“Ssttt, sudahlah. Untuk apa membicarakan hal itu? Kalau terdengar anaknya, hiiiih, sekali tangan yang kecil mungil itu bergerak, nyawa kita akan melayang!”
Mendengar percakapan ini, timbul kemarahan dalam hati Ci Kong. Kiranya hartawan Ciu itu masih saja mengedarkan candu yang dulu amat ditentang ayahnya. Dan di sepanjang perjalanan bersama susiok-couwnya, diapun mendengar betapa candu makin mencengkeram kehidupan rakyat jelata. Ayahnya juga tewas akibat menentang candu yang merusak rakyat. Diam-diam dia mengepal tinju. Aku harus memperingatkan Ciu Wan-gwe itu, pikirnya. Bukan untuk membalas dendam ayahnya. Sama sekali tidak. Hanya untuk memperingatkan hartawan itu agar jangan mengedarkan candu di antara rakyat jelata, dan membuka mata hartawan itu betapa buruk akibatnya bagi rakyat. Kalau hartawan itu tidak mengindahkan peringatannya, baru dia akan turun tangan menghajarnya agar jera dan menurut.
Akan tetapi, Ci Kong tidak mau bertindak sembrono. Sebelum melaksanakan niatnya, malam itu dia melakukan penyelidikan, bertanya-tanya pada penduduk di perkampungan. Dan apa yang didengarnya dari keterangan orang-orang kampung bahkan melampaui apa yang didengarnya di restoran itu. Ciu Wan-gwe memang menjadi semacam raja kecil di Tung-kang, mengandalkan hartanya, mengandalkan jagoan-jagoan dan tukang pukulnya, dan mengandalkan pengaruhnya terhadap semua pembesar setempat, bahkan para pembesar di kanton. Hampir semua penduduk membencinya, tentu saja kecuali mereka yang memperoleh keuntungan dari hartawan ini.
Dan makin sedih hati Ci Kong mendengar dan melihat kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Tungkang telah tercengkeram candu! Dan tempat pemadatan tersebar di seluruh kota. Bahkan ketika dia berjalan-jalan, bau madat terbakar menyambut hidungnya dimana-mana, bau yang memuakkan sekali. Banyak pula dilihatnya orang-orang yang kurus kering, dengan pandang mata sayu, dengan senyum aneh di bibir, berjalan seperti mayat hidup tanpa semangat. Mereka itulah pecandu-pecandu yang sudah berat keadaannya, karena racun candu sudah memenuhi tubuh sampai ke darahnya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ci Kong sudah keluar dari rumah penginapan dimana dia bermalam. Buntalan pakaiannya dia tinggalkan di kamar penginapan itu, dan dia lalu berjalan kaki menuju ke rumah gedung megah milik Ciu Wan-gwe. Pernah satu kali dia memasuki gedung itu, duabelas tahun yang lalu, ketika dia mohon ampun untuk ayahnya yang disiksa di situ. Dia mengepal tinju dan menekan hatinya.
“Tidak, bukan untuk itu aku datang ke sana!” bantahnya sendiri.
Ketika dia tiba di depan pintu gerbang gedung itu, ternyata pintu gerbang itu telah terbuka. Dengan tabah dia lalu masuk begitu saja karena tidak nampak ada orang. Dia akan berterus terang minta bertemu dengan Ciu Lok Tai dan langsung saja memberi peringatan kepada hartawan itu untuk menyadarkannya.
“Heii! Siapa kamu dan mau apa kamu masuk ke sini?”
Tiba-tiba terdengar teguran suara yang bengis. Ci Kong mengangkat muka dan melihat dua orang laki-laki baru saja keluar dari dalam gedung. Seorang yang bertubuh tinggi besar, di pinggangnya tergantung sebatang pedang, sikapnya angkuh dan galak. Orang kedua bertubuh gendut, menyeringai dengan penuh ejekan, dan di pinggang orang ini tergantung sebatang payung sehingga nampak lucu sekali.
Mereka ini berusia kurang lebih limapuluh tiga tahun dan melihat pakaian mereka yang rapi, dengan topi batok hitam, mudah diduga bahwa mereka tentu orang-orang yang memiliki kedudukan. Yang gendut itu membawa sebuah peti kecil yang berukir indah, dan yang menegurnya adalah si tinggi besar yang galak.
Ci Kong tidak tahu bahwa dua orang ini adalah jagoan-jagoan yang pernah bekerja sebagai pengawal-pengawal Ciu Wangwe dan yang kini sudah menjadi pengawal di kota Kanton. Mereka adalah Gan Ki Bin, yang tinggi besar, dan Lok Hun, yaitu yang berperut gendut.
