"Sebenarnya saudaramu itu sedang menghadapi urusan besar bagaimana?" ia tanya. "Aku tidak punya pengertian apa-apa akan tetapi suka aku memberikan bantuan sebelah lenganku."
To-ng Hian tahu pemuda ini liehay sekali, yang pasti melebihkan juga toasuhengnya, maka mendengar perkataan itu, ia girang sekali.
"Siangkong sudi membantu kami, ini adalah hal yang untuk memintanya pun kami tidak berani," ia lekas bilang. "Baik, aku nanti beritahukan dulu toasuheng."
Dengan lantas Tong Hian lari kepada Cui In, untuk menyampaikan tawaran Sin Cie, hal mana, Cui In Toojin segera damaikan bersama Cu Hoa juga. Agaknya urusan ada ruwet, sampai sekian lama masih belum ada keputusannya.
"Tentu ada keberatannya bagi mereka, tak suka mereka orang luar campur tahu urusan mereka, baiklah aku tidak memaksa," pikir Sin Cie. Maka ia lantas kata dengan nyaring: "Jiewie tootiang, saudara Bin ijinkan aku berangkat lebih dulu! Sampai ketemu pula!"
Bersama Wan Jie, ia angkat tangan, untuk memberi hormat, setelah itu mereka memutar tubuh. Tapi, belum sampai mereka bertindak, Cui In Toojin sudah memanggil. "Wan Siangkong, mari sebentar, mari kita bicara!" Sin Cie terima baik undangan itu, ia kembali kepada mereka.
"Wan Siangkong sudi membantu kami, kami bertiga sangat bersyukur," berkata ketua dari Bu Tong Pay itu.
.Akan tetapi baiklah kami menjelaskannya. Urusan kami adalah urusan pribadi dan bahayanya pun sangat besar, karena mana dengan sesungguhnya, tak ingin kami bahwa Wan Siangkong, dengan tak ada sebab-musababnya, nanti kena kerembet-rembet dan mendapat kesukaran karenanya. Maka itu kami mohon supaya Siangkong jangan jadi kecil hati dan jangan mengatakan kami tidak tahu diri. "
Habis berkata, imam itu menjura dengan dalam.
Sin Cie percaya orang bicara dengan jujur, ia tidak berkecil hati, sebaliknya, ia puji imam ini.
"Jangan menyebut demikian, tootiang," ia bilang. "Jikalau demikian tootiang bilang, baik, ijinkan kami berlalu. Tapi ingin aku menerangkan, andaikata dibutuhkannya, umpama uang, Baru jumlah sepuluh laksa tail saja, sanggup aku menyediakannya, sedang dalam hal tenaga, dapat aku mengumpulkan saudara-saudaraku dari enam atau tujuh propinsi. Apabila ada surat-surat, tolong tootiang segera kirim itu kepada kami di gang Ceng-tiau- cu."
Mendengar itu, Cui In Toojin berdiam, lalu ia menarik napas panjang.
"Wan Siangkong, sungguh mulia hatimu," kata dia kemudian. "Sebenarnya urusan kami sangat memalukan, akan tetapi, apabila tetap kami menutupinya, benar-benar kami jadi tidak menghargai sahabat-sahabat sejati. Jiewie, silahkan duduk! Tong Hian Sutee, silahkan kau menjelaskannya." Tong Hian tunggu sampai itu pemuda dan pemudi telah duduk di batu, ia pun cari sebuah batu lagi, untuk duduk diatasnya.
"Guru kami, Uy Bok Toojin tak betah berdiam saja, ia gemar sekali pesiar," lantas imam itu mulai dengan keterangannya, "maka itu kecuali satu kali setiap dua tahun, di waktu rapat besar di Bu Tong Sam, jarang sekali ia berada di gunung. Pada lima tahun yang lampau musim Rontok ada saat untuk rapat besar dua tahun sekali itu, ketika itu suhu tidak pulang, dia juga tidak mengirimkan surat pemberian tahu. Hal itu adalah hal yang belum pernah terjadi. Semua murid menjadi heran dan berkuatir. Apa yang kau tahu, kali itu suhu pesiar ke Selatan untuk sekalian mencari bahan obat-obatan. Dengan segera kami memecah diri, untuk mencari, ke Inlam, Kwieciu, Kwiesay dan Kwietang. Sampai lama, masih kami tidak peroleh kabar suatu apa. Kemudian adalah aku yang bersama Bin Sutee menerima kabar panggilan dari Twie-hong kiam Ban Hong. Dia itu adalah dari partai Tiam Chong Pay di Tay- lie. Ketika pada suatu hari kami sampai di rumah Ban Toako, dia bilang ada urusan sangat penting. Berdua kami segera berangkat ke Tay-lie. Ketika pada suatu hari kami sampai dirumah Ban Toako, dia sedang rebah dipembaringan karena luka hebat. Baru setelah kami menanyakan sebabnya Ban Toako terluka, kami mendapat tahu bahwa itu disebabkan urusan guru kami."
