Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 53

Memuat...

Terdengar suara hiruk-pikuk, dan bermunculanlah pengawalpengawal dari depan dan belakang yang jumlahnya belasan orang. Mereka itu sudah mencabut senjata dan mengurung pendapa gedung itu. Melihat datangnya banyak pengawal, para penonton di depan pintu gerbang menjadi panik dan tadipun para pengawal sudah mendorong mereka ke kanan kiri ketika sebagian dari mereka datang dari luar. Para penonton itu menjauhkan diri, masih nonton akan tetapi dari jarak jauh.

“Bohong! Dia bohong, nona!” tiba-tiba terdengar si gendut Lok Hun berseru.

Si gendut ini hidungnya berdarah dan dahinya membenjol sebagai akibat menubruk dinding tadi dan kini dia sudah siuman. Dan begitu sadar tadi, dia mencari-cari peti kecil terisi madat murni. Akan tetapi peti kecil itu telah lenyap. Karena itu, dia cepat membantah ketika Ci Kong membela diri di depan nona majikannya.

“Dia datang tentu untuk merampas peti kecil berisi madat murni yang kami bawa itu!”

Kui Eng mengerutkan alisnya. Dia tiba-tiba memandang penuh perhatian kepada pemuda ini, seorang pemuda petani akan tetapi yang ternyata memiliki kepandaian amat tinggi. Dan anehnya, ia merasa seperti pernah mengenal pemuda ini, namun lupa lagi entah kapan dan dimana.

“Benarkah engkau datang hanya untuk mencuri sepeti kecil madat?” bentaknya kepada Ci Kong.

Ci Kong menggeleng kepala.

“Aku paling benci madat, untuk apa aku merampas madat?”

Sementara itu, Lok Hun yang kehilangan madat itu menjadi khawatir sekali, lalu dia keluar bertanya-tanya. Di antara penonton ada yang melihat bahwa peti kecil itu tadi dilarikan seorang pemuda yang sebaya dengan Ci Kong. Mendengar ini, Lok Hun berlari memasuki pintu gerbang dimana Ci Kong masih dihadapi Kui Eng dan dikurung oleh para pengawal.

“Nona, benar saja! Dia sengaja melawan kami, dan seorang temannya telah mengambil madat itu dan dilarikan. Keroyok dia! Tangkap dan paksa dia mengaku dimana candu itu disembunyikan temannya!”

Teriakan ini menggerakkan para pengawal yang segera mengeroyok Ci Kong. Mereka menggunakan golok dan pedang, dan bagaikan hujan senjata- senjata tajam itu menyambar-nyambar ke arah Ci Kong. Karena merasa tidak perlu lagi berdebat, Ci Kong mengamuk. Kaki tangannya bergerak seperti angin cepatnya dan sebentar saja, enam orang pengawal terlempar ke kanan kiri. Melihat ini, Kui Eng merasa kagum dan tertarik, maka iapun cepat maju sendiri, menyerang pernuda itu dengan kedua tangan kosong. Akan tetapi dua tangan kosongnya itu jauh lebih lihai daripada belasan golok dan pedang para pengawal. Kedua tangan bercuitan seperti melengking-lengking ketika menyambar dan tubuh dara itupun bergerak secepat burung wallet menyambar-nyambar. Ci Kong terpaksa harus mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi serangan-serangan gadis ini yang benar-benar amat berbahaya, sedangkan serangan para pengawal yang mengeroyoknya cukup dihalaunya kalau sudah dekat saja.

Terjadilah pengeroyokan yang seru, dimana Ci Kong yang berkelahi dengan Kui Eng itu dikeroyok dan dikurung dengan ketat. Bahkan kini datang sepasukan keamanan kota yang telah diberi tahu dan pemuda itu dikurung oleh musuh yang tidak kurang dari limapuluh orang jumlahnya. Andaikata di situ tidak ada Kui Eng, agaknya dengan mudah Ci Kong akan merobohkan seluruh pengeroyoknya. Akan tetapi, kelihatan Kui Eng membuat dia terdesak dan terhadap gadis puteri Ciu Wan-gwe ini Ci Kong tidak sampai hati untuk menggunakan tangan maut! Dia masih teringat bahwa bagaimanapun juga, dapat dikatakan bahwa gadis ini pernah menyelamatkan nyawanya dan nyawa ayahnya di gedung ini duabelas tahun yang lalu.

