Halo!

Pedang Wucisian Chapter 29

Memuat...

"Betul." Pemuda kita membenakan dugaan itu.

"Bagaimana dengan sebutan cianpwee yang mulia?" Orang itu mengacungkan tangan kanannya, dia memegang kipas sastrawan dan dibukanya kipas tersebut.

"Kenalkah dengan kipas ini?" Demikian dia bertanya.

Diatas kipas terdapat tulisan yang berbunyi seperti ini: "Berjibakulah untukku" "Aaaaa..." Su-to Yan hampir berteriak.

"Ha, ha..." Orang itu tertawa, "Untuk mengenal diriku memang tidak mudah, tapi siapakah yang tidak kenal kepada kipas ini?" Siapakah yang tidak kenal kepada sepasang Manusia Jibaku" Yang mendapat julukan sebagai Sepasang Manusia Jibaku adalah dua tokoh rimba persilatan, mereka bukan dua saudara juga bukan dua sahabat baik, tapi mereka mempunyai ciri-ciri yang sama, mereka mempunyai pengorbanan.

Arti dari pengorbanan adalah berkorban untuk menolong orang, boleh juga diartikan dengan orang lain harus berkorban untuk kejayaan diriku.

Dua macam pengertian yang tidak sama.

Sepasang Manusia Jibaku adalah dua orang yang tidak meninggikan pengorbanan, Seng-mo Leng Kho Tiok menggunakan kipas "Berjibakulah" Untukku.

Dia mementingkan diri sendiri, demi kepentingan dan kejayaannya, semua orang diwajibkan memberi Dan seorang lagi yang menggunakan motto pengorbanan adalah Su-mo Min Kho- Siong, dia menggunakan kipas, Aku Wajib Berjibaku, demi kepentingan umat manusia, dia wajib menyumbangkan tenaganya.

Karena itulah, pada suatu hari, dia kehilangan kipas itu, pengorbanannya telah banyak, Hampir-hampir kehilangan jiwa, betul-betul hendak berjibaku.

Bercerita Seng-mo Leng Kho Tiok pada Su-to Yan.

Su-to Yan agak gentar menghadapi tokoh silat yang satu ini Sepasang Manusia Berjibaku belum pernah menemukan tandingan, tentu saja mereka berani memaksakan orang berjibaku atau berjibaku untuk orang.

Seng-mo Leng Kho Tiok berkata: "Bagaimana?" "Ternyata Seng-Mo Leng Khio Tiok Cianpwee." Su-to Yan memberi hormat.

"Ha, ha ha, ha...

Belum melupakan namaku, bukan?" Seng-mo Leng Kho Tiok sangat puas.

"Tentu belum melupakan peraturanperaturan yang kutetapkan juga?" Su-to Yan berkata: "Kedudukan cianpwee berada diatas generasi tertinggi, mungkinkah bersedia menurunkan martabat, menempur seorang anak muda yang baru menampilkan diri seperti aku?" "Ha, ha..." Seng-mo Leng Kho Tiok tertawa, "Aku manusia, kau juga manusia, derajad manusia tidak ada perbedaan, bukan?" Mengetahui bahwa Seng-mo Leng Kho Tiok tidak mementingkan urutan generasi tua dan muda, tidak sungkan-sungkan untuk menggempur siapa saja, lenyaplah harapan Su-to Yan untuk mencegah pertempuran.

"Apa yang kau ingini?" Bertanya Su-to Yan secara blak-blakan.

"Kau memiliki sebuah kitab ilmu yang bernama ilmu pedang Maya Nada, Aku tahu.

jangan mencoba untuk menyangkal." Sengmo Leng Kho Tiok sangat rakus kepada kekayaan dan kepusakaan, Dan masih menghendaki catatan ilmu silat itu.

"Dan aku menghendaki kitab itu." Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepala, lagi-lagi persoalan ilmu pedang Maya Nada, ilmu pedang yang tak diketahui sama sekali.

"Aku tidak mengerti." Dia menyangkal.

Seng-lo Leng Kho Tiok tidak marah, dia tertawa berkakakan.

"Ha, ha...

jawaban yang sudah berada didalam perhitunganku Tentunya kau tidak mau nyerah, sebelum dikalahkan olehku, bukan ?".

