Dihajar pecut seketika berubah air muka sibocah, bentaknya bengis: "Perempuan busuk, berani kau pukul aku!" Sebat sekali tiba tiba tubuhnya berkelebat seperti bayangan setan menerjang tiba, sudah tentu Lok Siau hong tidak nenduga, sehingga orang berhasil melesat tiba didepan badannya, pecut tidak sempat ditarik kembali pula, terpaksa ia gunakan kepalan tangan yang lain menggenjot kepala sebocah.
Maka terdengarlah bocah itu membentak keras: "Menggelindinglah turun!" Tiba tiba tubuhnya mengkeret kebawah menghindar jotosan Lok Siau hong berbareng ia julurkan sebuah kakinya menendang kaki kudanya, "Krak krak" beruntun dua kali suara patah kaki belakang kuda tunggangan Lok Siau hong disapu patah, karena kesakitan kuda itu berbenger panjang, Lok Siau hong terjengkang jatuh.
Tatkala itu Li lun sudah mendesak maju, sekali ulur telapak tangannya telak sekali menggaplok kepunggung sibocah, mulut pun membentak: "Iblis kecil kurang ajar berani kau mengumbar adat dihadapanku." Pukulan telapak tangannya ini teramat lihay dan ganas sekali, kontan bocah laki laki itu membuka mulut menyemburkan darah segar badannyapun mencelat terbang setombak lebih, "bluk" terbanting keras den jiwanya pun melayang.
Barisan bocah bocah kecil itu seketika gempar semua berlari mulur rada jauh.
Saat mana kebetulan Lok Siau hong baru melompat bangun, melihat bocah laki laki itu dipukul mampus oleh Ban li bu in, ia jadi gusar, sentaknya: "Kau tua bangka ini, kenapa kau melukai orang?" "Nona cilik," ujar It lun menghela napas, "Karena selanjutnya Lohu terkekang olehmu, terpaksa harus selalu melindungi keselamatan, kalau tadi Lohu tidak cepat turun tangan, mungkin jiwamu sudah melayang karena keganasan iblis kecil itu?" Belum lagi Lok Siau hong sempat bicara, dari dalam pintu muncul pula sebaris orang yang keluar adalah laki dan perempuan yang cukup dewasa, mereka mengunjuk rasa gusar.
Jumlah barisan itu hanya sembilan orang laki perempuan bercampur aduk, mereka punya pertanda khusus yaitu selebar muka mereka diselubungi hawa kebengisan, jelas bahwa mereka bukan orang baik.
Terutama laki laki yang menjadi pemimpin mereka paling jelek dan culas, jidatnya gundul tumbuh uci uci sebesar kepel tangan, dengan gerungan gusar ia membentak it lun dan Ban li: "Kiranya kalian dua mestika yang di keluarkan dari daftar nama, sungguh besar nyali, berani membuat keributan di Phiat hu, agaknya sudah bosan hidup ya!" It lun angkat kepala menegadah kelangit, sedikitpun ia tidak hiraukan ocehan orang.
Ban li pun hanya mendengus hidung tanpa bersuara, mukanya mengunjuk senyum ejek menghina.
Laki laki itu berteriak pula: "Kenapa kalian tidak bicara?" It lun lantas berdaling kepada Koan San gwat, serunya: "Bocah, kaulah yang ingin meluruk kemari, kini saatnya kau bicara?" Belum lagi Koan San gwat memberi reaksinya, laki laki itu sudah berteriak lagi: "Aku sedang bertanya kepada kau berdua!" Tiba tiba It lun mengunjuk rasa gusar, jengeknya "Meski nama kami sudah tercoret dari daftar, kami tidak sudi bicara dengan hamba iblis yang rendah!" "Keparat" maki laki laki itu berjingkrak.
"Kau pongah apa" Apakak kita tidak termasuk tokoh tokoh dalam daftar nama itu?" It lun tersenyum ujarnya : "Enak benar kedengarannya sayang kalian sepuluh orang baru memperoleh satu kedudukan, bilamana hendak angkat bicara dengan kami, maka pentolan kalian yang harus bicara dengan kami." Semakin berkobar amarah laki laki itu, teriaknya : "Lotoa sedang ada urusan didalam!" "Kalau begitu kami tidak sudi melayani kau !" jengek It lun sambil menjebirkan bibir.
Baru saja laki laki itu buka mulut hendak berkaok kaok lagi, Ban li segera menyela sambil menarik muka, katanya " Diantara Sip toa cu hun (sepuluh sukma gentayangan), aku hanya kenal rasul baju ungu, jangan kau kira karena kami sudah tercoret namanya lantas berani main tingkah terhadap kami, kalau sampai terjadi keributan, kalian sendiri yang menanggung akibatnya !" Ancaman ini membawa reaksi diluar dugaan, meski laki laki itu memperhatikan rasa gusar yang meluap luap tapi tidak berani bersahut lagi, demikian juga lainnya, cuma mata mereka melotot semakin besar dan berapi api.
