“Kematian akan datang kepada keluarga manapun juga, nona, dan kematian bukan urusan kita manusia. Memang menyedihkan, akan tetapi kita tidak dapat berbuat sesuatu,” katanya sederhana, bukan untuk menghibur, melainkan keluar dari lubuk hatinya karena pada saat itu diapun teringat bahwa ayah ibunya juga telah tiada.
“Aku... aku harus mengambil jenazah mereka dan menguburnya baik-baik.” “Mari kubantu engkau, nona. Akan tetapi, kita harus masuk secara menyelundup, karena kalau secara berterang tentu akan menghadapi
kesulitan.”
Gadis itu sejenak memandang tajam, agaknya merasa heran mendengar penawaran pemuda itu. Mengambil jenazah dua orang di tempat yang penuh dengan musuh tidaklah mudah kalau ia lakukan sendirian saja, maka mendengar penawaran itu, ia mengangguk dan keduanya lalu berlari kembali ke Tung-kang.
Untunglah bagi mereka bahwa pasukan yang dipimpin Ma Cek Lung itu ternyata telah kembali ke markas pasukan keamanan Tung-kang untuk mengurus anggauta pasukan yang tewas dan luka-luka, sehingga di tempat tinggal keluarga Ciu itu tidak nampak lagi pasukan. Gedung itu masih terbakar sebagian, dan para tetangga yang melihat munculnya Kui Eng, segera datang membantu. Kui Eng berhasil menemukan mayat ayah ibunya. Air matanya bercucuran akan tetapi ia tidak terisak. Bahkan dengan cepat ia lalu mengumpulkan tetangga dan minta pertolongan mereka untuk mengurus mayat para pelayan dan pengawal yang tewas. Kepada para tetangga itu ia berkata dengan suara sedih.
“Harap kalian suka menolongku, mengubur semua jenazah ini, dan semua barang yang masih ada di rumah ini boleh kalian pakai untuk biaya.”
Setelah berkata demikian, gadis ini dibantu oleh Ci Kong lalu membawa dua jenazah keluar kota. Tentu saja mereka harus cepat-cepat pergi membawa dua jenazah itu karena kehadiran mereka tentu akan segera diketahui, dan mereka tidak ingin menghadapi kesulitan dalam usaha mereka mengubur jenazah Ciu Lok Tai dan isterinya.
Jauh di luar kota Tung-kang, di kaki sebuah bukit yang sunyi, Kui Eng memilih sebuah tempat untuk mengubur jenazah ayah ibunya, dibantu oleh Ci Kong yang melakukan semua itu tanpa banyak kata. Diapun hanya memandang saja ketika gadis itu berlutut di depan kuburan sederhana itu. Akhirnya Kui Eng bangkit berdiri dan menghadapi Ci Kong, lalu menjura.
“Saudara TanCi Kong, engkau sungguh telah menolongku dan aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini. Terima kasih banyak.”
“Tidak perlu berterima kasih, sudah sepatutnya kalau hidup di dunia ini tolong menolong antara manusia,” jawab Ci Kong dengan Sikap sederhana.
“Akan tetapi, engkau seorang pendekar Siauw-lim-pai, engkau pernah hendak menegur mendiang ayahku yang menjadi pedagang madat. Akan tetapi, kenapa kemudian engkau yang pernah kuserang dan kukeroyok, malah sebaliknya menyelamatkan aku dari pengeroyokan pasukan itu, dan bahkan menolongku mengubur jenazah ayah ibuku? Mengapa?” Ci Kong tersenyum.
“Nona...” Dia meragu karena belum mengenal nama gadis itu. “Namaku Kui Eng, Ciu Kui Eng.”
“Nona Kui Eng, apa yang kulakukan itu tidak ada artinya karena kalau dulu engkau tidak menolongku, agaknya aku tidak akan dapat hidup sampai sekarang ini.”
“Menolongmu? Aku tidak merasa pernah menolongmu...”
“Tentu kau sudah lupa, nona. Terjadi kurang lebih duabelas tahun yang lalu ketika kita masih kecil. Kalau tidak engkau turun tangan mencegah, tentu aku dan ayahku waktu itu telah tewas di tangan Ma-ciangkun.”
Kui Eng mengerutkan alisnya, masih juga belum ingat. “Siapakah ayahmu?”
“Mendiang ayahku adalah Tan Siucai...” “Ahhh!”
Mata yang indah itu terbelalak dan sejenak gadis itu menatap wajah Ci Kong penuh perhatian, lalu sinar matanya membayangkan kekaguman ketika ia teringat akan Tan Siucai yang namanya kemudian dikenal sebagai seorang patriot yang gagah perkasa, walaupun dia seorang sasterawan yang lemah tubuhnya.
“Kiranya engkaukah anak laki-laki itu? Teringat aku sekarang. Engkau minta-minta ampun dan aku mencelamu.”
“Benar, aku mintakan ampun untuk ayahku, bukan untuk diriku.”
“Aku mengerti. Ah, ayahmu seorang gagah perkasa, aku kagum sekali, sedangkan ayahku... ayahku...”
Kui Eng pernah ribut-ribut dengan ayahnya ketika dulu ia mendengar akan nasib Tan Siucai yang dikaguminya. Nampaklah olehnya sekarang betapa ayahnya adalah orang yang hanya mementingkan harta saja, hanya pandai mencari harta dan juga tidak segansegan melakukan hal-hal yang buruk.