dengan mempergunakan sembilan bagian dari keseluruhan tenaga dalam yang dimilikinya itu, maka bisa dibayangkan betapa hebatnya kekuatan tenaga tersebut.
Wie Ceng Siansu merasakan betapa tenaga serangannya telah kena terbendung oleh kekuatan tenaga dalam Ang Sam Kay.
103 Kolektor E-Book Dengan sendirinya, segera juga terlihat betapa tenaganya tidak berdaya untuk menerobos dan menerjang perbentengan Ang Sam Kay, sebab tenaga Wie Ceng Siansu seperti punah begitu saja.
Dengan hati penasaran, Wie Ceng Siansu telah mengeluarkan suara bentakan lagi.
Dia telah melancarkan serangan lagi dengan bentakan yang mengguntur, dan tenaga dalam yang dipergunakannya semakin keras dan kuat.
Dan sasaran yang diarahnya adalah bagian dada dari pengemis tua tersebut.
Ang Sam Kay tidak jeri sedikitpun juga melihat hebatnya tenaga serangan pendeta ini.