"Apakah kau benar-benar dengar perkataanku?" dia tegasi Ho Tiat Chiu.
"Tentu," sahut pemimpin itu. "Cuma...tak dapat kita hilangi kepercayaan kita terhadap orang lain. "
Suaranya Ho Ang Yo menunjuki kemurkaan ketika ia bilang: "Aku tahu, kau jatuh hati terhadapnya! Teranglah kau tidak kandung niatan akan membalaskan sakit hatinya ayahmu yang telah menutup mata!. "
Dia lantas kembali, untuk jatuhkan diri di kursi, mungkin untuk tenangkan diri, mungkin guna pikirkan daya-upaya lain akan bikin celaka Ceng Ceng.
Maka itu, kamar jadi sunyi sekali.
Sin Cie berdua Wan Jie menahan napas. Memang sejak tadi, mereka tidak berani berkutik sama sekali.
Dalam kesunyian itu, mendadak Ceng Ceng berseru: "Kamu tidak mau keluar, kamu hendak tunggu apa?" Ia pun tumbuk pembaringan.
Sin Cie kaget, ia menyangka jelek, hampir ia munculkan diri, sukur Wan Jie tarik dia.
Lalu terdengar suaranya Ho Tiat Chiu, dengan pelahan: "Sekarang kau boleh tenangi diri dan tidur, sebentar setelah terang tanah, aku nanti antar kau pulang. " Ceng Ceng bersuara "Hm!" seraya kembali tumbuki pembaringan, hingga debu di kayu pembaringan itu meluruk ke kepala, ke leher dan tubuhnya dua orang yang lagi mendekam sembunyi. Hampir Sin Cie berbangkis, baiknya ia bisa cepat bernapas dengan beraturan.
Sebenarnya Ceng Ceng habis sabar, di dalam hatinya, ia kata: "Ho Tiat Chiu dan Ho Ang Yo bukan tandingan kau, kenapa kau masih sembunyi saja? Sebenarnya apa yang kamu berdua pikir?"
Ia jadi pikirkan Sin Cie dan Wan Jie. Ia tidak tahu, Sin Cie mempunyai pikiran lain. Tanggung jawab pemuda ini sekarang ditambah sama soal keselamatannya negara.
Kalau Ceng Ceng habis sabar, Ho Ang Yo adalah mendongkol sangat.
"Kau ada kaucu!" katanya pada Tiat Chiu, "semua urusan Ngo Tok Kau berada dalam kekuasaanmu, malah dengan gaetan emas Kim-kau diwariskan kepadamu, kau berhak untuk menghukum mati atau menghidupkan orang! Namun walaupun demikian, ingin aku bicara padamu! Memang partai kita tidak melarang soal mengendalikan napsu-birahi, akan tetapi pengalamanku, apakah pengalamanku tidak cukup hebat untuk menyadarkan kepadamu?"
Ditegur begitu macam, Ho Tiat Chiu tertawa.
"Bibi menemui lelaki yang tidak ingat budi," katanya, "lantas bibi samakan, semua lelaki di kolong langit tidak berbudi juga. "
"Pasti ada orang-orang lelaki yang baik hatinya," sahut Ho Ang Yo. "Tetapi kau tengoklah ini puteranya Kim Coa Long-kun! Lihat, dia beroman sangat mirip dengan ayahnya, tidak ada bedanya, maka siapa bisa bilang tabeatnya juga tidak akan sama dengan tabeat ayahnya?"
"Jadinya ayahnya sama cakapnya dengan puteranya ini?" kata Ho Tiat Chiu, "Pantaslah bibi jadi demikian jatuh hati terhadap ayahnya itu!"
Sampai sebegitu jauh, Sin Cie dapat perasaan Ho Tiat Chiu pun ketarik hati terhadap Ceng Ceng. Ia anggap ini ada lucu, sebab sebagai seorang kosen dan cerdik, kenapa pemimpin Ngo Tok Kau ini tidak dapat bedakan kelaminnya Nona Hee itu.
"Kau kukuh, kau tetap tak sadar akan dirimu," kata Ho Ang Yo kemudian sambil menghela napas. "Aku nanti tuturkan hal-ichwalku kepadamu, agar selanjutnya, kebaikan atau kecelakaan, semua terserah kepadamu sendiri. "
"Memang aku paling gemar dengar kau dongeng, bibi," kata Tiat Chiu, "sekarang kau hendak bercerita di depan ini anak muda, apakah itu tidak ada halangannya untuk rahasiamu itu?"
"Aku sengaja hendak bercerita supaya dia tahu perbuatan busuk dari ayahnya, supaya kalau kemudian dia mati, dia akan mati puas!" si uwah jelek bilang.
Ceng Ceng berteriak bahna gusar.
"Kau karang cerita yang bukan-bukan!" dia berseru. "Ayahku ada satu enghiong terbesar, satu laki-laki sejati, mana sudi dia berbuat demikian busuk? Tidak, aku tidak sudi dengar, aku tidak sudi dengar!"
Ho Tiat Chiu tertawa, agaknya ia girang sekali.
"Nah, kau dengar, bibi," katanya. "Dia tidak suka dengar ceritamu. Bagaimana?" "Aku hendak bercerita untukmu," sahut sang bibi. "Dia suka dengar atau tidak, masa bodoh!"
Ceng Ceng tutupi kepalanya dengan selimut, akan tetapi kemudian, ia kalah dengan perasaannya ingin tahu, ia singkap juga sedikit ujung selimutnya, untuk mendengari Ho Ang Yo tuturkan lelakonnya dengan Kim Coa Long- kun.
"Inilah kejadian pada dua-puluh tahun dulu," demikian si uwah jelek dengan penuturannya. "Ketika itu, usiaku berimbang dengan usiamu sekarang. Dan ayahmu, dia Baru saja menggantikan memangku kedudukan sebagai kaucu baru. Dia telah angkat aku menjadi chungcu, ketua, dari dusun Ban Biau San-chung, tugasku adalah menjaga kita- punya guha ular. Pada suatu hari selagi senggang, aku pergi ke bukit belakang, untuk berburu burung, untuk dibuat main. "
"Aneh, bibi," Tiat Chiu memotong. "Kau menjadi chungcu tapi toh kau sempat menangkap burung. "
"Hum," bersuara sang bibi. "Seperti aku telah bilang, ketika itu usiaku masih muda, aku mirip dengan bocah saja. Aku berhasil menangkap dua ekor burung ikan-ikanan, bukan main girangku. Dalam perjalanan pulang, aku lewat di guha ular kita. Tiba-tiba saja aku dengar suara 'ser! ser!' yang datangnya dari arah pepohonan. Aku tahu itulah suara ular, mestinya ada ular yang minggat, maka aku lantas susul. Benar-benar aku dapati seekor ular belang. Aku heran! Biasanya semua ular kita jinak, maka tak mengerti aku, kenapa ini seekor bolehnya buron. Aku tidak lantas menangkap, diam-diam aku menguntit. Ular itu menggeleser ke belakang pepohonan lebat, ia menghampirkan ke arah satu orang. Kapan aku lihat orang itu, aku terkejut." "Kenapa, bibi?" Tiat Chiu tanya. Ho Ang Yo kertak giginya.
"Itulah si manusia celaka!" katanya. "Dia ada satu hantu bagiku!"
"Bibi maksudkan Kim Coa Long-kun?" sang kaucu tegaskan.