Ban li malah tertawa dan berkata kepada Koan san gwat : "Bocah!
Nama asli keparat itu adalah Tok kak se (badak tanduk tunggal), kau tahu sebabnya?" Koan San gwat tidak bersuara, malah Lok Siau hong balas bertanya : "Kenapa?" "Karena jidatnya tumbuh sebutir uci uci besar, keras dan runcing lagi, persis dengan tanduk badak itu, maka ia memperoleh julukan yang membanggakan itu." "Tapi kenapa sekarang tinggal tembong nya saja?" tanya Lok Siou hong, sambil melirik kemuka orang.
Sambil tersenyum geli agaknya Ban li memang sedang menunggu pertanyaan ini lintas menjawab : "Itulah kisah yang sangat lucu, dalam perjamuan besar besaran, diantara hadirin ada sepuluh orang mengadakan lomba membunuh kerbau, akibatnya tanduk tunggal diatas jidatnya itu dicabut sampai copot dari tempatnya.
Tahukah kau siapakah pemberani yang mencopot tanduK itu?" "Tentu kau adanya!" Lok Siau hong sambil membelalakan mata.
Ban li terbahak bahak, serunya: "Nona cilik, kau pintar benar, sekali tebak kena dengan jitu?" Saking gusar laki laki itu pucat pias, bekas tembong diatas mukanya itu malah berwarna merah membara, sekian lama ia menahan sabar kini tidak tahan lagi, dengan bengis ia berteriak "Ling Sam kui!
kau terlalu menghina orang!" Ban li juga balas berteriak dengan beringas: "Berani kau menyebut nama asli Lohu, kau tahu, apa dosamu?" Bermula laki laki itu tertegun, akhirnya ia nekad, serunya: "Kau orang yang sudah di usir, memang nama aslimu kiranya tidak menjadi soal?" Ban li terkekeh kekeh dingin jengeknya "Bagus!
Sekian lama Lohu maninggalkan Perserikatan ini, kiranya aturan boleh dirubah sesuka hati, untunglah Thian ki Piat hu justru tempat perundang undang, nanti Lohu akan cari orang untuk menanyakan hal ini secara jelas!" Berubah hebat air muka laki laki itu, dengan kalap ia melejit sambil ayun kepalan menonjok muka Ban li bu in, Ban li bu in diam saja ditempatnya, tidak berkelit dan tidak balas menyerang, mandah dirinya dihantam.
Begitu kepalan lawan mengenai dadanya terdengarlah suara keras, kontan laki laki itu tergentar mundur beberapa tindak malah, terdian temannya yang lainnya pun segera siap siaga.
"Wah, kalian handak berontak ya!" It lun segera membentak maju.
Bentaknya ini laksana geledak mengguntur semua orang melengak dan kuncup nyalinya, semua menghentikan langkah.
Laki laki pertengahan umur itu berteriak : "Para kerabat, kedua tua bangka ini berani terobos masuk kesini membawa orang luar pula, dia sudah melanggar pantangan kita, mari kita menghajarnya, pasti tidak melanggar aturan." Mendengar anjuran ini teman temannya bergerak lagi Sekonyong konyong dari dalam pintu berkelebat keluar sesosok bayangan, yang muncul ini berpakaian sastrawan berusia pertengahan umur juga, jubahnya ungu, berhidung betet bermata bundar, wajah nya mengunjuk kekerasan hatinya.
Karena munculnya sastrawan ini, orang yang mulai bergerak itu menghentikan aksi nya, laki laki pertengahan umur, cepat maju memapak seraya berkata : "Toako, kebetulan kau tiba, dua tua bangka ini datang membikin onar dia membunuh salah seorang Tong cu penjaga pintu,?" Muka Ban li mendengus, serunya : "Rasul ungu, kau masih kenal kami?" Sastrawan itu unjuk senyum lebar, katanya : "Kalian adalah pahlawan dalam serikat kita, meski karena sedikit pertikaian sampai rercoret namanya, tapi para kerabat masih segan terhadap kalian, kedudukan kalian masih kosong dan menunggu untuk dijabat kembali, kita semua percaya adakalanya kalian akan memulihkan kedudakan dan jabatan ini?" Ban li mengunjuk tawa lebar, katanya : "Kalau begitu, agaknya kami dua dua tua bangka belum menemui jalan buntu sehingga tiada tempat untuk menempatkan diri kami!" Rasul ungu tersenyum, katanya: "Anggapan yang tidak benar, siapapun bila sudah tercantum dalam daftar Hong sio pang selama hidup menjadi tokoh diagungkan didalam Liong hwa hwe, kalian sudah memendam diri dan memperdalam ilmu sekian tahun, kuduga tentu sudah punya persiapan untuk kembali bukan?" "Ah, kau terlalu mengumpat saja" ujar Ban li, "Walau kami ada sedikit kemajuan, kami belum kuat menyambut Lui Sam ki itu!" "Kalian sangat merendah diri, untunglah pertemuan besar sudah menjelang percaya kalian akan memberi pertunjukan yang mengejutkan." demikian umpat si rasul ungu.
