Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 155

Memuat...

Raja ini anggap, setelah ia berikan janjinya itu, Sin Cie nanti berlutut di depannya, untuk haturkan terima kasih. Di luar sangkaannya, anak muda itu berdiri tetap dengan gagah dan agung.

A Kiu tarik ujung bajunya si anak muda.

"Lekas menghaturkan terima kasih," ia membisikkan.

Putera Wan Cong Hoan tidak tekuk lutut, sebaliknya ia awasi kaisar itu. Segera ia teringat kepada ayahnya, yang sudah bela negara dengan melupakan diri-sendiri, yang jasanya sangat besar, akan tetapi toh oleh kaisar ini, ayahnya itu telah dijatuhkan hukuman mati secara hebat. Maka juga, kemurkaan dan kesedihannya telah berkumpul jadi satu.

"Apakah namamu?" raja tanya, dengan suara lemah lembut. "Di mana kau pegang jabatanmu?"

Kaisar ini menanya demikian oleh karena ia lihat pemuda ini dandan sebagai seorang kebiri, ia menyangka orang ada salah satu thaykamnya.

Masih Sin Cie awasi kaisar itu. "Aku ada orang she Wan," akhirnya ia jawab juga, sikapnya gagah, suaranya keren. "Aku ada putera Peng-pou Siang-sie Wan Cong Hoan yang dahulu telah membela negara di tanah Liau!"

Kaisar Cong Ceng tercengang, sampai ia agaknya seperti tak mendengar nyata.

"Apa kau bilang?" ia menegasi.

"Ayahku telah berjasa besar sekali untuk negara tetapi oleh Raja dia telah dihukum mati!" Sin Cie kata pula, suaranya jadi lebih keras.

Kaisar itu terkejut. Sekarang tak lagi ia mendengar tak nyata. Ia pun lantas menjadi lesu.

"Sekarang Baru aku menyesal, sesudah kasip..." ia akui. Ia berhenti sebentar. Kemudian ia tanya: "Hadiah apakah yang kau kehendaki?"

Bukan kepalang girangnya A Kiu akan dengar pertanyaan ayahnya itu. Kembali ia tarik ujung bajunya si anak muda. Ia ingin pemuda ini gunai ketika yang baik itu untuk minta menjadi Hu-ma, menantu raja.

Tapi jawabannya orang yang dipuja ini di luar dugaannya.

Dengan suara yang menyatakan kemurkaannya, Sin Cie jawab: "Aku tolongi kau melulu untuk keselamatannya negara; buat apakah hadiah? Hm! Sekarang Sri Baginda sudah menyesal, maka sekarang aku minta supaya Sri Baginda cuci bersih penasarannya ayahku almarhum!"

Biar bagaimana, raja tetap raja, ia ada punya keangkuhan. Maka itu, melihat sikapnya pemuda ini, mendengar kata-katanya Sin Cie, ia berdiam. Ia sudah menyatakan kemenyesalannya, itu sudah cukup, tapi untuk aku kesalahannya, inilah lain.

Selagi begitu, Thaykam Co Hoa Sun, yang tadi telah pergi bersama barisannya, sudah kembali bersama-sama barisannya itu. Ia memberi hormat pada raja, ia tanyakan kewarasannya junjungan ini. Habis itu ia melaporkan bahwa semua pemberontak sudah dihukum mati. Ia juga beritahu bahwa keluarganya Pangeran Seng Ong sudah ditawan semua. Ia menantikan keputusannya raja.

Kaisar Cong Ceng manggut-manggut. "Bagus!" katanya. "Dasar kau setia!"

Hampir Sin Cie bongkar rahasianya orang kebiri ini apabila ia dengar laporan itu. Ia marasa sangat sebal untuk kelicinannya dorna ini. Tapi di saat sepenting itu, ia ingat suatu apa, lantas ia bisa sabarkan diri. Ialah ia ingat, pasukan perang Giam Ong bakal lekas sampai di kota raja, maka dengan adanya manusia rendah ini di damping raja, itu akan ada untungnya untuk pergerakannya.

