Hari ini adalah pertempuran mati atau hidup jangan berhenti bila satu pihak belum roboh binasa." "Hari ini aku berjanji dan hanya bertanding melawan Unta terbang yang tulen!" "Akulah Unta terbang adanya!" "Tapi yang mengikat perjanjian bukan aku, dia bernama Ki Houw seorang laki laki." "Dia adalah suamiku, kami menggunakan julukan yang sama, kau paham!" "Suamimu" Kapan kalian menikah?" "Hal ini tidak ada sangkut paut dengan kau, yang benar aku tidak menipukau." "Tidak, aku harus tahu duduk perkaranya.
Pertikaian dengan Unta terbang bukan meliputi perebutan nama julukan saja, masih banyak urusan yang lain..?" "Baiklah, masih ada urusan apa yang kau tanyakan?" "Pertama tama aku ingin tahu, siapakah yang membegal dan membunuh orang di Ling ciu?" "Aku!
Karena Ciong lam pay berlaku kurangajar terhadap ayahku," "Yang menggunakan perintah Unta terbang dan sengaja mencari aku untuk beritanding juga kau?" "Bukan!
Suamiku, karena dia punya alasan khusus untuk berbuat demikian!" "Alasan apa?" "Tidak tahu!
Dia tidak memberitahu kepadaku." "Lebih baik kau undang dia kemari, masih ada sebuah urusan besar diantara kita harus diselesaikan, urusan Unta sakti dan Unta terbang, hal ini kau tidak akan bisa mewakili dia dan lagi akupun tidak sudi main tangan dengan kaum hawa seperti kau." "Orang seh Koan, kalau kau tidak berani lekas berlutut minta ampun saja!" "Keparat, matipun aku tidak takut, masa gentar menghadapi kau, cuma pertikaian antara Unta sakti melawan Unta terbang teramat besar sangkut pautnya, aku beranggapan kau tidak setimpal menggunakan nama julukan itu untuk menantang aku." Rona wajah Khong Ling ling menjadi pucat pias, kentara bahwa amarahnya sudah menghantui sanubarinya namun sikap Koan San gwat yang memandang hina dan dingin terhadap dirinya membuat ia tidak kuasa melampiaskan amarahnya, sejenak ia berdiam diri sambil bernapas ngos ngosan, lalu kata nya dengan suara berat.
"Kalau begitu aku menuntut balas bagi kematian ayahku, alasan ini cukup setimpal bukan!" Sejenak Koan San gwat ragu ragu, sahutnya : "Untuk ini aku orang she Koan serba sulit menampik!" Khong Ling ling keprak untanya berlari puluhan langkah berpaling dan berteriak : "Pegang kencang patung masmu, kita boleh mulai"!" Koan San gwat tidak hiraukan seman orang, ia berbalik kepada Lu bu wi dan berkata: "Ciangbunjin harap pinjam pedang sebentar !" Lekas Lu bu wi melolos pedang dan di serahkan kepadanya, sambil menenteng pedang Koan San gwat melompat naik kepung gung untanya, patung emas berkaki atu yang berada di punggung untanya ia lemparkan kc atas tanah.
Terdengar Khoni Ltng Iing berteriak di kejauhan: "Koan San gwat, kenapa kau tidak pakai patung emas saktimu?" Koan San gwat tertawa lantang serunya: "Kim sin (patung emas sakti) adalah perlambang Bing tho ling cu, hanya menghadapi Hwi tho ling cu yang tulen baru akan kugunakan!
Aku punya alasan menghadapi kau dengan Pedang ini adalah milik Ciong lam pay dengan pedang ini aku hendak menuntut hutang darah dari puluhan jiwa para murid Ciong lam Pay yang kau bunuh," Kong Ling ling berjingkrak gusar seraya berteriak ia keprak untanya maju menerjang begitu dekat pedang terangkat terus membacok.
Koan San gwat bercokol tenang dan angker diatas puuggung unta pedangnya terangkat mengkis "tring" lelatu api berpercik suaranya berkumandaog dan berguma diudara.
Koan San gwat masih tidak bergeming sebaliknya Khong Ling ling tergentak mundur dua tiga tindak, tapi bukan karena tenga pergelangan tangannya yang kalah kuat adalah unta hitamnya yang tidak kuasa menahan dari tenaga benturan yang dahsyat dari kekuatan raksasa yang saling hantam itu, Koan San gwat terbahak bahak serunya.
