Halo!

Pedang Wucisian Chapter 42

Memuat...

-ooo0dw0ooo- Jilid 10 DATANGNYA suara tabuh khim itu mengejutkan si jago tiga jaman Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, dan kejadian berikutnya sudah dapat diduga, pertahanan Su-to Yan adalah kematian bagi tipu silat dari sang murid pertama.

Khim adalah nama dari semacam alat musik yang berbentuk seperti tabuh, hanya seorang yang pandai memainkan alat itu, si Tabuh Maut Wie Biauw, juga seorang jago silat dari jaman Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, kita kemukakan empat tokoh dari jaman purbakala yang memegang peranan penting di dalam cerita ini.

Tokoh pertama dari jaman purbakala adalah Pendekar Rajawali Mas Kie Eng.

Tokoh kedua dari jaman purbakala adalah akhli waris Guha Kematian Pek Tong Hie.

Tokoh ketiga dari jaman purbakala adalah si Tabuh maut Wie Biauw, orang ini yang ditakuti oleh Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

Dan tokoh keempat dari para jago purbakala itu adalah Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

Dari keempat orang yang kita uraikan di atas, Pendekar Rajawali Mas Kie Eng menduduki urutan pertama, dia memiliki kepintaran dan kecerdasan otak yang tiada taranya.

Dan untuk ilmu kepandaian Pek-ie Kauw-Cu Bong Bong Cu berkuasa penuh.

Disusul oleh si Tabuh Maut Wie Biauw yang dapat merendenginya.

Kita kembali pada pertempuran yang sedang terjadi.

Mendapat gemblengan semangat suara tabuh khim Wie Biauw, tenaga Su-to Yan bertambah cepat, dengan hanya genggaman gagang pedang, dia membentur tajamnya serangan Kong-yat Chiujit.

Kakinya tidak nganggur, membarengi gerakan tangan, menjebak dari bawah, inilah pelajaran yang didapat dari Sam-kie Ju-su In Hong.

Serangan Kong-yat Chiu-jit tertahan sebentar, dia tertegun.

Mundur sebentar dan mengirim serangan lainnya, kali ini mengincar iga Su-to Yan.

Adanya irama tabuh khim itu telah membantu Su-to Yan untuk mengimbangi kekuatan dirinya, kini dia dapat bernapas, peredaran darah yang lancar menjadikan suatu tata pertahanan yang lebih menyenangkan.

Dia menangkis setiap serangan yang datang.

Kong-yat Chiu-jit mempergencar serangannya, kali ini dia tidak berdaya, beberapa banyakpun serangan-serangan yang dilontarkan kepada Su-to Yan, semua itu dapat ditangkis dengan baik.

Semakin lama, pertempuran itu semakin cepat, ilmu kepandaian pulau Tong-hay memang luar biasa, memainkan tipu-tipu pemberian ayah angkatnya, Su-to Yan dapat melayani dengan lebih sempurna.

Giliran Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu yang mengerutkan alisnya, memperhatikan lagi beberapa waktu dia berteriak: "Kong-yat Chiu-jit, hentikan pertempuran ini." Si pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit mentaati perintah sang guru, tubuhnya mencelat ke belakang, keluar dari arena pertempuran.

Dan Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu menghadapi Su-to Yan.

"Tidak kusangka, kau masih ada hubungan dengan pulau Tong hay." Dia mengangukkan kepala.

Su-to Yan menyedot napasnya dalam-dalam, dia telah melakukan pertempuran yang cukup lama.

Sebelum dapat menjawab pertanyaan itu, suara tabuh khim itu berdering lagi, sangat tinggi, kemudian lenyap mendadak, Itu adalah peringatan dari orang yang membantunya, Su-to Yan belum tahu bahwa si Tabuh maut Wie Biauwlah yang menolong diri nya dari kehancuran.

"Siapakah orang ini?" ia bergumam seorang diri.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu tertawa.

"Dia mengacaukan usahaku." Dan menghadapi Su-to Yan lagi, "Baik kuatur seperti ini," katanya, "Aku tidak mau merebut kitab pusakamu, Tapi aku pun tidak rela membiarkan kau pergi begitu saja, Lemparlah ke atas, dan kau boleh merebut lagi.

Aku bertepuk tangan sehingga seratus kali, setelah itu.

