Selagi Ceng Ceng melengak, Ho Tiat Chiu kelihatan bertindak masuk, wajahnya ramai dengan senyuman. Di belakangnya ada si uwah jelek.
"Banyak baik, Hee Kongcu?" tanya dia sambil tertawa. "Eh, mana orang-orang yang layani kau? Pasti mereka malas!"
"Aku yang suruh mereka pergi!" jawab Ceng Ceng. "Siapa kesudian dirawati mereka?"
Tiat Chiu tak ambil mumat senggapan itu, ia masih tertawa.
"Adat bocah!" katanya, sambil ia bertindak menghampirkan obat. "Eh, obat sudah matang!"
1010 Ia ambil sepotong kain kecil yang putih meletak seperti salju, ia pakai itu untuk alaskan cangkir perak, lalu ia tuangkan obatnya ke dalam cangkir itu. Habis itu, ia singkirkan saringan itu.
"Inilah obat paling manjur untuk luka-luka," kata dia sambil tertawa pula. "Jangan kau kuatir, umpama obat ini dicampuri racun, cangkirnya bakal berubah menjadi hitam."
Ceng Ceng awasi pemimpin Ngo Tok Kau ini, hatinya bekerja keras. Ia girang pertama kali melihat Sin Cie, menyusul itu hatinya adem karena Wan Jie ada bersama si anak muda, apapula kapan ia tampak Sin Cie tarik tangan si nona, untuk diajak masuk ke bawah pembaringan. Sekarang ia hadapi Ho Tiat Chiu, ia dapat alasan untuk udal kemendongkolannya.
"Kamu main muslihat, apa kamu kira aku tidak tahu?" demikian katanya.
"Muslihat apa sih?" tanya Tiat Chiu sambil terus tertawa.
"Kamu permainkan aku!" kata Ceng Ceng. "Kamu sedang perhina aku yang bersengsara karena tidak punya ayah dan ibu! Kau tidak punya liangsim, setan. "
Sin Cie dengar itu.
"Dia caci siapa itu?" ia menduga-duga.
Wan Jie sebaliknya masgul. Ia merasa, Ceng Ceng sedang menyindir terhadapnya. Karena masgul, ia sampai menggigil sendirinya.
Sin Cie rasai gerakan tubuh si nona, tiba-tiba ia mengerti maksudnya Ceng Ceng. Karena ini, ia jadi menyesal untuk Nona Ciau. Ia pun tak dapat bicara, untuk menghibur. Maka dengan pelahan-lahan, ia tepuk-tepuk pundak si nona. "Ah, jangan kau bawa adat!" kata Tiat Chiu sambil tertawa. Ia masih tak tahu hatinya Ceng Ceng. "Sebentar lagi aku akan antar kau pulang."
"Siapa kesudian kau yang antarkan?" Ceng Ceng membentak. "Apa kau kira aku sendiri tak kenali jalanan?"
Tiat Chiu terus tertawa.
"Eh, bocah she Hee!" campur bicara Ho Ang Yo, dengan suaranya yang bengis, dengan romannya yang menyeramkan. "Kau telah terjatuh ke dalam tangan kami, apakah kau kira Ho Ang Yo bisa antap kau pulang secara baik-baik? Di mana adanya ayahmu? Di mana adanya itu perempuan hina yang melahirkanmu?"
Meluap kemurkaannya Ceng Ceng karena orang perhina ibunya, ia sambar cawan obat di atas meja kecil, dengan itu ia sambit wanita jelek itu.
Ho Ang Yo berkelit, maka cawan itu, berikut obatnya, mengenai tembok, cawannya hancur, obatnya berhamburan. Masih ada sedikit air obat, yang muncrat ke mukanya ini uwah, hingga ia jadi gusar.
"Anak celaka, kau tak inginkan lagi jiwamu?" ia membentak.
Sin Cie di kolong pembaringan dengar semua pembicaraan itu, iapun bisa lihat gerak-geriknya Ho Ang Yo, maka ia sudah pikir, asal wanita itu lompat kepada Ceng Ceng, ia hendak membarengi hajar kaki orang.