"Waktu di Liang cu kau menantang, orang bertanding, unta lawan unta, kini tunggangan siapa lebih unggul sudah dapat dipastikan, lebih baik kau lekas beri tahu kepada suamimu, kalau benar benar ingin mengadu kekuatan dengan aku, harap dia mencari tunggangan lain dan aku, harap dia mencari tunggangan lain yang lebih hebat!" Saking gusar mendadak Khong Ling Ling mengayun pedangnya kebawah dan "cres" kepala Unta hitam tunggaaga nya itu mencelat terbang tertabas kutung dari badannya, sebelum badannya roboh Khong Ling Ling sudah melompat turun di tanah.
"Apa apaan perbuatanmu ini?" seru Koan San gwat tertegun.
"Binatang tidak berguna sudah tentu harus di mampuskan saja!" "Aku hanya omong sambil lalu, sebetulnya unta hitam, ini binatang pilihan juga, kau begitu kejam membunuhnya." "Barangku sendiri aku punya hak untuk memutuskannya, tak perlu kau banyak, urusan turunlah kita lajutkan diatas tanah!" Koan San gwat melompat turun seraya berteriak gusar: "Kau tiada hak berbuat seudelmu sendiri terhadap suatu jiwa!" Kong Ling ling menjadi sengit teriaknya pula : "Orang she Koan, jangan takabur, unta putihmu belum tentu seekor binatang tiada tandingan dikolong langit ini, yang kubunuh ini tiada lain barang apkiran belaka, nanti kalau tunggangan suamiku datang, tanggung dia tidak kalah oleh tunggangan milikmu." "Kenapa suamimu hari ini tidak datang?" "Bila kau dapat mengalahkan dia, sudah tentu dia akan muncul, sekarang kau tidak perlu banyak tanya." Seiring dengan ucapannya pedangnya terayun menyerang kepada Koan San gwat, terpaksa Koan San gwat angkat pedang menangkis dan melayani rangsakan lawan.
Karena berada ditanah datar, gerak gerik tidak terhalang, maka tidak perlu setiap gebrak harus mencari peluang mengendalikan tunggangan maka serang menyerang kedua belah pihak berlangsung teramat cepat, dalam sekejap saja puluhan jurus sudah berselang.
Setiap jurus masing masing mengerahkan tenaga dalam yang kuat dan keras setiap dua senjata saling bentur pasti mengiluarkan suara keras dan kercikan letusan api, semakin lama semakin seru dan hebat, diam diam Koan San gwat mencelos hatinya.
Bagi dia yang tenaga raksasa pembawaan sejak kecil, meski senjata yang digunakan hanya sebatang pedang, tapi setiap gerak serangan nya mengandung tenaga ratusan kati beratnya, Khong Ling ling mampu bertahan setanding melawan dirinya, apalagi seorang perempuan bisa memiliki kekuatan yang sedemikian dahsyatnya sungguhnya patut dipuji.
Dan lagi sejurus ilmu pedang yang dia lancarkan memang sangat aneh dan menakjubkan, gerak geriknya lucu dan sulit diraba.
Seperti diketahui Khong Ling ling memperoleh didikan sejak kecil di Kun lun san di bawah asuhan Soat lo Thay Thay, tapi kepandaian silat keluarga Soat itu sudah diturunkan ke pada Thio Ceng Ceng dia sendiri menonton dari pinggir, sedikit banyak ia kenal ilmu silat ajaran keluarga Soat itu.
Tapi ilmu pedang yang dimainkan Khong Liag ling sekarang selamanya belum pernah dilihatnya, setiap jurus serangannya, sulit diraba dan menyelonong tiba dari jurusan yang tidak mungkin diraba sebelumnya, dan lagi serangan itu adalah sedemikian ganas dan keji sekali kena jiwa pasti melayang, maka tidaklah heran beberapa murid Siong lam pay itu hanya beberapa gebrak saja sudah dibunuh olehnya dengan cara yang begitu mudah, jikalau dirinya tidak dibekali ajaran Tokko Bing yang digjaya dan murni itu, sejak tadi mungkin iapun sudah melayang jiwanya oleh keculasan lawannya.
