Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 46

Memuat...

“Su hu, siapakah Hek-eng-mo itu?” tanya Lian Hong ketika mereka berhenti di bawah pohon yang rindang di kaki gunung.

Setelah dewasa, Lian Hong tidak lagi menyebut kakek kepada San-tok, melainkan Suhu, karena ia menganggap sebutan ini lebih patut dan tepat.

Bagaimanapun juga, ia bukan cucu aseli dari kakek itu, dan yang jelas ia adalah muridnya. Ketika tadi diadakan pertemuan di Siauw-lim-si, gadis inipun diam-diam amat memperhatikan penuturan kakek gendut Siauw-bin-hud. Ia merasa kagum dan suka kepada kakek gendut itu, karena bagaimanapun juga, ia telah menerima warisan tenaga singkang dari kakek itu enam tahun yang lalu. Gurunya sendiri yang memberi keterangan kepadanya bahwa ia beruntung telah menerima warisan tenaga sinkang itu dari kakek sakti Siauw- bin-hud, bahkan gurunya pernah mengatakan bahwa ia telah menerima warisan tenaga dari Siauw-bin-hud dan betapa suhunya juga mengoper tenaga sakti kepada anak laki-laki yang menjadi murid Siauw-lim-pai, maka antara ia dan pemuda cilik itu terdapat pertalian saudara seperguruan.

“Hek-eng-mo adalah murid Thian-tok. Dia lihai dan cerdik bukan main, amat mengagumkan betapa dia pernah mencuri harta pusaka gurunya, bahkan kini merampas Giok-liong-kiam dari tangan Thian-tok. Ha-ha, ingin sekali aku melihat muka Thian-tok yang dikibuli oleh muridnya sendiri itu!”

“Suhu, aku jadi tertarik sekali mendengar tentang perebutan Giok-liong- kiam. Ingin sekali aku mencari Hek-eng-mo itu dan merampas pusaka dari tangannya.”

San-tok yang duduk bersila di atas rumput sambil mengipasi badannya dengan kipas bututnya, menghentikan gerakan tangannya dan menatap wajah muridnya yang cantik itu. Setelah melatih gadis ini selama duabelas tahun, San-tok merasa sayang sekali kepada murid ini yang dianggap sebagai satu- satunya orang yang dimilikinya di dunia ini, menjadi seperti anaknya atau cucunya sendiri. Inilah sebabnya maka dia menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Lian-Hong yang memang berbakat baik sekali. Mendengar ucapan muridnya, dia benar-benar merasa terkejut dan heran. Biasanya, muridnya ini pendiam dan tidak banyak kehendak, akan tetapi tiba- tiba saja muridnya menyatakan hendak ikut memperebutkan Giok-liong-kiam! “Heh-heh, Hong Hong, cucuku juga muridku yang baik, sungguh mati aku merasa terkejut sekali mendengar ucapanmu tadi. Engkau tiba-tiba saja ingin memperebutkan Giok-liong-kiam! Apa artinya ini?”

“Selama belasan tahun suhu telah melimpahkan budi kepadaku. Aku ingin merampas pusaka itu untuk suhu, sekedar pembalas budi. Bukankah suhu menghendaki pusaka itu sehingga ikut pula datang ke Siauw-lim-si? Selain itu, untuk apa suhu susah-susah melatih ilmu silat kepadaku kalau tidak kupergunakan sekarang?”

Belum pernah muridnya ini bicara sebanyak itu, dan San-tok tertawa gembira. Hatinya merasa gembira dan hangat karena muridnya ini dengan terus terang menyatakan ingin membalas budi kepadanya. Dia adalah seorang tua yang cerdik dan banyak pengalaman, maka diapun dapat menjenguk isi hati muridnya. Muridnya selama duabelas tahun selalu ikut dengannya dan kini muridnya itu, setelah menguasai ilmu yang tinggi, tentu saja ingin bebas seperti burung di udara, melakukan segala yang diinginkannya sendiri. Tentu muridnya akan membalas kematian ayah bundanya pula. Kembali dia mengipasi badannya.

