Su-to Yan mengikuti kedua bayangan merah itu.
Didalam sekejap mata, mereka telah tiba didepan sebuah gua, kedua orang berbaju merah berkata dengan hormat: "Ketua kami berada didalam, silahkan saudara Su-to masuk." Su-to Yan tidak gentar untuk menempuh bahaya itu, apa yang hendak dikatakan oleh ketua Thian-san-pay.
Dia harus mendapat penjelasan.
Su-to Yan masuk kedalam gua itu.
Seorang tua berbaju merah menyambut kedatangannya, sikapnya sangat dingin, adem tidak bersemangat, jenggotnya orang itu cukup panjang, umurnya diduga diatas enam puluhan.
Menatap wajah Su to Yan sekian lama, orang tua itu berkata: "Kau yang bernama Su-to Yan?" Pemuda kita memberikan jawaban: "tidak Salah." "Murid Ciok Pek Jiak?" Bertanya lagi orang tua berbaju merah itu, "Betul." "Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Orang tua itu menunjuk hidung sendiri.
"Boanpwee belum tahu.
Bagaimanakah sebutan cianpwee yang mulia ?" Orang tua itu mengeluarkan suara dari hidung.
"Huh!
Ciok Pek Jiak belum pernah menyebut namaku?" Ciok Pek Jiak termasuk orang biasa.
Sebagai seorang manusia tentu mempunyai kealpaan atau sesuatu yang dilupakan, tidak menyebutnya nama orang tua ini bukan berarti memandang rendah, terlalu banyak orang yang terkenal, tidak mungkin menceritakan ciri-ciri semua orang itu.
Su to Yan menganggukkan kepalanya.
Orang tua berbaju merah itu berkata lagi: "Aku adalah ketua partay Cian san pay" pedang Berapi Su In Seng." "Ternyata Su In Seng cianpwee, boanpwe Su-to Yan menyatakan hormat." Su-to Yan merangkapkan kedua tangannya, Orang yang berada didepan dirinya adalah seorang akhli pedang golongan tua, dia wajib menaruh hormat.
"Dimana kini gurumu itu?" Ketua partay Cian San-pay Su In-seng mengajukan pertanyaan, "Beliau sudah tiada." Berkata Su-to Yan.
"Hee...
Ciok Pek Jiak dikeroyok orang?" Su In Seng terkejut.
"tidak." "Mana mungkin dia mati?" Su In Seng tidak percaya, "Bila orang yang seperti gurumu itu sudah mati lebih dahulu, orang-orang yang sebangsaku ini sudah menjadi tulang berulang, hanya kerangkakerangka tengkorak saja." Su-to Yan memberi penjelasan: "Suhu telah melakukan suatu Pemindahan Tenaga, menyalurkan semua tenaga dan kekuatannya yang ada ke dalam tubuhku." Ketua Cian-san-pay Su In Seng tertawa, tiba-tiba ia kali, Dia bersilat seorang diri.
Keadaan di dalam gua itu menjadi panas semakin panas, sehingga menyesak jalan pernapasan orang, Su-to Yan terdorong mundur, begitu keras kekuatan yang tidak terlihat itu, hampirhampir dia jatuh jungkir balik.
Su-to Yan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan hawa panas didalam gua, dia sedang mendapat ujian dari orang tua itu.
Su In Siang selesai bersilat dengan tangan kosong, dia menarik diri dan berkata.
"Bagus." Dari pinggangnya, dia mengeluarkan pedang.
"Kini giliran pedang." Dia berkata, segera mengirim satu tusukan, Untuk menghindari diri dari tusukan pedang itu, Su-to Yan mundur ke belakang, sepasang tangannya di miringkan ke samping, inilah tipu terbaik dari Sin mo Cap-pat-sek atau iblis Sakti Bersilat yang bernama Sin-mo Ciok-po atau berati iblis Sakti Mengejar Gelumbang" Keistimewaan dari tipu Sin-mo Ciok-poo atau iblis Sakti Mengejar Gelumbang adalah telapak tangan yang bergetar, terjadi bayanganbayangan yang tidak menetap, seolah-olah ilmu biasa, tapi mengandung perubahan istimewa, di misalkan musuh tidak tahu diri dan masih berani menyerang masuk kedalam posisi pertahanannya, tipu Sin mo Ciok-po dapat diubah menjadi tipu Sin-mo-lay kut atau iblis Sakti Membanting Tulang.