Mendengar sampai di sini, Sin Cie segera ingat keterangannya Thia Ceng Tiok bahwa Uy Bok Toojin telah terbinasa di tangannya kaum Ngo Tok Kau. Diam-diam dia manggut.
"Menurut Twie-hong-kiam Ban Toako itu," Tong Hian Toojin melanjuti, "ketika hari kejadian itu, dia pergi keluar kota untuk mengunjungi satu sahabatnya, di luar kota itu dengan kebetulan ia saksikan suhu sedang dikepung oleh sejumlah orang. Antara Tiam Chong Pay dan Bu Tong Pay terdapat hubungan yang erat sekali, dari itu Ban Toako tidak bersangsi akan segera hunus pedangnya akan bantui suhu. Diluar sangkaan, pihak musuh liehay sekali, walaupun berdua, tak dapat Ban Toako berbuat suatu apa, malah segera dialah yang terluka paling dulu, hingga dia rubuh pingsan. Belakangan Barulah ada orang yang tolongi Ban Toako, buat dibawa pulang. Mengenai suhu, ketenangan rada gelap, tak ada yang tahu ia masih hidup atau sudah mati, tak tahu dia pergi atau dibawa kemana. Ban Toako terluka dipundak dan iganya, bekas cengkeraman kuku-kuku besi, lukanya sangat hebat. Kami semua percaya dia terluka oleh orang-orang Ngo Tok Kau. Syukur untuk Ban Toako, ia bertemu sama tabib yang liehay, hingga jiwanya ketolongan. Pihak kami. semua tiga- puluh-dua murid, lantas dikirim ke Inlam, untuk cari suhu, untuk sekalian cari Ngo Tok Kau guna mencari balas. Sudah empat tahun kami mencari terus-terusan, tidak juga kami peroleh hasil, tetap tak ada kabar tentang suhu, tidak ada endusan mengenai Ngo Tok Kau. Setelah lebih dari tiga tahun, kami meninggalkan wilayah Inlam. Barulah paling belakang ini, kami dengar selentingan dari Utara bahwa rombongan dari Ho Tiat Chiu, kaucu dari Ngo Tok Kau, telah datang berbondong ke Pakkhia. "
"Oh. " Sin Cie perdengarkan suara tertahan.
Tong Hian heran.
"Apakah Wan Siangkong kenal kaucu itu?" tanyanya. "Baru saja kemarin beberapa sahabatku menjadi
kurbannya mereka punya tangan-tangan yang jahat," jawab Sin Cie. "Aku sendiri turut terlibat dalam pertempuran itu." "Apakah tak berbahaya sahabat-sahabatmu itu?" Tong Hian tanya pula.
"Syukur, semua telah bebas dari ancaman malapetaka," sahut Sin Cie.
"Sungguh beruntung!" Tong Hian memuji. Lalu ia meneruskan penuturannya: "Begitu lekas kami dengar warta itu, toasuheng lantas keluarkan perintah untuk semua murid Bu Tong Pay kumpul di Pakkhia. Adalah karena ini, ditengah perjalanan, kami telah bertemu sama nona Ciau serta sekalian saudara-saudara dari Kim Liong Pang. Tentang ini, tak usah aku menceritakannya pula. Toasuheng sampai terlebih dahulu daripada kita, kebetulan sekali, dia lantas bertemu sama Ho Tiat Chiu. Selama pembicaraan, perempuan hina itu mencuci diri bersih sekali, katanya belum pernah dia bertemu sama suhu. Dimana pembicaraan tidak berjalan lancar, pertarungan menggantikannya. Perempuan hina itu benar-benar liehay. Karena kurang waspada, jidat toasuheng kena kegaruk gaetan besi tangan kiri dari musuh, lalu tubuhnya terserang lima potong senjata rahasia. Perempuan itu tahu baik, gaetannya, senjata rahasianya, ada racunnya, dia duga toasuheng bakal tidak hidup lebih lama, sambil tertawa menghina, ia ajak kawan-kawannya angkat kaki. Toasuheng mempunyai lweekang yang sempuma, dia juga bekal banyak macam obat untuk punahkan segala rupa racun, malah sebelumnya dia bertempur, dia sudah makan obat-obat pencegahan, maka itu, meskipun dia telah terluka, dia bisa obati dirinya sendiri, hingga karenanya tak usahlah dia nampak bahaya maut."