Mendadak it tun menyela, jengeknya: "Tapi Tok kak se berani menyebut nama asliku kalau begitu sip toa yu bun kalian lebih sukses dari Sian pang kami, sejajar dengan para Hwe cu.
Kurasa kalian agak tergess gesa, bagaimanapun kalian baru boleh mengumumkan berita girang ini pada pertemuan yang akan datang!" Rasul ungu kelihatan terkejut, tanyanya "Lohu, apa benar demikian?" Laki laki pertengahan umur gelagapan, sahutnya "Mereka menghina orang diluar batas sengaja mengorek boroku buat olok olok ?" Rasul ungu menarik muka, desisnya: "Lo kau memang ceroboh!
Dulu Hu lo maksudnya Ban li membunuh sapi mencopot tanduk tidak lah permainan yang diijinkan oleh Hwe cu, meski hatimu tidak senang, mana boleh kau salahkan Hun lo, karena itulah permohonan langsung?" Pucat pias wajah laki laki pertengahan.
Sambil unjuk seri tawa segera rasul ungu menjura kepada Ban li, katanya: "Sudilah kiranya Hun lo memberi ampun kali ini?" Ban li tertawa dingin ujarnya: "Waktu nama kita dicoret, siapa yang memberi maaf kepada kami" Apalagi disini adalah Thian ki hiat hu, konon Mo kun sudah ajal." "Benar!
Mo kun sudah berangkat ke alam baka, kini putranya yang melanjutkan jabatan beliau." Demikian rasul menjelaskan Ban li menghela napas, ujarnya: "Bila Liong hwa hwe dibuka lagi, mungkin banyak diganggu oleh muka muka baru !" "Cuma tujuh belas orang sudah ajal, mereka sudah mencalonkan penggantinya kebanyakan adalah anak murid perguruan mereka, yang jelas kepandaian dan kemampuan mereka lebih asor, maka dapatlah diduga pertemuan mendatang akan jauh lebih ramai." Tanya Bangli : "Bagaimana calon Mo kun yang baru ini bila dibandingkan Ki loji" bisakah dia melompat keurutan Sian pang dan ikut merebut jabatan Hwe cu?" Rasul ungu menjelaskan dengan bangga: "Mo kun yang baru ini lebih gagah dalam segala bidang kiranya tidak lebih asor dari Mo kun yang sudah ajal, untuk jabatan Su tay hwe cu pasti beliau bisa memperolehnya." "Maka nya kalian berani mengagulkan diri saat mana kedudukan jadi sederajar, tak heran To kak se bersikap pongah memanggil nama asli Lohu, kiranya kalian memang sudah mempersiapkan diri!" Berubah air muka Rasul ungu, katanya : "Apakah Hun lo benar benar tidak sudi memberi ampun?" "Lohu tidak kuasa untuk memberi keputusan, silahkan tanyakan langsung kepada Mo kun kalian" -oo0dw0oo- Jilid 10 Rasul ungu menghela napas, apa boleh buat ia berpaling sambil angkat pundak, katanya "Losu !
silahkan kau mengambil keputusan sendiri!" Pucat muka laki laki pertengahan umur ratapnya:"Toako, hanya karena urusan sekecil ini, tega kau memaksa adikmu mati?" Rasul ungu menghela napas, katanya: "Kakakmu yang bodoh ini sudah tiada tenaga membelamu lagi, kau yang mencari penyakit sendiri".." "Kenapa kau tidak tanya Mo kun," teriak laki bertenghan umur: "Mungkin dia?" "Tiada guna," tukas Rasul ungu, "Belum lama Mo kun menjabat kedudukan ini, saat nya dia menegakan kewibawaan, mana boleh karena kesalahanmu ia melanggar undang undang dan merubah haluan, kalau kejadian diketahui olehnya, dosamu lebih berat, lebih baik kau mencari putusan yang lebih ringan saja !" Laki laki pertengahan umur membanting kaki, teriaknya "Tidak jadi soal aku mati, tapi putusan hak ini mengutamakan keadilan.
Kedua tua bangka ini meluruk kemari sambil membawa orang luar, bukankah dia melanggar hukum yang lebih besar, aku akan menunggu setelah melihat mereka dihukum baru aku mati dengan meram." Rasul ungu berpaling kearah It lun dan Ban li, pandangannya mengunjuk tanda tanya.
Kata Ban li tersenyum "Rasul sedang menunggu apa?" "Menunggu penjelasan kalian!" "Rasul!