Halo!

Pedang Wucisian Chapter 44

Memuat...

Menyaksikan akhir babak pertama dari pertandingan itu, Su-to Yan mengetahui bahwa Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu telah mendapat kemenangan diatas angin.

Dengan ilmu Kit thian cie jaman- purbakala berhasil mendesak lawannya.

Dua jago tua dari jaman purbakala ini masih berhadap-hadapan berjarak aman mereka masih hendak meneruskan pertandingannya.

Tiba-tiba, terdengar suara alat tabuh khim yang didendang perlahan.

Semakin lama semakin keras, datangnya kearah tempat itu.

Wajah Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu berubah.

"Wie Biauw juga hendak mengikuti keramaian ini." Dia berkata, "Berani kau meneruskan pertandingan dilain tempat ?" Dia menantang Pek Tong Hie.

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban sang akhli waris dari Gua Kematian, Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu bergerak meluncur jauh.

Gerakan ini tidak dibiarkan oleh Pek Tong Hie, baja kuningnya berkibar-kibar, dia juga lari menyusul.

Dua jago dari jaman purbakala pergi meninggalkan tempat itu.

Pek Leng Soat menoleh kearah Su-to Yan mengkhawatirkan keselamatan ayahnya diapun dibelakang.

sebentar, mengintil Diatas udara, turut terbang burung ajaib yang aneh api Si merah.

Bayangan abu-abu, kuning, putih dan merah kecil itu meluncur jauh.

Meninggalkan Su-to Yan seorang diri.

Su-to Yan mengalami kegagalan.

Dia berhasil meminta pulang kitab ilmu pedang Maya Nada.

Ternyata hanya kitab kosong dengan lembaran kertas putih.

Apa yang harus dilakukan olehnya" Satu bayangan meluncur datang, berpakaian tosu, inilah murid Pek ie Kauwcu Bong-Bong Cu yang nomor dua, si tosu Tukang sado Giok Hie.

Su-to Yan siap menyambut kedatangan tosu itu.

Giok Hie memperhatikan Su-to Yan beberapa saat kemudian "Lagi-lagi kita berjumpa kembali." Su-to Yan melentikkan sepasang alisnya yang hitam.

"Ada apa?" Dia bertanya dengan suara yang membawakan sikap adem.

"Guruku pernah berkata, untuk mendapatkan kitab Maya Nada, hanya boleh menuju ke arah dua jalan, Kemungkinan pertama jatuh ke dalam tangan Pek Tong Hie, dan kemungkinan berikutnya masih berada didalam tanganmu, Guruku masih bersitegang dengan Pek Tong Hie, apa boleh buat, aku harus meminta dari tangan mu." "Kitab Maya Nada memang berada pada-ku," Berkata Su-to Yan terus terang, Dia tidak menyebut bahwa kitab itu adalah sejilid kitab yang kosong.

"Bagus." kepadaku." Berteriak Giok Hie girang, "Serahkan kitab itu "Begitu enak meminta benda kepunyaan orang lain?" Su-to Yan menjebikan bibirnya yang tipis.

"Mau hendak mempersulit kedudukanku?" Berkata Giok Hie memainkan istilah tata bahasa halus, "Bagaimana aku dapat memberikan pertanggung jawabku, bila guruku menegur tentang kitab Maya Nada itu?" Su-to Yan menyedot napasnya dalam-dalam, dia maklum bahwa Giok Hie memiliki dua macam ilmu silat dari jaman purbakala, ilmu Bambu Bung Han-tiok kang dan ilmu Kaki kepiting Mo-liong-ti- tidak boleh dipandang ringan.

Menyaksikan cara cara Su-to Yan menghadapi dirinya, Giok Hie tidak buka suara lagi, langsung memainkan tangan, menyodok kedepan.

Untuk menghindari desakan Giok Hie yang bertubi tubi, Su-to Yan harus memelihara jarak jauh, karena itu, tanpa menunggu datangnya serangan, dia terbang keatas.

Giok Hie menubruk tempat kosong, Su-to Yan menjatuhkan dirinya dibelakang lawan itu, dengan kedua tangan direntangkan, dia menyergap murid Pek-ie Kauw Cu Bong-Bong Cu.

inilah tipu gerakan iblis Sakti Menampilkan Diri.

Giok Hie sudah membalikan badan, datangnya kedua tangan Suto Yan begitu cepat, untuk mengimbangi daya perputaran Giok-Hie mengirim dua tendangan.

Su-to Yan mengayun badan, tipu iblis Sakti Menampilkan Diri berubah menjadi iblis Sakti Menenteng Gendongan, begitu tepat manis sekali.

Sepasang tangannya berhasil menangkap kedua kaki Giok Hie.

Kedua-duanya terayun ke atas udara.

Giok Hie tidak menjadi takut, tubuhnya dijungkir balikkan, dia memiliki ilmu Bambu Bung Han tiok kang, karena itu melengkung panjang, dengan sepasang tangan yang masih ada bebas, dia menyerang punggung Su-to Yan.

Serangan ini datangnya dari bawah keatas, tanpa menghiraukan sepasang kakinya yang masih terpegang, dia menyerang hebat.

Su-to Yan melemparkan kedua kaki lawan nya, lagi-lagi dia menjauhkan diri.

Giok Hie mendapat kebebasan kembali.

Babak berikutnya diteruskan dengan pertempuran benturan-benturan tenaga tidak dapat dielakan lagi.

cepat, Giok Hie menendang sampai beberapa kali, Su-to Yan mengendekkan badan, menerjang maju, dan mengancam jalan darah Yauw-hu-hiat si tosu Tukang Sado.