Siapa yang dapat, itulah orang yang harus memilikinya.

Cara memperebutkan kitab ilmu pedang seperti usulku ini tidak akan mengganggu, bukan?" Su-to Yan tertegun, Tidak disangka bahwa Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengajukan tawaran yang sangat menguntungkan dirinya, Berani dia bertepuk sehingga seratus kali" Bukankah kitab ini sudah pulang kandang lagi" Melihat keragu-raguan pemuda itu, Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu tertawa.

"Kau jangan tidak percaya," Dia berkata, "Seratus gebrakan tangan itu hanya berlangsung didalam sekejap mata, bila aku tidak berhasil merebut kitab ilmu pedang Maya Nada, untuk selanjutnya, aku tidak mau berurusan denganmu lagi." "Baik." Su-to Yan menerima tantangan.

Dia mengeluarkan kitab ilmu pedang Maya Nada.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengangguk kan kepala.

"Nah, boleh kau mulai." Dia berkata.

Su-to Yan menimbangnimbang berat kitab yang dijadikan rebutan semua orang itu, lalu dia melempar keatas.

Secepat kilat, Pek-ie Kauwcu Bong-Bong Cu bertepuk tangan sehingga belasan kali.

Su-to Yan mempunyai banyak kesempatan dia tidak segera menutulkan dirinya membiarkan kitab itu sampai puncak tinggi, dan dikala hendak menukik turun, baru dia membentang ke dua belah tangannya, menutulkan kedua kaki, meluncur tinggi.

Disaat yang sama, Pek ie Kauwcu Bong-Bong Cu sudah melesat bertepuk tangan sehingga seratus kali, Tubuh jago purbakala inipun meluncur keatas.

Hanya terpaut beberapa meter saja dari Su-to Yan.

Dua tubuh itu meluncur cepat, Dikala tangan diri Su-to Yan dan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu hampir memperebutkan kitab itu.

Tiba-tiba meluncur benda merah yang sangat kecil, inilah seekor burung berbulu merah, bercahaya terang sekali, sangat gesit, mendahului gerakan kedua orang yang memperebutkan kitab pusaka, dia sudah mematuknya.

Dia terbang pergi.

Su-to Yan menubruk tempat kosong, Demikianpun, raihan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu, jago purbakala inipun tidak berhasil mendapat catatan ilmu pedang Maya Nada.

Burung berbulu merah itu sudah meluncur jauh, Paruhnya menjepit kitab Maya Nada kencang-kencang.

Tubuh Su-to Yan melayang turun, dan akhirnya menginjak tanah.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mempunyai gerakan yang lebih gesit, tanpa membiarkan dirinya melayang jatuh, mengempos beberapa tenaga, diapun meluncur kearah burung yang mencuri kitab ilmu pedang Maya Nada.

Dia mengadakan pengejaran.

Su-to Yan sadar akan kekalahannya, mengikuti gerakan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu..

sebentar kemudian jarak mereka semakin jauh dan akhirnya lenyap tidak terlihat.

Dia kehilangan jejak lawannya.

Kehilangan jejak burung kecil berwarna merah itu, juga kehilangan kitab ilmu pedang Maya Nada, Su-to Yan menghentikan pengejarannya, diam-diam tidak bisa berbuat apa-apa.

Apa yang harus dilakukan" perjalanan kearah lembah Hui in bertujuan untuk mengembalikan ilmu catatan pedang Maya Nada, kitab itu masih menjadi hak milik Ie Han Eng.

Tetapi kini kitab itu sekarang sudah lenyap dibawa lari oleh seekor burung merah, Bagaimana dia dapat memberi pertanggungan jawabnya" Malampun tiba, Su-to Yan memandang ke arah lembah Hui in, pikirannya kosong melompong, Apa yang dapat dikerjakan olehnya" Selama menerjunkan diri kedalam rimba persilatan, orang-orang yang dijumpai bertambah banyak, satu-persatu lebih lihay dari lainnya.

Dia menganggap dirinya sendiri masih kurang pandai, dia wajib menekunkan diri lagi.

Su-to Yan melanjutkan perjalanan dimalam hari.

Demikian sehingga dia lelah, memilih satu pohon yang agak besar dia nangkring dan tidur diatas pohon itu.