Ketua partay Cian-San-pay Su In seng dapat mengenal keistimewaan Sin-mo Ciok po, dia belum mempunyai cara-cara yang terbagus untuk memusnahkannya, jalan satu-satunya adalah menarik pulang pedang yang diangsurkan kedepan.
Dengan demikian seolah-olah dia menarik diri dari inisiatif penyerangan.
Su-to Yan membuang ilmu pelajaran gurunya, tangan yang di rentangkan berkepal cepat dan menegakkan jari-jarinya, itulah tipu Tiga Belas Jari Menguasai Alat Pie-pa, salah satu dari 10 macam ilmu silat dari jaman purbakala.
Su In Seng terkejut, tidak diduga sama sekali, bahwa dia dapat menyaksikan ilmu kepandaian yang sudah lenyap dari permukaan bumi, pedangnya mengancam jari-jari lihay Su-to Yan.
Su-to Yan tidak membiarkan jarinya dipapas pedang, diapun menarik pulang serangan tadi, berganti siasat, kali ini dia menggunakan tipu Thian-mo-nie-hun cauw yang berarti cengkeraman iblis dari Langit, juga salah satu dari 10 macam ilmu silat terpendam di jaman purba kala.
Su In Seng telah memutar pedang, seolah-olah blaing-blaing cepatnya, membuat suatu payung bayangan, tanpa takut mendapat serangan, dia maju merangsak Su-to Yan.
Si pemuda betul betul menemukan tandingan, beberapa macam ilmu silat telah dikeluarkan belum berhasil menekan kakek tua itu, dengan ilmu It-bok Cin-khie yang melindungi diri, dia bersilat cepat, sebentar mengeluarkan tipu Thian-mo-nie-hun-cauw, sebentar dengan ilmu Sin-mo Kiu-sek, sebentar dengan ilmu Pie-pi-sa-chiu.
Aneka macam ilmu gabungan itu memberikan pelayanan yang hebat dan dahsyat.
Masing-masing mempunyai gerakan yang cepat, masing-masing hendak mengalahkan lawannya, didalam sekejap mata, mereka telah bergerak hampir lima ratus jurus.
Su In Seng tidak ada hasrat untuk menghabiskan jiwa Su-to Yan, manakala sipemuda terdesak, dia mengundurkan serangannya, memberi kesempatan untuk Su-to Yan memperbaiki posisinya, maka pertempuran itu berlangsung lama.
Tentu saja, untuk mengalahkan Su-to Yan yang kurang pengalaman, Su In Seng dapat menggunakan tipu.
Tapi dia tidak mau.
maksud tujuannya hanya menguji pemuda itu.
Kini, dia sudah puas mengadakan ujian, tiba-tiba mengundurkan diri, menarik pulang semua serangan dan berkata keras: "He, kau tidak hanya berguru kepada Ciok Pek Jiak seorang, Su-to Yan memuji kepintaran dan ketajaman mata orang tua ini, apa yang harus dikatakan olehnya" Terdengar suara Su In Seng yang mengoceh panjang: "Ciok Pek Jiak pernah menanam sedikit budi, sedikit banyak, aku kenal kepada tipu pelajaran silatnya, Aku hendak membuktikan dugaan-dugaanku, dan kau benar murid tuan penolongku itu.
Sekian lama aku menyelidiki gurumu lainnya, aku gagal, tidak berhasil menyelami gerakan-gerakan silat yang sangat lihay, kau sangat beruntung mendapat didikan luar biasa, sayang terlalu acakacakan, kurang sempurna, belum dapat menggabungkan semua pelajaran-pelajaran yang ada pada dirimu.
