kau pernah menghadiri dua kali pertemuan besar, kenapa soal aturan kau semakin bingung, meski ada persoalan perlu kami lapor kepadamu?" Berubah air muka Rasul ungu, katanya berpaling "Losu!
Kau sudah dengar nama dan kedudukan, kakakmu tidak membelamu lagi".
cuma kau tidak usah kuatir, mengingat hubungan kita selama beberapa tahun ini, aku pasti memperjuangkan keadilan ini." Laki laki pertengahan umur bungkam tak bersuara, setelah Rasul ungu mendesaknya, tiba tiba ia jejak kedua kakinya badan nya melejit jauh kedepan sana berusaha melarikan diri.
Sekali lompat tiga empat tombak tubuhnya melesat lewat atas kepala Koan San gwat dan lari bagai burung yang ketakutan daya terbangnya amat pesat sekali, tapi begitu kedua kakinya hinggap ditanah mendadak langkahnya terhuyung huyung kedepan terus roboh terkapar dan tidak bernyawa lagi.
Waktu Rasul ungu memburu kesana dilihatnya tujuh lobang indranya sama mengeluarkan darah segar, punggungnya tertancap tiga duri hitam, seketika berubah air mukanya sesaat ia berdiri terlongong.
Sebuah suara berseru dingin dari dalam pintu : "Siau It ping!
Bagus benar didikan mu terhadap para saudaramu!" Koan San gwat kenal suara Ki Houw, baru saja ia hendak bersuara, dilihatnya Ban li memberi pelirikan mencegah ia bersuara.
Siau It pang adalah nama dari Rasul ungu itu, dengan tergopoh gopoh ia balik dan berdiri tegak di pinggir pintu, sedunya lirih: "Hamba menunggu putusan Mo kun!" Terdengar tawa dingin dari dalam pintu, katanya : "Sekarang aku tidak ada waktu buat cerewet dengan kalian, selanjutnya kau harus memberi gemblengan dan ujian berat terhadap sisa temanmu itu, kalau masih ada keparat yang takut mati, kaulah yang harus bertanggungjawab seluruhnya!
Bawa para tamu!" Rasul ungu mengiakan, teman temannya yang lain mengunjuk rasa takut yang berlebihan.
Hati Koan San gwat teegerak lagi, dari percakapan yang singkat ini, selapis ia lebih paham tentang berbagai persoalan Liong hwa hwe tapi timbul pula pertanyaan pertanyaan lain yang lebih penting lagi.
Terutama pemuda yang bernama Ki houw itu, agaknya memegang satu kekuasaan besar sehingga bawahannya yang terkenal kejam dan bengis bengis itu tunduk dan takut kepadanya.
Demikian juga Lok heng kun, Lok siang kun dan Liu ju yang patuh pula akan perintahnya, sebetulnya apakah yang terjadi" Kalau Liong hwa hwe merupakan organisasi jahat yang memupuk banyak dosa.
Maka gurunya yang berbudi , serta Hwe thian ya ce Peng kiok jin dan kedua kakek tua ini It lun dan Ban li mereka bukan orang jahat, tapi kenyataan pun terdaftar sebagai anggota.
Kalau merupakan perserikatan dari kaum cendikia dan pendekar, sepak terjang Ki houw yang serba menyeleweng ini jelas adalah seorang durjana yang harus ditumpas, mana bisa dia menempati kedudukan yang begitu penting"..
Dalam pada itu Rasul ungu sudah membalik serta berkata sambil menjura : "Mo kun mempersilah kan para tamu masuk kedalam!" Baru saja Ban li angkat langkah, tiba tiba Koan San gwat membentak : "Nanti dulu!
suruh Ki Houw keluar menyambut." Berubah air muka Rasul ungu, serunya mendelik: "Siapa kau" Berani kau kurang ajar?" "Kau tanya kepada Ki Houw, dia tahu siapa aku." Kata Koan San gwat sambil merogoh Bing tho ling, sekali ayun, "Tang" sekeping lencana kebesarannya itu melesak kedalam daun pintu besar di dalam sana, lalu dengan suara yang lebih lantang ia berseru ke arah dalam.