Wajah Giok Hie menunjukkan senyuman, inilah akibat totokan Su-to Yan, jalan darah Yauw-hu-hiat mengandung perasaan geli, karena itu dia tertawa.

Pada detik-detik yang bersamaan, tendangan Giok Hie mengenai dada Su-to Yan, inilah ilmu Kaki Kepiting Mo-liong-tui.

Darah Su-to Yan dirasakan bergolak, tubuhnya terhuyung kebelakang, begitu hebat ilmu dari jaman purbakala itu, sebelah badan sipemuda dirasakan panas, dan lain bagian menjadi dingin, inilah siksaan luar biasa, dia mendapat gencetan hawa dingin dan hawa panas berbareng.

Giok Hie bersorak girang, dia menyusuli dengan serangan berikutnya.

Su-to Yan mendorongkan kedua telapak tangan, hawa panas dan hawa dingin bergulung, mempelintir tubuh si tosu Tukang Sado.

Giok Hie hanyut dibawah pusaran tenaga gaib itu.

Su-to Yan pernah diberi makan obat perekat Tong-hay Sin-ciauw, dan secara kebetulan, dia menyedot hawa dingin ketua lembah Cuigoat-kok Kiu-han Sinkun Kho Cio dan hawa panas Hoan-hian Mokun Thiat Kiam Seng.

Tendangan Kaki Kepiting si Tosu Tukang Sado Giok Hie memecahkan tempat penampungan kedua tenaga luar biasa itu maka Su-to Yan kehilangan kekuatan tempur.

Begitu berhasil mendorong lawannya, Su-to Yan membalikkan badan, dia melarikan diri.

Giok Hiok melawan kedua kekuatan hawa panas dan dingin, walaupun sudah payah, diapun berhasil menekannya.

Su-to Yan sudah lari sejauh puluhan tombak.

Giok Hie tidak mengenal lelah dia mengejar Terjadi kejar mengejar terus menerus, Giok Hie masih gesit, dia berhasil memperpendek jarak pengejaran.

Semakin lama semakin dekat.

Su-to Yan menyeruduk ke depan, tanpa memilih jalan yang lebih baik untuknya, Kini dia memasuki sebuah lembah.

Giok Hie juga tiba dimulut lembah itu, dia mendongakkan kepala, wajahnya berobah disana, didepannya ada tanda pedang kecil pada pohon yang agak tinggi juga terlihat tergantung sebatang pedang mungil.

Giok Hie tidak berani memasuki lembah itu, membalikkan diri, pergi ngeloyor.

Apa boleh buat, dia belum berani membangkitkan kemarahan orang yang memasang tanda kecil dimulut lembah.

Su-to Yan tidak memperhatikan adanya tanda-tanda itu, dia memasuki lembah semakin jauh.

Pohon-pohon bambu yang berwarna kuning memenuhi seluruh tempat, Su-to Yan masuk ke-dalam rimba bambu kuning.

Didalam daerah pohon bambu berwarna kuning itu Su-to Yan sesat jalan, Kemanapun dia pergi, tidak berhasil menemukan jalan keluar, semua adalah jalan mati, jalan buntu.

Dia melongok kebelakang, tidak ada tanda-tanda yang memberi tahu, bahwa Giok Hie mengejar sampai ditempat itu.

Hati Su-to Yan agak lega, Dia duduk bersila, mengatur peredaran jalan darahnya.

Kekuatan Kiu-han Sin-kun Kho Chio bersifat dingin, kekuatan Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng bersifat panas, dikala kedua jago ini mengadu kekuatan dilembah Cui-goat-kok, Su-to Yan menyelak masuk, tepat dibawah gencetan kedua orang itu.

Tanpa disengaja, obat perekat Tong hay Sin-ciauw telah menyedot kekuatan kedua orang.

Kini kekuatan itu dipecahkan oleh tendangan Giok Hie.

Su-to Yan harus mengatur kembali, Memberi wadah yang wajar kepada mereka.

Penyaluran yang seperti itu memakan waktu setengah hari.

Berkat latihan tenaga dalamnya yang tekun, Su-to Yan berhasil memisahkan kekuatan panas dan dingin.

Dia membuka kedua mata yang dirapatkan Kanan, kiri, depan dan belakang ada tumbuh pohon bambu, semua bentuk dan ukuran pohon itu sejenis.

Tidak dapat membedakan mereka.

Mungkinkah memasuki daerah seseorang tokoh silat yang pandai soal tim barisan" Su-to Yan memilih satu arah, dia bangkit dan menuju lurus kedepan.

Betapa jauh-pun dia melewati pohon-pohon bambu itu, masih belum juga berhasil keluar darinya.

Su-to Yan balik kembali, menuju kearah utara, dia hendak meninggalkan rimba bambu kuning, Adanya bambu-bambu kuning yang ditanam di lembah ini adalah khusus ditanam oleh seorang tokoh silat dari jaman purbakala, dia sudah buta, karena itu membutuhkan sesuatu yang dapat menjamin jiwanya.

Dia mengatur bambu-bambu ini sedemikian rupa, sehingga tidak mudah untuk mencelakainya.

Untuk memberi tanda kepada orang-orang yang tidak sengaja, pada mulut lembah diberi tanda pedang kecil.

To-su Tukang Sado Giok Hie melihat adanya tanda itu, dia tidak berani lancang masuk kedalam lembah Bambu Kuning.

Demikianlah Su to Yan buntu meninggalkan rimba bambu kuning.

jalan, dia tidak berhasil Setengah harian Su-to Yan terputar-putar didalam lembah itu.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh adanya sebatang pedang kecil yang tergantung disuatu pohon bambu.

Post a Comment