Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 154

Memuat...

Segera juga ia kenali, orang itu ada An Kiam Ceng, suami

An Toa-nio, ayah dari An Siau Hui.

A Kiu jadi sangat gusar, hingga ia menjerit dengan bentakannya. Ia sembat sebuah kursi, ia lompat ke depan ayahnya, untuk menghalangi opsir itu. Dan ketika An Kiam Ceng toh terusi membacok raja, ia menangkis, terus-terusan sampai tiga kali beruntun.

Sampai di situ, lain-lainnya siewie lantas maju, untuk turut kepung raja atau tuan puteri itu.

Dari tadi Sin Cie masih diam saja, akan tetapi setelah tampak A Kiu keteter, ia tidak bisa berdiri terus sebagai penonton, maka ia lompat maju, untuk ceburkan diri dalam pertempuran itu. Begitu lekas ia geraki tangan kirinya, dua siewie kena dibikin terpelanting, hingga ia bisa dekati A Kiu, untuk serahkan pedang Kim Coa Kiam kepada puteri itu, kemudian ia sendiri maju ke samping kaisar, akan lindungi raja ini yang menjadi musuhnya....

Belasan siewie menerjang raja, sesuatu dari mereka lantas dihajar ini anak muda, yang gunai kedua tangan dan kakinya, hingga bukan saja mereka tak dapat maju, mereka sendiri yang rubuh dengan urat putus atau tulang-tulang patah!

A Kiu sendiri, dengan pedang mustika Ular Emas di tangan, hingga ia tidak membutuhkan lagi kursinya, sudah lantas unjuk kegagahannya. Baru saja beberapa jurus, ia sudah tabas kutung golok besar dan panjang dari An Kiam Ceng.

Seng Ong terperanjat. Tidak ia sangka, kaisar bisa dapat bantuan tangguh di saat yang sangat terjepit itu.

"Orang-orang di luar, semua maju!" ia lantas berteriak- teriak.

Teriakan itu disambut dengan munculnya Ho Tiat Chiu, Ho Ang Yo dan Lu Jie Sianseng berikut empat jago tua anggauta Ngo Cou dari Cio Liang Pay. Tapi mereka ini tercengang kapan mereka saksikan kaisar Cong Ceng dilindungi ulh Sin Cie, si anak muda yang liehay, yang sedang labrak beberapa sie-wie yang masih bandel.

Akhir-akhirnya Un Beng Tat mendelik dengan matanya mengeluarkan sinar tajam bagaikan api menyala, dia terus menjerit: "Lebih dahulu bereskanlah binatang ini!"

Lalu, bersama tiga saudaranya, dia lompat maju.

A Kiu sendiri sudah lantas lompat ke samping ayahnya, dengan bersenjatakan pedang mustika, ia bisa pukul mundur setiap penyerang yang maju merangsek, sampai pahlawan-pahlawannya Seng Ong jeri juga. Karena ini ia dapat kesempatan akan tampak Sin Cie sedang dikerubuti enam sie-wie, hingga ia merasa, dalam keadaan seperti itu, pemuda itu pasti sukar bantu ia. Mau atau tidak, ia berkuatir juga.

Selagi tuan puteri ini pasang mata sambil berpikir keras, mendadak ia lihat si orang perempuan tua, yang romannya

1066 sangat jelek, yang dandan sebagai pengemis, mata siapa bersinar sangat tajam, lompat ke arahanya sambil angkat kedua tangannya, untuk perlihatkan sepuluh jarinya yang tajam bagaikan kuku garuda. Si jelek dan begis ini berseru dengan suaranya yang menyeramkan: "Lekas kembalikan Kim Coa Kiam padaku!"

Pada waktu itu, Sin Cie sudah ambil keputusan. Sekarang ia hendak tolongi kaisar Cong Ceng supaya gagallah usaha dorna-dorna mengundang masuk angkatan perang Boanciu, supaya kerajaan Beng dapat dihindarkan dari kemusnaan. Ia pikir, baik ia tunggu sampai tentaranya Giam Ong masuk ke kota raja, Baru ia wujudkan pembalasan sakit hatinya. Jadi, urusan negara dulu, Baru kepentingan pribadi.

Sementara itu, ia sudah lantas dikepung oleh empat Ngo Cou dari Cio Liang Pay, siapa sudah liehay tetapi sekarang dibantu pula oleh Lu Jie Sianseng dan Ho Tiat Chiu, hingga tak sempat ia membantu A Kiu siapa, dengan rambut riap- riapan, lagi putar pedangnya secara hebat akan layani penyerang-penyerangnya. Sebab anggauta-anggauta Kim-ie Wie-kun desak si nona dari tiga jurusan.

Dalam saat segenting itu, tiba-tiba saja pemuda ini dapat satu pikiran. Sambil berkelit disusl sama lompatan, ia loloskan diri dari huncwee yang liehay dari Lu Jie Sianseng dan sapuan berbahaya dari tongkat panjang Un Beng San, lantas ia melejit ke depan Ho Tiat Chiu.

