Hati sipemuda bergoncang keras, memberi hormat kepada gadis tersebut, dia berkata: "Nona Jie, baik-baik sajalah kesehatanmu?" "Terima kasih." berkata sigadis, "Kesehatanku cukup baik, kesehatanmulah yang mungkin akan terganggu.
Mari kau ikut aku." "Eh, apa artinya kata-katamu tadi?" Su-to Yan tidak mengerti.
"Lekas kau turut aku." berkata Jie Ceng Peng, "Kau telah berada didalam kurungan orang-orang ayahku." "Ayah nona?" Su-to Yan membelalakkan mata.
"Bagaimanakah gelar sebutan ayah nona yang mulia ?" "Pernah dengar nama Ie Han Liu ?" "Aaa...." Su-to Yan terkejut Ie Han Liu adalah musuh nomor satu dari Ciok Pek Jiak, Disini dia telah berhadapan dengan puteri musuh "tidak percaya?" Berkata lagi Jie Ceng Peng.
Timbul sipat kejantanan Su-to Yan, maksud baik Jie Ceng peng tidak bisa dikabulkan, Dan mungkinkah dia takut kepada keroyokan orang-orang itu" Tentu tidak, Dengan sikapnya yang kaku, dia berkata: "Atas kebaikan hati nona, dengan mengucapkan beribu-ribu terima kasih." ini, aku Su-to Yan Alis lentik Jie Ceng Peng terungkit kemudian menurun kembali, dia sangat sedih.
"Kau...." suaranya terputus.
"Aku hendak melanjutkan perjalanan," Berkata Su-to Yan, "Selamat tinggal." Tubuh sipemuda melesat ke puncak gunung, Jie Ceng Peng berteriak: "Tunggu dulu..." Su-to Yan menghentikan gerakannya, menoleh kebelakang, menunggu kata-kata penjelasan sigadis dari golongan Thian-lam Losat.
Jie Ceng Peng berkata: "Kemana kau hendak pergi?" "Lembah Cui-goat-kok." Berkata menyertai keterangan lainnya.
Su-to Yan singkat, tidak "Hendak menolong Cin Bwee?" "Kau....Kau bagaimana tahu?" Su-to Yan terkejut.
"Mengapa tidak tahu?" Jie Ceng Peng tertawa tawar.
"Cin Bwee telah dibawa oleh Cu-kat Hong.
Kau telah mendapat kemajuan di biang ilmu pedang, Anggapanmu sudah bisa menguasai dunia" Hendak menjadi seorang raja Silat" Kau belum kenal keadaan lembah Cui-goat-kok, hendak mengantarkan jiwa ketempat itu." Semakin lama, mata Su-to Yan semakin besar, ternyata gadis dari golongan Thian-lam Lo-sat ini telah mengikuti geraknya, seolaholah bayangan saja.
tidak satupun kejadian yang luput dari pemeriksaannya.
-ooo0dw0ooo- Jilid 7 "BAGAIMANA kau tahu?" Dia bertanya.
"Kau hendak menolong Cin Bwee, bukan?" Jie Ceng Peng tidak menjawab pertanyaan orang.
"Betul." Su-to Yan menganggukkan kepalanya.
"Mari ikut aku." Su-to Yan batal meninggalkan gadis itu, diketahui bahwa Jie Ceng Peng mempunyai banyak jalan pikiran, tentu mempunyai caracara yang terbagus untuk menolong Cin Bwee dari lubang kesusahan, maka dia harus taat kepada gadis tersebut.
Jie Ceng Peng berjalan didepan, memasuki sebuah rumpun bambu, berliku-liku didalam pohon-pohon itu, dia membawa Su-to Yan ke suatu tempat.
"Sungguh membuat aku tidak mengerti." Suatu ketika Jie Ceng Peng mengucapkan kata-kata itu, "Bagaimana kau dapat tertarik kepada Cin Bwee yang nakal berandalan." Su-to Yan tidak menjawab pertanyaan itu.
"Hei, kau tidak dengar kata-kataku?" Bertanya Jie Ceng Peng menoleh ke belakang.
"Ng..." "Hubunganmu dengan Cin Bwee hanya terjadi didalam hari-hari belakangan ini, bukan?" "Ng..." Su-to Yan menganggukan kepala.
"Baikkah dia kepadamu?" "Nggg..." "Kalian telah saling cinta?" "Kukira demikian." Berkata Su-to Yan menundukkan kepala.
"Aku tidak mengerti." Berkata Jie Ceng Peng, "Dimanakah letak kecantikan Cin Bwee?" "Setiap wanita mempunyai kecantikan-kecantikan yang tersendiri.