"Ki Houw aku tidak perduli apa kedudukanmu disini, hari ini aku kemari sebagai Bing tho ling cu untuk menyelesaikan perjanjianmu di Tay san koan tempo hari kau ingkar janji sudah sepantasnya kau keluar mohon maaf kepadaku!" Suasana dalam pintu sunyi senyap Koan San gwat makin gusar, teriaknya : "Unta terbang!
Kau hendak pamer apa sebagai Bang tho ling cu yang besar dan agung memangnya aku harus menghadap kedalam ." Rasul Ungu menunjuk rasa gusar, baru saja ia mengulur tangan hendak mengeluarkan Bing tho ling dari dalam pintu mendadak terdengar perintah Ki Houw: "Jangan disentuh!" perintahkan mengatur barisan kebesaran, Pun coh hendak keluar.
Seketika Rasul ungu mengunuk rasa heran dan tidak mengerti, sekilas ia pandang Koan San gwat, agaknya ia kurang paham akan asal usul pemuda yang garang ini tapi ia tidak berani ayal, lekas ia mengeluarkan dua papan baru jadi "plak, plak, plak!" beruntun ia membunyikan enam kali tiada ketukan.
Koan San gwat dan Lok Siau hong sudah pernah dengar apa apa yang dinamakan Hun Pan liuk con yaitu pertanda kedatangan Thian ki mo kun.
Sementara sip tau su hun semua berdiri dengan meluraskan kedua tangan.
Hanya Koan San gwat yang masih tertawa, dengusnya "Pertunjukan tengik dan bermuka muka belaka!" Rasul ungu melirik kearahnya, tapi tidak berani bersuara.
Dari dalam pintu kembali muncull barisan bocah bocah kecil tadi, karena kurang satu, pembagian laki perempuan ganjil dan kurang rajin kelihatannya.
Tapi keadaan dalam pintu masih hening lelap, Ki Hau tidak kunjung keluar.
Setelah menunggu sebentar Koan San gwat menjadi hilang sabar, teriaknya: "Unta terbang!
Kau masih hendak pamer kekuatan apa lagi?" "Koan San gwat!" terdengar Ki Hou menyahut dingin "Bersabarlah, tempat ini jangan kau banding Sip yang san ceng, segala gerak gerik disini harus mementingkan jabatan dan aturan!" "Adanya barisan tetek bengek ini menunjuk jabatanmu sudah cukup besar, masih main ulur waktu apa lagi?" Ki Houw tidak hiraukan dia lagi, tiba tiba ia berteriak lebih keras: "Siau It ping, kihitung dari satu sampai sepuluh, bila kau belum bisa menyelesaikan tugasmu, terpaksa kepalamu lah yang harus menebus dosamu!" Rasul ungu mengunjuk rasa bingung dan gelisah kepalanya celingukan kian kemari, tidak tahu dimana letak kesalahan, sementara hitungan dari dalam sudah dimulai, setiap hitungan laksana pentung besi mengetuk ulu hatinya.
Dikala hitungan sampai angka enam keringat dingin sudah membasah kuyup seluruh badannya, para Yu hun yang lainnyapun ikut menjadi tegang dan menanti perkembangan selanjutnya.
Dari dalam pintu terdengarlah hitungan angka "Sembilan" tiba tiba tergerak hati Rasul ungu, sebat sekali ia melesat terbang kesaping seorang bocah perempuan, telapak tangannya mengeprak kebatok kepalanya.
Disaat jazat perempuan itu terkapar roboh, kebetulan terdengar hitungan angka "Sepuluh" dari dalam pintu.
Koan San gwat dan Lok Siau hong beramai melongo, dari dalam pintu kelihatan bayangan Ki Houw sedang melangkah keluar, ia mengenakan pakaian kebesaran sutra bersulam indah, sikapnya jauh berlainan dengan tingkah laku waktu berada di Si yang san ceng tempo hari.
