Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 143

Memuat...

Namanya si nona memang bersuara sama dengan "wan- jie" -"mangkok". Dan "pwee-jie" artinya "cawan."

Sin Cie bersenyum.

Selagi dua orang ini hendak keluar, mendadak Gou Peng dan Lo Lip Jie datang masuk, agaknya mereka kesusu. Mereka bawa warta bahwa penjagaan di kantor ada keras

988 sekali, hingga mereka mesti tunggu sampai datang giliran tukar orang, Baru mereka bisa lemparkan tubuhnya Sian Tiat Seng.

"Bagus"" kata Sin Cie sambil manggut.

"Wan Siangkong, su-moay, apa aku boleh turut kamu?" kemudian tanya Lip Jie setelah ia dapat tahu kemana dua orang ini hendak pergi.

Wan Jie awasi Sin Cie, tak berani ia lancang mengajak.

Anak muda kita berpikir: "Memasuki istana ada tindakan berbahaya, penjagaan di sana kuat, di sana pun terdapat banyak orang liehay, untuk lindungi Wan Jie, aku repot, bagaimana lagi aku bisa ajak lain orang?"

Selagi Sin Cie berpikir, Gou Peng tarik ujung bajunya Lip Jie, sambil mengedipi, ia bilang: "Lo Sutee, luka tanganmu Baru sembuh, kesehatanmu belum kembali seluruhnya, maka biarlah Wan Siangkong ajak sumoay saja. "

Mendengar itu, Sin Cie lalu berpikir:

"Agaknya Gou Peng ingin mengantapkan aku berada berdua dengan Wan Jie. Ketika kemarin malam aku pergi kepada Cui In Toojin, aku pun berdua saja sama Nona Ciau, mungkin itu menyebabkan timbulnya kecurigaan mereka. Aku boleh tak usah kuatir, akan tetapi menyingkirkan curiga ada terlebih baik lagi ."

Maka itu, ia lantas jawab Lip Jie: "Lo Toako suka turut, itu berarti tambahan pembantu untuk aku. Nah, pergilah kau lekas salin pakaian!"

Lip Jie jadi sangat girang, ia lari ke dalam, untuk mengenakan dandanan sebagai kacung.

Gou Peng turut masuk. "Lo Sutee, kali ini kau berlaku tolol!" katanya sambil tertawa.

"Apa suheng bilang?" Lip Jie heran, ia sampai tercengang.

"Wan Siangkong telah melepas budi sangat besar terhadap Kim Liong Pang kita," kata Gou Peng, "dan terhadap dia, agaknya su-moay ada menaruh hati..."

"Jadi kau maksudkan biar sumoay berjodoh dengan Wan Siangkong?" Lip Jie tegaskan.

"Roh suhu didunia baka pasti sangat girang," kata pula Gou Peng. "Kau hendak turut mereka, apa perlunya?"

Lip Jie sadar.

"Suheng benar!" katanya, "Ya, aku tak jadi pergi."

"Tapi sekarang, kalau kau batal pergi, kau bakal mendatangkan kecurigaan," Gou Peng bilang. "Kau boleh pergi, asal kau bisa lihat selatan. Tidak ada urusan yang terlebih baik daripada terangkapnya jodoh mereka!"

Lip Jie manggut, walaupun hatinya tak keruan rasa.

Sebenarnja sudah sejak beberapa tahun lip Jie menaruh hati pada Wan Jie, hanya sebegitu lama belum berani dia mengutarakannya, si nona elok dan manis, suka ia tertawa atau bersenyum, tetapi dalam semua tindakannya, ia bersungguh-sungguh, terutama selama ada urusan ayahnya, nona ini repot sekali, sikapnya keren. Sementara itu, Lip Jie pun dibikin bersangsi dengan tangannya, yang kutung sebelah, dia malu sendirinya, sampai omong pun ia tidak berani omong banyak sama si nona. Maka itu, mendengar perkataan Gou Peng, dia jadi putus asa. Tapi ia bisa berpikir, "Wan Siangkong gagah, dengan sumoay dia sembabat sekali, dengan sumoay bisa pernahkan diri untuk hari kemudiannya, mesti aku bergirang untuknya!"

Karena ini, ia keluar dengan hati tetap dan tenang.