“Engkau benar, Hong Hong. Memang ilmu yang telah banyak kaupelajari itu perlu dipergunakan dan dimanfaatkan. Akan tetapi ketahuilah, segala macam ilmu yang kaumiliki itu masih belum mampu melindungi dirimu dan menjamin keselamatan. Di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang yang lihai sekali. Hanya kalau engkau berhati-hati dan waspada sajalah maka engkau akan dapat melindungi dirimu sendiri. Apalagi kalau berhadapan dengan Hek-eng-mo! Berhati-hatilah. Dia itu selain lihai ilmu silatnya, juga amat licik dan suka main-main dengan racun. Sayang, aku sudah terlalu tua dan sudah malas untuk pergi merantau. Maka, biarlah aku akan menanti saja sambil bertapa di puncak yang paling kusenangi.”

“Di puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san itu?” Kakek itu mengangguk.

“Aku selalu ingin mengakhiri hidupku di tempat indah itu. Aku akan menanti kembalimu di sana, Hong Hong.”

“Baik, suhu. Berilah waktu dua tahun kepadaku dan berhasil atau tidak dalam mencari Giok-liong-kiam, aku akan datang mengunjungi suhu di puncak Naga Putih.”

Mereka saling berpisah di kaki gunung itu juga. Siauw Lian Hong pergi meninggalkan suhunya sambil membawa buntalan pakaian dan bekal sedikit perak pemberian gurunya, juga tidak ketinggalan membawa kipas yang terselip di pinggangnya.

Gadis cantik sederhana ini melangkah dengan tegap dan tanpa ragu-ragu. Sebaliknya, San-tok yang masih duduk bersila itu mengikuti kepergian muridnya dengan mata sayu. Senyumnya lenyap dan wajahnya membayangkan kesedihan. Berulang kali dia menghela napas panjang, merasa betapa hati dan semangatnya seperti terbang mengikuti gadis itu. Duabelas tahun dia hidup di samping muridnya dan dia merasa betapa setelah mempunyai murid itu, perobahan besar terjadi pada batinnya. Hidup seperti ada artinya dan hatinya tidak keras lagi seperti dahulu. Kini, melihat gadis itu pergi meninggalkannya, dia merasa kehilangan, kesepian dan berduka sekali, perasaan yang selamanya belum pernah dialaminya!

Kakek yang pernah menjadi seorang di antara Empat Racun Dunia, yang pernah menjadi datuk kaum sesat, yang dianggap jahat seperti iblis, yang tidak segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman itu, kini duduk termenung dan dia tidak merasa bahwa senyum yang biasanya selalu membayang di mulutnya itu kini sama sekali lenyap, terganti oleh bayangan duka yang membuat kedua matanya menjadi basah!

Duka adalah iba diri. Merasa iba kepada diri sendiri, merasa kehilangan, kecewa. Dan semua ini timbul dari aku yang merasa kehilangan, aku yang merasa kesepian, aku yang merasa menjadi orang paling sengsara di dunia. Aku adalah suatu gambaran yang dibuat oleh batin tentang diri sendiri, dibentuk oleh pengalaman-pengalaman masa lampau. Aku penuh dengan harapan-harapan memperoleh kesenangan seperti yang pernah dialaminya, atau seperti yang pernah didengarnya, pernah dibacanya dan diketahuinya. Aku penuh dengan keinginan akan merasakan dan menikmati kembali segala hal yang menyenangkan, penuh dengan rasa takut kalau-kalau tidak akan memperoleh lagi semua kesenangan itu, takut kalau-kalau ditinggalkan oleh hal-hal yang menyenangkan. Aku yang selalu haus akan kesenangan ini menciptakan ikatan-ikatan, belenggu-belenggu dan rantai-rantai emas yang dianggapnya membahagiakan, namun yang berakhir dengan kedukaan. Ikatan dengan orang lain karena orang lain itu menyenangkan aku, ikatan dengan benda, dengan nama, dengan gagasan-gagasan.

Sekali ikatan ini menguasai aku, maka yang ada hanyalah duka dan sengsara. Ikatan ini sama dengan candu, sekali terikat sukar untuk dilepaskan, karena akan menimbulkan perasaan duka dan sengsara.

Semakin besar si aku menonjol, semakin banyak pula ikatan-ikatan terbentuk, dan semakin banyak pula duka mengelilingi batin. Bebasnya batin dari ikatan berarti runtuhnya singgasana sang aku, bersamaan dengan lenyapnya pula duka. Semua ini jelas sekali nampak, akan tetapi betapa sukarnya terbebas dari pada ikatan! Betapa sukarnya meniadakan gambaran tentang diri sendiri dalam bentuk aku yang makin hari makin kita bentuk dan perkuat!