Sebelum si wanita tua lompat, satu bajangan putih telah berkelebat mendahulukan ia, maka kesudahannya, Ho Tiat Chiu ada di antara ia dan pembaringan. "Bibi," katanya nona ini, "aku telah janjikan si orang she Wan akan antarkan dia ini pulang, tak dapat aku membikin hilang kepercayaan kita."
Ho Ang Yo tertawa dingin. "Untuk apakah itu?" tanyanya.
"Banyak orang kita telah ditotok dia, tanpa dia datang sendiri, mereka tak dapat ditolong," Tiat Chiu terangkan.
Ang Yo berpikir.
"Baik!" katanya. "Kita tidak dapat bikin dia mampus, tapi kita mesti kasi dia merasai kesengsaraan! He, bocah she Hee, kau lihat aku, aku cantik atau tidak?"
Ceng Ceng perdengarkan suara kaget, di matanya, roman wanita ini jadi semakin jelek, sedang muka itu dibawa semakin dekat kepadanya, hingga ia bergidik.
"Bibi, buat apa takut-takuti dia?" kata Tiat Chiu. Suaranya pemimpin ini menyatakan hatinya tidak puas. "Hm!" bersuara si jelek itu. "Ya, bocah ini cakap sekali,
kau hendak lindungi dia!..."
"Apa kau bilang?"
Mendadak Ho Tiat Chiu jadi gusar.
"Apakah kau sangka aku tak tahu hatinya satu pemudi?" Ho Ang Yo baliki. "Aku juga pernah muda! Kau lihat, inilah aku di masa dahulu!"
Ia merogo ke dalam sakunya di mana segera terdengar suara berkeresekan, entah barang apa itu yang dia rogo. Dua-dua Tiat Chiu dan Ceng Ceng kaget, keduanya berkuatir. "Kamu merasa aneh, bukankah?" kata Ho Ang Yo sambil tertawa, tertawa meringis. "Ha-ha-ha! Ha-ha-ha! Aku pun dulu pernah cantik!"
Ia rogo keluar tangannya, ia lemparkan segulung kain kecil, yang ternyata ada gambar sulaman, gambar mana lantas terbeber sendirinya di atas lantai.
Dari kolong pembaringan, Sin Cie bisa lihat sulaman itu, yang berpetakan satu nona umur kurang lebih dua-puluh tahun, kedua pipinya merah-dadu, tetapi dia dandan sebagai seorang suku-bangsa Ie, dan kepalanya pun digubat dengan pelangi, romannya sangat cantik, potongan mukanya mirip sama potongan mukanya si uwah jelek yang menyeramkan ini.
Segera terdengar pula suaranya Ho Ang Yo. "Kenapa sekarang aku jadi begini jelek? Kenapa? Kenapa?" tanyanya berulang-ulang. "Itulah disebabkan ayahmu yang tidak punyakan pri-kemanusiaan!"
"Ah......" Ceng Ceng bersuara tertahan. "Ada hubungan apa di antara ayahku dengan kau? Ayah ada seorang baik, tidak nanti dia perlakukan orang secara tak selayaknya. "
Ho Ang Yo jadi sangat gusar.
"Hai, hantu cilik, ketika itu kau masih belum terlahir!" serunya. "Kau tahu apa? Jikalau dia punya perasaan pri- kemanusiaan, tidak nanti dia berlaku tak pantas kepadaku! Bagaimana bisa aku jadi begini? Bagaimana kemudian bisa terlahir kau, hantu cilik?"
"Makin lama kau bicara, kau makin aneh!" kata Ceng Ceng. "Kamu kaum Ngo Tok Kau berada di Inlam, ayah dan ibuku menikah di Ciatkang - terpisahnya tempat ada ribuan lie, maka, ada apa hubungannya dengan kau?" Ho Ang Yo jadi semakin gusar, hingga ia ayun tangannya ke arah mukanya Ceng Ceng.
Dengan tangan kanannya, Ho Tiat Chiu mencegah. "Jangan gusar, bibi." Kata nona ini. "Bicaralah dengan
sabar." Ang Yo menjadi sengit.
