Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 44

Memuat...

“Sute, kita berpisah, karena kalau berpisah akan lebih mudah bagi kita untuk mencari jejak suheng Koan Jit. Apakah engkau telah membawa bekal, sute?” tanya Siu Coan sambil memandang buntalan di punggung sutenya, buntalan yang kecil itu.

Seng Bu mengangguk.

“Semua pakaianku sudah kubawa, suheng.”

“Bukan itu maksudku. Apa kaukira pakaian saja sudah cukup? Engkau butuh makan, dan mungkin butuh perahu atau kuda, semua itu membutuhkan uang. Apa engkau sudah membawa uang?”

“Uang ?”

Seng Bu bertanya dengan muka bodoh. Maklumlah, sejak kecil Seng Bu menjadi yatim piatu dan gelandangan sampai bertemu dengan Thian-tok dan diambil murid dan sampai sudah dewasa itu, dia tidak pernah mempergunakan uang, tidak pernah membeli apa-apa dan juga tidak memperhatikan soal harta benda, berbeda dengan Siu Coan yang banyak bertanya dan banyak melihat. Bahkan dalam hal ilmu baca tulis, Seng Bu kalah jauh dibandingkan dengan Siu Coan.

Siu Coan tertawa melihat kebodohan sutenya.

“Aih, sute. Tentu saja uang, atau barang berharga yang dapat dipakai untuk membeli kebutuhan dalam perjalananmu. Nih, aku sudah menduga bahwa engkau tentu tidak membawa bekal, terimalah ini untuk bekal.”

Seng Bu menerima belasan tail emas dari suhengnya dengan perasaan berterima kasih. Baru dia teringat bahwa kehidupan di tempat ramai membutuhkan uang dan diapun teringat akan keadaannya di waktu dahulu, sampai seringkali kelaparan karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan.

“Terima kasih, suheng. Engkau baik sekali.” Kembali Siu Coan tersenyum.

“Sute, setelah kita berpisah di sini, kemanakah engkau akan pergi dan apa tujuanmu? Kemana engkau hendak mencari Koan Jit?”

Seng Bu menggeleng kepala.

“Entahlah, suheng. Terus terang saja, aku tidak tertarik untuk mencarinya dan merampas pedang pusaka itu. Aku akan merantau dan mungkin mencari pekerjaan, dan tentu saja aku akan mencoba melanjutkan pekerjaan orang tua dahulu, yaitu berburu.”

Siu Coan tertawa bergelak. Setelah kini bebas bersama sutenya, watak guru mereka yang suka tertawa agaknya menurun kepadanya.

“Aihh, sute. Berburu binatang? Lalu apa artinya sampai bertahun-tahun dengan susah payah engkau mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dari Suhu?”

“Tentu saja kalau ada orang jahat menindas yang lemah, aku akan bangkit melindungi dan membela yang lemah, menentang si jahat yang sewenang- wenang! Bagaimana dengan engkau, suheng?”

Kembali Siu Coan tertawa geli.

“Aihh, engkau dengan cita-citamu yang muluk. Ingin menjadi pendekar, ya? Pendekar murid Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia yang justeru menjadi datuk-datuk kaum sesat. Alangkah lucunya dan siapa mau percaya padamu, Sute?”

“Suheng…” kata Seng Bu dengan wajah serius.

“Aku belajar dari suhu Thian-tok adalah untuk belajar ilmu silat, bukan untuk mempelajari perbuatan jahat. Dan kalau aku dapat melakukan kebaikan dan kegagahan, sedikitnya nama suhu akan terangkat dan siapa tahu dapat mencuci dan membersihkan namanya. Hanya itulah yang dapat kulakukan untuk membalas budi suhu. Dan engkau sendiri, suheng?” “Aku tentu saja akan mencari Koan Jit dan merampas pusaka itu. Pula, aku tetap akan melanjutkan cita-cita para patriot. Aku akan mencari kawan-kawan, aku akan berjuang menentang pemerintah penjajah asing!”

Dengan sikap gagah dan sungguh-sungguh, Siu Coan berdiri tegak dengan muka menengadah dan kedua tangan dikepal. Sutenya memandang kagum dan mengangguk-angguk.

“Kelak kalau engkau sudah berjuang dengan pasukanmu, aku akan membantumu, suheng. Aku juga menghargai perjuangan para patriot menentang penindasan orang-orang Mancu.”

“Baik, sute, dan selamat berpisah. Kita mengambil jalan sendiri-sendiri, dan mudah-mudahan kita akan dapat berjumpa kembali dalam keadaan yang lebih baik, sute.”

Dua orang pemuda itupun saling pegang pundak, lalu saling memberi hormat dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, Siauw-bin-hud serta Ci Kong kembali ke Siauw-lim-si karena waktunya telah tiba bagi para tokoh yang datang enam tahun yang lalu untuk berkumpul di Siauw-lim-si seperti yang telah dijanjikan oleh kakek gendut itu. Di sepanjang perjalanan, kakek dan pemuda itu mendengar betapa pergerakan orang-orang yang menentang pemerintah makin menjadi-jadi, betapa kekacauan timbul dimana-mana, terutama sekali karena ulah orang- orang kulit putih yang menyebarkan candu. Makin terasalah pengaruh racun madat di antara rakyat, dan walaupun yang terkena sebagian besar adalah orang-orang hartawan dan bangsawan, namun keguncangan-keguncangan terjadi karena harta benda penduduk dihisap dan ditukar dengan benda yang beracun dan amat berbahaya itu. Diam-diam Siauw-bin-hud merasa prihatin sekali, oleh karena itu setelah tiba di kuil Siauw-lim-si, dia cepat berunding

dengan para pimpinan kuil dan juga dengan Ci Kong.

