Halo!

Pedang Wucisian Chapter 23

Memuat...

Aku tidak membutuhkan kasihanmu, yang hendak kuketahui, di manakah kedua kawanku tadi?" Cu-kat Hong berkata: "Mereka tidak mempunyai dendam permusuhan denganku, telah kuperintahkan kepada orang-orangku untuk melepaskannya.

Di saat ini, tentunya telah pergi ke lain tempat." Hati Su-to Yan agak terhibur, dia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan kedua kawan itu, Mereka telah bebas diri kekangan musuh.

Su-to Yan masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari kekangan-kekangan yang ditotokan kepada dua tempat jalan darah lainnya.

Dia mendapat tiga totokan, satu sudah bebas, masih ada dua lagi, Dia harus membebaskan kekangan-kekangan ini, sebelum besi yang dipanaskan membara.

Cu-kat Hong berkata: "Memohonlah ampun padaku.

Mengingat kau sebagai murid Ciok Pek Jiak, setelah meminta ampun, besar kemungkinannya aku membebaskanmu." Su-to Yan tertawa.

"Aku jatuh ketangan kalian, karena siasat licik." Dia berkata, "Sudahkah terpikir olehmu, apa akibatnya dari perbuatan tadi" Seluruh rimba persilatan akan menertawakan Cui-goat-kok, huh, menangkap orang dengan menggunakan racun." "Ha ha....ha..., Orang yang menangkap kalian bukan aku." berkata Cu-kat Hong.

Su-to Yan gagal meminta kebebasan.

Cu-kat Hong menghampiri tempat perapian disana, besi yang bersetempel Lembah Cui-goat kok telah menjadi panas sekali, merah membara seperti matahari.

Cu-kat Hong mengambil besi itu.

Sukma Su-to Yan hampir mencelos keluar dari tempatnya, bila sampai terjadi besi berstempel lembah Cui goat-kok mampir di salah satu bagian dari tubuhnya, untuk seumur hidup dia tidak dapat menemui orang seperti itu, pengalaman itu tentu akan tetap terkenang.

"Hei, beri kesempatan aku untuk bicara." Su-to Yun berteriak.

Cu-kat Hong menurunkan besi panas, dengan tertawa dia berkata: "Bagaimana"....

Bersediakah kau meminta ampun?" "Kau tidak mempunyai perikemanusian."Su-to Yan berteriak.

"Ha....ha..." Cukat Hong tertawa.

Su-to Yan mempercepat usahanya dan dia berhasil menerobos lain jalan darah yang tersumbat.

Dua dari tiga jalan darah yang di sumbat orang telah dibebaskan dari segala macam kekangan dan gangguan.

Hanya satu lagi !

Cu-kat Hong mengayun besi panas, dia membentak.

"Hayo katakan, segera kau minta ampun!" Su-to Yan belum membuka mulut.

Disaat itu tiba-tiba mulut goa, ada berkelebat satu bayangan, mata Su to Yan yang tajam dapat menangkap bentuk tubuh bayangan itu, sangat pendek, sangat gemuk, tentu si Pendekar Pedang Bayangan Sie An, Dia sangat girang.

Cu-kat Hong waktu itu sedang membelakangi mulut goa, sehingga dia tidak melihat datangnya bayangan itu.

Sie An memasuki goa.

Gerakan tubuh Sie An membawa geseran angin, telinga Cu-kat Hong yang tajam dapat menangkap suara itu, dia lantas membalikkan badan.

"Hei.,.Kau?" Cu-kat Hong berteriak, Sie An sudah berhadapan dengan Cu-kat Hong.

Su to Yan mendapat pertolongan, hatinya menjadi girang, bila Sie An dapat mempertahankan diri dari serangan-serangan Cu-kat Hong, belasan jurus saja, tentu dia sudah dapat membebaskan kekangan totokan orang.

Terdengar suara Cu-kat Hong, yang membentak.

