"Pada ketika itu, aku belum tahu siapa dia," sahut sang bibi. "Aku cuma lihat dia bermuka putih dan cakap, tubuhnya tinggi. Dia sedang pegangi sebatang hio wangi, yang ada apinya. Jadinya ular itu dapat cium bau wnagi itu dan dia pergi menghampirkannya. Anak muda itu lihat aku, ia pandang aku sambil bersenyum."
Ho Tiat Chiu tertawa.
"Ketika itu bibi ada eilok sekali, dia lihat bibi, pasti dia jadi tersengsam!. "
"Fui!" sang bibi berludah. "Aku sedang cerita dari hal benar, siapa guyon-guyon denganmu?" Ia terus melanjuti: "Aku lihat dia seorang asing, aku kuatir dia nanti dipagut ular itu, maka aku lantas teriaki padanya: "Hai, awas! Ular itu berbisa, jangan kau ganggu dia! Nanti aku tangkap."
"Mendengar aku, orang itu tertawa. Dari bebokongnya, dia kasi turun sebuah peti kayu. Di ujung peti kayu itu dicangcang seekor kodok, kodok itu berloncatan tetapi tidak dapat loloskan diri. Tentu saja, menampak kodok itu, ular kita hendak menerkamnya, untuk dimakannya. Dengan merayap pelahan, dia dekati peti kayu itu, kemudian ia ulur kepalanya, untuk santok sang kodok. Tiba-tiba saja orang itu tarik tali yang melekat pada peti, dan peti itu lantas terbalik tutupnya. Ular itu mencoba berhenti merayap tapi sekarang sudah kasep. Orang muda itu ulur tangannya yang kiri, dua jarinya terus menjepit leher ular, Dia sangat sebat
1021 dan jitu tangkapannya. Aku lihat, gerakan tangannya itu beda dari gerakan tangan kita. Begitu lekas dijepit, ular belang itu lantas diam saja, agaknya dia jadi jinak sekali. Aku tahu, pemuda itu seorang ahli, aku tidak berkuatir lagi untuknya.
"Aneh, aneh!" tertawa Ho Tiat Chiu. "Bibi Baru pernah lihat orang itu, lantas saja bibi sangat memperhatikan dia!"
"Hai, jangan kau potong ceritanya!" Ceng Ceng nyeletuk, sedang tadi katanya tak suka ia mendengari cerita. "Kau dengari saja!"
Tiat Chiu kembali tertawa.
"Tadi kau sendiri yang bilang tak sudi mendengari?" dia baliki.
"Sekarang aku jadi suka mendengarnya!" Nona Hee akui. "Toh boleh, bukan?"
Untuk kesekian lamanya, Tiat Chiu tertawa.
"Baiklah, aku tidak akan memotong-motong lagi!" katanya.
Ho Ang Yo deliki kaucu yang jail itu.
"Itu waktu aku mulai curiga," dia menyambungi. "Aku pikir-pikir, siapa dia? Kenapa dia bernyali demikian besar, berani datang ke tempat kita untuk menangkap ular berbisa? Mustahil dia tidak pernah dengar nama Ngo Tok Kau? Aku terus awasi dia. Setelah itu tangan kanannya mengeluarkan sebatang besi kecil, mirip ruyung, ujung besi itu ia sodorkan ke muka ular. San ular lantas saja menyamber, akan santok ujung besi itu.
Aku mengawasi dengan teliti. Aku pun datang lebih dekat. Nyata ruyung itu kosong dalamnya, kapan bisa ular keluar, bisa itu mengalir masuk ke dalam bungbung besi itu. Sekarang Baru aku mengerti! Hm! Nyata dia datang untuk curi bisa ular! Pantas selama beberapa hari ini, beberapa ularku sungkan dahar, tubuhnya kurus dan menjadi malas- malasan! Lantas aku teriaki dia, "Hai, lepas ular itu!" Berbareng dengan itu, aku keluarkan suitanku peranti menakluki ular, aku terus tiup. Rupanya dia tidak sangka, suitanku ada punya suara yang luar biasa, dia menoleh karenanya. Justru itu, si belang lepaskan catolannya pada pipa dan berbalik santok dia! Dia lekas-lekas lemparkan ular itu, dia hendak buka peti kayunya, mungkin untuk ambil obat pemunah bisa. Aku tidak kasi ketika padanya, aku berlompat dan serang mukanya. Di luar dugaan, liehay ilmu silatnya, Cuma dengan satu kali tangkis, ia bikin aku terpelanting jatuh. "
"Pasti sekali, mana kau bisa jadi tandingannya!" Ceng Ceng bilang.
Ho Ang Yo mendelik.