Kolam air di belakang rumah gedung yang besar megah dan luas itu amat jernih airnya. Kolam buatan itu tentu amat mahal biaya pembuatannya dan hanya orang kaya seperti keluarga Ciu di Tungkang sajalah yang mampu membuatnya. Di sekitar kolam air yang luas itu terdapat taman bunga yang indah, dan batu-batu alam yang bentuknya aneh dan nyeni terdapat pula di dekat kolam. Akan tetapi, pada pagi hari yang sunyi itu nampaklah hal-hal yang amat aneh terjadi di situ. Para pelayan sudah dilarang keras untuk tidak memasuki taman sehingga apa yang terjadi tidak nampak oleh orang-orang lain yang tentu akan terheran-heran dan mungkin akan merasa ngeri dan takut.

Seorang kakek yang bertubuh kecil pendek sedang duduk bersila di atas batu karang di tepi danau buatan, meniup sebuah suling. Kakek ini bukan lain adalah Tee-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia. Seperti telah kita ketahui, sejak enam tahun yang lalu, Racun Bumi ini diterima oleh hartawan Ciu Lok Tai sebagai pengawal keluarga, juga guru Ciu Kui Eng. Tentu saja Tee- tok merasa senang sekali tinggal di rumah keluarga kaya raya itu. Dia sudah tua, sudah capai bertualang. Usianya sekarang sudah tujuhpuluh tahun lebih dan hidup enak-enak di rumah keluarga itu amat menyenangkan hatinya. Apalagi dia memperoleh murid seperti Kui Eng yang berbakat baik sekali.

Selama enam tahun, Tee-tok mencurahkan seluruh tenaga dan perhatian untuk memberi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi kepada muridnya, menurunkan semua ilmunya kepada murid tersayang itu. Dan pagi hari ini, muridnya sedang digembleng dengan latihan yang paling sukar, ilmu silat dengan penggunaan ginkang yang amat hebat. Latihan ini merupakan ujian terakhir bagi muridnya itu.

Suara suling yang ditiup kakek itu meliuk-liuk aneh, melengking-lengking dan matanya ditujukan ke tengan danau buatan mengikuti gerak-gerik muridnya. Dan di tengah danau itu, nampak Ciu Kui Eng sedang bersilat! Di atas air danau! Dan kedua kakinya yang kecil itu dengan ringannya berloncatan ke sana-sini, menginjak... ular-ular yang berseliweran di purmukaan air danau. Ular-ular air itu sengaja dilepas di danau itu dan mereka itu bergerak-gerak, berenang di permukaan danau seperti dipimpin oleh lengking suling. Ular-ular air yang besar-besar, dan kini Ciu Kui Eng menggunakan badan ular-ular itu untuk tempat berpijak ketika ia bersilat dengan gerakan yang luar biasa lincahnya.

Inilah ilmu silat yang paling aneh dan yang amat hebat, yang diajarkan oleh kakek itu kepada muridnya. Ilmu silat ini diberi nama Cui-beng Coa-kun (Silat Ular Pengejar Arwah)! Ilmu silat dengan latihan seperti ini membutuhkan gingkang yang luar biasa, juga membutuhkan pengerahan sinkang, gerakan yang cepat dan tepat, juga kematangan ilmu silat, karena kesalahan sedikit saja dapat membuat tubuh Kui Eng tergelincir dan terjatuh ke dalam air dimana dara ini akan dikeroyok oleh ular-ular itu. Hebatnya, ular-ular yang puluhan banyaknya itu berenang-renang seperti berbaris saja mengikuti irama suara suling yang aneh!

“Heiiiittt... plakk!”

Kini Kui Eng mulai menyerang. Sambil melompat, kakinya menyambar ke bawah dan seekor ular mati dengan kepala remuk. Dara itu berloncatan, mengeluarkan pekik-pekik nyaring dan mulailah ia membantai ular-ular itu, dengan sambaran kaki dan tangan, seperti ular-ular mematuk. Permukaan danau itu mulai merah oleh darah ular dan mulai dipenuhi bangkai-bangkai ular yang mengambang. Loncatan terakhir dilakukan dari atas bangkai-bangkai ular yang mengambang, dan ketika ia berjungkir balik sampai lima kali sebelum hinggap di atas batu di depan suhunya, puluhan ekor ular itu telah mati semua. Bau amis memenuhi tempat itu dan Tee-tok menghentikan tiupan sulingnya.