Dari dalam peti besi, Sin Cie keluarkan banyak rupa barang permata, ia membuat satu bungkusan besar, ia minta Lip Jie yang bawa, lalu bersama-sama Wan Jie, ia berangkat ke istana. Dimuka pintu istana ia ucapkan tanda rahasia pada serdadu pengawal, kapan pengawal tahu, orang ada tetamunya Co Thaykam, ia menyambut dengan sangat hormat, ia pimpin tetamunya kedalam, setelah mana, ia undurkan diri, sebab di sini ada satu thaykam muda yang gantikan ia antar Sin Cie kedalam.

Sampai tiga kali Sin Cie dapatkan pergantian tiga thaykam, selama itu ia perhatikan jalanan atau bagian- bagian perdalaman istana yang ia lewati. Paling belakang ia diajak ke taman, dimana ada jalanan yang banyak tikungannya, terus sampai disebuah kamar yang kecil tapi indah perlengkapannya. Di sini ia dipersilakan duduk dan disuguhkan teh wangi.

Kira-kira dua jam Sin Cie sudah duduk menantikan, Co Thaykam masih belum juga muncul. Selama itu, orang kebiri yang temani dia juga tidak omong suatu apa kecuali ia mengundang minum teh. Adalah selang lagi sekian lama, Baru datang satu orang kebiri lain, umurnya kira-kira tiga- puluh tahun. Ia ini majukan beberapa pertanyaan, dalam kata-kata rahasia Sin Cie menyahuti menurut pengajaran Ang Seng Hay. Habis itu, thaykam manggut-manggut, lantas ia masuk pula kedalam.

Selang tidak lama, thaykam itu balik lagi bersama satu orang kebiri yang usianya tinggi, tubuhnya gemuk, mukanya putih. Sin Cie lantas menduga kepada Co Hoa Sun apabila ia lihat orang itu berpakaian mewah dan roman agung- agungan. Inilah orang kedua yang paling berpengaruh di dalam keraton disampingnya kaisar.

"Inilah Co Kong-kong!" kata thaykam yang tadi

Sin Cie, bersama-sama Lip Jie dan Wan Jie, tekuk lutut untuk memberi hormat. Pemuda ini sedang membawa lelakon, ia mesti bawa sikap wajar.

"Jangan pakai banyak adat-peradatan!" kata Co Thaykam sambil tertawa. "Silakan duduk. Apakah Kiu Ong-ya banyak baik?"

"Ong-ya ada baik," sahut Sin Cie. "Ong-ya titahkan siaujin menanyakan kewarasan kong-kong."

Ketawa orang kebiri yang usianya tinggi itu.

"Beberapa potong tulang tua dari aku masih mendapat perhatiannya Ong-ya!" katanya sambil tertawa, tandanya ia puas sekali. "Ang Lauko, kau datang dari tempat demikian jauh, entah kau bawa pesan apa dari Ong-ya?"

"Ong-ya hendak tanya kong-kong kalau-kalau kong-kong sudah mengatur sempurna rencana," kata Sin Cie, yang pakai namanya Ang Seng Hay.

"Junjungan kami bertabeat keras dan kukuh," jawab thaykam itu. "Beberapa kali telah aku kemukakan usul kepadanya tetapi ia bilang, meminjam angkatan perang untuk menindas pemberontak adalah pekerjaan yang banyak bahayanya kelak di belakang hari. Baginda cuma mengharapkan kedua negara bebaskan diri dari bahaya perang. Baginda bilang, kalau nanti kerajaan Beng sudah dapat tindas huru-hara, dia akan menghaturkan terima kasih pada Kiu Ong-ya." Sebenarnya Sin Cie tidak tahu jelas hubungan diantara Kiu Ong-ya dari Boanciu itu serta ini Thaykam Co Hoa Sun. Ang Seng Hay juga tidak tahu betul, sebab kedudukan Seng Hay rendah sekali, tetapi setelah ia bicara sama orang kebiri ini, ia me-raba-raba, maka itu, goncanglah hatinya. Jadi orang bersekongkol dan raja hendak dijerumuskan, untuk pinjam angkatan perang Boan, guna dipakai menindas huru-hara didalam negeri. Terang sudah, Kiu Ong-ya itu, atau bangsa Boan, mengandung maksud tidak baik terhadap Tiong-goan, untuk itu, Co Thaykam yang dipakai sebagai pekakas. Itulah urusan penting sekali, yang bisa mencelakai negara.

Sin Cie tabah, ia bisa berpikir, akan tetapi karena urusan demi kian besar, wajahnya berubah juga sedikit...!