Tiba di tengah barisan itu tersenyum sembari kerkata: "Untung kau bertindak cekatan kalau tidak mayat ditanah ini mungkin kau sendiri adanya!" sambil bicara tangannya menuding mayat perempuan cilik yang hancur batok kepalanya, sikapnya wajar seperti tidak terjadi apa apa.
Koan San gwat tidak kuasa mengendalikan amarah lagi, teriaknya keras : "Ki Houw!
Kau " bukan manusia"." "Saudara terlalu mengumbar napsu, kejadian ini tidak bisa salahkan aku, aku sudah merendahkan permintaanku"." Saking marah Koan San gwat tidak kunjung mengeluarkan suara, telunjuknya masih menuding orang, sementara bibirnya bergerak gerak.
Ki Houw acuh tak acuh, ujarnya: "Sesuai jabatanku sekarang, seharusnya perlu delapan pasang barisan anak kecil, tapi satu sudah terbunuh sehingga Propesi seharusnya lengkap menjadi ganjil aku menurunkan perintah membunuh satu diantaranya supaya klob, hal ini sudah merendahkan derajat, jadi kalau diusut kalian yang harus berranggung jawab." It lun bin gwat garuk garuk lalu bersuara: "Soalnya terpaksa Lohu membunuh salah seorang barisan Mo kun, karena dia melancarkan Thian mo ci (jari iblis langit) terhadap Nona Lok"." "Memang setimpal kematiannya itu, tapi apa Bing gwat tidak terlalu mencampuri tetek bengek ini." sindir Ki Houw.
It Iun batuk batuk lagi, lalu katanya:" Mati hidup nona Lok secara langsung menyangkut kepentingan Lohu, tindakan Lohu tadipun demi urusan besar dibelakang hari sebab sampai sekarang Lohu belum memperoleh ahli waris, jikalau sampai ajal, mungkin jabatan di Sian Pang menjadi kosong." "Cara bagaimana Bing gwat yang bisa mengikat hubungan mati hidup dengan nona cilik ini?" "Kau jangan ngaco belo!" semprot Lok Siau hong gusar, "Dalam suatu pertandingan dia kukalahkan maka harus patuh dan mendengar perintahku!" Ki Houw bersuara heran, "Ada kejadian begitu" Mungkin usia Bing gwat yang sudah terlalu lanjut, lwekangnya sudah susut, tidak seperti dulu"." Kata Bing gwat sambil menahan gelora harunya "Kekalahan Lohu tiada hubungan dengan lwekang semua ini sudah ditakdirkan oleh Thian!
Mo kun tidak usah membakar amarahku, dalam Liong hwa hwe kelak, Lohu akan beri kesempatan mohon petunjuk pada Mo kun, tapi sekarang Lohu tidak akan terjebak dalam tipu daya Mo kun!" "Memang Bing gwt yang tidak malu sebagaai lombok tua yang pedas, maksud baik ku menjadi sia sia belaka, dalam Liong hwa hwe yang akan datang semestinya Pui cun akan mencalonkan dua sahabat baikku!" It tun melengos tidak meladeninya lagi.
Terpaksa Ki Houw berpaling kepada Koan San gwat serta berkata : "Sungguh aku harus minta maaf karena tidak hadir dalam perjanjian di Tay San Koan, tapi istriku sudah mewakili aku, sedikit banyak sudah menberi pertanggungan jawabku, ilmu sakti saudara memang tiada bandingan, sungguh harus dipuji hari ini saudara meluruk kemari, entah ada petunjuk apa?" "AKU TUNTUT pertanggungan jawabmu tentang lencana Unta terbangmu." "Bukankah aku suduh patuh akan permintaan mu, sebelun kami menentukan menang dan kalah aku tidak akan menggunakan Lencana Unta terbangku." "Bagaimana pula perhitungan Puluhan jiwa murid Cong lam pay?" "Itu adalah urusan istriku dengan pihak Ciong lam pay tiada sangkut pautnya dengan aku dan kau !" "Siapa bilang tiada sangkut pautnya.
Aku sudah menerima permintaan pihak Ciong lam pay untuk menuntut balas bagi anak murid mereka." "Saudara memang suka campur urusan orang lain.