Tanpa perdulikan lagi kaisar, Sin Cie manggut pada A Kiu.

"Mari kembalikan pedang itu padaku, aku hendak pergi!" katanya.

Tiang Peng Kiongcu terperanjat.

"Kapan kau akan tengok aku pula?" tanyanya. Ia sampai lupa bahwa di situ ia ada bersama kaisar dan Thaykam Co Hoa Sun.

"Harap thianhee rawat diri saja baik-baik," kata Sin Cie seraya ia ulur tangannya, untuk sambuti pedangnya.

A Kiu tarik tangannya. "Untuk sementara baiklah pedang ini dititipkan padaku di sini," katanya. "Lain kali, apabila kita bertemu pula, Baru aku kembalikan padamu "

Sin Cie ragu-ragu, apapula ia tampak roman heran dari kaisar dan Co Hoa Sun. Kemudian, lantas saja ia manggut pula kepada tuan puteri, lalu ia putar tubuhnya dan bertindak keluar.

A Kiu menyusul sampai di luar, di pintu keraton.

"Kau jangan kuatir, tidak nanti aku lupakan kau," katanya dengan pelahan.

Sin Cie niat menutur segala apa, akan tetapi ia lihat istana itu bukan tempatnya, ketika itu bukan saatnya juga, maka ia bilang: "Di dalam negeri bakal terbit perubahan besar, maka daripada berdiam menyendiri di dalam istana, lebih baik kau pergi jauh berkelana. Kau ingat baik-baik perkataanku ini."

Inilah nasihat supaya A Kiu berlalu dari istana, sebab Giam Ong segera bakal sampai di kota raja, waktu itu suasana ada sangat mengancam. Akan tetapi A Kiu tak dapat tangkap maksud itu, yang tersembunyi. Malah dia tertawa.

"Benar," katanya. "memang aku lebih suka ikuti kau pergi berkelana ke mana saja, itu jauh terlebih senang daripada kehidupan mewah di istana. Nanti saja, apabila kau telah datang pula, Baru kita-orang bicara pula dengan jelas!"

Sin Cie menghela napas, tak bisa ia mengatakan apa-apa lebih jauh. Setelah ia geraki tangan, untuk pamitan, ia loncati tembok, untuk berlalu dari istana. Ia lihat obor terang-terang di segala penjuru istana, rupanya masih saja dilakukan penggeledahan untuk cari sisa-sisa pemberontak....

Anak muda kita sangat kuatirkan keselamatan Ceng Ceng, maka itu ia lakukan perjalanan pulang dengan cepat sekali. Kapan ia sudah sampai di rumahnya di gang Ceng- tiau-cu, Baru hatinya lega. Di sana kedapatan Ceng Ceng bersama-sama Wan Jie dan Lip Jie dengan tidak kurang suatu apa.

Baru sekarang, setelah tak tidur satu malaman, dan habis keluarkan tenaga banyak, Sin Cie ingat keletihannya dan mengantuk, dari itu, setelah bicara sedikit, ia pergi ke kamarnya untuk tidur.

Waktu sudah siang, kira jam tujuh atau delapan pagi, Baru Sin Cie mendusin. Ketika ia pergi keluar, di thia sudah menantikan Tong Hian Toojin bersama Bin Cu Hoa serta enam murid Bu Tong Pay lainnya.

Tong Hian beramai datang ke rumah Sin Cie sebab dapat kabar kaum Ngo Tok Kau melakukan penyerangan, mereka niat memberikan bantuan, tidak tahunya, pertempuran sudah berhenti.

"Terima kasih," Sin Cie menghaturkan kepada tetamu- tetamunya itu.

Kemudian ia bilang, mungkin sekali Uy Bok Toojin masih belum mati.

