Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 156

Memuat...

Sin Cie manggut.

"Sekarang aku datang untuk obati saudara-saudaramu yang terluka," katanya.

0o-d.w-o0

Ho Tiat Chiu manggut.

"Mari!" ia mengajak, sambil ia jalan di muka, menuju ke arah barat. Di sepanjang jalan, pemimpin Ngo Tok Kau ini puji A Kiu, untuk kecantikannya, untuk kegagahannya juga. Tidak disangka ada puteri raja, demikian muda, demikian kosen juga.

Sin Cie antap orang godai ia, ia lawan dengan membungkam saja.

Mereka jalan jauhnya kira lima lie, sampailah mereka di sebuah kuil tua, yang bernama Hoa Giam Sie. Di luar kuil berkumpul beberapa orang Ngo Tok Kau, sebagai penjaga, kapan mereka lihat pemuda kita, mereka memandang dengan tampang bermusuhan.

Sin Cie tidak gubris mereka itu, ia terus ikuti Ho Tiat Chiu masuk ke dalam kuil, sampai di ruang pendopo. Di muka pendopo Tay Hiong Poo-thian, di antara tikar tergelar, rebah anggauta-anggauta Ngo Tok Kau, yang kemarin ini menjadi kurban-kurbannya.

Tanpa buang tempo lagi, Sin Cie hampirkan mereka satu demi satu, untuk ditotok, hingga di lain saat, sembuhlah mereka semua, dapat mereka bergerak pula dengan merdeka sebagai sediakala.

Lantas setelah itu, pemuda ini kata dengan nyaring: "Aku tidak bermusuhan dengan saudara-saudara beramai, cuma disebabkan salah mengerti yang kecil sekali, kejadian aku berbuat keliru terhadap saudara-saudara, maka itu, di sini aku haturkan maaf pada saudara-saudara!"

Pemuda ini tidak cuma mengucap kata-kata, ia pun menjura kepada semua orang Ngo Tok Kau itu. Rupanya masih panas hatinya orang-orang Ngo Tok Kau itu, mereka tidak membalas hormat, mereka pelengoskan muka, tidak ada satu yang suka bicara.

Sin Cie tidak menjadi berkecil hati. Ia anggap ia sudah lakukan keharusannya, maka tanpa bilang suatu apa lagi, ia bertindak keluar. Cuma satu kali, ketika ia kebetulan menoleh ke samping pendopo, di situ ia tampak sepasang mata yang mencorong tajam menghadapi Ho Tiat Chiu, yang antar ia keluar. Ia tidak kenali mata siapa itu, tetapi menampak sinar mata orang, ia terkejut. Itulah sinar mata yang penuh dengan kebencian hebat.

Masih Sin Cie mencoba melihat pula tapi kali ini sepasang mata itu telah lenyap, kelihatan tubuhnya berkelebat, lantas hilang. Tapi karena ia lihat tubuh berkelebat, segera ia menduga kepada Ho Ang Yo, si uwah yang romannya menyeramkan.

Sesampainya di luar, selagi Sin Cie pandang Ho Tiat Chiu, ia pun heran. Lenyap cahaya terang dan riang- gembira dari pemimpin agama ini, tak suka ia bicara, romannya jadi pendiam dan keren. Hingga Ho Kaucu jadi bukan seperti Ho Kaucu yang ramah-tamah tadi.

Di luar pekarangan, kedua orang saling memberi hormat, untuk pamitan. Sin Cie berjalan pulang, ketika kemudian ia menoleh, Ho Tiat Chiu sudah masuk. Ia jadi curiga, timbul keinginannya untuk mendapat tahu sebab dari perubahan sikapnya kaucu itu. Maka itu, sesudah jalan terus sekira satu lie, hingga ia percaya, tidak nanti orang intai ia, lekas- lekas ia kembali. Ia sangat kuatir orang mempunyai daya keji, untuk mengganggu ia atau pihaknya. Tidak perduli jalanan jadi lebih jauh dan ambil lebih banyak tempo, ia mutar ke selatan, dari sana ia menuju ke belakang Hoa Giam Sie, dimana tidak ada orang, maka dengan merdeka ia bisa hampirkan tembok, untuk lompat naik dan masuk ke

1081 pekarangan dalam. Segera ia dengar suitan istimewa dari Ngo Tok Kau, tanda undangan berapat.