"Bila tidak, dengan kepandaian kepandaian tersebut, kau dapat merajai rimba persilatan Aku percaya, Ciok Pek Jiak telah memindahkan semua kekuatan dan tenaganya, tapi dia mempunyai kekuatan yang berada diatas orang, kukira tidak akan mati, Dengan alasan apa kau mengatakan sudah tiada" Katakan terus terang, aku adalah kawan dari gurumu, bukan musuh, Kukira dia mendapat budi dari keluarga kakekmu, maka mengerahkan semua tenaga, dan kekuatannya untuk menciptakan seorang pemuda mandraguna karena itulah, tentunya dia kehabisan tenaga, tidak mempunyai kekuatan lagi, kukira dia tidak mau menampilkan diri lagi, mungkin mengganti nama, mungkin pula mengasingkan diri didalam hutan belantara, atau di suatu pegunungan yang tersembunyi dia tidak mau diganggu, maka memberi perintah kepadamu untuk tidak menyebut dirinya, bukan?" "Orang yang tidak mempunyai ilmu kepandaian tidak bedanya dengan orang mati, tidak salah untuk menyebutnya tiada." Berkata Su-to Yan tertawa.
Su In Sieng menganggukkan kepala, "Dugaanku tidak salah." Dia berkata, "Di kemudian hari, bila menjumpai gurumu, katakan kepadanya, bahwa aku Su In Seng tidak melupakan budimu, setiap saat dan setiap waktu aku bersedia menyumbangkan tenaga." "Atas nama suhu, sebelumnya boanpwee mengucapkan banyak terima kasih." "Aku belum dapat menduga," berkata lagi Su In Seng, "Siapakah orang lainnya yang memberikan ilmu-ilmu pelajaran tadi kepadamu?" Su-to Yan ragu-ragu untuk memberi keterangan, dia tertawa beberapa saat, dan apa boleh buat, akhirnya ia membuka mulutnya juga: "Guru kedua bukan tokoh rimba persilatan, secara tidak terduga, beliau menemukan pelajaran-pelajaran ilmu silat dari jaman purbakala.
Setelah menurunkan ilmu-ilmu itu, beliaupun meninggal dunia." Mengetahui bahwa pemuda itu tidak ada maksud untuk menyebut nama guru lainnya, Su In Seng tidak memaksa.
"Aku tidak mempunyai kesempatan untuk membalas budi gurumu, hari ini aku bertemu denganmu, kukira sangat berguna untuk mengajarimu ilmu Cian-San Kiam-hoat, ilmu pedang Cian-sanpay yang bernama Cian-San Kiam-hoat, Bersediakah kau menerima pelajaran ini?" Su-to Yan tertawa, dengan halus dia menolak: "Boanpwee belum pernah melakukan sesuatu untuk kepentingan Cian-san-pay, boan pwee kira tidak berhak untuk menerima pemberian yang maha besar itu.
Terima kasih" Su In Seng tertawa berkakakan, katanya: "Seorang pemuda yang mempunyai ambekan besar.
Bagus...
Bagus...
Tapi kau belum.tahu, betapa pentingnya ilmu pedang ini bagimu, Aku tidak akan mengikat kau dengan suatu perjanjian, juga tidak memaksa kau menjadi muridku, jangan kuartikan dengan pemberian, hanyalah semacam demontrasi ilmu silat, baik-baik kau perhatikan gerakanku, aku mainkan tiga kali, berapa banyak kau dapat tangkap dari permainan ini, terserah dari kepintaran otakmu.
Nah, perhatikanlah baik-baik." Tanpa ambil peduli dengan orang yang hendak diberi ilmu pelajaran, sang ketua partay Ciansan pay Su In Seng bersilat dengan pedang, itulah ilmu pedang Cian San pay Kiam-hoat yang ternama.
Su-to Yan adalah cucu dari Su-to Pek Eng yang sangat mahir didalam ilmu pedang, sangat disayangkan akhli-akhli pedang itu tidak mempunyai kesempatan untuk menurunkan keakhliannya kepada sang cucu, maka Su-to Yan jarang menggunakan pedang.
Dia lebih mahir-menggunakan sepasang telapak tangan, pelajaranpelajaran yang didapat dari Ciok Pek Jiak, dan pelajaran-pelajaran dari beberapa macam ilmu silat jaman purbakala yang mengutamakan kelincahan jari-jari dan telapak tangan.
Bilamana Su-to Yan menghadapi seorang penantang dengan tangan kosong, itu bukan berarti dia memandang rendah kepada lawan, melainkan menggunakan kemahirannya didalam telapak tangan, untuk mengalahkan musuh.
Sampai disini, kita maklum, mengapa Su-to Yan mengalahkan Pendekar Pedang kidal Tong hong Cie Bun dan Pendekar Pedang Selatan Kong-sun Giok tanpa menggunakan pedang.