Cui In Toojin menghela napas.
"Pintoo kuatir dia mendapat tahu pintoo tidak mati," katanya, "pintoo kuatir dia nanti datang pula untuk ulangi serangannya, dari itu tak berani pintoo ambil rumah
942 penginapan, dengan terpaksa pintoo cari tempat perlindungan ini, untuk sekalian merawat diri. Aku percaya, selang lagi tiga bulan, sisa racun dalam tubuhku akan sudah dapat dibikin bersih. Mengenai guru kami, pintoo percaya bahwa benar suhu telah terbinasa ditangannya perempuan busuk itu, hingga sakit hati itu tak dapat tidak dibalas. Sayang sekali musuh kami liehay luar biasa. Inilah sebabnya, siangkong, mengapa kami segan merembet-rembet sahabat baik dalam urusan kami ini..."
"Wan Siangkong," Bin Cu Hoa menyela, "apa sebabnya maka pihakmu pun bentrok sama Ngo Tok Kau?"
Sin Cie jawab pertanyaan ini dengan keterangan mulanya ia dan Ceng Ceng bertemu sama si pengemis tukang tangkap ular, Ceng Tiok dilukai oleh si pengemis wanita tua, sampai mereka dikepung didalam balai istirahatnya Pangeran Seng Ong.
"Kalau begitu, Wan Siangkong, permusuhanmu dengan Ngo Tok Kau tidak hebat," kata Cui In Toojin, "pun tidak apalah yang pihakmu nampak kerugian kecil. Kau ada sangat berharga, selanjutnya tidak ada perlunya untuk kamu berurusan lebih jauh dengan bangsa telengas itu yang bagaikan ular dan kelabang ganasnya."
Sin Cie anggap kata-katanya imam ini benar adanya. Bukankah ia sendiri sedang mengandung sakit hati ayahnya? Bukankah iapun bertugas berat untuk membantu Giam Ong membela negara? Memang, urusan kangouw itu boleh dikesampingkan dulu, urusan itu sukar menemui penyelesaiannya.
"Tootiang benar," kata ia sambil manggut. "Di sini aku mempunyai mustika, mari aku coba menolongi tootiang membersihkan racun pada luka-lukamu itu." Cui In Toojin suka terima pertolongan itu, maka Tong Hian dan Cu Hoa segera bantui ia, untuk keluar dari dalam peti-mati itu.
Sin Cie lantas keluarkan mustikanya, ia tempel itu pada luka-lukanya si imam. Baru saja satu kali sedot, si imam sudah merasa ringan sakitnya.
Disitu tidak ada arak, untuk dipakai merendam mustika, sebaliknya, Cui In membutuhkan mustika itu terlebih jauh, karena terpaksa, Sin Cie serahkan mustikanya pada Tong Hian seraya ajari bagaimana mustika itu mesti saban-saban direndam dalam arak, untuk bisa sedot bersih semua sisa racun.
"Kalau sudah dipakai, Baru kau nanti antarkan itu kembali padaku," ia pesan.
Tong Hian terima itu sambil mengucap terima kasih, iapun menjura berulang-ulang.
Sampai disitu, mereka berpisahan.
Sm Cie ajak Wan Jie jalan turun bukit dengan perlahan- lahan.
Baru jalan kira-kira setengah, tiba-tiba Wan Jie berhenti, akan duduk atas sebuah batu, terus ia nangis dengan perlahan.
"Kenapa, nona?" tanya Sin Cie kaget. "Apakah kau kurang sehat?"
Wan Jie menggeleng kepala, ia susuti air matanya, lantas ia bangun untuk berdiri, akan jalan pula, seperti tidak ada terjadi suatu apa.