"Hei, siapa yang menyuruh kau balik kembali ?" Sie An juga tidak kalah suara, dia mengeluarkan suara geraman: "Bebaskan kawanku !" Sie An telah menyerang dengan pedangnya.

Cu-kat Hong menggunakan besi panas menangkis datangnya ayunan pedang Sie An.

"Traaaannngggg . . . " Pedang Sie An patah ditengah, terbang keluar gua.

Wajah si pendekar Pedang Bayangan menjadi pucat.

Su-to Yan turut terkejut, hanya satu gebrakan, Sie An kehilangan senjata, kekuatan Cu-kat Hong sungguh luar biasa, Untuk menolong kawan itu.

dia berteriak: "Cu-kat Hong, hentikan gerakanmu." Cu-kat Hong hendak meneruskan usahanya, mau membunuh Sie An yang menjadi penghalang dirinya, Mendengar teriakan Su-to Yan, dia membalikkan kepala, dengan kedua alis yang dikerutkan tinggitinggi, ia berkata: "Eh, kau dapat menggunakan cara-cara tertentu memecahkan totokanku ?" Suatu kejadian yang berada diluar perhitungannya.

Meninggalkan Sie An yang masih bengong Cu-kat Hong membalikkan badan mendapati Su-to Yan kembali.

Besi panas diacung kan kearah pemuda kita.

Su-to Yan menunggu datangnya maut.

Setapak demi setapak, Cu-kat Hong mendekati pemuda itu.

Sie An tertegun untuk sekian saat, dikala ia sadar dari lamunannya, keadaan Su-to Yan sudah sangat bahaya sekali, tanpa pikir panjang gagang pedang dilempar ke arah Cu-kat Hong.

Cu-kat Hong liehay, desiran suara itu tidak lepas darinya, dia mengelak, membiarkan benda itu lewat disamping kiri.

Cu-kat Hong sangat jengkel, dia mengelaki serangannya.

Serangan Sie An tidak mengenai sasaran, tubuhnya yang gemuk bergelinding pergi, mengingat bentuk badannya yang pendek, gerakan tadi sangat mudah dilakukan.

Su-to Yan membentak keras, dengan semua tenaga, akhirnya ia bebas dari kekangan totokan orang.

Diganggu oleh Sie An, Cu-kat Hong tidak dapat meneruskan usaha.

Dari keadaan Su-to Yan yang sudah bersiap-siap bangun, tentu saja tidak akan menguntungkan dirinya, dengan tangan kiri, dia ingin menotok jalan darah murid musuh ayahnya.

Su-to Yan masih terlalu lemah, maka dia membuang diri ke arah samping.

Cu-kat Hong mengejar maju.

Disaat yang sama, karena kelengahan musuhnya, Sie An berhasil memukul tangan pemuda baju hitam itu, besi di tangan Cu-kat Hong diterbang pergikan.

Dengan jurus Sin-mo Ju-sian atau iblis Sakti menampilkan diri, Su-to Yan berputar di udara, kemudian merentangkan kedua tangannya, satu diantaranya berhasil menjangkau tangan Cu-kat Hong.

Cu-kat Hong rupanya agak lengah, sehingga Su-to Yan berhasil melempar tubuh orang itu.

Dikala berdiri lagi, Cu-kat Hong merasa pergelangan tangannya sakit sekali, itulah hasil cengkeraman Su-to Yan, Dia telah dikepung dua jago kelas satu.

Tentu tidak ada harapan untuk memenangkan pertandingan itu.

Su-to Yan berdiri dengan sikap yang sangat tenang.

"Kau telah melepas kedua kawanku, mengingat budi ini, aku tidak mencelakaimu." berkata Su-to Yan.

"Huh," Cu-kat Hong tidak puas.

"Tahukah akibat dari kejadian hari ini " Aku tidak akan melepaskanmu tahu?" "Aku diharuskan membunuhmu?" Berkata Su-to Yan membentak, -ooo0dw0ooo- Jilid 6 MATA CU KAT HONG berkilat-kilat.

