“Tukk...!”
Telunjuk itu menyentil ke arah kepalan tangan, dan tiba-tiba orang tinggi besar itu memekik kesakitan.
“Aduh-duh-duhh...!”
Dengan tangan kirinya, dia memegang dan menggosok-gosok kepalan tangan kanan yang kena disentil jari telunjuk pemuda itu karena terasa nyeri bukan main, rasa nyeri yang menjalar melalui lengan itu dan seperti menusuk- nusuk jantung.
“Aku tidak ingin ribut dengan ji-wi, melainkan hendak bertemu dengan Ciu Wan-gwe.”
Ci Kong masih mencoba mengendurkan mereka dengan kata-kata. Akan tetapi kini Lok Hun yang gendut itupun sudah menjadi marah sekali melihat betapa kawannya tidak berhasil malah kesakitan, dan melihat betapa wajah orang-orang yang berada di luar pintu gerbang berseri dan senyum-senyum bermunculan di antara mereka!
“Anjing ini tidak boleh diberi ampun!”
Bentaknya, dan tangan kanannya sudah melolos senjata payungnya yang aneh! Juga Gan Ki Bin sudah mencabut pedangnya! Kini dua orang itu menghadapi Ci Kong dengan senjata di tangan dan sikap mereka mengancam sekali! Melihat betapa keributan itu kini memuncak dan dua orang yang mereka kenal amat galak dan kejam itu kini mencabut senjata, semua penonton merasa khawatir akan keselamatan pemuda itu.
Hanya Siu Coan yang masih nonton sambil tersenyum, karena dia mengenal orang pandai dan yakin bahwa biarpun bersenjata, dua orang galak itu tidak akan mampu manandingi pemuda tenang itu. Yang menarik perhatian Siu Coan adalah peti kecil yang dikempit di tangan kiri si gendut. Dia dapat menduga bahwa peti kecil itu tentu berisi benda yang amat berharga dan timbul niatnya untuk memiliki peti kecil itu. Dia mulai sekarang harus mengumpulkan harta kekayaan karena dia maklum bahwa perjuangan yang dicita-citakannya melawan penjajah membutuhkan banyak tenaga pasukan, dan untuk itu diperlukan sekali harta untuk pembiayaannya.
“Hemm, kalian mencari penyakit sendiri,” kata Ci Kong.
Kini maklum bahwa sikap lembut dan damai tidak mungkin dapat mempengaruhi dua orang galak ini. Diapun bersiap untuk menghajar dua orang ini agar jera, agar lain kali tidak lagi bersikap sewenang-wenang menghina orang lain.
Dua orang pengawal itu tadinya mengharapkan pemuda itu ketakutan agar mereka dapat menghinanya untuk menebus kekalahan tadi. Akan tetapi melihat sikap Ci Kong malah menantang, keduanya segera menggerakkan senjata dengan niat membunuh! Gan Kin Bin sudah menggerakkan pedangnya membacok ke arah kepala Ci Kong, sedangkan dari sebelah kiri, Lok Hun menggerakkan senjata payungnya yang menyembunyikan pedang sebagai gagang itu untuk menusuk perut pemuda itu! Serangan maut yang dilakukan hampir berbareng.
Akan tetapi, betapapun lihainya, tentu saja dua orang kasar ini sama sekali bukan tandingan pemuda yang sudah digembleng oleh Siauw-bin-hud sampai matang itu. Biarpun diserang dengan pedang dan payung pedang, Ci Kong tidak menjadi gentar atau gugup. Sikapnya masih tenang saja, akan tetapi ketika kedua senjata itu sudah dekat menyambar tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan lenyap dari depan kedua orang pengeroyoknya. Dia telah mempergunakan ginkang yang amat hebat, dan tahu-tahu dua orang pengeroyok yang kehilangan lawan itu, sebelum mereka sempat menarik kembali senjata mereka, mengeluarkan pekik kaget dan disusul suara berkerontangan karena senjata mereka terlepas dari tangan yang tiba-tiba saja menjadi lemas kehilangan tenaga ketika Ci Kong menampar pundak kanan mereka.
Ci Kong yang memang ingin memberi hajaran kepada dua orang kasar itu, melanjutkan dengan tamparan pada leher Gan Ki Bin yang kembali mengeluarkan pekik kesakitan dan tubuhnya terpelanting ke atas lantai. Lok Hun juga terkejut, akan tetapi tahu-tahu lututnya telah ditendang dan diapun roboh menelungkup, peti kecil yang dikempitnya tadi terjatuh. Dia teringat akan benda itu dan dengan nekat dia lalu menubruk petinya. Gan Ki Bin sudah bangkit lagi, menubruk, dan dia disambut dengan sebuah tanparan yang membuat dia roboh kembali dengan kepala menghantam tihang.