Sementara itu, Ong Siu Coan yang melarikan peti kecil, setelah tiba di sebuah parit yang sunyi, lalu membuka peti dan memeriksa isinya. Tadipun dia melihat peti itu terbuka dan isinya benda hitam-hitam yang tidak dikenalnya. Kini dia memeriksanya dan bukan main kecewanya ketika mendapat kenyataan bahwa peti itu tidak terisi benda berharga seperti yang diduganya, melainkan benda yang diduganya tentu candu yang dihebohkan itu. Dia pernah mendengar tentang madat, maka walaupun belum pernah melihat sendiri, dia dapat menduga dari baunya bahwa ini tentu madat. Dia sudah hendak membuang peti itu ketika nampak tumpukan tahi kering di parit itu. Dia tersenyum nakal, lalu sebagian dari candu itu dibuangnya di parit dan sebagai gantinya, dia menggunakan kayu untuk mengambil kotoran itu dan mencampurnya dengan sisa madat. Karena benda itu warnanya hitam, maka kotoran itupun dapat bercampur dan tidak kelihatan lagi. Peti kecil itu masih penuh madat, hanya bedanya, madatnya kini tidak murni lagi bahkan telah bercampur tahi kering!

Ketika Siu Coan kembali ke tempat tadi, dia terkejut melihat betapa pemuda perkasa itu telah dikurung oleh puluhan orang pengawal, dan perkelahian sengit dan seru masih terjadi antara pemuda itu dengan gadis cantik yang tadi datang menyerang.

Siu Coan meloncat ke depan, melemparkan peti kecil ke tempat semula dan tanpa diminta, diapun mengamuk. Tubuh para pengeroyok bergelimpangan seperti sekumpulan daun diamuk badai! Dan akibat amukannya memang hebat dan menggetarkan hati para pengeroyok. Berbeda dengan Ci Kong yang merobohkan para pengeroyok tanpa membunuh atau mendatangkan luka parah, semua orang yang roboh oleh hantaman Siu Coan ini tentu roboh untuk tidak bangun kembali karena mereka tewas oleh pukulan-pukulan maut yang disebar Siu Coan! Tentu saja para pengawal menjadi gentar dan kepungan itupun menjadi kocar-kacir.

“Sobat yang gagah, jangan takut aku membantumu!”

Siu Coan berseru dengan gembira ketika dia berhasil mendekati pemuda itu dan diapun menubruk ke depan menyerang Kui Eng. Gadis ini terkejut. Kiranya pemuda kedua yang baru datang ini tidak kalah lihai dibandingkan pemuda pertama. Ketika ia menangkis pukulan pemuda jangkung itu, lengannya terasa dingin sampai meresap ke tulang. Dara inipun maklum bahwa kepandaian dua orang pemuda ini sungguh hebat, dan kalau ia sendiri yang melawan mereka, akan sukar memperoleh kemenangan.

Melihat munculnya seorang pemuda bertubuh jangkung yang membantunya dan membunuh banyak pengawal, Ci Kong terkejut dan tidak senang. Pemuda yang datang ini memang gagah perkasa, akan tetapi hatinya terlalu kejam, menyebar maut seperti itu, pikirnya. Diapun diam saja tidak menjawab, hanya mengambil keputusan untuk segera pergi saja agar pemuda jangkung itu tidak membunuh orang lebih banyak lagi.

“Dar-darr...!!”

