Sin Cie kuatir orang bunuh diri, tidak saja ia tidak kembalikan pisau itu, ia malah selipkan dipinggangnya.
"Mari kita bicara dulu sampai terang, Baru nanti aku kembalikan kepadamu." katanya, dengan sungguh-sungguh.
Tapi Tong Hian Toojin sedang gusar, dia jadi bertambah murka.
"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!" menjerit dia." Tak dapat kau terlalu menghina!"
Jeritan ini disusul sama satu sampokan tangan ke muka si anak muda.
Sin Cie kelit dengan mundur satu tindak.
"Kapannya aku hinakan kau?" dia tanya. Benar-benar ia heran.
Tong Hian masih sengit, dia hunjuk roman bengis. "Pisauku itu ada pisau hadiah dari Cousu kami dari Bu
Tong Pay!" kata dia dengan nyaring. "Maka pisau itu
biarnya aku mesti hilang jiwa, tak dapat dibiarkan jatuh ditangan lain orang l"
Kembali Sin Cie heran hingga is tercengang. Berbareng dengan itu kecurigaannya jadi semakin besar.
920 "Kalau pisau ini dipandang begini suci, kenapa Bin Cu Hoa tinggalkan ditubuh Ciau Kong Lee sehabis dia bokong ketua Kim Liong Pang itu?" demikian dia berpikir.
Ia keluarkan pisau itu, untuk dikasi pulang kepada pemiliknya.
"Tootiang, ada satu hal untuk mana aku mohon keterangan kau," kata ia, dengan sikapnya yang sabar.
Imam dari Bu Tong Pay itu sambuti pisaunya, karena ia dengar orang punya suara menghormat, iapun tidak bersikap keras lagi.
"Silahkan," sahut dia dengan ringkas. Sin Cie berpaling kepada Ciau Wan Jie.
"Nona Ciau, mari bungkusan kau, kasikan padaku!" dia minta
Wan Jie menghampirkan, akan serahkan bungkusannya yang berisikan pisau belati Bin Cu Hoa. Ia belum tahu tindakan Sin Cie.
Lebih jauh, ia pun tak hendak menanyakannja, akan tetapi ia cekal keras sepasang goloknya. Ia awasi dengan bengis pada Bin Cu Hoa, siapa sebaliknya berdiri diam didampingnya Tong Hian Toojin.
Dengan sabar Sin Cie buka bungkusan itu, hingga kelihatanlah isinya, menampak mana, Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa perdengarkan seruan tertahan dari mereka, lebih-lebih Bin Cu Hoa sendiri yang kenali pisaunya itu.
Dipihak lain, orang-orang Kim Liong Pang yang melihat bukti senjata pembunuhan ketua mereka, lantas ingat kebinasaan hebat dan menyedihkan dari ketua mereka itu, berbareng sedih, kemurkaan mereka pun timbul pula secara tiba-tiba, hingga dengan roman sangat bengis, mereka bertindak maju.
"Ini... ini... adalah senjataku!" seru Bin Cu Hoa. "Darimana kamu dapatkan ini?" tanya dia, sambil ulur tangannya, untuk ambil pulang pisau belati itu.
Sin Cie tarik pulang tangannya, tetapi disebelah dia, Ciau Wan Jie membacok dengan goloknya, kepada lengan orang, hingga Bin Cu Hoa mesti dengan sebat tarik pulang tangannya.
Panas Wan Jie, maka ia maju, untuk membacok pula. "Sabar," kata Sin Cie, yang lintangi tangannya, untuk
mencegah. "Mari kita tanya jelas dulu."
Karena tak dapat ia menyerang lebih jauh, Wan Jie menangis, air matanya bercucuran dengan deras.
Bin Cu Hoa agaknya tidak mengerti, dia berseru : "Ketika dulu kita bikin pertemuan di Lamkhia, urusan telah dibereskan, persengketaan kedua pihak telah didamaikan dan dibikin habis, kenapa orang-orang Kim Liong Pang tidak pegang kepercayaan dan kehormatannya? Kenapa kamu berulang-ulang kali dengan cara gelap hendak bikin celaka padaku? Sekarang kamu suruhlah Ciau Kong Lee keluar, mari kita berpadu diri, untuk bicara biar jelas! Jikalau benar aku siorang she Bin yang bersalah, dihadapan kamu aki nanti bereskan diriku sendiri, tidak nanti aku menyangkal!"
Belum sempat Bin Cu Hoa tutup mulutnya, beberapa orang Kim Liong Pang telah bentak dia: "Ketua kami telah kau bunuh, sekarang kau masih berpura-pura, kau hendak mencoba bersihkan dirimu, manusia hina-dina dan busuk!"
Bin Cu Hoa, begitu juga Tong Hian Toojin, melengak.
Mereka kaget dan heran bukan main. "Apa?" tanya mereka. "Ciau Kong Lee telah terbinasa?"
Sin Cie tampak wajah orang itu sungguh-sungguh, ia mau percaya mereka itu bukannya sedang bersandiwara.
"Ah, benar-benar mesti ada halnya dalam urusan ini," pikir ia. Maka ia lantas tegasi: "Apakah benar-benar kamu tidak ketahui bahwa ketua Kim Liong Pang telah terbinasa?"
