Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 63

Memuat...

Seng Bu hanya menggerakkan golok untuk menangkis senjata-senjata yang diarahkan kepadanya, terutama sekali untuk menjaga agar tubuh yang dipondongnya tidak sampai terkena bacokan atau tusukan. Begitu goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaganya, dia membuat beberapa buah senjata lawan beterbangan. Tentu saja orang-orang itu merasa terkejut bukan main. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu demikian lihainya. Hal ini menimbulkan kecurigaan mereka, dan mereka lalu mengepung. Si gendut yang memegang ruyung besar itu lalu menubruk, menggerakkan ruyungnya menghantam ke arah tubuh Sheila yang dipanggul di atas pundak kiri Seng Bu.

“Wuuuutttt... tranggg!!”

Golok Seng Bu menangkis dan si gendut hampir terpelanting. Dia mengeluarkan seruan kaget. Si gendut yang memimpin kelompok orang itu terkenal dengan julukan Gajah Sakti. Dari julukannya ini saja dapat diduga bahwa dia tentu memiliki tenaga yang kuat seperti gajah. Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ruyungnya yang besar dan berat itu tadi ditangkis oleh Seng Bu, tubuhnya terpelanting dan hampir saja terlempar!

Sampai beberapa lamanya Seng Bu berlari kencang. Baru setelah dia merasa yakin bahwa tidak ada orang yang mengejarnya lagi, dia berhenti dan dengan hati-hati dia menurunkan tubuh Sheila sambil membebaskan totokannya. Kembali jari-jari tangannya menyentuh kulit daging yang lunak halus dan hangat ketika dia menurunkan tubuh itu, dan hidungnya mencium bau keringat wanita bercampur dengan minyak harum yang keluar dari tubuh dan rambut Sheila. Jantungnya berdebar kencang, akan tetapi Seng Bu dapat menekan batinnya sehingga jantungnya berdenyut normal kembali.

Kini Sheila berdiri memandang dengan bengong dan sepasang matanya menatap wajah Seng Bu penuh selidik. Ia sedang menimbang-nimbang, sedang menduga-duga, dengan siapa ia berhadapan, orang macam apa adanya pemuda ini, dan baik ataukah buruk niat yang terkandung di hati dalam dada yang bidang itu. Dan diapun kagum bukan main karena kini ia merasa yakin bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar ahli silat seperti yang pernah dibacanya dan didengarnya dari dongeng para pelayannya.

“Kau... kembali telah menolong dan menyelamatkan aku dari tangan gerombolan itu.”

“Karena itulah kukatakan tadi bahwa engkau harus cepat pergi. Terlalu berbahaya di daerah ini dan banyak sekali rombongan seperti mereka itu.”

“Siapakah gerombolan itu?”

“Mereka bukan gerombolan jahat, sama sekali bukan seperti tiga orang bajingan yang menangkapmu pertama kali itu. Tidak, mereka tadi adalah sepasukan patriot, orang-orang gagah yang memusuhi orang kulit putih.”

Baru dia teringat bahwa yang diajak bicara adalah seorang gadis kulit putih.

“Maaf, aku tidak dapat menyalakan mereka...”

Dan dengan berani Seng Bu menentang pandang mata itu. Sheila menarik napas panjang, lalu berkata lirih.

“Tidak, akupun tidak dapat menyalakan mereka!” Ucapan ini mengejutkan dan mengherankan hati Seng Bu, dan dialah yang kini memandang wajah gadis itu penuh selidik.

“Apa? Benarkah itu? Mereka memusuhi bangsamu, bahkan membunuh bangsamu, juga orang tuamu terbunuh oleh mereka dan kau tidak menyalahkan mereka? Apa maksudmu?”

Kembali Sheila menarik napas panjang.

“Bangsaku bersalah, aku sudah sejak lama tidak setuju dengan perdagangan candu mereka. Benda itu berbahaya, meracuni rakyat. Aku melihat akibat-akibat mengerikan dari madat itu. Jadi kalau sekarang bangsamu marah dan memusuhi bangsaku, bagaimana aku dapat menyalakan mereka? Andaikata aku menjadi mereka, akupun akan berbuat demikian!”

Seng Bu terbelalak, matanya memandang kagum.

“Dan engkau... engkau tentu seorang pendekar yang pandai ilmu silat.” Seng Bu semakin heran.

“Eh, bagaimana engkau bisa tahu tentang pendekar silat?”

“Aku banyak membaca tentang pendekar dan banyak mendengar dari para pelayanku. ”

Seng Bu mengangguk-angguk.

“Kiranya nona seorang terpelajar. Ah, baru teringat aku bahwa nona, biarpun seorang asing kulit putih, akan tetapi pandai sekali berbahasa daerah dan kata-katamu sopan halus seperti orang terpelajar.”

“Sejak berusia empat tahun, aku tinggal di sini, tentu saja aku pandai bahasa sini. Benarkah engkau menolongku dengan maksud baik, ingin menyelamatkan aku? Tidak akan kaubawa untuk ”

Wajah gadis itu memandang jijik. “Untuk apa, Nona?”

“Untuk kaubunuh di makam ayahmu agar darahku membasahi makam ayahmu ?” Ia bergidik ngeri.

Seng Bu menggeleng kepala.

“Tidak, tadi hanya kupakai agar mereka mau membiarkan aku membawamu pergi. Siapa kira ada yang mengenalmu. Jadi kau anak opsir?”

Sheila mengangguk.

Post a Comment