Siu Coan dan Ci Kong terkejut sekali, dan cepat mereka menggunakan ginkang untuk berloncatan mengelak ketika terdengar letusan-letusan itu. Mereka menengok dan kiranya dari dalam gedung itu keluar seorang laki-laki berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian mewah dan di tangan kanan orang ini nampak sepucuk pistol yang masih mengeluarkan asap. Orang itu membidik-bidikkan pistolnya, mencari-cari dua orang pemuda itu yang dengan cerdik telah berloncatan di antara para pengawal sehingga sukarlah bagi orang itu untuk menembak lagi.

“Sobat, mari kita pergi. Tunggu apalagi?” teriaknya.

Ci Kong sudah mendengar pula dari susiok-couwnya tentang senjata api yang amat berbahaya itu. Dia tidak gentar menghadapi senjata itu, akan tetapi di situ terdapat gadis yang lihai itu dan banyak pengawal, kini ditambah lagi tuan rumah yang pandai mempergunakan senjata api. Maka diapun mengikuti Siu Coan yang sudah melompat pergi keluar dari halaman gedung Ciu Wan- gwe.

Setelah berada jauh dari kota Tung-kang, di kaki bukit yang sunyi, barulah mereka berhenti dan ternyata tidak ada yang mengejar mereka lagi. Siu Coan berhenti dan memandang kepada Ci Kong penuh perhatian. Tadi dia telah mempergunakan ilmu berlari cepat, akan tetapi pemuda yang nampaknya seperti seorang petani ini mampu mengimbangi kecepatan larinya. Hal itu membuat dia penasaran dan dia mengerahkan tenaganya sehingga tubuhnya bergerak cepat meluncur seperti terbang saja. Akan tetapi, pemuda itu tetap saja berada di sampingnya!

“Sobat, engkau sungguh lihai sekali. Akan tetapi kalau perkelahian itu dilanjutkan, salah-salah kita bisa menjadi makanan peluru panas. Senjata api itu amat berbahaya, apalagi di tangan orang yang tidak terlatih, tembakannya bisa ngawur sehingga kalau dielakkan malah terkena. Dan gadis itupun lihai bukan main!”

Ci Kong juga memandang pemuda tinggi besar itu dengan penuh perhatian. Jelas bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar yang tangguh, akan tetapi pendekar ini terlalu kejam dan mudah membunuh orang. Teringat betapa pemuda di depannya ini tadi telah membunuh banyak orang, mungkin sampai belasan orang, diam-diam dia bergidik dan tidak menyetujui perbuatan itu.

“Sobat yang gagah perkasa, kenapa engkau tadi membunuhi orang? Prajurit-prajurit itu hanya petugas, kenapa kau bunuhi mereka yang tidak bersalah itu?” tegurnya dengan suara penuh penyesalan.

Ong Siu Coan mengerutkan alisnya dan memandang dengan heran. “Kenapa tidak? Kalau bisa, aku bahkan akan membunuh semua orang tadi!

Makin banyak dapat membunuh pasukan pemerintah, lebih baik. Bukankah pasukan yang datang belakangan tadi adalah pasukan keamanan, antek-antek pemerintah penjajah? Aku ingin membasmi penjajah, aku ingin mengusir penjajah Mancu dari tanah air kita!”

Tiba-tiba saja pemuda tinggi besar itu mengepal tinju, matanya bersinar- sinar dan sikapnya penuh semangat. Ci Kong sudah banyak mendengar tentang para pendekar yang berjiwa patriot, yang ingin menentang dan mengusir penjajah Mancu dan dia menduga bahwa tentu di depannya ini seorang di antara para pendekar seperti itu.

Tiba-tiba Siu Coan memandang tajam kepadanya seperti teringat akan sesuatu, dan pemuda tinggi besar itu lalu memegang pergelangan tangannya. Ci Kong cepat mengerahkan tenaganya karena tangan yang mencengkeram itu kuat sekali. Bisa patah-patah tulang lengannya kalau dia tidak mengerahkan tenaga untuk melindungi lengannya.