"Ayah kandungmu mati mendongkol karena Kim Coa Long-kun!" serunya. "Kau sekarang lindungi dia ini! Apakah kau tidak malu?"
"Siapakah yang lindungi dia?" seru Ho Tiat Chiu, yang pun menjadi murka. "Jikalau kau bikin celaka dia ini, itu artinya mencelakai juga jiwanya empat-puluh orang anggauta kita! Kau tahu tidak? Aku pandang kau sebagai orang dari tingkatan lebih tua, karena aku memandang kau, aku mengalah, jikalau kau langgar aturan kita, bisa aku tak memberi keringanan kepadamu!"
Melihat orang tonjolkan diri sebagai pemimpin, Ho Ang Yo jadi sangat mendongkol, akan tetapi ia toh kuncup, maka juga ia jatuhkan diri di kursi dengan roman lesu sekali, dengan kedua tangannya, ia pegangi kepalanya. Lama ia berdiam secara demikian, ketika kemudian ia bicara pula, ia bisa berlaku tenang.
"Ibumu?" tanyanya kepada Ceng Ceng. "Ibumu pasti eilok dan manis luar biasa maka juga ia bisa bikin tergila- gila pada ayahmu, bukankah?" Ia lantas menghela napas. "Beberapa kali aku telah bermimpi, dalam impian aku telah lihat ibumu, akan tetapi mengenai roman mukanya, aku tidak dapat melihat jelas, cuma samar-samar. Benar-
benar ingin aku melihat dia. "
"Ibu telah menutup mata," Ceng Ceng kasi tahu. "Apa, mati?" Ho Ang Yo terkejut. "Ya," Ceng Ceng pastikan.
Lantas suaranya si uwah jelek jadi sedih, tetapi tajam. "Aku telah desak dia untuk kasi tahu dimana adanya
ibumu, biar bagaimana, tak mau dia menyebutkannya," katanya pula. "Kiranya ibumu itu sudah menutup mata. Baik, baik, sakit hatiku ini tak bakal terbalas untuk selama- lamanya..... Sekarang aku bebaskan kau, binatang, tetapi mesti ada harinya yang kau bakal terjatuh pula ke dalam tanganku! Bukankah ibumu itu mirip dengan kau?"
Oleh karena orang berlaku kasar begitu, Ceng Ceng balikkan tubuh, untuk madap ke dalam. Tak mau ia meladeninya.
Ho Ang Yo lantas berpaling kepada pemimpinnya.
"Kau-cu," katanya, "si orang she Wan itu mesti terlebih dahulu tolong orang-orang kita, Baru bocah ini boleh dilepas pulang!"
"Itulah pasti!" Ho Tiat Chiu jawab.
Ho Ang Yo lantas membungkuk, hingga dua-dua Sin Cie dan Wan Jie jadi kaget sekali, tapi sukur dia tidak mendapat lihat, dia cuma gunai jeriji tangannya akan mencoret beberapa huruf di atas lantai.
Sin Cie lihat orang menulis enam buah huruf yang artinya: "Bisa kawa-kawa yang bekerjanya selang tiga tahun kemudian."
Heran pemuda ini.
"Apakah artinya ini?" tanya ia kepada dirinya sendiri, berulang-ulang. Kemudian: "Ah, aku mengerti sekarang!" Dan ia bergidik sendirinya. "Sebelum dia merdekakan Ceng Ceng, dia hendak racuni dulu dengan bisa kawa-kawa yang bekerjanya nanti sesudah lewat tiga tahun, tentu itu waktu, tidak ada obat untuk punahkan bisa itu, secara begitu, ia jadi telah bisa balas sakit hatinya. Ha, inilah hebat! Kenapa dia begini telengas? Sukur aku dapat tahu, jikalau tidak "
Tanpa merasa, pemuda ini keluarkan keringat dingin.
Habis itu, Ho Ang Yo bertindak keluar, selagi melangkah di pintu, rupanya dia bersangsi, maka ia membaliki tubuh.