"Bukan. Katanya karena urusan Wan Cong Hoan."
Terperanjat juga Sin Cie mendengar disebutkan nama ayahnya.
"Bagaimana itu?" tanya dia.
"Di waktu kejadian, aku masih belum terlahir," jawab A Kiu, "Baru belakangan aku dengar hal itu dari suhu. Suhu bilang Wan Cong Hoan ada panglima perang besar di Kwan-gwa yang menolak serangan bangsa asing, dia telah dirikan banyak sekali jasa, hingga bangsa asing jeri bukan main akan lihat dia. Adalah belakangan, bangsa Boan sudah gunai tipu-daya merenggangkan, cerita-burung disiarkan bahwa Wan Cong Hoan berniat berontak. Sri Baginda Ayah percaya itu, tanpa pikir panjang lagi, Wan Cong Hoan dihukum mati. Thia Suhu tahu Wan Tayswee difitnah, dia pernah melindunginya, hingga karenanya, suhu jadi bentrok sama Sri Baginda Ayah. Sri Baginda Ayah sedang panas hati, dia lupa, dia telah gaplok suhu, maka saking gusar, suhu lantas meninggalkan istana, dia sumpah untuk selamanya tak sudi menemui pula Sri Baginda Ayah."
Sin Cie terharu berbareng bersukur, ia tahan keluarnya air mata, matanya menjadi merah.
"Thia Suhu bilang, Sri Baginda Ayah tak dapat membedakan orang setia dan dorna," A Kiu melanjuti. "Suhu kuatirkan, akhir-akhirnya negara bakal runtuh di tangan Sri Baginda Ayah. Beberapa tahun kemudian, Sri Baginda Ayah menyesal. Karena katanya tak dapat aku hidup di istana, aku lantas dikirim kepada suhu, untuk terus ikuti suhu. Aku tidak tahu, kenapa suhu bentrok sama Ngo Tok Kau."
Hampir saja Sin Cie bilang: "Ngo Tok Kau berniat bikin celaka ayahmu, sebab mereka tahu Thia Lo-hucu setia kepada Sri Baginda, jadi Thia Lo-hucu hendak dibinasakan." Tiba-tiba ia tampak lilin, yang tinggal sepotong pendek, hingga ia ingat: "Keadaan ada begini mendesak, kenapa aku mesti bicara begini banyak sama dia ini?"
Maka ia lantas berbangkit.
"Masih banyak yang mesti dibicarakan, besok saja kita teruskan lebih jauh," katanya.
Mukanya A Kiu merah, ia tunduk, terus dia manggut.
Hampir di waktu itu, pintu kamar diketok secara kesusu dan di luar kamar terdengar suaranya beberapa orang: "Thianhee, thianhee, lekas buka pintu!"
A Kiu kaget.
"Ada apa?" dia tanya.
"Oh, thiangee tidak kurang suatu apa?" tanya satu dayang.
"Aku lagi tidur. Ada apakah?"
"Katanya ada orang lihat ada penjahat nyelusup masuk ke dalam keraton. "
"Ngaco-belo! Penjahat apa sih?"
"Thianhee," kata satu suara lain, "ijinkan kami masuk untuk melihat-lihat. "
Sin Cie segera bisiki sang puteri: "Itulah Ho Tiat Chiu!" "Jikalau ada penjahat, cara bagaimana aku bisa tenang seperti ini?" kata A Kiu. "Lekas pergi, jangan bikin berisik di sini!"
Orang-orang di luar itu lantas diam, mereka tahu sang puteri gusar.
Dengan berindap-indap, Sin Cie pergi ke jendela, niatnya untuk tolak jendela, buat nerobos pergi. Baru saja ia pegang kain alingan jendela dan menyingkapnya sedikit, ia lihat cahaya api terang-terang, hingga ia tampak juga belasan thaykam, ialah orang-orang yang menyekal obor.