“Kau...! Ah, kau murid hwesio gendut Siauw-bin-hud...!” tiba-tiba pemuda jangkung besar itu berseru nyaring.

Ci Kong juga teringat sekarang, akan tetapi dia bersikap tenang-tenang saja dan menjawab.

“Bukan murid beliau, melainkan cucu murid. Dan engkau adalah murid Thian-tok. Dan engkau telah membantuku tadi.”

Ci Kong mengingatkan, merasa aneh juga karena yang membantunya keluar dari kepungan pasukan tadi adalah murid Thian-tok, seorang datuk sesat, seorang iblis di antara Empat Racun Dunia yang sudah amat terkenal kejahatan mereka.

“Engkau bukan memusuhi pemerintah, melainkan memusuhi hartawan itu?

Kenapa? Siapa engkau?”

Ci Kong memandang ke arah lengannya yang dicengkeram, sikapnya tenang dan dengan lembut dia berkata.

“Bukan begini caranya orang bicara dengan sikap bersahabat,” katanya. Siu Coan melepaskan cengkeramannya dan tersenyum.

“Engkau memang hebat. Nah, mari kita bicara, sebelumnya lebih baik kita saling berkenalan. Namaku Ong Siu Coan, dan engkau tentu sudah dapat menduga bahwa aku membenci penjajah Mancu. Sekali waktu aku akan menyusun pasukan untuk menghantamnya dan mengusirnya dari tanah air. Sekarang katakan, siapa engkau dan apa yang kaulakukan tadi di gedung hartawan itu?”

“Namaku Tan Ci Kong, seorang pengembara yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Di Tung-kang aku mendengar tentang Ciu Lok Tai yang menjadi pedagang madat. Aku melihat kesengsaraan rakyat oleh madat yang terkutuk itu, maka aku ingin menegur dan memperingatkan Ciu Lok Tai agar dia menghentikan pengedaran madat yang meracuni rakyat jelata.”

“Ha, engkau seorang pendekar pembela rakyat?” Ci Kong menggeleng.

“Aku tidak berani memakai sebutan pendekar, akan tetapi aku akan selalu membela yang lemah tertindas, membela kebenaran dan menentang kejahatan, dimanapun aku berada. Untuk itulah bertahun-tahun aku mempelajari ilmu silat.”

Ong Siu Coan mengangguk-angguk, lalu tersenyum mengejek.

“Engkau hanya mengurus soal-soal kecil. Apa artinya tindakan orang-orang sepertimu ini yang disebut pendekar? Di negara ini, entah terdapat berapa puluh ribu hartawan pedagang candu seperti she Ciu itu. Bagaimana engkau akan dapat memperingatkan mereka semua? Pula, apakah kau yakin mereka akan mentaati dan mundur? Dan berapa puluh laksa lagi mereka yang sudah kecanduan madat. Apakah engkau akan mendatangi mereka satu demi satu untuk dibujuk agar jangan menghisap madat lagi, dan apakah mereka akan mau mentaatimu? Ah, sobat yang gagah, bukan begitu caranya kalau mau menolong rakyat.”

“Lalu bagaimana?”

“Marilah, bantu aku membentuk pasukan. Kita tentang pernerintah penjajah, karena pemerintah penjajah yang bersalah, penjajah Mancu yang mendatangkan orang orang kulit putih itu, yang mendatangkan candu. Kita basmi penjajah Mancu dan sekaligus membasmi orang-orang kulit putih, maka candu tidak akan masuk ke negara kita, dan rakyat akan terbebas dari pengaruh racun itu. Bukan dengan cara menentangnya satu demi satu!”

Ci Kong mendengarkan denga hati penuh kagum. Orang ini memiliki cita- cita yang amat besar dan muluk, dan bagaimanapun juga dia dapat melihat kebenaran ucapan itu, dapat menghormati cita-cita itu. Akan tetapi, urusan pemberontakan tidak menarik hatinya.

Post a Comment