“Suhu, mari kita duduk di sana, di sini bau amis!”

Kui Eng mengernyitkan hidungnya yang kecil sehingga nampak manis dan lucu. Kui Eng sekarang telah menjadi seorang gadis yang manis sekali, berusia delapanbelas tahun. Wajahnya manis, terutama sekali sepasang matanya yang lebar dan memiliki pandang mata yang amat tajam seperti kilat menyambar. Tubuhnya ramping dan padat, rambutnya digulung ke atas dan diikat dengan sutera kuning, karena ia sedang berlatih, maka ia memakai pakaian ringkas dan rambut yang digelung itu masih panjang sekali sisanya, bergerak-gerak ketika ia bersilat tadi seperti ekor kuda yang indah. Muka yang putih halus itu kini kemerahan dan agak basah oleh keringat, berseri-seri di dalam cahaya matahari pagi yang mememuhi taman.

Tee-tok tersenyum puas. Hebat memang muridnya ini.

“Engkau lulus ujian, Kui Eng, dan mulai sekarang tak perlu aku mengajarmu lagi. Sudah cukup ilmu kepandaianmu dan agaknya takkan mudah orang lain mengalahkanmu.”

Kui Eng menggandeng tangan suhunya dan dengan manja mengajak gurunya itu duduk di ruangan sebuah pondok merah yang berada di tepi taman. “Semua itu berkat budimu, suhu,” katanya dan iapun bertepuk tangan memanggil pelayan.

Tiga orang pelayan wanita datang berlarian dan mereka semua mengembang-kempiskan cuping hidung ketika mencium bau amis itu.

“Ih, bau apakah ini?”

“Begini amis, aku ingin muntah...!” Kui Eng tersenyum geli.

“Sudah, jangan cerewet. Suruh tukang kebon bersihkan kolam air.”

Tiga orang pelayan wanita itu berlarian ke dekat kolam, dan Kui Eng geli ketika mendengar jeritan-jeritan para wanita itu yang tentu saja menjadi terkejut, takut dan jijik melihat puluhan ekor bangkai ular mengambang di atas air kolam. Kui Eng lalu memerintahkan para pelayan wanita mempersiapkan hidangan makan pagi yang mewah untuk gurunya, dan para pekerja kebun disuruh membersihkan danau dari bangkai-bangkai ular itu.

Setelah makan pagi yang mewah dan lezat, dilayani oleh muridnya, Tee-tok lalu minta berjumpa dengan Ciu Lok Tai.

Hartawan Ciu ini sudah berusia enampuluh dua tahun, akan tetapi pakaiannya masih mewah dan rambutnya tersisir rapi penuh minyak. Jenggot dan kumisnya juga masih terpelihara dengan baik dan sinar matanya masih seperti dulu, bahkan mungkin lebih mata keranjang lagi. Semenjak Tee-tok berada di situ sebagai pengawal keluarganya, apalagi mengingat bahwa puteri tunggalnya kini telah menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu silat amat tinggi, yang tidak dapat dilawan oleh semua pengawal dan jagoan di Tung- kang maupun Kanton, hartawan ini menjadi semakin angkuh.

Ciu Wan-gwe yang diberitahu puterinya bahwa Tee-tok ingin bertemu dengannya dan bahwa kakek itu akan pergi karena puterinya sudah tamat belajar, menjadi kaget dan bergegas datang ke pondokan Tee-tok di dekat taman di belakang gedung itu.

“Berita apakah yang saya dengar dari Kui Eng ini? Locianpwe hendak pergi meninggalkan kami? Ah, kenapa begitu?”

Tee-tok tersenyum dan menggoyang tasbeh hitamnya. Kakek pendek kecil ini memang selalu membawa tasbeh dan tongkatnya, seperti seorang petapa atau seorang pendeta tosu saja.

“Muridku, puterimu ini sudah tamat belajar, Ciu Wan-gwe, pekerjaanku sudah selesai, maka aku harus pergi dari sini. Jangan khawatir, semua kepandaianku telah kuajarkan kepada puterimu, dan dengan adanya puterimu di sini, tak seorangpun akan berani mengganggu keluargamu, karena pengganggunya berarti sudah bosan hidup, heh-heh!”

Post a Comment