Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 58

Memuat...

Berkali-kali Ci Kong berkata, suaranya tetap sabar dan tenang. Kui Eng sudah merasa semakin penasaran sekali. Ia telah mempergunakan tongkat dan telah memainkan Cui-beng Hek-pang, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu mengalahkan pemuda ini, bahkan tenaganya sendiri mulai berkurang lagi dan napasnya mulai memburu. Ingin ia menangis saking jengkelnya. Ketika untuk kesekian kalinya pemuda itu mengajak bicara, ia mendapatkan kesempatan baik untuk beristirahat, untuk menghimpun tenaga baru dan menenangkan kembali pernapasannya. Maka iapun meloncat ke belakang, memandang tajam dan berusaha menguasai pernapasannya yang terengah-engah.

“Kau... kau mau bicara apalagi?” katanya ketus.

“Nona, marilah kita bicara dengan baik. Aku mengerti bahwa nona memusuhi aku karena salah kira saja.”

“Huh, aku masih belum buta untuk mengenal engkau sebagai pengacau yang pernah membikin ribut di rumah keluargaku beberapa hari yang lalu.”

Ci Kong mengangguk.

“Tidak kusangkal, nona. Akan tetapi, kedatanganku pada waktu itu hanya untuk mengingatkan Ciu Wan-gwe tentang buruknya pengaruh madat terhadap rakyat, dan ingin minta kepadanya agar dia menghentikan usaha pengedaran madat itu. Akan tertapi aku tidak diperkenankan bertemu dengan Ciu Wan-gwe, bahkan aku dikeroyok.”

“Siapa sudi percaya omonganmu? Engkau mengatakan tidak bermaksud buruk dan hanya mau mengingatkan, akan tetapi engkau membunuh belasan orang pengawal!”

“Menyesal sekali, nona. Akan tetapi bukan aku yang membunuh mereka, melainkan orang yang datang membantuku...”

“Kawanmu, sekutumu, sama saja!”

“Tidak, aku sama sekali tidak pernah mengenal dia, nona. Dan aku tidak setuju dengan perbuatannya itu. Nona, kalau memang aku memusuhimu, perlu apa aku menyelamatkanmu dan membawamu ke luar Tung-kang?”

Sejenak Kui Eng meragu. Benar juga apa yang dikatakan pemuda ini, akan tetapi ia masih merasa penasaran. Dalam sekejap mata saja ia telah kehilangan keluarga, harta benda, kehilangan segala-galanya, dan kepada siapa ia akan menumpahkan kemarahannya? Betapapun juga, pemuda ini pernah berkelahi melawannya, pernah menjadi musuh keluarganya.

“Maaf, nona. Sungguh aku merasa ikut bersedih melihat nasib keluargamu…”

Mendengar ucapan ini, seperti didorong keluar saja air mata dari sepasang mata yang indah tajam itu. Akan tetapi, Kui Eng mengusap air matanya dengan ujung lengan baju.

“Dulupun engkau tidak kasihan, kini tidak perlu kasihan, engkau pernah memusuhi kami, sekarangpun tetap musuh!”

Dan Kui Eng pun menerjang kembali, kini tenaganya sudah agak pulih dan napasnya tidak lagi memburu seperti tadi.

“Nona...!”

Akan tetapi karena serangan itu memang hebat, Ci Kong terpaksa meloncat cepat mengelak dan balas menyerang agar gadis itu tidak terus mendesaknya, karena kalau dia harus mengelak terus terhadap tongkat yang lihai itu, amat berbahaya. Terjadilah lagi perkelahian yang amat hebat antara dua orang muda yang lihai itu.

Kui Eng menyerang mati-matian dan mengerahkan segala-galanya. Di lain pihak, Ci Kong melayaninya tanpa maksud mencelakai gadis yang sedang marah-marah itu. Dia lebih banyak melindungi dirinya dan kadang-kadang saja dia membalas serangan hanya untuk menahan gelombang serangan lawan. Dan serangannya hanya berupa totokan-totokan ke arah jalan darah untuk menghentikan gerakan gadis itu tanpa membahayakan keselamatan gadis itu. Kui Eng sebagai murid seorang guru yang sakti tentu saja tahu bahwa pemuda ini banyak mengalah kepadanya, dan hal ini membuatnya semakin penasaran, walaupun ia juga merasa kagum karena kini ia tahu benar betapa lihainya pemuda itu dan bahwa kalau pemuda itu juga berniat merobohkannya,

kiranya ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama.