Terkenang kepada Cin Bwee, gadis itu berada didalam tangan Jie Ceng Peng, tentu saja tidak dapat memberi usul lain.

Si Pendekar Bayangan Sie An tidak ada kabar berita dan entah bagaimana dengan keadaannya.

Seorang lagi yang dapat membantu adalah si Anak Srigala Lee Pin, adanya pasukan itu dapat membantu banyak, saat ini, Lee Pin juga tidak berada disampingnya.

Su-to Yan penat memikirkan kejadian itu, akhirnya ia jatuh pulas.

Badan yang penat lebih cepat pulas, melakukan perjalanan dan pertempuran-pertempuran yang terus-menerus, menjadikan sipemuda tidak mengenal lelah, dan adanya waktu untuk istirahat begitu penting, Dia tidur lama sekali.

Matahari pagi menembus sela-sela daun menyinari pemuda itu, Masih juga Su-to Yan belum bangun.

Satu bayangan menghampiri Su-to Yan, tidak bersuara sama sekali, orang ini adalah bayangan seorang tua, pada tangannya menjinjing alat khim, dia membaringkan diri disamping sipemuda, Mengikuti suara ngorok Su-to Yan.

orang tua inipun mengeluarkan suara ngorok yang keras.

Su-to Yan mencelat bangun, Kaget sekali, menengok kiri, dan dia lebih-lebih terkejut lagi.

"Aaaaa..." Adanya orang tua yang terhalang tidur disamping sisinya itu mengagetkan dirinya.

Orang tua itu membuka kedua matanya, tertawa kearah Su-to Yan.

"Kau sudah bangun?" Dia bertanya.

Su-to Yan menganggukkan kepala, dia masih berpikir-pikir, siapakah orang tua ini" Apa maksud tujuannya tidur disamping dirinya" Mengapa tidak disadari sama sekali " Tentunya tokoh silat yang berkepandaian tinggi, "Su-to Yan," panggil orang tua itu.

"Urusan ilmu pedang Maya Nada bukanlah urusan anak muda, itulah urusan orang-orang yang sudah tua, Tidak perlu kau menyusahkan diri.

Biarkan saja diambil orang." "Aaa . . . " Su-to Yan kaget, Orang tua ini juga mengikuti perkembangan ilmu Pedang Maya Nada " "Bagaimana ?" orang tua itu melirikkan matanya.

"Kitab catatan ilmu pedang Maya Nada bukan hak milik boanpwee," Su-to Yan memberi keterangan.

"Itulah milik orang lain, boanpwee wajib mengembalikan kepadanya." "Kau hendak mengetahui jejak burung yang melarikan kitab itu?" bertanya siorang tua itu.

"Boanpwee sangat berterima kasih kepada petunjuk cianpwee." berkata Su-to Yan.

"Pergilah kearah utara sejarak lima lie, disana kau akan mengetahui, siapa yang melarikan kitab pusakamu." berkata orang tua itu, menenteng tubuhnya, dia meluncur pergi.

"Cianpwee . . . ." Su-to Yan memanggil.

Si Tabuh Maut tidak menghiraukan panggilan Su-to Yan.

Untuk mengejar, tentu saja tidak mungkin, dan tiada guna sama sekali, Su-to Yan mengambil putusan untuk mengikuti petunjuk menuju kearah utara.

Lima lie kemudian, Su-to Yan dapat menyaksikan api merah yang mencorong keluar dari semak-semak rimba.

Secara berindap-indap, Su-to Yan menyelinap kearah rimba itu.

Pada tumpukan kayu yang membara, bergelimpangan suatu benda, Dikala Su-to Yan memasang mata betul-betul, dia mengenali burung merah yang menyambar kitab ilmu pedangnya.

Burung merah itu sedang bermain di atas api, aneh, tidak selembar bulupun yang hangus terbakar.

Belum pernah Su-to Yan menyaksikan pemandangan yang seperti baru dilihatnya, yaitu adanya seekor burung yang bermandi api, ini adalah suatu kejadian yang sangat janggal sekali.

Teringat kepada kitab catatan ilmu pedangnya, burung ini bukan burung biasa" maka dapat menyambar kitab catatan itu, kini dia sedang bermandi api, gerak-geriknya sangat gesit, begitu lincah, menandakan kepuasan hatinya.

Post a Comment