Katakan dia cantik, tapi belum tentu orang lain dapat menyetujui kesan pendapatku itu." "Betul." "Kau menyetujui pandanganku?" bertanya Su-to Yan.
"Pandangan tentang apa?" bertanya Jie Ceng Peng.
"Tentang Cin Bwee." Su-to Yan membanggakan gadisnya.
"Huh..." Jie Ceng Peng menghentikan langkahnya, memandang Su-to Yun.
"Bagaimana kesanmu kepadaku?" Su-to Yan tertegun, Dua pasang mata saling pandang.
"Bagaimana?" Desak gadis itu.
"Cantikkah aku?" Su-to Yan menganggukkan kepalanya, "Kau pun termasuk salah seorang gadis yang sangat cantik," Dengan terus terang, pemuda itu mengucapkan kata-kata hatinya.
"Bagaimana kecantikanku, bila dibandingkan dengan Cin Bwee?" bertanya lagi Jie Cin Peng.
"Aku tidak tahu," Su-to Yan mengalihkan pandangan.
Si Pedang Emas Jie Ceng Peng menarik napas, jawaban pemuda itu sangat mengecewakan dirinya.
Akhirnya Su-to Yan mendongakkan kepala, masih menantang sinar mata Jie Ceng Peng yang sangat menantikan sesuatu.
"Sungguh." Su-to Yan memberi ketegasan, "Aku tidak tahu !" Jie Ceng Peng tidak mendesak lagi, dia mengangkat kaki melanjutkan perjalanan mereka.
Su-to Yan mengikuti dibelakang bayangan gadis itu.
Mereka telah tiba disebuah rumah kayu, memasuki rumah itu, Jie-Ceng Peng berkata: "Duduklah sebentar." Dan memanggil kedalam: Seorang gadis pelayan muncul didepan mereka, itulah dayang Jie Ceng Peng yang setia.
"Aaaa . . . .
" Siauw In berteriak girang.
"Telah kembali" Ekh, Suto kongcu juga turut serta?" "Bawakan air minum untuk Su-to kong-cu." Jie Ceng Peng memberi perintah kepada sang pembantu.
Cepat-cepat Siauw In membawakan air.
"Su-to kongcu, silahkan minum." Gadis ini sangat ramah sekali, Su-to Yan memandang Jie Ceng Peng.
"Mengapa kau bawa aku ketempat ini?" Dia menaruh curiga.
"Jangan khawatir." Berkata sipedang Emas, "Duduklah sebentar, aku hendak melihat keadaan mereka." Tanpa menunggu reaksi sang tamu yang hendak mengajukan protes, Jie Ceng Peng meninggalkan ruangan itu.
Su-to Yan memperhatikan keadaan didalam rumah kayu, semacam bau wangi-wangian menusuk hidung, tentunya rempahrempah yang sering digunakan oleh kaum wanita, Jie Ceng Peng pandai ilmu silat, tapi sifat kewanitaannya tidak lepas, dia masih mempunyai kesenangan untuk hidup didalam alam kebenaran.
Dari bayangan Jie Ceng Peng, kenangan Su-to Yan lari kembali kerumah kayu Ie Han Eng.
Kecantikan Jie Ceng Peng tidak kalah dengan Sang bidadari dari lembah Hui-in, mengapa tidak ada yang memberi gelar bidadari kepada-Jie Ceng peng" Tiba-tiba satu suara tertawa memecahkan lamunan Su-to Yan.
"Kongcu," inilah suara Siauw In.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Su-to Yan menganggukan kepala, dia berkata: "Siapakah yang menggunakan tempat ini" "Nona Jie," jawab Siauw In "Dan aku hanya menyediakan segala kebutuhannya.
Kecuali ayahnya, dia melarang setiap orang masuk ketempatnya.
Aku heran, mengapa ia mengundang kau datang" Dan membiarkan kau memasuki tempatnya?" Su-to Yan merasakan sesuatu yang terselip dari kata-kata Siauw In tadi, dia tidak berani membayangkan kejadian-kejadian yang akan menimpa dirinya.
Siauw In berkata lagi: "Begitu baik nona Jie Ceng Peng memperlakukan dirimu, bagaimana kau membalas kebaikan itu?" "Maksudmu?" Su-to Yan semakin tidak enak.
Sebelum Siauw In memberikan jawaban Jie Ceng Peng melayang masuk, maka pelayan tersebut menutup mulut.
Jie Ceng Peng berkata: "Mereka tidak berhasil menemukan jejakmu, kukira segera membubarkan diri.