Untuk sementara Sin Cie umpeti diri di atas pohon, antara daun-daun yang lebat, kemudian setelah duga, orang tentunya sudah berkumpul, ia turun dari atas pohon, dengan hati-hati ia menuju ke belakang Tay Hiong Poo- thian. Ia bersukur ia tidak ketemui siapa juga, hingga ia bisa tempatkan diri tepat di belakang pendopo, untuk pasang kuping.

Dengan lantas ia dengar suara-suara keras, dari pertentangan. Ia masih dapat kenali suara orang. Ialah suara tajam dari Ho Ang Yo, suara nyaring dari Cee In Go. Mereka ini sedang serang Ho Tiat Chiu, yang dikatakan karena main cinta sudah melupakan musuh besar dari Ngo Tok Kau, sehingga dia jadi berkhianat, bahwa dia telah bersekongkol sama musuh, hingga dia pun merusak usaha menjunjung satu raja baru, hingga itu pun berarti merusak harapan Ngo Tok Kau untuk pentang sayap dan pengaruh.

Selama diserang pergi-datang, Ho Tiat Chiu sendiri cuma mendengari sambil perlihatkan senyum ewah. Adalah kemudian Baru ia tertawa dingin, ia tanya: "Sekarang, habis kamu mau apa?"

Itulah pertanyaan yang sangat ringkas, yang segera membuat semua anggota menjadi bungkam.

Lama orang terbenam dalam kesunyian, baru terdengar Ho Ang Yo buka mulutnya.

"Kita mesti angkat satu kaucu baru!" kata uwah ini.

Tiat Chiu tidak jadi gentar, dia bersikap tenang tapi keren.

"Selama beberapa ratus tahun adalah aturan Ngo Tok Kau, kalau kaucu menutup mata barulah diangkat kaucu

1082 baru sebagai penggantinya!" katanya. "Habis, apakah kamu inginkan aku mati?"

Kembali orang bungkam. Inilah pertanyaan hebat. Melihat orang semua berdiam, Tiat Chiu tanya:

"Siapakah yang memikir suka menjadi kaucu baru?"

Kembali satu pertanyaan ringkas tetapi tak kurang hebatnya.

"Siapa memikir untuk jadi kaucu baru?" Tiat Chiu ulangi pertanyaannya.

Masih semua orang bungkam.

Siasia saja Ho Tiat Chiu ulangi pertanyaannya itu sampai tiga kali, maka akhirnya ia tertawa berkakakan.

"Sekarang hayolah kamu memikir dengan seksama!" katanya kemudian. "Coba kamu pikir, siapa di antara kamu yang mempunyai kepandaian untuk menangkan aku! Siapa yang memikir demikian, silakan maju! Silakan dia rampas kedudukan kaucu kita! Siapa yang takut nanti antarkan jiwanya secara kecewa, dia mesti gunai ketikanya ini, untuk tutup bacot!"

Sin Cie dengar semua itu, lantas saja ia mengintip di sela- sela pintu. Ia lihat Ho Tiat Chiu sendirian duduk di sebuah kursi, jauh di sebelah depan ia, orang-orang Ngo Tok Kau pada memandang sambil berdiri, nampaknya mereka semua berjeri hati.

Di dalam hatinya, Sin Cie kata: "Aku telah tempur semua orang Ngo Tok Kau, tidak ada satu di antara mereka yang nempil sama kaucu ini. Tapi sekarang dia menindih orang dengan kekerasan, aku percaya tak dapat dia menjadi kaucu yang kekal-abadi." Sampai di situ, pemuda ini dapat kenyataan orang Ngo Tok Kau tidak kandung niat memusuhkan terus padanya atau pada Ceng Ceng, maka ia anggap baik ia pulang saja, tak ada perlunya ia mencampuri urusan dalam dari mereka itu. Benar selagi ia hendak memutar tubuh, ia tampak satu cahaya berkelebat. Itulah Ho Ang Yo yang bertindak maju dengan sebatang senjata yang aneh, yang pemuda kita belum pernah lihat.

Senjata itu yang besar, mirip dengan gunting. Dari gurunya, Sin Cie belum pernah dengar senjata semacam itu, maka bisa dimengerti, ia juga tak tahu cara menggunainya. Karena ini ia batal pergi, ia terus mengintai lagi.

"Aku sendiri, tidak memikir untuk jadi kaucu!" berkata Ho Ang Yo secara menyindir. "Dan aku juga tahu, aku bukannya tandingan kau! Tapi aku terpaksa bertindak, untuk Ngo Tok Kau kita! Kita harus ingat kepada tujuh leluhur kita serta tiga puteranya, bahaimana susah-payah mereka, sesudah bergulat empat-puluh tahun lebih, Baru mereka dapat berdirikan perkumpulan agama kita, hingga terutama sejak seratus tahun yang terakhir ini, Baru kita dapat malang-melintang di Selatan. Maka itu, sekali-kali tidak boleh Ngo Tok Kau mesti termusna-ludas di tanganmu, kacung hina!"