Tiba-tiba bermunculan belasan orang yang sikapnya gagah dan seorang di antara mereka meloncat di antara dua orang yang sedang berkelahi itu sambil berseru.

“Tahan!”

Dari gerakan orang itu melerai, baik Kui Eng maupun Ci Kong maklum bahwa orang inipun lihai sekali, karena goloknya yang menangkis dapat menahan tongkat Kui Eng sedangkan tangan kirinya menahan lengan Ci Kong, dan mereka berdua ini merasa betapa orang ini memiliki tenaga yang amat kuat. Mereka berdua menjadi kaget dan heran, lalu meloncat ke belakang. Ketika keduanya memandang, ternyata yang melerai itu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, bertubuh tegap dan kokoh membayangkan tenaga yang besar. Pemuda ini memegang sebatang golok yang tajam, dan pakaiannya kasar sederhana, sesuai dengan wajahnya yang membayangkan kejujuran dan kegagahan.

Biarpun pemuda itu membayangkan kegagahan yang menimbulkan perasaan segan, namun Kui Eng yang galak itu sama sekali tidak merasa gentar, bahkan ia memandang pemuda itu dengan mata melotot, tidak peduli bahwa pemuda itu datang bersama belasan orang yang kesemuanya membayangkan kegagahan para pendekar.

“Mau apa kau mencampuri urusanku? Apakah kau datang mau membantunya? Kalau begitu majulah, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian semua!”

Dan Kui Eng sudah siap memalangkan tongkatnya di depan dada, siap menghadapi pengeroyokan, bukan sekedar gertakan saja. PEDANG NAGA KEMALA

( GIOK LIONG KIAM )

Oleh : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Pemuda yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Gan Seng Bu! Seperti kita ketahui, murid Thian-tok ini berpisah dari suhengnya, Ong Siu Coan. Akan tetapi dalam mengikuti jejak Koan Jit yang melarikan Giok-liong-kiam, diapun akhirnya tiba di daerah Kanton. Ketika terjadi pengepungan kota Kanton oleh pasukan kerajaan yang mulai bertindak hendak menumpas perdagangan madat, Gan Seng Bu menyambutnya dengan gembira sekali. Di daerah Kanton ini dia bertemu dengan para anggauta Thian-te-hwe atau Thian-te-pang, sebuah perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot dan anti pemerintah penjajah Mancu. Bahkan di sini dia bertemu pula dengan suhengnya, Ong Siu Coan yang telah mendahuluinya dan terkenal di perkumpulan itu sebagai seorang tokoh yang gagah perkasa! Biarpun dia tidak berambisi seperti suhengnya, namun Gan Seng Bu berjiwa gagah dan dia merasa cocok dengan para anggauta Thian-te-pang, maka diapun ikut dengan mereka menuju ke kota Kanton untuk melihat suasana, dan kalau perlu membantu pasukan pemerintah untuk menghadapi orang-orang kulit putih. Memang mereka tidak suka kepada pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah yang harus diusir dari tanah air, akan tetapi sementara ini, kalau menghadapi orang-orang kulit putih yang lebih asing lagi dan yang jelas merusak dengan perdagangan candu mereka, mereka akan membantu pihak pemerintah untuk menentang orang kulit putih lebih dahulu.

“Kami melihat kalian berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Dalam keadaan kacau seperti sekarang ini, alangkah sayangnya kalau kalian yang lihai ini saling serang dan bermusuhan. Tidakkah lebih baik kalau kalian ikut bersama kami ke Kanton, menyumbangkan tenaga untuk memihak rakyat, dan menghalau musuh rakyat? Kami adalah orang-orang Thian-tepang yang selalu berjuang demi rakyat, kaum patriot yang pantang bermusuhan antara bangsa sendiri.”

Kui Eng sudah mendengar akan nama Thian-te-pang ini, maka ia cepat berkata,

“Apakah kalian semua ini pemberontak-pemberontak yang menentang kekuasaan Ceng?”

“Kami adalah pejuang, dan penjajah memang menyebut kami pemberontak!” bentak seorang di antara para pendekar itu yang merasa tidak senang mendengar gadis itu menamakan mereka pemberontak.

“Bagus! Kalau begitu, aku akan membantu kalian menghadapi pemerintah Ceng yang biadab! Baru saja ayah ibuku tewas oleh pasukan pemerintah!” kata Kui Eng penuh semangat sambil mengepal tinju.

“Akan tetapi, sementara ini yang penting adalah menghalau orang-orang kulit putih!” kata Gan Seng Bu.

