Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 62

Memuat...

Pria itu mengendurkan pegangannya, agaknya rasa halus dan lunak dan hangat dari lengan yang dipegangnya itu mengejutkan dan membuatnya risi. Akan tetapi dia tidak melepaskan pegangannya.

“Tidak...! Tidak... aku ingin bersama ayah ibuku...!” Ia menengok kembali ke arah dua buah mayat di dekat kereta.

“Nona, jangan bodoh. Mereka itu sudah tewas dan engkau masih hidup.

Mari kita pergi dari sini, cepat...!”

Seng Bu lalu menarik lengan gadis itu. Sheila meronta dan mempertahankan, akan tetapi ia merasa betapa tenaga pemuda itu luar biasa kuatnya. Ia tetap mogok sehingga tubuhnya terseret sampai berada di sisi lain dari kereta yang miring itu, dan kini mayat ayah ibunya yang berada di balik kereta tidak nampak lagi. Seng Bu berhenti menyeret dan membalik sambil menghardik gadis itu.

“Apakah engkau ingin mati tinggal di sini?”

Dibentak secara kasar begitu, Sheila menjadi tersinggung dan timbul kemarahannya. Ia menentang pandang mata pemuda itu dengan sepasang matanya yang jeli akan tetapi yang pada saat itu basah dengan air mata. Sejenak mereka saling tatap dan terpaksa Seng Bu menundukkan pandang matanya, tidak tahan melawan lebih lama. Jantungnya berdebar tegang. Sudah sering dia melihat wanita kulit putih, walaupun dari jarak jauh. Baru sekarang dia berdekatan, bahkan memegang lengannya yang halus lunak dan hangat. Dari dekat, nampak jelas sekali rambut itu.

Rambut yang seperti benang emas, yang pernah membuat dia bergidik ketika melihat untuk pertama kalinya. Tak pernah dia dapat membayangkan bagaimana rambut kepala tidak hitam atau putih beruban, melainkan kuning emas! Dan mata itu. Begitu lebar dan indah, dengan manik mata bukan hitam putih, melainkan biru dan kelihatan dalam seperti lautan biru! Dan kulit yang putih sekali itu, tiada cacat sedikitpun, tidak seperti kulit orang-orang kulit putih yang pernah dia lihat penuh totol-totol merah. Gadis ini cantik bukan main. Buah dada yang hanya separuh tertutup gaun tipis itu nampak begitu padat, membusung dan nampak keras dan penuh. Dia tidak berani memandang lebih lama lagi dan menunduk.

“Nona, engkau akan mati kalau tinggal lebih lama di sini...” akhirnya dia berkata.

“Aku tidak takut mati. Lepaskan dan biarkan aku mati di sini!” jawab Sheila dengan tegas walaupun ia tidak meronta lagi.

Seng Bu menjadi marah dan jengkel. Keadaan amat gawat dan berbahaya. Dia termasuk kelompok seperti Thian-te-pang yang tidak memusuhi orang kulit putih, karena pada waktu itu, orang kulit putih dianggap malah berjasa dengan menentang pemerintah Mancu. Yang dimusuhi oleh kelompoknya hanyalah pemerintah penjajah dan dalam hal ini, dia sendiri hanya terbawa-bawa dan ikut-ikutan dengan suhengnya saja yang menjadi tokoh penting dalam Thian- te-pang sekarang.

Akan tetapi, pada waktu itu pergolakan terjadi di Kanton dan golongan anti orang kulit putih amat banyak dan amat kuat. Mereka adalah pendekar- pendekar yang timbul kemarahannya karena orang kulit putih menyebar madat, lalu ada pula golongan-golongan penjahat yang menyelundup atau menyusup ke dalam perjuangan para pendekar ini, mereka ini menyusup untuk dapat merampok rumah-rumah orang kulit putih yang kaya, dengan dalih memusuhi mereka seperti para pendekar.

Tiga orang yang tadi dirobohkannya adalah penjahat-penjahat pula. Dia dan golongannya sama sekali bukan pembela orang kulit putih, hanya tidak memusuhi mereka pada saat itu. Kalau tadi dia menyelamatkan gadis kulit putih ini hanya terdorong oleh perasaannya, oleh sifat kegagahannya yang tidak mau membiarkan tiga orang laki-laki memperkosa seorang gadis yang tidak berdaya. Dan kini, setelah bersusah payah menolong, dan hendak menyelamatkan gadis itu dari tempat berbahaya itu, si gadis menolak dan memilih mati!

“Apakah engkau menghendaki hal itu terjadi atas dirimu?”