"Tidak!" sahut Bin Cu Hoa. "Sejak itu hari aku kalah dan aku serahkan rumahku, aku tak punya muka lagi akan hidup dalam dunia kangou, aku lantas pergi ke Kayhong kepada toa-suhengku Cui In Tootiang yang mewariskan guru kami menjadi ketua, untuk memberi penjelasan kepadanya, untuk kami berdamai, sayang itu waktu aku tak dapat bertemu sama suhengku itu. Adalah sekembalinya dari Kayhong, dengan tak aku ketahui apa sebab musababnya ditengah jalan, dua kali aku dipegat orang- orang Kim Liong Pang hingga kita mesti bertempur hebat. Aku tidak mengerti kenapa Ciau Kong Lee terbinasa?"
Ciau Wan Jie ada seorang yang pintar, mendengar perkataannya orang she Bin ini, melihat wajah orang itu, dia mulai bercuriga. Tiba-tiba saja ia menangis pula, dengan sesenggukan.
"Ayahku.... ada....ada orang bunuh secara menggelap dengan pisau belati ini!" katanya dengan susah-payah. "Umpama kata benar bukannya kau yang lakukan pembunuhan itu, mestinya dia adalah sahabatmu!"
Bin Cu Hoa terkejut. "Ah, ah, inilah..."
"Inilah apa?" bentak Ciau Wan Jie. Bin Cu Hoa bungkam, agaknya ia hendak bicara tetapi batal, nampaknya ia merasakan suatu kesulitan.
Orang-orang Kim Liong Pang menjadi panas pula, sedang tadinya mereka pun sudah melengak, mereka mau percaya, benar-benar musuh ini berdusta, maka lantas mereka maju pula.
Tong Hian Toojin ambil pedang buntung dari tangannya Bin Cu Hoa, dia lempar itu ke tanah sebagaimana pedangnya sendiri tadi, kemudian ia angkat dadanya.
"Jikalau tuan-tuan lebih suka sakit hatinya Ciau Lopangcu tak terbalas untuk selamanya-lamanya dan kamu kehendaki supaya si penjahat diam-diam tertawai kamu dari samping, baiklah, kami berdua saudara suka serahkan jiwa kami! Sama sekali kami tidak takut mati!" demikian katanya.
"Menampak keberanian orang itu, orang-orang Kim Liong Pang merandek, sangsi mereka untuk serbu imam itu.
Sin I'jie lantas berkata pula:
"Jikalau begini, kelihatannya Ciau Lopangcu bukanlah kau yang bunuh, saudara Bin?" tanya dia.
"Aku mengaku aku si orang she Bin tidak punyakan kepandaian cukup," jawab Bin Cu Hoa, "akan tetapi aku mengerti benar hidupnya seorang didalam dunia mengandali kepercayaan, kehormatannya! Aku telah kalah di tangan kamu, selagi sekarang ada orang jahat yang mainkan perannya secara diam-diam, bagaimana aku bisa datang pula ke Lamkhia untuk melanjuti permusuhan?"
"Tetapi Ciau Lopangcu bukannya terbunuh di Lamkhia," Sin Cie terangkan.
Bin Cu Hoa heran. "Dimanakah itu terjadinya?" dia tanya. "Di Cie-ciu."
"Inilah terlebih aneh pula!" kata Tong Hian Toojin. "Kami dua saudara, sudah lebih daripada sepuluh tahun belum pernah injak pula kota Cie-ciu! Kecuali kami mempunyai pedang-terbang, tidak nanti kami bisa rampas jiwa orang di tempat jauhnya ribuan lie!"
"Apakah ini benar?" Sin Cie tegaskan. Tong Hian tepuk batang lehernya. "Kepalaku ada di sini!" ia jawab.
"Habis, dari mana datangnya pisau belati ini?" tanya Wan Jie.
"Jikalau sekarang aku berikan keteranganku, aku kuatir kamu tidak dapat mempercayai aku!" sahut Tong Hian. "Sekarang mari aku ajak kamu beramai kesuatu tempat, di sana kamu nanti Baru ketahui duduknya hal."
"Suheng, jangan!" mencegah Bin Cu Hoa, yang agaknya jadi sangat gelisah.
"Wan Siangkong dan Nona Ciau ada sahabat-sahabat baik, sama sekali tidak ada halangannya", bilang Tong Hian.
Bin Cu Hoa bungkam.
"Kemana kita pergi?" Wan Jie tanya.
Tong Hian Toojin tidak segera menjawab, hanya ia kata "Aku cuma hendak ajak Wan Siangkong berdua dengan kau saja, Nona Wan. Lebih banyak lagi, tak dapat!"
0o-d.w-o0
Orang-orang Kim Liong Pang lantas berseru-seru: "Dia hendak gunai tipu-daya keji, jangan percaya dia! Jaga supaya jangan sampai dia kabur!"
Wan Jie tidak mau lantas dengar orang-orangnya itu. "Bagaimana kau pikir, Wan Siangkong?" dia tanya Sin
Cie. Dia lebih percaya anak muda ini.
Sin Cie berpikir.