“Merekalah yang merupakan penyakit utama pada saat ini. Nona yang gagah, kami akan gembira sekali kalau nona suka bergabung dengan kami, karena kami melihat nona memiliki kepandaian tinggi. Dan bagaimana dengan engkau sobat?” Gan Seng Bu memutar tubuhnya menghadapi Ci Kong. Baru sekarang dia melihat Ci Kong karena sejak tadi dia berhadapan dengan Kui Eng, dan begitu bertemu pandang dengan Ci Kong, diapun terkejut.

“Eh… bukankah engkau ini… murid Siauw-bin-hud…”

Semua orang, termasuk Kui Eng, terkejut bukan main mendengar ini. Nama Siauw-bin-hud adalah nama yang amat dikenal di dunia kang-ouw, apalagi dengan adanya peristiwa Giok-liong-kiam itu.

Ci Kong sendiri juga sejak tadi sudah teringat siapa pemuda gagah perkasa ini dan diam-diam dia merasa terheran-heran. Dia tahu bahwa Thian-tok adalah seorang datuk sesat yang terkenal, seorang di antara Empat Racun Dunia yang amat jahat. Akan tetapi mengapa dua orang muridnya seperti orang-orang gagah? Murid yang pertama itu pernah membantunya ketika dia dikeroyok oleh para pengawal Ciu Wan-gwe dan para pasukan keamanan, dan biarpun murid yang bernama Ong Siu Coan itu teramat kejam dan menyebar maut, namun jelas telah membantunya walaupun tahu bahwa dia cucu murid Siauw-bin-hud. Dan murid kedua dari Thian-tok ini malah bergaul dengan orang-orang Thian- te-pang yang terkenal sebagai para pendekar patriot! Maka diapun tidak mau menyebut nama Thian-tok di depan mereka dan dia hanya menjawab dengan singkat.

“Aku adalah cucu murid beliau.”

Seng Bu juga merasa tidak enak bertemu dengan pemuda ini. Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat dan hal ini sengaja dia sembunyikan dari para pendekar di Thian-te-pang. Kalau para pendekar ini tahu bahwa dia adalah murid Thian-tok, agaknya dia tidak akan diterima sebagai kawan seperjuangan!

“Nah, bagaimana? Kalian berdua adalah orang-orang gagah, apakah mau menggabungkan diri dengan kami dan pergi ke Kanton?” tanyanya.

Kui Eng sendiri masih termangu memandang kepada Ci Kong yang baru diketahui bahwa pemuda itu adalah murid atau cucu murid Siauw-bin-hud. Pantas lihainya bukan main, pikirnya. Mendengar pertanyaan Seng Bu, ia berkata.

“Akan kuingat kalian di Kanton. Akan tetapi sekarang aku masih mempunyai urusan. Harap kalian berangkat lebih dulu.”

“Aku lebih suka menyendiri,” kata Ci Kong.

Seng Bu mengangkat pundaknya dan memandang kepada kawan- kawannya.

“Baiklah, asal kalian berdua jangan saling gebuk sendiri!”

Lalu dia bersama belasan orang kawannya melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kanton. Ci Kong dan Kui Eng mengikuti bayangan orang-orang gagah itu dengan hati kagum. Betapapun juga, nama Thian-te-pang atau Thian- te-hwe sebagai kumpulan para patriot sudah amat terkenal. Di waktu itu, perkumpulan pendekar-pendekar yang menentang pemerintah penjajah dengan gigih, yang paling terkenal adalah Thian-te-pang atau perkumpulan Bumi Langit, lalu perkumpulan Tombak Merah, Pintu Sorga, Perkumpulan Toa- kiam (Pedang Besar). Mereka semua mengaku sebagai keturunan perkumpulan Sorban Kuning, yaitu sebuah perkumpulan pendekar patriot berbangsa hari di jaman Dinasti hari.

“Jadi engkau seorang murid Siauw-bin-hud?”

Kui Eng bertanya sambil menatap wajah Ci Kong. Pemuda itu mengangguk. “Benar, nona, dan namaku Tan Ci Kong.”

“Aku adalah puteri tunggal keluarga Ciu, maka tentu engkau dapat membayangkan betapa sakit hatiku ketika engkau mengacau di rumah kami dan kini ayah ibuku telah tewas.”

Suaranya mengandung isak. Akan tetapi dengan gagah, gadis ini menahannya. Ci Kong menarik napas panjang.

Post a Comment