Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 153

Memuat...

"Benar! Sri Baginda tidak setujui usul pinjam tentara asing itu. Karena ini, Co Hoa Sun beramai niat tunjang Seng Ongya, untuk diangkat jadi kaisar pengganti. "

"Ini memang mungkin. Seng Ongya ada bangsa tolol, pasti dia suka pinjam tentara asing untuk tindas pemberontak."

"Yang aku kuatirkan mereka nanti bekerja malam ini. "

A Kiu kembali terkejut.

"Ah, kenapa kau tidak omong dari siang-siang? Kita mesti lekas tolongi Sri Baginda Ayah!"

Sin Cie rapatkan kedua matanya, ia ragu-ragu. Kaisar Cong Ceng justeru ada musuh besarnya, yang sudah hukum mati ayahnya! Selama belasan tahun, tidak ada satu hari dilewatkan tanpa ia tak ingat permusuhan itu, adalah keinginannya akan dengan tangan sendiri membunuh musuhnya. Sekarang timbul ini suasana genting. Sebenarnya ini ada ketika yang bagus sekali. Bukankah, tanpa berbuat sesuatu apa, ia bisa saksikan musuh besarnya itu terbunuh mati? Tidakkah itu akan memuaskan hatinya? Tapi di sebelah itu, jikalau Co Hoa Sun berhasil, dan dia pinjam tentara Boan, untuk tumpas gerakannya Giam Ong, tidakkah itu hebat? Bagaimana kalau Giam Ong gagal? Bagaimana kalau tentara Boan menduduki seluruh Tionggoan? Tidakkah negara menjadi musna dan cucu Uy Tee semua menjadi kacung?

A Kiu tidak tahu apa yang orang pikirkan, ia menyenggol dengan pundaknya pada pemuda itu.

"Kau pikirkan apa?" tanya dia. "Lekas bantui aku tolongi Sri Baginda Ayah!" Sin Cie berdiam, masih ia bersangsi.

"Asal kau tidak melupakan aku, aku tetap ada kepunyaan kau," A Kiu bilang. Nona bangsawan ini menduga keliru. "Di belakang hari masih ada saat-saatnya untuk kita berkumpul seperti ini..."

Lagi-lagi Sin Cie terkejut.

"Ah, kiranya dia menyangka aku tak mau bangun karena terpengaruh oleh keadaan seperti ini. " Pikirnya. "Baiklah,

biar aku lihat keadaan...." Maka ia bisiki puteri raja itu: "Pergi kau totok semua dayang itu, habis kau tutupi mereka dengan selimut supaya mereka tak dapat melihat, supaya kita bisa keluar dari sini."

"Aku tidak mengerti tiam-hiat-hoat. Di bagian mana aku mesti totok mereka?" A Kiu tanya.

Menyesal Sin Cie. Ia tak tahu, puteri ini tidak mengerti tiam-hiat-hoat, ilmu menotok jalan darah. Terpaksa ia mesti mengajarinya dahulu. Maka terpaksa ia cekal tangannya puteri itu, untuk dibawa ke dadanya sendiri, ke ujungnya tulang iga yang ke sebelas. Ia telah pegang tangan yang halus dan lemas.

"Ini dia yang dinamai jalan darah ciang-bun-hiat," katanya. "Dengan jari tangan, kau totok ujung tulang mereka, mereka bakal lantas tidak mampu bergerak. Jangan totok terlalu keras, nanti mereka kehilangan jiwa mereka. "

A Kiu ingat letak anggauta yang ditunjuk itu. Untuk tolongi ayahnya, ia tidak bisa berpikir banyak lagi. Ia lantas turun dari pembaringan.

Melihat puteri itu bangun, keempat dayang itu berbangkit, untuk tanya: "Thianhee perlu apa?" "Kemari kau!" ia panggil satu dayang sambil ia pergi ke samping pembaringan, hingga ketiga dayang lainnya tidak lihat ia berdua dayang yang pertama itu.

Menuruti ajaran Sin Cie, A Kiu totok dayangnya ini. Karena ia mengerti ilmu silat, ia bisa menotok dengan baik. Ketika dayang itu sudah rubuh dengan tidak bersuara, ia panggil yang kedua dan ketiga, untuk ditotok semua. Ketika ia totok yang keempat, kenanya kurang tepat, dayang itu menjerit, maka lekas-lekas ia bekap mulutnya, untuk ditotok buat kedua kalinya, Baru orang pingsan.

Sin Cie sudah pakai sepatunya dan telah turun dari pembaringan ketika A Kiu telah selesai dengan tugasnya, sama-sama mereka hampirkan jendela, akan singkap sero. Begitu lekas dapati di luar tidak ada orang, keduanya menolak jendela, untuk lompat keluar.

0o-d.w-o0

"Mari ikut aku!" A Kiu mengajak.

Puteri ini ajak kawannya ke kamar Kaisar Cong Ceng, ayahandanya. Selagi mendekati kamar, dari jauh sudah kelihatan bajangan dari banyak orang, jumlah mereka itu mungkin beberapa ratus jiwa.

"Kawanan dorna sudah kurung Sri Baginda Ayah!" kata A Kiu. "Mari lekas!"

Keduanya berlari-lari.

Baru kira belasan tumbak, kedua orang ini berpapasan sama satu thaykam. Orang kebiri itu kaget kapan ia kenali Tiang Peng Kiongcu, tetapi karena puteri ini cuma bersama satu pengiring, ia tidak buat kuatir.

