Halo!

Pedang Wucisian Chapter 27

Memuat...

Dia lebih mahir menggunakan sepasang tangannya !

Ilmu pedang sangat penting, mengingat di masa itu, semua orang mengutamakan gerakan-gerakan silat dibilang senjata tajam yang enteng dan ringan itu.

Ketua partay Cian-San-pay Su In Seng telah bersilat khas dimasa itu, maksudnya agar Su-to Yan memperhatikan ilmu pedang CianSan Kiam-hoat.

Selesai satu serie, Su In Seng mengulang kembali.

Lebih lambat dan lebih perlahan.

Su-to Yan memperhatikan ilmu pedang Cian-san Kiam-hoat yang dimainkan oleh ketua partay Cian san-pay.

Su In Seng memainkan ilmu pedang partaynya untuk ketiga kali, Dengan kepintaran yang Su-to Yan miliki, cukup panjang waktu waktu untuk memperhatikan ilmu pedang yang didemontrasikan didepannya, Selesai bersilat Su In Seng tertawa berkakakan, tubuhnya melayang keluar gua, menyelipkan pedang, dan meninggalkan pemuda itu.

Masih terdengar suara yang ditinggalkan oleh ketua partay itu, demikian bunyinya: "Kau bukan anak murid Cian-san-pay, kau bebas bekerja untuk siapapun juga.

Selamat bertemu dilain waktu." Tubuhnya lenyap tanpa bekas.

Su-to Yan termenung memikirkan kejadian aneh yang dialami olehnya, Bayangan-bayangan ilmu pedang Cian-san-pay, yang mempunyai ciri ciri tertentu masih mengarungi benak pikirannya.

Dia mengeluarkan pedang Lay-hong.

mengikuti bayanganbayangan ilmu pedang tersebut pemuda kita bersilat.

Hebat !

Permainan Su-to Yan tidak kalah dengan apa yang telah dipertontonkan oleh Su In Seng.

Hanya kecepatan yang belum dapat memadai kecepatan ketua partay itu.

Su-to Yan menutup akhir pelajaran Cian-san Kiam-hoat, dia teringat kepada Sie An yang masih menunggu dirinya, mereka wajib segera kelembah Cui-goat-kok, disana Cin Bwee masih menderita.

Meninggalkan gua Su In Seng, haripun telah menjadi pagi, Su-to Yan tidak berhasil menemukan jejak Sie An, entah kemana perginya manusia pendek itu.

Dia melakukan perjalanan seorang diri.

Tugasnya untuk menyerahkan pedang kepada Ie Han Eng telah selesai, sebagai hadiah dia mendapatkan pedang Lay-hong.

Su-to Yan belum dapat menerka, apakah maksud kombinasi didalam pertukaran kedua pedang ini.

Dia boleh puas, karena dapat menyerahkan pedang ke tempat tujuan.

Su-to Yan sudah kecantol asmara, adanya Cin Bwee yang besar cemburu itu akan mengikat dirinya, Cin Bwee telah dibawa oleh Cukat Hong, kini dia menuju kearah lembah Cui goat-kok.

Satu bayangan kuning melesat, itulah Padri Mangkuk Mas dari gunung Ngo tay san Kim Pun Ceng.

Apa maksud tujuan Kim pun Ceng berlari seperti itu" Seolah-olah sedang melakukan suatu tugas penting, dia tidak melihat akan kehadirannya Su-to Yan.

Su-to Yan bukanlah seorang pemuda yang gemar bertempur musuh tidak mengganggu diri nya, diapun tidak pernah mengganggu orang, Dibiarkan saja Kim Pun Ceng berlalu.

Hweesio dari Ngo tay san telah berangkat pergi.

Su-to Yan melanjutkan perjalanan, menuju kearah lembah Cui goat kok.