Kabar ini, walaupun masih samar-samar, sangat menggirangkan orang-orang Bu Tong Pay itu. Karena Sin Cie sendiri belum dapat kepastian, mereka tidak menanyakan melit-melit, mereka cuma sampaikan harapan untuk si anak muda suka membantu lebih jauh.

Sekalian orang sudah datang, Sin Cie minta Tong Hian semua berdiam terus di rumahnya itu, untuk bantu

1077 melindungi andaikata bantuan mereka dibutuhkan, setelah itu seorang diri ia pergi ke luar kota sebelah barat, ia jalan terus sampai kira sepuluh lie, lalu di bawahnya sebuah pohon besar, ia tampak Ho Tiat Chiu asik menantikan dia.

Nona kepala Ngo Tok Kau itu bersenyum berseri-seri, ia menyambut sambil tertawa, sikapnya manis dan hormat.

"Wan Siangkong!" katanya; tetap masih tertawa. "Tadi malam aku telah sempurnakan urusan baikmu! Kau lihat, cukup atau tidak perbuatanku sebagai sahabat kekal?"

"Keadaan tadi malam memang sangat berbahaya," Sin Cie jawab. "Beruntung sekali Ho Kaucu telah beri bantuanmu secara tiba-tiba, hingga onar besar bisa dapat dicegah. Aku sangat bersukur kepada kau, kaucu."

Masih saja kaucu itu tertawa.

"Wan Siangkong, kau beruntung bukan main!" katanya pula. "Kau telah dapatkan satu puteri raja yang cantik molek yang berikan cintanya kepadamu, maka jikalau kemudian kau menjadi Hu-ma, apa mungkin kau nanti melupakan orang-orang kangouw semacam kami?"

Sin Cie heran.

"Ah, jangan main-main, Ho Kaucu!" katanya, dengan roman sungguh-sungguh.

Tapi kaucu itu tetap tertawa.

"Hai, kau masih menyangkal?" katanya. "Dia demikian menyinta padamu, mustahil kau tidak lihat itu? Laginya, jikalau kau tidak cintai dia, mengapa kau serahkan pedang Kim Coa Kiam kepadanya? Dan kenapa kau tolongi ayahanda rajanya secara demikian mati-matian?"

"Itulah melulu untuk keselamatannya negara," Sin Cie jawab. "Ya, untuk keselamatan negara!" kata si nona. Ia terus tertawa dengan manis. "Untuk keselamatan negara dengan cara mencuri kau tidur bersama dalam satu pembaringan dengan puteri orang! Haha-haha!"

Merah mukanya Sin Cie, bukan main sibuknya ia. "Apa....apa?....." tanya dia. "Kenapa kau. "

"Kau hendak tanya, kenapa aku ketahui itu, bukankah?" tertawa Ho Kaucu. "Ketika aku turut Co Hoa Sun masuk dalam kamarnya tuan puteri, aku telah lantas dapat tahu, bersama ia di bawah selimutnya ada tersembunyi satu orang lain! Kita ada sesama kaum kangouw, apa kau sangka mataku buta? Hihi-hihi! Mulanya aku berniat menyingkap selimut, akan tetapi ketika aku menoleh ke kursi dan lihat gambar lukisan kau, Wan Siangkong, aku dapat pikiran lain. Aku anggap baiklah aku ikat persahabatan denganmu. "

Bukan main malunya Sin Cie, tak ada tempat untuk ia sembunyikan mukanya.

"Ya, A Kiu telah tidak sempat sembunyikan gambar lukisannya itu," pikirnya.

Ho Tiat Chiu mengawasi pemuda ini, yang merah mukanya sampai ke kuping-kuping Baru setelah itu, ia ubah sikapnya.

"Bukankah Hee Siangkong sudah kembali dengan tidak kurang suatu apa?" tanyanya.

Post a Comment