"Baiklah." Berkata jago ini.

"Kau sebagai murid Ciok Pek Jiak tentu mempunyai keberanian untuk berkunjung kelembah Cui-goatkok.

Aku menunggu kedatanganmu." Tubuh Cu Kat Hong melesat, meninggalkan tempat itu.

Su-to Yan menghampiri Sie An.

"Saudara Sie." katanya, "untung kau datang, kalau tidak, niscaya aku menderita siksaan-siksaannya." Dia menghaturkan rasa terima kasihnya.

Sie An sangat menyayangi pedangnya dikala bertempur Cu-kat Hong, pedang itu telah dipatahkan maka ia harus mencari pedang lain, hal itu sangat melesukan hatinya, Su-to Yan dan Sie An meninggalkan gua yang telah digunakan oleh Cu-kat Hong.

Dikala Su-to Yan akan mengajukan pertanyaan kepada Sie An, kemanakah perginya Cin Bwee, didepan mereka telah terbentang secarik sapu putih.

Kain putih itu bertulisan demikian bunyinya: "Kawan wanitamu telah kubawa kelembah Cui Goat-kok.

Berani kau datang untuk mengambil pulang dirinya ?" Tertanda tangan: Cu kat Hong.

Su-to Yan mengerutkan keningnya, bukanlah suatu tugas yang mudah, mengingat kehebatan lembah Cui-goat-kok yang disertai barisan yang bernama Cian-tok Toa-tin, dimana tersebar racunracun terkenal jahatnya, siapa lengah, dia akan terkena racunracun itu.

Sie An turut berduka atas kejadian itu, Tugas untuk menyerahkan pedang In-liong tentu kalah penting, bila dibandingkan menolong jiwa Cin Bwee.

Yang menjadi pengecualian adalah perbedaan tempat, mengingat dia sudah berada didaerah gunung Bu-san.

Su-to Yan mengambil keputusan untuk menemukan le Han Eng, menyerahkan pedang Inliong, setelah itu dia akan menuju lembah Cui-goan-kok, menolong Cin Bwee.

Perjalanan dilanjutkan, menuju kearah kelembah Hui-in.

Pada saat itu, haripun sudah menjadi malam, gelap mengusir mata hari yang menerjunkan diri dibagian barat.

Rembulan timbul remang-remang diantara gumpalan awan-awan, seolah-olah berusaha menyatukan diri diatas permukaan awan-awan Su-to Yan dan Sie An meneruskan perjalanan mereka.

Bagaikan dua ekor kera cekatan mereka mendekati sebuah tebing, akhirnya tiba ditempat bekas persemayaman Ie Siauw Hu.

tempat yang bernama lembah Hui-in itu.

Dikala Ie Siauw Hu masih ada, tokoh-tokoh silat dari golongan sesat maupun dari golongan benar, ada yang menaruh perhatian besar, tidak seorangpun yang berani sembarangan mendatangi tempat ini.

Dan bila ingin masuk kedalamnya harus dengan jalan mundur.

Su-to Yan dan Sie An tidak berani melupakan peraturan itu, mereka mengendurkan langkah kakinya.

Tiba dimulut lembah Hui in, seorang tua telah menghadang kedua pemuda kita.

Su-to Yan dan Sie, An menunduk hormat.

"Lo-tiang," Berkata Su-to Yan.

"dapatkah memberi sedikit petunjuk, bagaimana harus dapat menemui nona le Han Eng?" Orang tua itu menatap kedua tamunya, dengan singkat memberikan jawaban: "Menyesal sekali, nona kami sedang tidak menerima tamu." Su-to Yan tidak cepat putus harapan, dia berkata lagi: "Kami datang dari tempat jauh, dapatkah memberi tahu kepadanya, bahwa Su-to Yan cucu Su to Pek Eng hendak melunasi janji yang dicetuskan pada 40 tahun berselang." Orang tua itu terkejut.

"Kau anak dari keluarga Su to tayhiap?" Dia ragu-ragu.

Post a Comment