Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 55

Memuat...

“Pranggg...!”

Cawan terisi minuman itupun terpukul oleh tangan pembesar itu dan jatuh ke atas lantai.

“Prakkk...!”

Pipanya dibantingnya dan pembesar itu dengan muka merah seperti udang direbus dan mata melotot, mulut masih mengeluarkan liur, segera memeriksa isi peti kecil. Merabanya, lalu menciumnya dan kembali dia muntah-muntah.

“Keparat! Jahanam busuk! Tangkap mereka, cambuk sampai mereka mengaku bagaimana mereka berani memberi madat bercampur kotoran busuk ini kepadaku!” perintahnya.

Kasihan sekali dua orang utusan itu. Dengan tubuh menggigil mereka minta ampun, akan tetapi para pengawal telah menyeret mereka dan merekapun menjadi korban cambukan sampai kulit belakang tubuh mereka pecah-pecah dan mereka roboh pingsan saking tak kuat menahan nyeri.

“Brakk...!”

Lai Taijin menggebrak meja.

“Keparat Ciu Lok Tai! Berani sekali menghinaku dengan mengirim madat bercampur kotoran!”

Peristiwa itu menimbulkan akibat yang amat hebat, sama sekali tidak disangka oleh Ong Siu Coan sendiri yang membuat ulah. Karena merasa amat malu, marah dan menganggap bahwa hartawan Ciu sengaja menghinanya, Lai Taijin lalu pergi menghadap Wang Taijin yang menjadi atasannya. Tentu saja dia tidak bicara tentang peristiwa candu kiriman itu, melainkan bicara tentang Ciu Wangwe yang dianggap kurang ajar berani menghina para pembesar dan pejabat Kanton.

“Kalau aku tidak ingat bahwa dia telah banyak melakukan kebaikan terhadap kita, tentu aku sudah mencapnya sebagai pemberontak dan mengerahkan pasukan untuk menangkap dan menghukumnya,” demikian Wang Taijin berkata setelah mendengar pancingan wakilnya tentang peristiwa di gedung Ciu Wan-gwe itu.

“Akupun mendapatkan malu besar sekali ketika kepala pengawalku dipermainkan oleh anak perempuannya. Sungguh keterlaluan sekali gadis itu.” “Akan tetapi, walaupun dia telah banyak melakukan kebaikan terhadap kita, sebaliknya kalau tidak ada kita yang mendukung, apakah dia mampu menjadi pedagang madat yang memonopoli pemasukan madat dari orang- orang kulit putih? Agaknya, yang dia berikan kepada kita belum ada seperseratus keuntungan yang didapatkannya karena dukungan kita,” bantah

Lai Taijin.

“Orang seperti dia itu patut dihajar!”

“Kuharap engkau dapat bersabar,” kata Wang Taijin.

“Hartawan Ciu mempunyai pengaruh yang cukup besar. Tanpa sebab tidak dapat kita bertindak apa-apa terhadap dia, karena di kota rajapun dia mempunyai hubungan. Sebaiknya kita mulai sekarang waspada dan mencari kesempatan baik untuk membalas penghinaannya.”

“Harap taijin tidak usah khawatir. Saya akan menghubungi komandan Ma Cek Lung. Biarpun tadinya Ma-ciangkun merupakan sahabat baik Ciu Wan- gwe, akan tetapi peristiwa penghinaan terhadap dirinya di depan unnum dalam pesta itu tentu membuat Ma-ciangkun malu dan tentu dia berpihak kepada kita.”

Demikianlah, Lai Taijin yang merasa sakit hati sekali itu mulai membuat persekutuan dengan Wang Taijin dan Ma-ciangkun untuk menanti kesempatan baik agar mereka dapat membalas dendam terhadap Ciu Wan-gwe yang mereka anggap telah melakukan penghinaan besar terhadap diri mereka.

Dan kesempatan itupun tidak lama kemudian tibalah! Pada waktu itu, madat telah tersebar luas dan mencengkeram makin banyak korban di antara rakyat, juga menyusup ke kotaraja dan mempengaruhi para pembesar. Akan tetapi, yang paling parah keadaannya adalah daerah Kanton, dimana orang- orang kulit putih berada dan kota ini merupakan sarang mereka, merupakan sumber penyebaran candu. Bukan hanya mempengaruhi badan, akan tetapi juga dengan adanya candu, para pembesar berkomplot dengan para pedagang candu yang amat menguntungkan itu.