Ho Tiat Chiu tidak jawab itu bibi, hanya dia tanya semua orang.

"Apakah hukumannya untuk penghinaan terhadap kaucu?"

"Sudah sedari siang-siang aku tidak anggap lagi kau sebagai kaucu!" Ho Ang Yo sengapi. "Mari maju!"

Uwah ini geraki kedua tangannya, untuk buka senjata semacam gunting itu, hingga terdengar suara nyaring. Benar-benar senjata istimewa itu mirip gunting, mirip sepit untuk menjepit!

Ho Tiat Chiu bersenyum dingin, ia tidak bergeming dari kursinya.

Ho Ang Yo maju terus menghampirkan, hingga dua kali gunting itu menggunting. Rupanya ia jeri terhadap kaucu itu, sebelumnya menyerang, ia coba dulu senjatanya, sekalian dipakai mengancam. Adalah setelah ketiga kalinya, sesudah datang dekat, Baru ia menyerang betul-betul.

Tiat Chiu cuma berkelit dari serangan, ia tidak membalas.

Sin Cie heran, hingga ia mengawasi terus.

Orang-orang Ngo Tok Kau maju dengan pelahan, sikap mereka mengurung.

Baru sekarang si anak muda mengerti, pemimpin agama itu mengambil sikap menjaga diri, "menutup pintu". Tadinya ia tidak menduga demikian, karena sempitnya sela- sela pintu, ia melainkan lihat ruang pendopo kecil, lurus panjang saja.

Sampai sekian lama, masih tidak ada satu anggauta juga yang berani mulai dengan penyerangannya, mereka cuma maju untuk mengancam, bersikap mengurung.

"Mahluk-mahluk tak berguna, takut apa?" teriak Ho Ang Yo. "Hayo, semua maju!"

Ia memberi tanda dengan guntingnya.

Baru sekali ini, semua orang maju sambil berseru-seru.

Tiat Chiu lompat, kedua tangannya bergerak, maka terdengarlah suara bentrokan, suara berisik, sebab kursi yang dia pakai sebagai alat penangkis, rusak terkena bacokan-bacokan. Di lain pihak, dua anggauta menjerit dan rubuh, karena mereka dihajar gaetan!

Segera setelah itu, terlihatlah bajangan putih berkelebat sana-sini, gesit sekali.

Sin Cie adalah satu ahli silat, walaupun pertempuran tampaknya sangat kalut, ia toh bisa lihat tegas sesuatu pukulan atau tendangan, apalagi itu waktu, gerakannya orang-orang liehay dari Ngo Tok Kau masih rada ayal, sebab mereka itu Baru saja ditotok sembuh olehnya, sedang mereka itu rebah sudah lama juga.

Ho Tiat Chiu tidak pikir untuk menyingkir dari kepungan puluhan anggauta-anggautanya itu. Jikalau ia inginkan itu, menurut Sin Cie ketikanya ada banyak. Maka terang sudah, kaucu ini hendak tindih orang-orangnya itu dengan kegagahannya.

Pertempuran berjalan terus.

Sin Cie terus pasang mata, sampai perhatiannya ketarik oleh gerak-geriknya salah satu penyerang. Dia ini tidak merangsak seperti yang lainnya, walaupun dengan pelahan- lahan ia coba dekati Ho Tiat Chiu. Dalam genggaman tangannya, orang ini menyekal suatu apa, entah barang atau senjata apa itu. Adalah setelah mengawasi sekian lama, pemuda kita kenali Kim-ie Tok Kay Cee In Go, si pengemis tidak berbudi. Setelah datang cukup dekat, mendadak pengemis ini berseru dengan keras, kedua tangannya diangsurkan ke depan dengan cepat, cekalannya dilepaskan, maka terlihatlah suatu benda bersinar kuning emas mencelat ke arah Ho Tiat Chiu.

Kaucu ini berkelit sambil lompat jumpalitan, akan tetapi "senjata rahasia" dari Cee In Go pun aneh, dia seperti bisa bergerak sendiri, dia dapat menyambar kepada Ho Tiat Chiu, selagi dia ini pun sibuk karena desakannya empat

Post a Comment