Memang demikian sifat-sifat manusia, maunya dipaksa saja, seperti seekor kuda, harus mendapat cambukan-cambukan, baru dia mau berlari kencang, setelah itu, dia lambat-lambatan lagi.

Akan kupaksa kau mengeluarkan kitab tersebut, dan waktu itu, kau akan kehilangan kedua tangan dan kedua kaki." Su-to Yan mengajukan protes: "Kau kejam, Kau belum pernah merasakan, bagaimana sengsaranya seorang yang telah tiada berkepandaian, ingin sekali aku dapat memuaskan semua ilmu kepandaianmu, maka kau baru tahu, betapa sakitnya orang persakitan yang menjadi korban kejahatanmu." "Ha, ha, ha .." Seng mo Leng Kho Tiok tertawa, "Sudah lama aku tidak menampakkan diri, hari ini dapat menjumpai Setelah kau kukalahkan maka kedua tangan dan kakimu tidak akan terhindar dari kerusakan." Seng-mo Leng Kho Tiok hendak memapas putus kaki dan tangan Su-to Yan.

Berbareng kata-katanya yang terakhir, tubuh manusia yang senang mengorbankan kepentingan orang itu terbang keatas, dan begitu cepat gerakannya, dengan sepasang jari, dia mengancam Su-to Yan bertepuk tangan, memecah kekanan dan kekiri, kemudian mendorong semua sisa tenaga kearah datangnya jari tangan Seng-mo Leng Kho Tiok.

Serangan Seng mo Leng Kho Tiok tertahan di luar benteng pertahanan Su-to Yan, tubuhnya mumbul tinggi, dengan kecepatan yang sangat luar biasa, dia menggunakan kipas menepuk kepala si pemuda.

Su-to gerakan datang, Pertama Yan menyedot napas, tubuhnya mumbul keatas, dengan yang tidak kalah cepat, dia lari, sebelum serangan musuh ini tipu yang bernama Sin-mo ju sian atau iblis Sakti Kali Menampilkan diri.

Seng-mo-Leng Kho Tiok mengeluarkan pujian: "Luar biasa, tidak percuma kau menjadi murid Ciok Pek Jiak yang ternama." Tanpa mengurangi kecepatannya, Seng-mo Leng-kho Tiok mengancam jalan darah kie-bun hiat lagi.

Menyaksikan kecepatan tubuh lawannya yang dapat bicara sambil menyerang tanpa mengurangi kecekatannya, Su-to Yan goyang kepala, dia mengerahkan ilmu It-bok Cin-khie atau ilmu Kabut Hijau untuk melindungi diri.

Seng mo Leng Kho Tiok menggunakan kipas dan jari, bergantian mencari lolongan dari penjagaan seluruh bagian tubuh Su-to Yan yang terlindung kuat, bermain seperti ular kecil.

Seolah-olah hendak melilit tubuh sang korban, Su-to Yan dikurung oleh bayanganbayangannya.

Perkutetan yang seperti itu memakan waktu yang cukup lama, siapa lengah, orang-orang itu lah yang akan kalah.

Seng mo Leng Kho-Tiok lebih berpengalaman, suatu saat, dia memberi kelonggaran-maksudnya memancing datang serangan balasan sipemuda, dan itulah waktu-waktu untuk menemukan Su-to Yan mempunyai mata yang tajam, sayang belum dapat menembus tipu muslihat musuh, dia mengetahui suatu keuntungan, ketika kipas Seng-mo Leng Kho Tiok hampir tidak terjaga, dengan satu jurus tipu Thian-mo-nie hun-ciauw, melepaskan penjagaan dirisendiri, Su-to Yan menarik diri dari lingkaran Kabut Hijau, tangannya dipanjangkan, merebut kipas musuh.

Tepat!

Kipas berhasil dicengkram, Seng mo Leng Kho Tiok tidak dapat disamakan dengan pendekar-pendekar muda yang kurang pengalaman, didalam hati tukang gasak harta benda milik orang ini tertawa, begitu kekuatan Su-to Yan menempel dikipas, Seng - mo Leng Kho Tiok menggentak keras, dengan satu geraman yang memekikkan telinga dia membentak.