"Jikalau aku nerobos, siapa bisa rintangi aku?" pikir pemuda ini. "Dengan aku berlalu dengan paksa, nama baiknya puteri bakal tercemar. Tidak dapat aku berbuat demikian. "
Maka ia balik pada A Kiu, akan bisiki bahwa tak bisa ia berlalu dengan paksa atau sang puteri bakal dapat malu.
Puteri itu kerutkan alis.
"Jangan takut," katanya kemudian. "Kau diam saja di sini untuk sekian lama lagi."
Sin Cie terpaksa, ia menurut.
Tidak terlalu lama, kembali ada suara mengetok pintu. "Siapa?" tanya A Kiu.
Kali ini datang penyahutan Thaykam Co Hoa Sun.
"Sri Baginda dengar ada orang jahat nyelusup ke istana, Sri Baginda berkuatir, dari itu kacung diperintah menanyakan keselamatan thianhee," sahut thaykam itu, yang membahasakan diri "kacung". "Tidak berani aku membikin kong-kong banyak cape," kata A Kiu. "Silakan kong-kong kembali, tolong sampaikan bahwa aku tidak kurang suatu apa."
"Thianhee ada orang penting, tak dapat thianhee menjadi kaget," kata pula orang kebiri itu. "Baik ijinkanlah kacung masuk untuk memeriksa kamar."
A Kiu mendongkol kepada orang kebiri itu. Ia percaya, waktu Sin Cie datang, mesti ada orang lihat padanya, kalau tidak, thaykam itu tidak nanti berani demikian mendesak.
Dugaan ini benar separuhnya. Memang Co Hoa Sun dapat kisikan dari Ho Tiat Chiu bahwa ada orang nyelusup masuk ke keraton puteri, Tiang Peng Kiongcu. Sebab lainnya adalah Co Hoa Sun tahu puteri pandai silat, dia bercuriga, dia curiga puteri ini punya hubungan sama orang kangouw sedang dia berniat celakai baginda Cong Ceng. Maka ingin dia mendapat kepastian. Dia berpengaruh, dari itu, dia berani memaksa. Puteri pun memang tak dapat terlalu rintangi orang kebiri itu.
Maka akhirnya, setelah berpikir, Tiang Peng Kiongcu gerak-geraki kedua tangannya kepada Sin Cie, untuk beri tanda agar si anak muda naik ke atas pembaringannya, untuk sesapkan diri di bawah selimut.
Dalam keadaan seperti itu, Sin Cie sangat terpaksa, maka ia pergi ke pembaringan, setelah lolosi sepatunya, ia naik, terus ia tutupi diri dengan selimut sulam, hingga ia dapat cium bau sangat harum. Ia kerebongi tubuh, dari ujung kaki sampai di kepala.
Kembali terdengar suaranya Co Hoa Sun, yang mendesak minta dibukai pintu.
"Baiklah," kata Tiang Peng Kiongcu akhirnya, "kau boleh periksa!" Puteri ini loloskan baju luarnya, ia bertindak ke pintu, untuk angkat palangan, setelah mana, tanpa buka pintu lagi, ia lompat naik ke atas pembaringan, untuk segera kerebongi diri sebatas leher.
Hatinya Sin Cie memukul ketika A Kiu rebahkan diri berdampingan dengan dia, pakaian mereka nempel satu dengan lain, sedang hidungnya dapat cium bau lebih wangi lagi. Tapi ia berdiam terus, tidak berani dia berkutik, apalagi setelah ia merasa Co Hoa Sun dan Ho Tiat Chiu sudah masuk ke dalam kamar. Ia merasakan bagaimana tubuhnya sang puteri sedikit bergemetar.
Ting Peng Kiongcu berpura-pura masih lungu-lungu, ia pun berlagak menguap, tetapi toh ia tertawa.
"Co Kong-kong, kau baik sekali. Terima kasih!" katanya.
Co Hoa Sun memandang ke sekelilingnya, ia tak lihat ada orang lain dalam kamar itu.
Ho Tiat Chiu turut memeriksa, ia berpura-pura bikin jatuh saputangannya, untuk pungut itu, ia membungkuk, dengan begitu ia jadi bisa melongok ke kolong pembaringan.