Kadangkala nasib suka mengganggu usaha manusia, Su-to Yan tidak mempunyai maksud untuk mencari urusan, tapi urusan yang selalu mendatangi dirinya, lagi-lagi ada dua hweesio yang melintangi jalan, setelah menyebut nama Budha, kedua hweesio itu berkata: "Su-to sicukah yang datang?" Su-to Yan menghentikan langkahnya, menatap kedua hwesio itu, mereka mengenakan pakaian warna kelabu, pelipisnya cekung ke dalam, suatu tanda berkepandaian ilmu silat.

"Betul." Dia membenakan pertanyaan mereka.

Hwesio yang dikanan memperkenalkan diri: "Pinceng Hian-hoat dari Siau-lim-Sie." Dan menunjuk kawannya, dia berkata: "Suheng pinceng yang bernama Hian-goan, Kami berdua mendapat tugas untuk mengundang Su-to Sicu." Hwesio Siauw limpay yang mengadakan gangguan.

Su-to Yan maklum akan permusuhan gurunya dengan partay tersebut, pernah juga sang guru bercerita, suatu ketika guru itu menerjang gereja Siauw-lim-sie dan membunuh beberapa jago dari partai yang bersangkutan.

Bibit permusuhan Ciok Pek Jiak dengan pihak Siauw-lim-pay jatuh keatas dua pundak Su-to Yan.

Su-to Yan berkata: "Siauw-lim-pay mengundang" Suatu keberuntungan bagi Su-to Yan.

Sayang jika menolak undangan ini, apa mau urusan sangat penting, bolehkah kalian memberi tahu, bahwa aku ingin meninggalkan kunjungan itu?" Hian-hoat dan Hian-goan berkata.

"Ketua partay telah memberi tugas kepada kami berdua untuk mengundang Su-to sicu, kami kira tanggung jawab ini terlalu berat." "Maksud kedua taysu?" Su-to Yan memandang kedua hwesio itu, "Kami harapkan kedatangan sicu diatas gunung," Berkata Hiangoan.

"Bukan hari ini?" Berkata Su-to Yan.

"Tung...

tung..." dua hwesio itu mementingkan kedua tongkat mereka, itulah suara tanda bahwa pertempuran tidak dapat dihindari.

Sret...

Su-to Yan mengeluarkan pedang Lay-hong.

"Sicu tidak mau ikut, bagaimana kami harus memberikan pertanggung jawaban kami?" Bertanya Hian-hoat.

Su-to Yan berkata beringas: "Aku akan ikut ke gereja Siauw-lim-Sie, manakala kalian dapat mengalahkan aku." "Baik, terpaksa kami harus menggunakan kekerasan." Berkata Hiat-goan yang mulai mengayun tongkatnya.

Gerakan mana diikuti oleh Hian-hoat.

Dari kiri dan kanan, kedua hweshio ini memberikan suatu tekanan kekuatan atas diri Su-to Yan.

Sebab musahab dari bentroknya Ciok Pek Jiak dan Siauw-lim-pay dikarenakan adanya persamaan ilmu silat, sedikit banyak Su-to Yan mempunyai penilaian tertentu atas gerakan Siauw lim-pay.

Cara penyerangan Hian-hoat dan Hiat-goan adalah cara-cara yang biasa digunakan oleh anak murid Siauw-lim pay.

Su-to Yan menunggu sampai kedua gerakan hwesio itu bekerja sampai setengah jalan, dan dengan suatu kecepatan kilat, dengan tipu Gim liong Nu-hauw atau Menangkap Naga Mencekal Harimau, menggunakan tangan dan pedang, mendahului gerakan lawan.

Tipu Gim-liong Nu"hauw juga termasuk salah satu tipu pelajaran Siauw lim-pay, sengaja Su-to Yan menggunakan ilmu tadi, maksudnya memberi tahu kepada kedua hwesio itu, bahwa diapun telah mewarisi kepandaian Ciok Pek Jiak, masih mahir menggunakan tipu-tipu silat Siauw-lim-pay.

Ada baiknya tidak meneruskan pertempuran itu.

Hian-hoat dan Hian-goan mendapat tugas khusus untuk mengundang Su-to Yan, perintah Siauw-lim-pay ini harus ditaati, mereka telah berhasil menemukan orang yang bersangkutan tentu saja harus membujuknya untuk turut serta.