Pertempuran sudah berjalan tiga puluh jurus, tapi Koan San gwat cuma balas menyerang dua jurus, setiap jurus serangan harus ia layani atau tangkis dengan memakai tenaga dalam yang cukup besar pula, sehingga selalu pihak lawan dapat menempatkan diri dalam posisi yang menguntungkan, meraba dingin serangan yang membadai, terpaksa ia hanya membela diri saja.
Rangsakan pedang Khong Ling ling justru semakn gencar dan telengas, sikapnyapun semakin beringas, terdengar ia mengejek dingin: "Koan San gwat kudengar betapa tinggi namamu di kalangan Kangouw, kiranya cuma nama kosong belaka, Bing tho ling cu menggetarkan dunia, agaknya tidak lebih cuma gentong nasi belaka." Dengan tenang mantap Koan San gwat melayani rangsangan lawan, sedikitpun tidak terpengaruh oleh lawan, namun Khong Ling ling mangkin mandapat angin tedengar ia menccemooh lagi: "Dilihat dari permainan pedang yang menyerupai cakar ayam ini, dapatlah dinilaibetapa sebenarnya Tokko Bing, hanya tokoh dungu tidak becus belaka, kalau aku dilahirkan beberapa tahun lebih pagi tanggung didunia ini tidak akan ada Bing tho sebutan yang menyebalkan ini?" Pedang Koan San gwat diputar kencang melindungi seluruh badannya, tak tahan ia balas menjengek dingin.
"Mungkin kau mendapatkan tambahan ilmu dari Ki Houw, berani kau membual mulutmu yang busuk.
Kenapa kau tidak gunakan otakmu, dulu pusaka Lo hun kok dari keluarga Kiong besar kalian yaitu Bi seng cu kenapa bisa tearampas dan berada ditangan guruku selama 20 tahun lamanya demikian ayahmu mampus di tangan gentong nasi kalau dibandingkan justru kau ini lebih celaka dari aku yang kau anggap gentong nasi ini." Dimulut Khong Ling ling mencemoh dan menghina tapi dalam hatipun terkejut dan was was sebab meski setiap permainann pedang Koan San gwat selalu dapat dipatahkan, tapi gerak geriknya sangat mantap dan dapat maju mundur sesuka hatinya tanpa terpengaruh sedikitpun berulang kali ia sudah memancing dengan berbagai tipu yang cukup meyakinkan tapi pertahanan pedang lawan memang tidak tertembuskan, maka sengaja mencemooh dan menghina, tujuannya membakar kemarahan orang sehingga ia berkesempatan menjebol pertahanan orang yang kokoh.
Tak nyana latihan Koan San gwat memang sudah sangat matang, ejekan balasannya sangat tajam ini menusuk perasaan, bukan saja tidak terpancing malah diri sendiri kepermainkan karuan ia naik pitam.
Sambil melancarkan rangsakan membadai mulutnya berteriak beringas: "Koan San gwat kau memang harus mampus!" Pedang nya berputar memetakan puluhan kuntum kembang cahaya pedang yang bertaburan keatas dan menukik kebawah, sulit di tentukan yang mana yang kosong dan yang mana yang berisi, sebelah atas lebih dulu atau sebelah bawah lebih cepat menggasak tiba" Menunjak ketiga lobang didada Koan San gwat tawa Khong Ling ling semakin menjadi jadi serunya "Boleh kau tambahi sebuah huruf Bing tho ling menatap lobang didepan dada orang itu.
Karena itulah yang harua dibanggakan oleh Bing tho ling cu yang katanya pernah menundukan dunia." "Bertanding silat sudah pantas kalau ada yang menang dan kalah, tidak perlu mengudal lidahmu dengan sikap tengikmu itu." Jelas bahwa dirinya sudah menang dengan pukulan tiga lobang kecil di depan dada orang tapi serta melihat sikap Koan San gwat masih begitu tenang dan seperti acuh tak acuh mau tak mau Khong Ling ling mejengak marah akhinya tidak tertahan ia berjingkrak gusar, serunya: "Kalau tau begitu, lebih baik ku tusuk dadamu saja!" "Salahmu sendiri!