"Aku pun telah periksa kolong pembaringan, aku tidak sembunyikan orang jahat!" tertawa A Kiu.
"Harap thianhee ketahui, Co Kongkong kuatir thianhee kaget," kata ketua Ngo Tok Kau itu.
Ketika kaucu ini melihat ke kursi, dimana ada gambar Sin Cie, ia kaget sekali, sukur ia masih bisa tetapkan hati, maka ia lantas berpaling.
Co Thaykam kedipi mata, ia kata: "Mari kita periksa lain-lain bagian lagi." Tapi kepada empat dayang, ia pesan: "Kamu berempat temani thianhee di sini, jangan kamu tinggal pergi. Umpama kata thianhee titahkan kamu, masih kamu tidak boleh malas dan mencuri tempo dan keluar. Mengerti?"
"Kami akan dengar titah kongkong," jawab empat dayang itu.
Co Hoa Sun beramai minta perkenan dari puteri, lantas mereka keluar dari kamar.
A Kiu pun segera perintah turunkan kelambu. "Aku hendak tidur," katanya.
Dua dayang kasi turun kelambu dengan hati-hati, yang satu tambahkan kayu cendana, setelah buang ujung lilin, mereka pergi ke pojok tembok untuk numprah sambil menyender.
Lega hatinya A Kiu, akan tetapi ia bergirang berbareng malu. Di luar sangkaannya, di luar keinginannya, sekarang ia rebah berdampingan sama orang yang ia buat kenangan setiap saat. Pikirannya jadi terbenam, tidak berani ia buka suara, tidak berani ia geraki tubuhnya. Ia seperti sedang mimpi.
"Bagaimana?" Sin Cie berbisik, selang sekian lama. "Mesti dicari daya untuk aku keluar dari sini. "
"Oh...." Si nona bersuara, dengan pelahan sekali. Ia bergerak sedikit, lengan dan kaki digeser. Tiba-tiba saja ia terperanjat. Ia telah bentur barang dingin. Kapan ia meraba, ia kena pegang pedang, yang diletaki nyelang di antara mereka berdua.
"Apa ini?" ia tanya.
"Aku nanti terangi, tapi kau jangan kecil hati."
"Aku masuk kemari di luar keinginanku. Aku menyesal telah mesti rebah di sini bersama-sama kau. Tapi ini karena
1057 sangat terpaksa. Aku bukan seorang ceriwis dan kurang ajar."
"Aku tidak persalahkan kau," A Kiu bilang. "Singkirkan pedangmu itu, nanti aku kena dilukai."
"Aku kenal adat sopan-santun, tetapi tetap aku ada seorang anak muda, aku sekarang rebah berdampingan sama kau, satu gadis rupawan dan cantik sekali, aku kuatir nanti tak dapat atasi diriku. "
A Kiu tertawa.
"Jadi kau palangkan pedangmu? Ah, tolol, toako tolol!. "
Dua-dua mereka kuatir suara mereka nanti terdengar empat dayang, selain mereka bicara dengan pelahan, kepala mereka pun digeser dekat sekali satu dengan lain. Maka Sin Cie dapat cium harumnya hawa segar dari mulutnya si nona, hingga hatinya goncang. Sebisa-bisa ia tenangkan diri.
"Adik Ceng sangat menyintai kau, jangan kau tersesat!" demikian ia peringati dirinya sendiri.
"Seng Ongya itu siapa?" kemudian ia tanya. Ingin ia simpangkan perhatian.
"Dia adalah pamanku," jawab A Kiu.
"Tepat!" kata Sin Cie pula. "Mereka hendak tunjang dia menjadi kaisar, kau tahu tidak?"
A Kiu terkejut.
"Apa? Siapa mereka?"
"Co Hoa Sun telah bikin perhubungan rahasia sama Kiu Ongya dari Boanciu, dia niat pinjam tentera Boan untuk tindas pemberontakan Giam Ong." "Fui! Apakah artinya tentara Boan? Negara kita toh lebih kuat!"