“Ci Kong, pinceng dan para suhu di sini adalah pendeta-pendeta yang tidak mungkin dapat mencampuri urusan pemerintah. Akan tetapi engkau bukan seorang hwesio dan engkau telah mempelajari banyak ilmu. Kini bangsa kita sedang terancam bahaya besar berupa candu. Karena itu, engkau harus turun gunung dan membantu setiap gerakan rakyat yang hendak menentang diperbolehkannya candu meracuni bangsa kita. Dengan adanya engkau yang mewakili kami, berarti Siauw-lim-pai juga ikut membantu. Kami akan memberi anjuran yang sama kepada semua murid Siauw-lim-pai yang bukan pendeta.” Demikian antara lain Siauw-bin-hud berkata.

Di sepanjang perjalanan, Ci Kong sudah mendengar banyak sekali tentang candu dan racunnya yang mengakibatkan lemahnya rakyat dari kakek itu, maka kini tanpa ragu-ragu lagi diapun menerima perintah itu. Dengan membawa bekal pakaian dan sedikit perak, pemuda ini meninggalkan Siauw-lim-si. Karena itu dia tidak tahu betapa beberapa hari kemudian, sesuai dengan janji Siauw-bin-hud, di kuil itu berdatangan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, termasuk Hai-tok dan San-tok yang hendak menagih janji. Yang datang kini lebih banyak lagi, karena banyak tokoh dunia kang-ouw ingin melihat sendiri bagaimana caranya Siauw-bin-hud membersihkan nama dan mengembalikan pusaka Giok-liong-kiam yang menghebohkan itu.

Seperti juga enam tahun yang lalu, sekali ini San-tok atau Bu-beng San-kai datang bersama murid tunggalnya, yaitu Siauw Lian Hong. Akan tetapi siapapun akan pangling kalau bertemu dengan murid Racun Gunung itu. Enam tahun yang lalu masih seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih sebelas atau duabelas tahun, dan sekarang ia telah menjadi seorang gadis yang berusia hampir delapanbelas tahun! Kini ia telah menjadi seorang wanita yang cantik jelita walaupun pakaiannya sederhana sekali. Walaupun pakaian itu amat bersih, akan tetapi terbuat dari bahan yang kasar dan murah, dengan potongan yang ringkas sederhana, akan tetapi yang tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuhnya yang sedang, ramping dan padat, tidak dapat menyembunyikan kulit putih kuning mulus yang nampak pada leher, tangan dan lengan sampai di siku. Sepasang matanya masih lebar seperti enam tahun yang lalu, akan tetapi kalau dulu lebar kekanak-kanakan, kini mata itu lebar dan tajam, dengan sudut-sudut yang tajam menarik, dengan alis yang hitam melengkung seperti dilukis, dengan bulu mata yang panjang lentik. Sinar matanya dapat menyambar secepat pedang, tajam terbuka. Hanya satu sifat yang masih dimiliki seperti enam tahun yang lalu, yaitu pendiam dan alim. Sebatang kipas lebar yang kedua gagangnya berujung runcing terselip di pinggang, karena kipas ini merupakan senjata ampuhnya yang diberikan oleh suhunya.

Hai-tok Tang Kok Bu kini juga sudah nampak tua, akan tetapi pakaiannya masih jelas menunjukkan bahwa dia seorang yang hartawan dan berpengaruh, diikuti oleh pengawal-pengawal muda yang tanpan dan halus, masih memegang tongkatnya, yaitu Kim-kong-pang!

Di samping dua orang di antara Empat Racun Dunia ini, masih ada pula beberapa rombongan orang kang-ouw yang ingin mendengar tentang Giok- liong-kiam. Ketika Siauw-bin-hud muncul dari dalam kuil, suasana menjadi kacau, dan orang pertama yang menyambutnya adalah Bu-beng San-kai atau San-tok. Dengan senyumnya yang khas, sikapnya yang sembarangan dan tanpa sopan santun lagi, kakek yang usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih itu berkata.

“Heh-heh, engkau masih hidup, Siauw-bin-hud? Bagus sekali, aku sudah khawatir kalau-kalau engkau mati dalam menunaikan tugas! Dan mana itu Giok-liong-kiam?”

“Ya, dimana Giok-liong-kiam kami, locianpwe?” tanya Coa Bhok.

Wakil ketua Thian-te-pai yang kini kembali datang mewakili perkumpulannya, dikawani oleh duabelas orang murid. Coa Bhok yang menjadi wakil ketua Thian-te-pai itupun sudah nampak tua, sudah enampuluh tahun usianya.

Siauw-bin-hud tertawa bergelak, seperti merasa geli. Hal ini membuat Hai- tok menjadi marah.

Post a Comment