Para pejabat menerima sogokan, para pedagang candu menumpuk keuntungan besar, dan rakyat yang menjadi korban. Hal ini membuat rakyat menjadi semakin gelisah. Kekayaan dikuras, ditukar dengan candu yang makin banyak dibutuhkan orang. Para tuan tanah menekan ke bawah dan rakyat petani yang dicekik agar menghasilkan uang lebih banyak.

Keadaan yang kacau ini terasa sampai ke kota raja dan sampai pula ke dalam istana. Para penasihat Kaisar Tao Kuang cepat menghadap kaisar dan melaporkan tentang keadaan yang amat parah itu.

“Menurut penyelidikan hamba, rakyat sudah menjadi gelisah sekali, para pejabat kehilangan kesetiaan mereka dan mudah digosok oleh para pedagang. Kalau dibiarkan berlarut-larut, hamba khawatir kalau pemberontakan di antara rakyat makin menjadi-jadi. Pula, harta kekayaan rakyat akhirnya akan dikuras habis oleh orang-orang kulit putih, ditukar dengan madat yang hanya mendatangkan malapetaka.” Demikian antara lain para menteri itu melapor dan menasihati kaisar.

Setelah mendengarkan banyak peringatan dan nasihat para menterinya, akhirnya Kaisar Tao Kuang mengambil keputusan yang tegas. Keputusan yang kemudian terkenal sekali dalam sejarah sebagai permulaan perang yang dinamakan Perang Madat.

Kaisar Tao Kuang mengangkat seorang jenderal yang bernama Lin Ce Shu sebagai seorang penguasa, seorang Gubernur untuk membawa pasukan besar pergi ke Kanton dan bertindak terhadap pengedar candu yang memang tadinya sudah dilarang itu. Lin Ce Shu adalah seorang pembesar yang paling benci dengan perdagangan candu yang dimasukkan oleh para pedagang kulit putih. Oleh karena itu, begitu menerima kekuasaan, dia bergerak cepat. Dikerahkannya pasukan besar yang secara kilat dan serentak tanpa ada kebocoran, menuju ke Kanton!

Gedung itu bagus sekali, coraknya masih merupakan gedung hartawan di kota Kanton, akan tetapi perabot-perabot rumahnya sudah berlainan sama sekali dengan gedung para hartawan Kanton. Perabot-perabot rumah itu asing, kursinya besar-besar, ruangannyapun lebar-lebar. Melihat keadaan perabot dan hiasan rumah itu, mudah diketahui bahwa yang tinggal di situ bukanlah seorang penduduk aseli Kanton, melainkan seorang asing.

Rumah gedung itu ditinggali oleh keluarga Hellway. Tuan Hellway ini seorang opsir yang menjadi pembantu kapten Charles Elliot yang pada waktu itu menjadi penguasa Inggeris di Kanton. Opsir Hellway bertugas menghubungi pedagang-pedagang Kanton, oleh karena itu dia pandai berbahasa daerah dan sudah belasan tahun dia tinggal di Kanton bersama isteri dan seorang puterinya.

Ketika mereka pindah ke Kanton, puteri tunggalnya baru berusia empat tahun. Kini Sheila, demikian nama puterinya, berusia tujuhbelas tahun. Karena ayah dan ibunya pandai berbahasa daerah, maka Sheila juga mempelajari bahasa ini dari para pelayan, sehingga iapun pandai berbahasa daerah. Bukan itu saja, Sheila seringkali mendengar dongeng dari para pelayannya, tentang pendekar-pendekar yang gagah perkasa, tentang ilmu silat yang tinggi, dan dari beberapa orang pengawal yang bekerja pada ayahnya, ia malah sempat mempelajari ilmu silat, yang walaupun tidak terlalu mendalam, namun cukup membuat ia pandai menjaga diri dan tubuhnya juga selalu berada dalam keadaan sehat dan kuat.