Dengan sikap tenang, Ci Kong menjura kepada dua orang itu dan menjawab dengan suara tenang pula.
“Maaf, karena tidak ada orang, maka saya masuk ke dalam pintu gerbang. Saya datang untuk bertemu dengan Ciu Lok Tai, harap jiwi suka membantu saya dan memberi tahu kepada Ciu Wan-gwe.”
“Kau datang mau pinjam uang?” tanya Lok Hun yang gendut perutnya. Tentu saja Ci Kong merasa marah, akan tetapi dia tetap tenang. Sebagai murid Siauw-bin-hud, tidak mudah kemarahan menguasai batin pemuda ini. Dia menggeleng kepalanya tanpa menjawab.
“Kalau tidak mau hutang, apakah mengemis?” kini Gan Ki Bin yang membentak setelah mengamati pakaian pemuda itu.
“Seorang petani saja mau apa minta bertemu dengan Ciu Wan-gwe, kalau bukan mau hutang atau mengemis?”
Pertanyaan ini lebih menyakitkan hati lagi, akan tetapi sungguh luar biasa pemuda itu. Dia tetap tenang dan sama sekali tidak kelihatan marah. Akan tetapi, seperti juga tadi, dia menggeleng kepala.
“Bocah dusun! Kalau bukan hutang atau mengemis, habis mau apa orang macam engkau ini berani pagi-pagi datang mengganggu Ciu Wan-gwe? Agaknya engkau mempunyai niat busuk. Mau mencuri, ya?”
“Urusan saya tidak ada sankut pautnya dengan ji-wi. Harap tolong panggilkan Ciu Wan-gwe, biar saya bicara sendiri dengan dia.”
“Aku tidak sudi memanggilkan!” bentak Gan Ki Bin.
“Dan aku tidak memperbolehkan kau masuk!” bentak Lok Hun.
Keduanya siap untuk memukul pemuda dusun yang berani mengganggu sepagi itu. Mereka baru saja keluar dari dalam gedung Ciu Wan-gwe sambil membawa peti berisi candu murni untuk diserahkan kepada Lai-taijin, wakil kepala daerah Kanton.
Karena pintu gerbang itu terbuka lebar-lebar, maka keributan yang terjadi itu menarik perhatian orang-orang yang lewat, dan sebentar saja sudah banyak orang berdiri di luar pintu dan nonton keributan itu. Di antara mereka terdapat seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian seperti seorang ahli silat. Pemuda ini berusia kurang lebih duapuluh tahun, tubuhnya tinggi besar, sepasang matanya mencorong penuh wibawa dan dia tersenyum- senyum melihat keributan yang terjadi di sebelah dalam pintu gerbang itu.
Pemuda itu bukan lain adalah Ong Siu Coan! Seperti kita ketahui, Ong Siu Coan diijinkan turun gunung oleh Thian-tok dan bersama sutenya, Gan Seng Bu, dia turun gunung dan melakukan perjalanan berpisah. Dia hendak mencari Koan Jit, suhengnya yang melarikan Giok-liong-kiam. Akan tetapi di sepanjang perjalanan, Ong Siu Coan mendengar tentang pemberontakan yang terjadi dimana-mana. Juga dia banyak mendengar tentang orang-orang kulit putih yang menyelundupkan candu dan meracuni rakyat dengan benda itu.
Sejak kecil dia terlahir di antara orang-orang yang berjiwa patriot, yang menentang pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah. Maka, melihat kelakuan orang-orang kulit putih itu, dia menjadi marah sekali. Apalagi melihat betapa madat telah mendatangkan kesengsaraan yang amat hebat bagi rakyat jelata. Dia yang sejak kecil bercita-cita menjadi patriot, merasa tidak senang dan terutama hal ini ditujukan kepada pemerintah Mancu yang dianggapnya bersekongkol dengan orang-orang kulit putih untuk meracuni dan merusak rakyat demi untuk keuntungan mereka sendiri.
Ketika dia tiba di kota Tung-kang, dia melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa Ciu Wan-gwe menjadi orang terpenting dan terkaya, orang yang menjadi pedagang candu dan suka berhubungan dengan para pejabat dan orang-orang kulit putih. Dia menjadi tertarik dan ingin menyelidiki. Kebetulan sekali, pada pagi hari itu, dia melihat ribut-ribut ketika lewat di depan gedung Ciu Wan-gwe, dan ketika dia menyelinap di antara rombongan orang yang berkerumun di luar pintu gerbang, dia melihat pula keributan yang terjadi di antara seorang pemuda gagah dengan dua orang yang agaknya merupakan petugas-petugas keamanan di gedung itu. Maka dengan hati tertarik sekali, dia mengikuti peristiwa keributan itu, dimana si pemuda gagah ingin bertemu dengan Ciu Wan-gwe dan disambut dengan ucapan-ucapan bernada menghina oleh dua orang petugas itu.