Sin Cie tidak menanya lebih jauh, akan tetapi ia sudah mengerti. Tentulah si nona bersedih karena musuhnya tak dapat dicari karena "musuh" Bu Tong Pay berubah menjadi sahabat, dia sangat cerdas, bisa sekali dia menguasakan diri. Maka ia jadi sangat kagum.
Terus mereka pulang, ketika mereka sampai didalam kota, langit sudah mulai terang. Nona ini masih muda sekali, toh langsung Sin Cie antar si nona kepondokannya, sesudah mana Baru ia menuju pulang kerumahnya didalam gang Ceng-tiau-cu. Ia gunai ilmu entengkan tubuh, karena ia berjalan diatas genteng dari banyak rumah orang, ia lompati pelbagai gang. Ia ingin lekas sampai. Dalam gembiranya, ia telah gunai Bhok Siang Toojin punya ilmu entengkan tubuh "Pek pian kwie eng," hingga ia bisa bergerak dengan sangat gesit dan cepat.
"Sungguh suatu kepandaian luar biasa!" sekonyong- konyong Sin Cie dengar pujian selagi ia berlari-lari terus. Sekejab saja, ia berhenti berlari, menyusul mana, satu bajangan putih melesat lewat disampingnya sebelah kiri.
"Apakah dapat kau kejar aku?" demikian ia dengar pula. Itulah suara si bajangan, yang bicara sambil tertawa.
Sedetik saja, bajangan itu sudah lewat tujuh atau delapan
tumbak jauhnya. Itulah gerakan tubuh sebat luar biasa.
"Siapakah dia ini?", pikir pemuda kita, yang kaget dan heran dengan berbareng. "Kenapa ilmu entengkan tubuhnya begini sempurna?"
Karena ia ingin tahu, Sin Cie batal pulang, ia lantas lompat, untuk mengejar.
Bajangan di depan itu kabur terus, tanpa menoleh lagi.
Biar bagaimana, ilmu entengkan tubuh dari Sin Cie ada setingkat lebih tinggi, belum terlalu lama, ia dapat menyusul, maka ia melombai, sampai beberapa tumbak, Baru ia berhenti, akan putar tubuh, untuk menunggu. Bajangan itupun berhenti berlari, ia tertawa haha-hihi.
"Wan Siangkong, kali ini Baru aku takluk padamu!" katanya.
Sin Cie lihat seorang dengan tangan baju panjang, bajunya indah, tubuhnya langsing bagaikan cabang bunga. Dia itu adalah Ho Tiat Chiu, kaucu dari Ngo Tok Kau, yang dandan serba putih. Cuma sepatunya berwarna hitam mulus.
Adalah kebiasaan dalam kalangan Rimba Persilatan, orang keluar dengan pakaian serba hitam atau abu-abu, supaya pakaiannya samar-samar ditempat gelap, supaya kalau ada serangan senjata rahasia, tubuhnya bisa seperti menghilang. Tapi nona ini memakai serba putih, jikalau dia tidak liehay tidak nanti dia dandan secara begini menantang.
Sambil mengawasi, Sin Cie memberi hormat.
"Ho Kaucu, ada pengajaran apakah darimu untuk aku?" tanyanya.
Kepala agama itu tertawa manis.
"Ketika kemarin ini Wan Siangkong berkunjung kepadaku, di sana ada banyak sekali orangku, yang seperti merintangi kita, yang memecah pemusatan pikiran kita, hingga karenanya, tak dapat kita berdua mendapatkan keputusan, siapa terlebih tinggi, siapa terlebih rendah," jawab dia, "maka itu sekarang ini sengaja siaumoay datang kemari untuk memohon pengajaran beberapa jurus dari siangkong..."
Kembali ia bahasakan dirinya "siau moay", adik perempuan. Dan habis berkata-kata, ia bersenyum-senyum pula. Ia bicara dengan halus, gerak-gerik tubuhnya pun halus dan menarik hati. "Orang dengan kepandaian tinggi sebagai kau-cu didalam kalangan pria pun jarang sekali ada," Sin Cie bilang. "Kagum sekali aku terhadap kepandaian kaucu itu."
Masih si nona tertawa.
"Kemarin ini siangkong perlihatkan kepandaianmu dengan tangan kosong," katanya, "pukulan-pukulanmu itu telah membawa angin yang menyambar-nyambar, sampai siau-moay, yang tenaganya tidak cukup, tidak berani menyambutnya. Bagaimana kalau sekarang kita main-main dengan senjata tajam?"