“Brukkk...!” "Brukkk
Dan tubuh si tinggi besar ini terkulai dalam keadaan pingsan. Melihat ini, Lok Hun hendak melarikan diri ke dalam, untuk mencari bantuan sambil mengempit peti kecilnya, akan tetapi tiba-tiba gerakannya terhenti karena punggung bajunya telah dicengkeram oleh tangan kanan Ci Kong. Sekali disentakkan, tubuh gendut itupun terpelanting dengan punggung baju masih dicengkeram dan peti kecil itupun terlepas untuk kedua kalinya. Sekali ini, tutupnya terbuka dan sebagian isinya yaitu candu murni, tercecer.
“Haiiit…!”
Tiba-tiba semua orang menjadi kaget, termasuk Ci Kong, karena seperti seekor burung saja, dari luar pintu gerbang melayang tubuh seorang gadis cantik. Dari luar pintu gerbang, tubuh itu melayang seperti terbang melampaui kepala para penonton di depan pintu, dan kini tubuh itu langsung menerjang Ci Kong dengan bentakan nyaring dan halus tadi. Ci Kong masih mencengkeram punggung baju Lok Hun dengan tangan kanan, dan melihat serangan yang demikian aneh dan cepat, diapun menyambut dengan tonjokan tangan kirinya.
Gadis yang cantik jelita dengan pakaian mewah itu cepat mengembangkan kedua lengannya, yang kiri memukul ke arah dada dengan tangan terbuka, sedangkan tangan kanannya siap menotok atau menangkis.
Sekali ini Ci Kong terkejut. Gadis itu memiliki ginkang yang amat luar biasa, dan itu saja sudah membuktikan bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang lihai bukan main. Dan dia terpesona oleh kecantikan yang menyolok itu. Dalam keadaan tubuh di udara, gadis itu kini malah mengancamnya dengan serangan tangan kiri ke arah dada, bukan sembarangan serangan, karena dari tangan kiri gadis itu keluar tenaga yang mendatangkan angin bercuitan! Terpaksa dia melemparkan tubuh Lok Hun ke kanan.
“Bresss...!”
Dengan kerasnya tubuh si gendut itu menabrak dinding dan diapun terkulai lemas, pingsan seperti temannya yang juga sudah setengah mampus itu.
“Dukkk!”
Dua tenaga sinkang yang sama kuatnya, yang disalurkan melalui tangan masing-masing, bertemu di udara. Dan akibatnya, tubuh dara itu terpental sampai jauh ke belakang dimana secara indah sekali ia berjungkir balik dan turun ke atas tanah dengan tegak. Ci Kong sendiri merasa betapa tangannya tergetar hebat oleh pertemuan tenaga tadi, dan mengertilah dia bahwa gadis itu benar-benar lihai bukan main. Di lain pihak, gadis itupun terkejut dan maklum bahwa pemuda yang mampu menghajar dua orang kepercayaan ayahnya sampai jatuh pingsan ini adalah seorang yang amat lihai, maka iapun mengamati dengan penuh perhatian.
“Keparat, berani kau mengacau rumah kami! Siapa kau?” bentak gadis itu yang ternyata adalah Ciu Kui Eng.
Sebagai murid datuk sakti Tee-tok yang sudah tamat belajar, tentu saja Ciu Kui Eng lihai sekali dan tingkat kepandaiannya tidak berada terlalu jauh di bawah tingkat Ci Kong.
Ci Kong juga merasa heran. Kiranya gadis cantik yang amat lihai ini masih keluarga Ciu Wan-gwe, dan tiba-tiba saja teringatlah dia akan peristiwa duabelas atau tigabelas tahun yang lalu. Ketika ayahnya pergi memenuhi panggilan Ciu Wan-gwe untuk membuatkan tulisan indah, dia menyusul dan melihat ayahnya dihajar oleh Ciu Wan-gwe dan seorang perwira. Ayahnya itu agaknya akan dibunuh dan mungkin dia sendiripun akan dibunuh oleh perwira itu, kalau saja tidak muncul seorang anak perempuan yang dengan beraninya menentang hartawan yang menjadi ayahnya itu untuk melepaskan ayahnya dan dia sendiri! Dan gadis cilik itu dahulu mencelanya karena dia berlutut mintakan ampun untuk ayahnya. Mengertilah dia bahwa agaknya inilah gadis cilik yang sudah menunjukkan sikap hebat dahulu itu, kini telah menjadi seorang dara yang selain cantik jelita, juga amat gagah perkasa. Maka, wajah Ci Kong menjadi merah dan diapun cepat menjura.
“Maaf, aku datang bukan untuk mengacau. Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ciu Wan-gwe, akan tetapi dua orang ini selain melarangku, juga menghina bahkan menyerangku.”