Melihat peristiwa itu, segera timbul kecondongan di hati Siu Coan untuk membantu pemuda gagah itu, akan tetapi dia hanya nonton sambil tersenyum, karena dia dapat menduga bahwa pemuda yang nampak tenang dan berani itu tentu bukan orang sembarangan. Bukan orang sembarangan kalau sudah berani menentang Ciu Wan-gwe yang amat ditakuti oleh penduduk kota itu. Maka diapun hanya menyelinap ke depan saja untuk dapat nonton lebih jelas. Sementara itu, melihat sikap dua orang yang kasar dan menghinanya, Ci Kong mengerutkan alisnya, akan tetapi dia tetap tenang dan sama sekali
tidak memperlihatkan rasa tidak senangnya.
“Bukankah ji-wi hanya merupakan orang-orangnya Ciu Wan-gwe saja? Kenapa ji-wi bersikap begini kasar? Aku ingin berjumpa dan bicara dengan Ciu Wan-gwe sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan ji-wi. Kalau ji-wi tak mau memanggilkan juga tidak mengapa, aku bisa masuk dan mencarinya sendiri.”
“Apa? Kau berani memaksa masuk?” bentak Gan Ki Bin yang bertubuh tinggi besar.
“Apa kau sudah kepingin mampus?”
“Hayaaaa, bocah petani busuk ini perlu apa dilayani?” Lok Hun menyeringai.
“Pukul saja biar dia tahu rasa. Anjing kalau tidak cepat dipukul tentu akan menggonggong terus, pukul dia biar dia lari sambil mengempit buntutnya, ha- ha-ha…!”
Gan Ki Bin yang memang wataknya berangasan, mendengar kata-kata kawannya itu, mengayun tangan kirinya yang besar dan berat, menampar ke arah muka Ci Kong sambil berkata.
“Pergilah, kau menjemukan kami!”
Tamparan itu kuat sekali dan kalau mengenai pipi orang tentu akan membuat pipi itu bengkak, bahkan mungkin giginya akan rontok. Memang Gan Ki Bin ini memiliki tenaga yang besar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, dan karena dia memiliki ilmu silat lumayan, maka gerakannya itu selain kuat, juga amat cepat.
“Wuuuttt...!”
Akan tetapi pukulan itu lewat di samping muka Ci Kong, karena pemuda ini dengan sedikit miringkan kepala saja sudah dapat mengelak. Karena tanparannya luput, Gan Ki Bin menjadi marah sekali. Dia tahu bahwa di luar pintu gerbang banyak orang nonton, dan memang dia dan kawannya sengaja membiarkan orang-orang itu nonton agar mereka melihat betapa dia dan kawannya menghajar pemuda lancang ini. Akan tetapi, tamparannya luput dan hal ini dianggap memalukan dirinya.
“Bocah kampungan, berani engkau melawanku!”
Bentak Gan Ki Bin dengan berang. Demikianlah watak orang yang mengandalkan kekuasaan untuk menekan yang bawah. Orang dupukul mengelak dianggap melawan. Maunya sih orang-orang macam Gan Ki Bin dan Lok Hun ini, kalau memukul orang lain supaya orang itu menerima saja, jangan sekali-kali mengelak atau membakang!
Karena tanparannya luput, Gan Ki Bin menjadi semakin marah dan kini tangan kanannya yang dikepal besar dan kuat itu menonjok. Jotosan yang amat keras meluncur ke arah dagu Ci Kong, yang kalau tepat mengenai sasaran dapat membuat orang seketika roboh pingsan dengan tulang rahang retak atau patah-patah!
“Wuuuttt...!”
Untuk kedua kalinya, pukulan itu luput karena dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Ci Kong. Hal ini membuat Gan Ki Bin menjadi semakin marah.
“Hemm, engkau manusia yang tidak patut dikasihani lagi!” bentaknya dan majulah dia dengan berangnya, menghujankan serangan pukulan dan tendangan.
Mengalah ada batasnya, demikian pikiran Ci Kong, dan melihat sebuah pukulan keras menuju ke arah dadanya, dia menyambutnya dengan sentilan jari telunjuk.