Sheila telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan lembut. Rambutnya berwarna kuning emas, panjang dan berombak amat indahnya. Sepasang matanya biru laut, tubuhnya, seperti biasa tubuh wanita barat, padat dan tinggi semampai, lebih tinggi dari pada tubuh gadis-gadis pribumi. Juga ia tidak pemalu seperti gadis pribumi, melainkan berani menentang pandang mata pria dengan tenang walaupun keadaan keluarga membuat ia beranggapan bahwa bangsanya adalah bangsa yang lebih maju dan lebih pandai dari pada bangsa pribumi yang kadang-kadang aneh dan sukar untuk dapat dimengertinya itu. Akan tetapi karena ia bergaul erat dengan para pelayan, sedikit banyak ia tahu akan keadaan atau cara hidup bangsa pribumi yang penuh dengan tradisi dan ketahyulan itu. Juga ia tahu bahwa Tiongkok berada dalam penjajahan Bangsa Mancu yang dahulunya hanya merupakan suku bangsa liar di utara yang kecil saja, namun yang kini telah menjadi kelompok yang kuat. Tahu pula ia bahwa dimana-mana terjadi pemberontakan dari para patriot rakyat yang tidak rela melihat tanah air dijajah oleh orang Mancu. Lebih lagi ia tahu segalanya tentang merajalelanya madat yang amat jahat, yang meracuni rakyat jelata dan yang membuat hatinya merasa amat tidak senang, karena ia tahu bahwa madat itu didatangkan oleh bangsanya, oleh English East India Company. Lebih lagi, ayahnya menjadi opsir, menjadi pembantu Kapten Charles Elliot, jelas bahwa ayahnya mempunyai peranan besar sekali dalam masalah penyebaran madat yang diam-diam amat dibencinya itu.

Ketika ia mendengar cerita dari seorang pelayan tentang seorang suami yang menukarkan kehormatan isterinya dengan madat, tentang seorang ayah yang menjual anak gadisnya karena ketagihan madat, dan orang yang membunuh diri karena ketagihan madat dan tidak mempunyai uang lagi untuk membelinya, hatinya memberontak dan pagi hari itu segera menemui ayahnya. Opsir Hellway amat mencinta puterinya karena memang dia hanya mempunyai anak satu-satunya itu. Dia sedang duduk bersama isterinya, siap untuk berangkat ke kantor ketika Sheila masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah cemberut dan muka agak pucat karena semalam gadis itu tidak dapat tidur, gelisah membayangkan semua peristiwa mengerikan yang terjadi di

antara rakyat jelata gara-gara madat.

“Selamat pagi, papa dan mama,” katanya kurang gairah.

“Selamat pagi, sayang. Eh, kenapa wajahmu nampak muram dan agak pucat? Apakah engkau sakit, Sheila?” tanya ayahnya dengan nada lembut dan ibunya lalu merangkul dan menciumnya.

Gadis itu menggeleng kepala, lalu melepaskan diri dari rangkulan ibunya dan iapun duduk di atas kursi berhadapan dengan mereka.

“Papa, kemarin aku mendengar cerita yang mengerikan sekali,” katanya. “Bukan cerita burung, papa, melainkan cerita tentang orang-orang gagah

yang menjual isteri atau anak perempuannya, orang-orang yang membunuh diri dan melakukan kejahatan-kejahatan, semua itu karena gara-gara madat.”

“Ehh...?”

Opsir Hellway memandang tajam kepada anaknya dan mengerutkan alisnya.

“Apa maksudmu?”

“Papa, semua itu memang terjadi. Madat telah meracuni rakyat, madat telah membikin sengsara rakyat di sini...”

“Sheila!” ibunya berseru.

“Omongan apa yang kaukeluarkan itu? Madat mendatangkan keuntungan besar kepada bangsa kita, mendatangkan kemakmuran kepada bangsa kita!”

“Mama, apa artinya keuntungan besar, kemakmuran kalau datang melalui kesengsaraan orang lain?”

“Sheila! Siapa yang bercerita kepadamu? Orang itu perlu kuhajar!” tiba-tiba Opsir Hellway berseru marah.

“Tidak! Tidak ada yang bercerita kepadaku. Aku mendengar omongan orang di jalan.”

Sheila cepat menjawab, tidak ingin melihat pelayan yang bercerita itu dihukum ayahnya.

“Hemm, lalu apa maksudmu?” bentak opsir itu yang merasa tersinggung sekali dengan ucapan-ucapan puterinya tadi.

Post a Comment