Co Thaykam lihat air muka orang, akan tetapi ia menyangka lain. Ia menduga Ang Seng Hay tidak puas karena ia belum bekerja sempurna. Maka lekas-lekas ia kata: "Saudara Ang, jangan sibuk! Satu jalan tidak memberi hasil, masih ada lain jalan lagi!"

"Ya, ya, kong-kong," Sin Cie bersandiwara. "Kong-kong cerdik, inilah ongya ketahui, ongya sangat mengaguminya."

Atas pujian itu, Co Thaykam tidak bilang suatu apa, ia cuma tertawa.

Kemudian Sin Cie bertkata: "Ongya menitahkan siaujin membawa bingkisan yang tidak berharga, harap kongkong suka terima." Ia lantas menunjuk ke bebokongnya Lip Jie, maka Wan Jie lantas turunkan bungkusan di belakang saudara seperguruan itu, untuk diletaki di atas meja untuk segera dibuka juga.

Matanja Co Hoa Sun bersinar, lantas ia berdiri diam. Ia biasa hidup di dalam keraton, ia pernah lihat banyak permata mulia, akan tetapi apa yang sekarang ia tampak di

993 depan matanya, membikin ia kagum, karena ini terutama ada untuk ia sendiri. Serenceng dari seratus butir mutiara saja, yang besar, harganya sudah bukan main besarnya, belum batu pualam dan lainnya, yang banyak sekali. Yang aneh adalah singa-singaan dari batu huicui serta sebuah bola dari batu mirah merah.

Lantas orang kebiri ini periksa satu demi satu permata itu, ia seperti tidak hendak melepaskannya. Ia ingin kasi presen pada Sin Cie tapi ia sangsi akan memberikan yang mana, ia angkat yang satu, ia tukar dengan yang lainnya.

"Baik aku beri hadiah uang saja," akhirnya ia bilang. "Kenapa ongya menghadiahkan begini banyak barang?"

katanya, berpura-pura.

Sin Cie pandai berpikir, tahu ia bagaimana harus mainkan peranan.

"Ongya juga tahu Baginda bijaksana dan urusan pinjam tentera ada sulit," katanya, "akan tetapi ongya percaya betul pada kongkong dan mengharap kong-kong berdaya sebisa- bisanya."

Bukan kepalang puasnya orang kebiri ini, ia tertawa girang.

"Pergi kamu beristirahat di luar," kemudian ia kata pada Lip Jie dan Wan Jie.

Sin Cie manggut, maka kedua kacung itu menurut ketika ada thaykam muda yang ajak mereka keluar.

Co Hoa Sun sendiri yang menutup pintu, setelah itu, ia cekal tangannya pemuda kita.

"Apakah kau tahu apa syaratnya untuk Ongya kerahkan angkatan perangnya?" ia tanya dengan pelahan. "Aku hendak korek rahasia dari mulutnya, aku mesti buka rahasia padanya," pikir Sin Cie. "Kenapa aku tidak hendak ngaco-belo?"

Maka ia lantas jawab: "Kong-kong ada orang sendiri, tidak ada halangannya untuk aku beri tahu, tetapi urusan ada sangat besar, maka urusan ini kecuali Ongya, cuma kongkong dan aku yang mengetahuinya."

Kedua matanya thaykam itu bersinar.

Sin Cie maju mendekati, ia kata dengan pelahan: "Aku pikir, walaupun Kiu Ongya hargakan aku, dia tetap ada orang asing, maka itu, biar bagaimana, aku mengharap bantuan kongkong juga, supaya kemudian aku bisa angkat kehormatan leluhurku..."

Co Hoa Sun bisa menduga hati orang.

"Tentu dia inginkan pangkat," pikirnya. Maka ia tertawa, ia kata: "Saudara Ang, kau percayakan saja urusanmu kepadaku!"

Sin Cie pikir, main sandiwara tidak boleh kepalang tanggung, maka terus ia berlutut, untuk haturkan terima kasihnya.

Melihat orang punya kelakuan itu, Co Hoa Sun pun pikir: "Ini orang sangat lincah, dia ada orang kepercayaan Kiu Ongya, aku mesti dapatkan dia sebagai orangku sendiri.

Maka ia lantas tanya: "Ang Lautee, kau ada asal mana?" Asal Kwie-tang," sahut Sin Cie.

Post a Comment