Ucapan itu seperti sengatan yang menyakitkan. Wajah gadis itu berobah pucat dan ia sudah menengok ke kanan kiri dengan sikap ketakutan.

“Jangan...! Tolonglah aku...”

“Kalau begitu, mari kita pergi. Kita harus cepat pergi dari sini, lebih cepat lebih baik.”

Baru sekarang Sheila teringat akan pesan ayahnya. Ia harus cepat pergi ke Kapal. Peristiwa yang amat mengguncangkan batinnya tadi sempat membuat ia lupa lagi akan niatnya melarikan diri.

“Ouhhh... tolonglah saya, tolong antarkan saya ke kapal. Saya harus segera pergi kesana, menyelamatkan diri...!” katanya dan menuding ke arah pantai yang masih agak jauhdari tempat itu.

Seng Bu menengok ke timur. Tentu saja, menggunakan kepandaiannya, dia akan dapat menerobos dan membawa nona ini sampai ke pantai, ke kapal. Akan tetapi ada dua hal yang membuat dia mengambil keputusan untuk tidak melakukan hal ini. Pertama, andaikata dia berhasil melarikan nona ini sampai ke kapal, dia sendiri tentu akan dicurigai dan tidak merupakan hal yang mustahil kalau dia langsung saja ditembak dan dibunuh oleh orang kulit putih. Dan kedua, entah bagaimana, dia tidak ingin melihat gadis itu pergi meninggalkan dia!

Seng Bu menggelengkan kepala.

“Tidak mungkin, nona. Lihat, ada kebakaran-kebakaran di sana.

Mereka telah menghadang di jalan dan mereka bahkan akan menyerang kapal-kapal itu. Kalau nona ke sana, sebelum sampai di kapal tentu akan tertawan.”

Dia tidak berbohong, karena kalau Sheila pergi sendirian ke pantai, tentu dara itu akan terhadang dan tertangkap. Tentu saja kalau dia yang membawanya, dengan mengandalkan kepandaiannya, banyak kemungkinan gadis itu akan selamat sampai di pantai!

Sheila menjadi bingung. Dengan matanya yang lebar dan basah, ia lalu memandang wajah pemuda itu.

“Habis... lalu aku harus pergi kemana?”

“Mari ikut bersamaku, nona. Aku akan menyelamatkanmu. Percayalah, aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku, nona.”

Sepasang mata yang basah itu terbelalak, penuh keheranan, penuh terima kasih dan keharuan. Kata-kata pemuda itu, apalagi yang terakhir, menimbulkan kesan mendalam di hati Sheila dan wajah itu nampak demikian simpatik, demikian mengagumkan sehingga terasa ada kedamaian dan keamanan yang menenangkan di hatinya.

“Baiklah, aku tidak tahu harus kemana. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.” “Mari, nona,” kata Seng Bu yang melihat bayangan banyak orang datang dari sebelah selatan. Dia menggandeng tangan Sheila, tidak lagi memegang

pergelangan lengannya dan menarik gadis itu, diajaknya lari ke barat.

Akan tetapi, baru kurang lebih satu mil mereka berjalan, tiba-tiba Sheila terpekik dan memandang ke depan dengan mata terbelalak. Di depan mereka nampak serombongan orang laki-laki yang jumlahnya duapuluh orang lebih, semua memegang senjata dan nampak mereka itu menyeramkan sekali, dengan senjata di tangan, dengan pakaian kusut, mata beringas, dan sikap membayangkan kekerasan. Dan bukan hanya Sheila yang terkejut, akan tetapi Seng Bu juga kaget sekali. Dia mengenal mereka itu sebagai golongan anti kulit putih! Celaka, pikirnya, tak mungkin menyembunyikan kenyataan bahwa gadis yang berjalan di sampingnya adalah seorang gadis kulit putih, dan tentu mereka takkan tinggal diam!

“Maaf, terpaksa aku memperlakukanmu sebagai tawananku!”

Seng Bu berbisik dan kini dia sudah menyambak rambut kuning emas yang panjang itu dan menyeretnya.

“Auuwww...!”

Sheila menjerit kaget dan ketakutan, tidak mengerti mengapa kini penolongnya bersikap demikian terhadap dirinya.

“Iblis putih betina!” Terdengar seruan-seruan mereka.

Mereka adalah orang-orang yang membenci orang kulit putih dan menyebut orang kulit putih itu ‘iblis putih’. Ramailah duapuluhlima orang itu kini mengurung Seng Bu yang menyeret rambut Sheila. Melihat pemuda ini menyeret rambut Sheila, mereka berteriak-teriak dan tertawa-tawa.