"Thianhee masih belum tidur?" tanyanya sambil menjura. "Minggir!" membentak Tiang Peng Kiongcu. Bersama- sama Sin Cie, puteri ini telah melihat nyata, di depan dan belakang kamar ayahnya telah berkumpul thaykam- thaykam dan siewie-siewie, yang semua memegang senjata, suatu tanda keadaan sangat mengancam.

Dengan satu tolakan tangan yang keras, A Kiu bikin thaykam di depannya itu terpelanting, lantas ia maju terus.

Di muka pintu keraton menjaga beberapa siewie, akan tetapi mereka ini kena ditolak minggir oleh Sin Cie.

Semua orang kebiri tidak berani turun tangan apabila mereka tampak tuan puteri itu. Satu diantaranya sebaliknya lari kepada Co Thaykam untuk melaporkan hal kedatangannya puteri itu.

Co Hoa Sun ada satu dorna yang cerdik tetapi licik, nyalinya kurang cukup besar, walaupun sekarang ia yang kepalai gerakan menjunjung Seng Ong, ia tidak berani muncul sendiri, ia cuma berikan titah-titah saja. Kapan ia dengar laporan, ia tidak kuatir, Ia anggap, Tiang Peng Kiongcu sendirian saja, apa puteri itu bisa bikin.

"Tetap perkuat penjagaan!" ia ulangi titahnya.

A Kiu ajak Sin Cie maju terus, sampai ke kamar dimana biasanya kaisar Cong Ceng memeriksa surat-surat negara. Di pintu kamar terdapat belasan thaykam dan siewie, di situpun terdapat tujuh atau delapan mayat yang telah bermandikan darah. Rupa-rupanya korban-korban ini ada mereka yang setia kepada raja.

Semua siewie dan thaykam melongo kapan mereka lihat tuan puteri.

A Kiu tidak perdulikan mereka itu, ia tarik tangannya Sin Cie, untuk diajak menerobos masuk ke dalam kantor raja itu. "Tahan!" berseru satu siewie sambil ia maju memegat, goloknya diangkat naik untuk dipakai membacok pemuda kita.

Sin Cie berkelit sambil tangannya terus menyambar dada, maka siewie itu terpelanting jatuh.,

Begitu berada di dalam kantor, Sin Cie lihat api lilin terang sekali, di situ berdiri belasan orang.

"Hu-hong!" seru A Kiu sambil ia lari untuk tubruk satu orang dengan jubah kuning. (Hu-hong adalah panggilan untuk ayah yang menjadi raja.)

Sin Cie awasi orang itu, muka siapa putih bersih dan perok, akan tetapi dalam keadaan kaget dan gusar.

"Inilah dia kaisar Cong Ceng musuh ayahku...." pikir pemuda ini.

Belum sampai Tiang Peng Kiongcu dapat tubruk ayahnya, dua orang yang tubuhnya besar menghalang di depan raja, golok mereka dibalingkan.

Kaisar lihat puterinya itu.

"Perlu apa kau datang kemari?" tegurnya. "Lekas pergi!" Dekat kaisar berdiri seorang umur kurang-lebih empat-

puluh tahun, tubuhnya gemuk terokmok, mukanya penuh

berewok. Dia kata dengan keren:

"Pemberontak sudah pukul pecah Hun-ciu dan Thaygoan, segera juga mereka bakal sampai ke kota raja ini! Kau tidak hendak minta bala-bantuan bangsa asing, apa maksudmu?"

Kata-kata kasar itu ditujukan kepada kaisar. "Siok-hu!" seru A Kiu kepada si terokmok itu, yang sikapnya keren. "Kau berani berlaku begini kurang ajar terhadap Junjunganmu?"

Mendengar si nona, Sin Cie tahu, dia itu adalah Pangeran Seng Ong.

Pangeran ini lantas tertawa berkakakan.

"Kurang ajar?" dia mengulangi. "Dia hendak bikin ludas negara indah warisan leluhur kita, maka kami, setiap anggauta keluarga Cu, tidak dapat antapkan dia!"

Kata-kata jumawa ini dibarengi sama terhunusnya pedang, yang cahayanya berkilauan, hingga semua orang di kiri-kanannya terkejut.

Kemudian, dengan roman sangat bengis, pangeran ini bentak raja:

"Lekas bilang, bagaimana putusanmu!" Kaisar menghela napas.

"Apa Tim kurang bijaksana hingga negara jadi kacau," kata dia, "sampai tentara pemberontak hendak menuju ke kota raja buat bikin terbalik pemerintah, akan tetapi meminjam tentara Boan juga bakal sama membahayakan untuk negara.... Jikalau Tim mesti mati untuk rakyat, itu tak usah dibuat menyesal, tetapi yang harus disesalkan adalah kalau nanti negara indah dari leluhur kita ini mesti diserahkan kepada lain bangsa. "

Dengan acungi pedangnya, yang panjang, Seng Ong maju satu tindak.

"Jika begitu, lekas kau keluarkan maklumat untuk undurkan diri, untuk serahkan kedudukanmu kepada pengganti yang bijaksana!" dia berseru dengan sikapnya sangat mengancam. Tubuhnya raja bergemetar.

"Apakah kau hendak bunuh rajamu?" dia tanya. Seng Ong menoleh ke belakangnya, ia kedipi mata.

Di belakang pangeran ini ada satu opsir dari Kim-ie Wie- kun, pasukan istimewa dari raja, dia ini cabut goloknya yang panjang, dengan suara nyaring, dia bilang: "Jikalau raja sudah gelap pikiran dan bu-too, setiap orang dapat membinasakan dia!"

Artinya "bu-too" adalah "tidak adil" (tidak bijaksana). Sin Cie awasi opsir itu, karena ia ingat suara orang itu.

Post a Comment