Tee-tok memandang kepada muridnya dengan perasaan bangga.
“Eng sudah tamat belajar. Kami akan menjamin kehidupan locianpwe selanjutnya di sini, karena kami sudah menganggap locianpwe seperti keluarga sendiri.”
“Ha-ha, terima kasih, Wan-gwe. Akan tetapi, seorang perantau seperti aku ini, mana bisa selama hidupnya tinggal di suatu tempat? Betapapun indahnya tempatmu ini, betapapun enaknya hidupku di sini, lama-lama aku menjadi bosan juga. Aku rindu akan keheningan di tempat-tempat sunyi. Kui Eng, kalau sekali waktu engkau perlu bertemu denganku, engkau tahu kemana harus mencariku. Nah, selamat tinggal, aku akan pergi sekarang juga.”
Ciu Lok Tai terkejut dan berusaha menahan.
“Saya… saya harap, locianpwe tunggu sebentar, akan saya suruh ambilkan bekal.”
Akan tetapi kakek itu melangkah terus dan membalikkan tubuh ketika tiba di pintu, lalu berkata.
“Bekal? Maksudmu harta? Heh-heh, menjadi beban saja. Kalau aku butuh harta, apa sukarnya bagiku? Tinggal ambil saja di sepanjang perjalanan.”
Kemudian dengan sekali menggerakkan kakinya, kakek itu berkelebat lenyap dari pintu taman! Ciu Wan-gwe hendak mengejar, akan tetapi tangannya dipegang puterinya.
“Ayah, orang luar biasa seperti suhu tidak sama dengan manusia lain. Ayah tidak perlu sungkan-sungkan terhadap suhu.”
Barulah hartawan itu menarik napas panjang.
“Aihh, bertahun-tahun dia berada di sini dan kita merasa aman tenteram. Kalau dia pergi, tentu saja hal itu membikin hatiku khawatir sekali. Apalagi sekarang suasana menjadi semakin keruh, banyak terjadi pemberontakan dan banyak orang jahat membikin kota-kota menjadi tidak aman.”
Puterinya tersenyum manis sekali.
“Mengapa ayah khawatir? Tidak percuma selama enam tahun aku menjadi murid suhu Teetok. Dengan adanya aku di sini, sama saja seperti kalau suhu berada di sini.”
Agaknya Kui Eng dapat menduga apa yang diragukan ayahnya. Ia seorang anak manja yang biasanya haus akan pujian. Apalagi sekarang, setelah ia merasa bahwa dirinya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, maka keraguan ayahnya akan kemampuannya membikin hatinya terasa panas dan kecewa.
“Ayah, sebaiknya ayah mengundang para jagoan di kota ini dan juga dari Kanton, dengan alasan apapun, dan aku akan memperlihatkan kepada mereka bahwa tak seorangpun dapat mengganggu kita. Aku akan tantang semua jagoan yang ada, dan akan kuperlihatkan kepada ayah bahwa tidak ada seorangpun yang akan mampu mengalahkan aku.”
Biarpun di dalam hatinya masih terdapat keraguan, akan tetapi hartawan Ciu menganggap usul ini amat baik. Bukan saja dia akan dapat membuktikan sendiri kehebatan puterinya, akan tetapi juga dapat dia memamerkannya kepada semua kenalannya, dan sekaligus nama puterinya akan terangkat dan takkan ada yang berani mengganggu keluarganya.
“Baik, akan kuundang mereka dengan dalih merayakan engkau tamat belajar silat. Akan tetapi yakin benarkah hatimu bahwa engkau akan dapat mengalahkan jagoan dari Kanton? Jangan main-main, di sana terdapat banyak orang pandai.”
Kui Eng tersenyum mengejek.
“Ayah panggil saja yang paling pandai dan ayah lihat saja nanti.”
Demikianlah, untuk membuktikan sendiri kepandaian puterinya, beberapa hari kemudian taman yang luas di belakang gedung Ciu Wan-gwe itu berobah menjadi tempat pesta. Yang diundangnya adalah para pembesar yang menjadi kenalannya, juga ahli-ahli silat yang kenamaan di Tung-kang, bahkan dari Kanton, pula, tidak lupa dia mengundang Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang jagoan yang pernah membantunya duabelas tahun yang lalu. Kedua orang itu kini tinggal di Kanton dan bekerja sebagai pengawal-pengawal dalam rumah seorang pembesar Kanton.
Juga hartawan itu mengundang Ma-ciangkun, komandan Ma Cek Lung yang menjadi perwira pasukan keamanan di Kanton. Masih banyak lagi guru- guru silat dan kepala-kepala pengawal yang terkenal mempunyai kepandaian tinggi dari Kanton diundangnya. Tidak lupa, untuk mencari muka, Ciu Wan- gwe juga mengundang Wang Taijin, kepala daerah Kanton, seorang pejabat baru di Kanton yang dikirim dari kota raja! Kepala daerah baru ini dikenal sebagai seorang pejabat yang keras, utusan kaisar sendiri, dan kepala daerah ini kabarnya adalah seorang pejabat yang jujur, tidak sudi menerima sogokan dan terutama sekali yang menggelisahkan hati banyak hartawan adalah bahwa Wang Taijin terkenal anti madat!
Juga wakilnya yang terkenal sebagai orang yang mudah didekati oleh para hartawan, seorang pejabat lama yang bernama Lai Tek atau terkenal dengan sebutan Lai Taijin, yang bukan hanya sahabat baik Ciu Wan-gwe akan tetapi juga seorang pecandu madat yang tidak ketulungan lagi, diundang. Pernah Ciu Wan-gwe dipanggil oleh kepala daerah yang baru itu dan diperingatkan tentang kegiatannya berdagang candu gelap. Dan Lai Taijin itulah yang menolongnya, dan melihat muka wakilnya, kepala daerah itu mengampuninya. Tidak kurang dari limapuluh orang yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi dan menjadi jagoan-jagoan terkenal di kanton dan sekitarnya, hadir di dalam taman yang dirias indah itu. Ciu Wan-gwe terkenal sebagai seorang kaya raya yang royal, maka tentu saja mereka dengan gembira memenuhi undangan hartawan itu, apalagi karena disebutkan bahwa pesta itu untuk merayakan puteri hartawan itu yang selesai belajar ilmu silat! Mereka sudah membayangkan bahwa mereka akan melihat seorang gadis jelita bermain silat, dan walaupun para jagoan itu memandang rendah, setidaknya mereka akan melihat seorang gadis cantik menari-nari dengan senjata yang tentu akan
menarik sekali, apalagi kalau hidangannya serba lezat dan mewah!
Semua hartawan dan bangsawan datang bersama pengawal, sedikitnya dua orang kepala pengawal yang boleh diandalkan. Para pembesar datang bersama pasukan pengawal, akan tetapi pasukan itu dijamu di tempat lain, dan yang menemani para pembesar itu hanya kepala pengawal saja. Wan Taijin tidak ketinggalan dikawal oleh kepala pengawalnya yang gagah perkasa. Juga Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang bekas kepala pengawal Ciu Wan-gwe, yang sudah mengenal Kui Eng ketika anak itu masih kecil, datang dalam pakaian mereka yang mentereng.
Kui Eng keluar dalam pakaian serba merah muda, dengan ikat pinggang berwarna biru dan rambutnya digelung ke atas, diikat dengan sutera kuning. Ia nampak manis sekali, sehingga semua mata para tamu yang terdiri dari pria semua itu seperti hendak melahapnya.