"Lepas!" Menyalurkan tenaga dalamnya yang menembus kipas, Seng-mo Leng Kho Tiok hendak menerbangkan tubuh lawannya.

Su-to Yan telah mewarisi semua kekuatan tenaga dalam Ciok Pek Jiak, walau belum dapat menguasai semua kekuatan-kekuatan itu, dia masih cukup tangguh.

Dirinya telah masuk kedalam jaring lawan yang terpasang bagus, jari-jarinya dikerahkan, masih berusaha merebut senjata kipas Sengmo Leng Kho Tiok.

Terjadi pergumulan tenaga dalam, Seng-mo Leng Kho Tiok berdengus: "Tenagamu cukup hebat, hee?" Secara bertahap, dia menambah tenaga dalamnya jalur-jalur ini saling susul diantara gagang kipas, menerjang Su-to Yan, Terasa betul selisih perbedaan tenaga kekuatan mereka.

Seng mo Leng Kho Tiok dapat memperhatikan turunnya butiran keringat diatas jiat lawan.

Su-to Yan menggeretek gigi, dia masih hendak mempertahankan kedudukannya, melepas tangan berarti mendatangkan maut tenaga dalam Seng-mo Leng Kho Tiok beserta tarikan tenaganya akan menghancur luluhkan isi badan, Maka dia wajib bertahan diatas kipas.

Seng-mo Leng Kho Tiok memperlihatkan senyum iblisnya.

Su-to Yan menyengir bukan waktunya dia mengadu tenaga, berapa lamapun dia bertahan pasti tidak sanggup menguasai diri sendiri, sedikit demi sedikit, Seng-mo Leng Kho Tiok mendesak dirinya.

Dari harus menyerahkan diri begitu saja, timbul niatan untuk mengadu jiwa.

Tangan kirinyapun turut maju, dia memecah kekuatan dikedua tangan, dan secara mendadak sekali, menarik semua kekuatan yang ada, tangan kanan memainkan tipu Kui-ong Hui-san, memukul Seng-mo Leng Kho Tiok, inilah cara mengadu jiwa, jika dia berhasil memukul musuh itu, karena semua kekuatan berpindah kekiri, dirinyapun tidak luput dari kematian.

Seng-mo Leng Kho Tiok tidak mau mati bersama, dia tidak meneruskan pukulannya dan menarik sebagian untuk mempertahankan diri.

Terdengar suara benturan, masing-masing menerima hadiah bagian lawan.

Tubuh Su-to Yan terpukul jatuh kebelakang, setelah berhasil memukul pundak lawannya.

Pukulan Kui-Ong Hui-san memaksa Seng-mo Leng Kho Tiok memuntahkan darah segar.

Su-to Yan hanya menerima setengah dari pukulan Seng-mo Leng Kho Tiok, inipun sudah cukup untuk dirasakan, lukanya lebih parah dari musuhnya, dia hampir jatuh tertelungkup, sedapat mungkin dia mempertahankan diri, dan dia berhasil, dia mempertahankan dirinya di hadapan musuh itu.

Mereka saling pandang.

Su-to Yan menelan semua luka-lukanya, dia berdiri dengan gagah.

Hampir Seng-mo Leng Kho Tiok berteriak, belum pernah ada orang yang dapat menerima seperempat bagian tenaga pukulannya, dan pemuda ini telah menerima sebagian besar dari pukulan dahsyat itu, yang aneh, dia belum mati, bahkan masih sangat sehat.

Kini musuh itu maju lagi, tentunya hendak menamatkan jiwanya yang sudah menderita luka.

Dia tidak tahu, bahwa Su-to Yan juga menderita luka parah.

Inilah cara cara Su-to Yan untuk menundukkan musuh, langkah kakinya digeser lagi kedepan.

Seng-mo Leng Kho Tiok adalah seorang kejam, dia sering melakukan pembunuhan-pembunuhan, belum pernah dia mengenal kasihan, dan kali ini dia mendapat giliran untuk menghadapi tangan elmaut, untuk mengadu kekuatan lagi, dia sudah kehilangan pegangan, demi memperpanjang hidup tuanya, dia membalikkan badan melarikan diri!

Su-to Yan nyaris dari kematian, Bila meneruskan pertarungan seperti tadi, tentu dia akan mati lebih dahulu.

Post a Comment