Yang mengganggu usaha adalah kebandelan pemuda itu, Su-to Yan menolak undangan, maka terjadi pertempuran.

Su-to Yan memainkan tipu silat Gim-liong Nu-hauw.

Cara yang terbaik untuk menghadapi gerakan ini adalah permainan Cap-pat Lo-han-kun atau 18 jurus pukulan, Hian-goan dua saudara menggunakan tipu itu untuk menghadapi Su-to Yan.

Hian-hoat dan Hian-goan menggencet Su-to Yan ditengah tengah, dari kiri dan kanan, mereka menyerang bergantian.

Su-to Yan memutar badan, bayangannya menerjang kearah Hian-hoat, maka pedang mengikuti musuh itu.

Walau demikian, pukulan tangannya tidak meninggalkan Hian-goan, berbareng Hian-hoat lari menghindari tusukan pedang tajam, celaka lagi Hian-goan, ia mendapat tekan yang lebih erat, Menyingkirnya Hianhoat dari serangan Su-to Yan berarti menambah beban baginya.

Su-to Yan lebih mahir menggunakan sepasang telapak tangannya, dia berhasil menjauhkan Hian-hoat, tangannya mengibrik, dengan jurus Kui-ong Hui-san, dia mencengkeram pundak hwesio itu, disentil sedikit, melemparkan tubuhnya.

Hian-hoat merasa ditipu mentah-mentah, tongkatnya diayun datang, mengepruk kearah kepala Su-to Yan.

Su-to Yan sudah berhasil menyingkirkan Hian-goan, datangnya serangan tongkat sudah berada didalam perhitungan, dia kembalikan tangan, dengan tipu Sin mo da kie atau iblis Sakti Menarik Kereta, dia menangkap tongkat, membiarkan Senjata dan tubuh sipemiliknya melewati diatas kepala, terbang kedepan.

Dua hwesio Siauw-lim-pay telah di jatuh kan oleh jago kita.

"Masih ada minat untuk meneruskan pertandingan?" Su-to Yan menantang kedua pecundangnya.

Hian-hoat dan Hian-goan tidak mengalami cedera, hanya di dalam beberapa gebrakan saja, mereka telah di sisihkan oleh anak muda itu, tentu tidak berani memaksanya lagi.

"Kami berdua tidak mempunyai kekuatan untuk memaksa sicu turut kepada kami.

Sampai disini saja pertemuan kita, jangan lupa, bila ada waktu, kedatangan sicu di gereja Siauw-lim pay masih sangat di harapkan." Demikian kedua hweesio itu berkata.

"Aku tahu." Berkata Su-to Yan.

Hian-hoat dan Hian goan merangkapkan kedua tangannya, mereka memberi hormat dan meninggalkan Su-to Yan.

Su-to Yan mengeluarkan napas lega, bukan satu dua orang saja yang mengganggu perjalanan itu, Hian hoat dan Hian-goan hanya dua diantaranya, kecuali mereka, entah masih berapa banyak lagi orang-orang yang ingin menempur dirinya" Mengingat keadaan itu, dia khawatir atas keselamatan Cin Bwee, gadis itu masih berada didalam lembah Cui-goat-kok.

Su-to Yan meneruskan usahanya.

Kini dia berada di bawah kaki sebuah puncak gunung, maksudnya hendak melintasi puncak itu, jauh diatas, terlihat satu bayangan orang berdiri tegak tidak bergerak.

Su-to Yan memperlambat langkahnya, cara-cara orang itu adalah cara Cu-kat Hong beserta orang-orangnya, hendak menipu dan memancing dia masuk perangkap" tidak, Orang di atas puncak pun telah melihat datangnya pemuda kita, bayangan itu bergerak, melayang turun, menghampirinya.

Kini terlihat semakin jelas, itulah bayangan seorang gadis cantik, tubuhnya sangat langsing, siapa lagi bila bukan pendekar pedang Emas Jie Ceng Peng" Jie Ceng Peng menghampiri Su-to Yan.

Post a Comment