"Menyesal; kami terpaksa mengerubuti!" kata kaucu dari Ngo Tok Kau sambil tertawa seraya dengan gaetannya ia sambuti si anak muda.

Sin Cie berkelit.

"Apakah kau sudah tidak sayangi lagi jiwanya beberapa puluh anggautamu?" tegur Sin Cie. Tercengang Ho Tiat Chiu kapan ia ingat orang-orangnya yang lagi terancam bahaya itu. Justru itu, Sin Cie gunai ketikanya untuk loncat keluar dari kepungan.

Un-sie Su Lo, empat ketua Keluarga Un, tidak mau lepaskan musuh lawas ini, mereka maju untuk mengepung pula. Un Beng Tat dengan siang-kek, sepasang tumbak cagaknya, serang bebokongnya Sin Cie sebagai sasaran. Tapi ia ini egos tubuhnya.

"Kau gantikan aku menahan mereka!" tiba-tiba saja Sin Cie kata pada Ho Tiat Chiu.

"Apa?" tanya kaucu dari Ngo Tok Kau.

Si anak muda tidak lantas menjawab, ia kelit dulu dari serangannya Un-sie Su Lo dan Lu Jie Sianseng.

"Aku nanti ajak kau pergi lihat adik Ceng she Hee!" kata dia kemudian.

Memang sejak melihat Ceng Ceng kaucu ini sudah runtuh hatinya, maka mendengar katanya Sin Cie, hatinya sekarang memukul keras. Hampir tidak berpikir lagi, ia angkat tangan kirinya, akan dengan itu gaet Un Beng Go, orang yang berada paling dekat dengannya.

Ngo yaya tidak pernah sangka kawan ini bakal berkhianat, dia kaget bukan main melihat datangnya serangan secara demikian tiba-tiba, tetapi ia masih bisa geraki cambuk kulitnya, untuk menangkis gaetan.

Akan tetapi Ho Tiat Chiu gesit dan telengas, setelah gagal bokongannya itu, ia mendesak dengan hebat sekali, sama sekali ia tidak hendak memberi ketika kepada Cio Liang Pay itu, tidak perduli orang liehay. Baru tiga desakan berulang-ulang, ujung gaetannya telah mampir di bahu kiri dari Beng Go, hingga bahu itu tergurat. Oleh karena gaetan itu ada racunnya, dalam sesaat itu, mukanya Ngo yaya menjadi pucat, bahunya membengkak dengan cepat, hingga di lain saat, tubuhnya menjadi limbung, tangan kanannya dipakai mengucak-ucak kedua matanya.

"Aku tak dapat melihat apa-apa! Aku.... Aku terkena racun!. " Ia berseru.

Un-sie Sam Lo bingung melihat saudara muda itu, dengan tidak perdulikan lagi kepada musuh, mereka lompat menghampirkan, untuk menolongi. Lebih dahulu mereka pepayang saudara itu.

Sin Cie menjadi senggang karena berkurangnya desakan tiga jago Un itu, di lain pihak, hatinya bercekat kapan ia ingat bagaimana telengasnya kaucu dari Ngo Tok Kau itu. Tapi juga ia tidak punya kesempatan akan berlengah, sebab tempo ia mencuri lihat kepada A Kiu, ia dapatkan puteri itu sedang terdesak hebat oleh Ho Ang Yo dan An Kiam Ceng, yang berlompatan gesit di kiri dan kanannya.

Justru itu waktu Ho Tiat Chiu sudah serang Lu Jie Sianseng, tanpa buang tempo lagi, Sin Cie berlompat dengan pesat ke arah Ho Ang Yo, dia sampai justru sedangnya si uwah seram membaliki belakang, dengan sebat sekali dia jambret bebokong orang, terus dia angkat tubuhnya nyonya itu, untuk segera dilemparkan!

An Kiam Ceng terkejut melihat kawannya kena dirobohkan secara demikian rupa, selagi begitu, ujung pedangnya A Kiu mampir di paha kirinya, tidak ampun lagi, ia rubuh terguling!

Di sana, pertempuran di antara Ho Tiat Chiu dan Lu Jie Sianseng berlanjut terus. Sianseng ini telah saksikan rubuhnya Un Beng Go, dengan sendirinya, hatinya jeri, semangatnya lumer, maka setelah tiga percobaannya

1069 mendesak hebat gagal, dengan sekonyong-konyong dia berlompat keluar kalangan.

"Maaf, lohu tak dapat melayani lama-lama!" serunya.

Dan terus ia angkat kaki.

Ho Tiat Chiu sambut seruan itu sambil tertawa.

"Lu Jie Sianseng, sampai ketemu pula! Sampai ketemu pula!"

Ketika itu Un Beng Go telah tak sadar akan dirinya, karena bekerjanya racun.

Un-sie Sam Lo, tiga saudara Un, kaget bukan kepalang kapan mereka kenali lukanya saudara ini mirip dengan luka dulu dari tangan liehay Kim Coa Long-kun, hati mereka memukul keras. Sedetik saja, mereka saling memandang, untuk memberikan tanda rahasia, habis mana Beng Gie sambar tubuh Beng Go, untuk dipeluk dan diangkat, buat dibawa lari, sedang Beng Tat dan Beng San berlompat, yang satu untuk membuka jalan, yang lain guna memegat, melindungi di belakang.