Sebentar lagi kau boleh pergi." Su-to Yan tertawa nyengir, dia sedang berhadapan dengan musuh gurunya yang nomor satu, bukan memberi pelayanan yang selayaknya tapi bersembunyi ditempat putri musuh itu.
Jie Ceng Peng berkata lagi: "Eh.
Kau berhasil menemukan Ie Han Eng?" "Ng . . . " Su-to Yan menganggukkan kepala.
"Cantikkah orang yang mendapat julukan bidadari itu?" Bertanya Lagi-lagi Su-to Yan menganggukan kepala.
"Bagaimana kecantikan Ie Han Eng, bila dibandingkan dengan diriku?" Jie Ceng Peng tertawa.
"Kalian mempunyai ciri-ciri yang tersendiri dia lemah darimu, mempunyai tipe yang pendiam, Kau berkepandaian silat tinggi mempunyai tipe yang agak agung, wajib dijunjung orang.
Kedua macam tipe yang tidak bersamaan ini tidak dapat dinilai dengan angka pertandingan.
"Dan tipe mana yang kau lebih suka " Yang pendiam atau yang agung?" Mata Jie Ceng Peng berkilat-kilat.
Su-to Yan tertegun, dia mendapat ujian berat, pertanyaan Jie Ceng Peng berarti memberi dua jalan untuk dirinya, Mana yang disukai olehnya" Jie Peng Ceng atau sibidadari dari lembah Hui-in Ie Han Eng " "Aku tidak tahu." Su-to Yan tidak mau membiarkan otaknya dikalutkan oleh pikiran-pikiran itu.
Jie Ceng Peng tertawa, dia berkata lagi: "Eh, bagaimana bila aku menyertaimu pergi kelembah Cui-goatkok?" Nona itu menawarkan jasa baiknya, ilmu silat Jie Ceng Peng lihay, otaknya juga lihay, Bila mendapat bantuan dirinya, tentu lebih mudah untuk menundukkan lembah Cui-goat-kok.
Tujuan Su-to Yan yang hendak pergi ke lembah Cui-goat-kok untuk menolong Cin Bwee, sedang gadis itu mempunyai ambekan yang besar cemburu, bila dia tahu sang kekasih melakukan perjalanan dengan seorang gadis yang dicemburui olehnya, Tentu berakibat lain.
Su-to Yan terpaksa menolak, katanya perlahan: "Dia akan menjadi tidak senang." tidak perlu menyebut nama itu, Jie Ceng Peng juga sudah dapat menduga, tentunya Cin Bwee yang diartikan oleh si pemuda.
"Aku tahu." Dia berkata, "tidak mungkinkan mau melakukan perjalanan dengan diriku, seorang gadis dari golongan Thian-lam Lo-sat yang ditakuti.
Akupun tahu, cintamu kepada Cin Bwee tidak mungkin dipadamkan.
Anggap saja aku yang tidak tahu malu, tidak tahu diri.
Kata-kataku tadi hanya bersifat menjelajahi hatimu, bukan sungguh-sungguh." Su-to Yan tidak pandai bicara.
Lebih baik bungkam seribu bahasa.
"Mari kuantar kau dari daerah ini." berkata Jie Ceng Peng, "Kuberi petunjuk, kemana Cu kat Hong melarikan kekasihnya itu." Jie Ceng Peng mengantarkan Su-to Yan keluar dari tempatnya.
Mereka menuju kearah utara.
Sigadis hanya mengantar Su-to Yan sampai disuatu tempat yang aman, setelah itu, dia kembali kedalam lembah yang semula.
Su-to Yan menuju kearah lembah Cui-goat-kok.
Cepat sekali, dia telah keluar dari daerah Bu-san, tentunya sudah tidak ada orang yang hendak meminta ilmu pedang Maya Nada dan dia belum pernah melihat kitab ini.
Betulkah tidak ada orang yang mengganggu perjalanan Su-to Yan " Kenyataan sering berlawanan dengan apa yang kita harapharapkan.
Satu bayangan putih memantul dari arah tebing gunung, langsung menuju kearah jalan yang hendak ditempuh oleh Su-to Yan.
"Ha, ha, ha, ha..." Orang berbaju putih itu tertawa puas.
Didepan si pemuda telah muncul seorang berbaju putih, caracara dia mengenakan pakaian seperti kaum sastrawan, tapi sudah terlalu tua untuk menggunakan pakaian itu.
Su-to Yan tidak dapat menduga, siapa sastrawan tua yang melintangkan diri dihadapannya.
Orang itu memantek sepasang sinar matanya, seolah-olah hendak menembus isi badan Su-to Yan.
"Kau inikah yang bernama Su-to Yan?" Akhirnya dia mengajukan pertanyaan.