“Hei, kawan!” teriak pemimpin mereka, seorang laki-laki yang berusia limapuluh tahunlebih, berperut gendut dan memegang sebatang ruyung besar. “Dari mana kau memperoleh iblis putih betina ini dan kenapa tidak

langsung saja dibunuh?” Seng Bu tersenyum.

“Aku telah membunuh seluruh keluarganya, dan dia kubawa untuk kusiksa di depan makam ayahku yang tewas karena madat. Baru akan kubunuh dia di depan makam ayah agar disiram dengan darahnya!”

Mendengar ucapan Seng Bu, terdengar suara ketawa dan orang-orang itu memuji Seng Bu.

“Bagus, memang iblis-iblis putih patut disembelih semua diatas makam korban madat. Selamat, kawan, semoga kebaktianmu itu diterima oleh arwah orang tuamu,” kata si gendut yang lalu memberi isyarat kepada kawan- kawannya untuk melanjutkan perjalanan.

“Hayo cepat!”

Seng Bu menghardik Sheila dan mendorongnya sehingga gadis itu terhuyung dan jatuh bangun, ditertawai oleh rombongan orang itu. Akan tetapi tiba-tiba seorang di antara rombongan itu berseru.

“Haiii! Ia adalah puteri Opsir Hellway!”

Seng Bu tidak memperdulikan seruan itu karena dia sendiripun tidak tahu siapa adanya gadis ini, akan tetapi tiba-tiba si gendut berteriak keras.

“Hai, kawan. Berhenti dulu!”

Dengan sikap tenang, sambil memegang lengan Sheila, Seng Bu berhenti dan membalikkan tubuhnya. Si gendut itu dengan langkah lebar menghampirinya, diikuti seorang laki-laki bermata juling.

“Benarkah katamu, A-kong?” tanya si gendut kepada si mata juling.

Si mata juling mendekat dan sepasang matanya yang juling meneliti Sheila.

Gadis inipun merasa seperti pernah melihat laki-laki bermata juling ini.

“Tidak salah lagi! Ketika aku mengunjungi keponakanku yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya, aku pernah melihat gadis ini!” kata si juling, dan sekarang Sheila teringat bahwa memang si juling ini pernah mengunjungi seorang di antara para pelayannya yang oleh pelayan itu diperkenalkan sebagai seorang pamannya dari dusun.

Si gendut kini menghadapi Seng Bu.

“Kawan, gadis ini adalah puteri Opsir Hellway.”

“Kalau begitu, mengapa? Aku tidak tahu siapa, akan tetapi siapapun gadis ini, ia harus menjadi korban di makam ayahku!” kata Seng Bu dengan sikap tenang.

“Tidak, kawan. Ia puteri opsir, merupakan tangkapan penting. Ia harus kami bawa sebagai tawanan penting. Pemimpin kami akan girang sekali mendapatkan tawanan opsir itu. Opsir itu di samping Kapten Elliot merupakan musuh-musuh besar, dan puterinya tentu merupakan tawanan penting sekali!” “Tidak bisa. Akulah yang menangkapnya dan ia adalah tawananku!” kata

Seng Bu.

Si gendut mengerutkan alisnya.

“Kawan, kami adalah para pejuang, dan dalam perjuangan, urusan pribadi harus dikesampingkan. Berikan gadis ini kepada kami dan jasamu akan kami catat, kami laporkan kepada atasan kami!”

“Aku tidak perduli. Gadis ini menjadi tawananku dan siapapun tidak boleh merampasnya!”

“Kau mau menjadi pengkhianat?” Bentak si gendut.

“Aku bukan anak buahmu, aku tidak mengkhianati siapa-siapa.”

“Tidak perlu banyak cakap, rampas saja gadis itu!” terdengar teriakan- teriakan.

Seng Bu maklum akan gawatnya keadaan, maka cepat ia menotok jalan darah di pundak Sheila yang membuat gadis itu seketika menjadi lemas dan tidak mampu bergerak, kemudian dengan tangan kirinya, Seng Bu memondong tubuh yang lemas itu di atas pundak kirinya. Sejenak jari-jarinya menyentuh kulit daging yang lunak dan halus, akan tetapi semua perasaan aneh ini ditekannya dan diapun meloncat ke depan.

Orang-orang itu berteriak-teriak dan beberapa orang sudah menghadang. Akan tetapi Seng Bu menerjang mereka dan empat orang terpelanting ke kanan kiri ketika kaki tangannya bergerak.

Post a Comment