Ho Tiat Chiu berlompat, untuk menyusul, tetapi bukannya buat menyerang, hanya guna melemparkan satu bungkusan.

"Inilah obat untuk luka itu! Sambutilah!" ia berseru.

Un Beng San, Sam Yaya, berhenti berlari, ia putar tubuhnya, untuk sambuti obat itu, setelah mana, ia lari pula.

Ho Tiat Chiu tertawa, ia pun kembali.

Sampai itu waktu, pertempuran telah memberi rupa lain. Dengan tidak adanya jago-jago Co Liang Pay dan Lu Jie Sianseng, kawanan Kim-ie Siewie menjadi repot, dengan cepat mereka kena dihajar kalang-kabutan oleh A Kiu dan Sin Cie, akan akhirnya mereka lari bubaran!

Baru saja Kim-ie Siewie lari ke pintu, atau Thaykam Co Hoa Sun muncul di situ bersama sepasukan Gie-lim-kun.

Sin Cie lihat datangnya barisan itu, ia berseru: "A Kiu! Ho kaucu! Mari kita lindungi Sri Baginda keluar dari sini!"

A Kiu dan Tiat Chiu berikan jawaban mereka.

Maka lantas mereka bertiga kurung kaisar Cong Ceng.

Di saat mereka ini hendak maju menerjang, terdengarlah seruannya Co Thaykam secara tiba-tiba: "Dorna bernyali besar! Kau berani ganggu Sri Baginda! Lekas bunuh dia!"

Itu waktu, tentara Gie-lim-kun telah bertempur sama Kim-ie Siewie. Yang belakangan ini hendak loloskan diri tetapi karena dipegat dan diserang, terpaksa mereka bikin perlawanan.

Seng Ong menjadi kaget, hingga ia melengak.

"Co Kongkong! Kau.....kau...... Bukankah kau dengan aku telah. "

Setelah sadar, pangeran ini tegur thaykam serikatnya itu, akan tetapi belum habis dia bicara, ujung pedangnya Co Hoa Sun telah nancap di dadanya!

Semua Kim-ie Sie-wie kaget melihat perbuatannya thaykam ini, malah Sin Cie, Ho Tiat Chiu dan A Kiu juga tak kurang herannya.

Cuma kaisar Cong Ceng seorang yang puji orang kebiri itu sebagai hamba yang setia....

Co Hoa Sun tetap berdiam di tempatnya "sembunyi" selama pertempuran berlangsung, orang-orang kepercayaannya terus memasang mata dan setiap saat memberi laporan saling-susul, maka itu ia lantas dapat tahu ketika Ho Tiat Chiu tukar haluan, hingga Sin Cie dan A Kiu jadi dapat angin, hingga pertempuran jadi salin rupa untuk kerusakan pihaknya. Jadi gagallah usaha mereka akan mengusir atau membunuh kaisar. Dia sangat cerdik, di saat segenting itu, dia lantas saja tukar haluan, tanpa ayal, dia bawa pasukan Gie-lim-kun, katanya untuk tolongi Sri Baginda.

Semua Kim-ie Siewie lantas letaki senjata mereka. "Tawan! Tawan mereka!" Co Thaykam berikan

perintahnya.

Serdadu-serdadu Gie-lim-kun segera tangkap semua siewie itu.

"Gusur mereka keluar! Hukum mati mereka semua!" Co Thaykam berikan titahnya terlebih jauh. Ia melancangi raja.

Titah ini pun telah dijalankan dengan lantas, maka di dalam tempo yang pendek, binasalah semua siewie itu, hingga musnah juga semua orang yang turut dalam komplotan itu.

Itulah tindakan hebat untuk menutup mulut orang!

Ho Tiat Chiu lihat pertempuran telah selesai, ia berpaling kepada Wan Sin Cie, dan tertawa.

"Wan Siangkong, besok aku tunggu kau di bawah pohon besar di tempat sepuluh lie di luar kota!" katanya, sehabis mana ia tarik tangannya Ho Ang Yo untuk diajak berlalu.

Itu waktu, si uwah jelek, yang tidak terluka hebat, memang sudah dekati pemimpinnya itu.

Selagi orang memutar tubuh, kaisar Cong Ceng memanggil. "Kau....kau..." Kaisar ini hendak memberi pujian dan hadiah kepada si juwita itu akan tetapi Tiat Chiu tidak memperdulikannya, terus saja ia ajak bibinya berlalu.

Ketika kaisar kemudian berpaling kepada puterinya, ia dapatkan, puteri itu asyik pandang Sin Cie dengan air muka berseri-seri. Barulah sekarang hatinya menjadi tenteram benar. Tertawanya sang puteri berarti bahaya benar-benar sudah lewat. Ia lantas jatuhkan diri di atas kursi.

"Siapakah dia ini?" tanya ia kepada puterinya. Ia tunjuk pemuda kita. "Jasanya tidak kecil. Tim akan beri hadiah padanya."

Post a Comment