Tapi dari pagi ia menunggu sempai magrib bayangan Unta terbang tak kunjung tiba.
"Apakah dia ingkar janji?" Tidak jauh di sebelah sana Lok Siem hong dan Lam Sam thay sedang duduk di atas tunggangannya, menunggu dengan tenang.
Biasanya Lok Siau hong paling lincah, namun kini ia berusaha pendiam, dalam waktu yang pendek ini, banyak pengalaman dan perubahan yang dialami.
Hari ketiga setelah kedatangan Cu hay ih siu, ibu, dan pamannya sama menghilang, ia tahu bahwa mereka menuju, ke suatu tempat untuk melaporkan diri, namun semua kejadian ini justru meninggalkan teka teki baginya.
Kini dalam dunia ini ia tidak punya sanak kadang lagi, terpaksa ia ikut Koan San gwat.
Sang surya sudah tenggelam, hari sudah mulai gelap, Koan San gwat jadi tidak sabar lagi, sambil keprak kudanya menghampiri kearah Lok Siauw hong berdua mulutnya mengomel : "Mungkin dia tidak datang!" Tiba tiba dari kejauhan didengarnya derap langkah kuda yang ramai mendatangi, seketika terbangkit semangat Koan San gwat gumamnya: "Sudah datang!
Kenapa terlambat selama ini!" Setelah dekat tampak dua kuda berlari mendatangi, kedua penunggangnya jelas adalah dua laki laki, perasaan Koan San gwat kembali tenggelam, ia tahu bahwa yang mendatangi terang bukan unta terbang, alias Ki thian mo kun Ki Houw.
Setelah tiba di hadapan lebih jelas lagi ke dua penunggang kuda itu ternyata adalah Sun Cit dari Siang ing Piaukiok, seorang yang lain adalah Ciong lam Ciangbun Lu bu wi.
Kedatangan Lu bu wi ini jelas hendak menuntut balas bagi kematian kedua muridnya yaitu Loh he siang ing, tapi kenapa datang sendiri tanpa membawa pengiring.
Tapi bergegas ia bersoja: "Cianbujin apa khabar, apakah anda hendak mencari unta terbang" Dia ingkar janji!" Diluar dugaan Lu bu wi malah menjawab "Tidak!
Sebentar lagi Unta terbang akan tiba!" Koan San gwat melengak, katanya: "Dari mana Ciangbunjin tahu?" "Waktu datang sebenarnya Losiu membawa enam murid yang paling kuat ditengah jalan tadi kena dibunuh orang semuanya menurut laporan Sun Cit bahwa perempuan adalah unta terbang!" "Apa!
unta terbang seorang perempuan?" Sambil melelehkana air mata Lu bu wi berkata menarik napas "Benar!
perempuan memiliki kepandaian silat yang aneh, dalam empat lima juru saja enam muridku yang terkuat itu dirobohkan mandi darah.
Kalau dia tidak menaruh belas kasihan, Losiu juga tidak luput dari kematian!" Koan San gwat tertunduk, ia menerawang unta terbang mana yang tulen.
Terdengarlah Lu Bu wi melanjutkan: "Setelah membunuh keenam muridku seru Unta terbang ada titip kabar supaya disampaikan kepada Lingcu katanya karena Unta sakti dan patung emas Ling cu terlambat tiba, maka diapun baru akan tiba setelah bulan bercokol dicakrawala!" "Aku jadi bingung," kata Koan San gwat sebenarnya yang mana yang tulen.
"Maksud Lingcu Unta terbang ada yang tulen dan ada yang palsu?" "Ya, beberapa waktu yang lalu aku pernah berhadapan langsung dengan Unta terbang, dia adalah laki laki tulen bernama Ki Houw?".." "Salah!" ujar Lu Bu wi menggeleng kepala, "Unta terbang yang Losiu hadapi jelas adalah seorang perempuan!" Koan San gwat menerawang sebentar lalu katanya tegas: "Peduli apa laki atau perempuau yang jelas sepak terjang unta terbang terlalu culas dan kejam, nanti aku harus menumpas nya supaya tidak meninggalkan bibit bencana pada masyarakat ramai!" Ditengah malam nan sunyj jauh dibawah sana sayup sayup terdengar suara kelentingan unta yang nyaring nan jelas.
Seketika bergerak Koan San gwat, serta merta seperti akan dirinya ia berteriak sekeras keras, "Sahabatku!
Aku disini!" Tak lama kemudian seekor unta tingi besar berbulu putih berlari cepat bagai terbang, menghampiri kearah dirinya, kelenting dibawah lehernya berbunyi semakin nyaring.
Lekas Koan San gwat melompat terbang maju memapak dan memeluk lehernya dengan perasaan haru ia berteriak : "Sahabatku, akhirnya kita bertemu lagi, sungguh aku sangat kangen kepadamu!" Unta putih itu juga mengusupkan kepalanya dalam pelukan Koan San gwat, lidahnya menjilat punggung tangannya, manusia dan binatang saling berpelukan sedemikian akrab dan mesra.
Dibawah cahaya rembulan yang redup dari balik semak semak pohon muncul pula sebuah bayangan hitam yang tinggi besar.
Itulah seekor Unta hitam mulus di punggung nya bercokol seorang gadis yang memakai baju serba hitam pula, terdengarlah ia mejengek dingin, Koan San gwat bertanding kita boleh dimulai sekarang.
Waktu Koan San gwat angkat kepala dalam keadaan yang masih diliputi keharuan seketika ia terperanjat.
Raut wajah sigadis yang dingin dan kaku ini lapat lapat masih berkesan dalam sanubarinya sejenak ia berpikir, baru ingat gadis ini ternyata bukan lain adalah Khong Ling ling adanya.
Kontan menjerit kaget : "Bagaimana bisa kau!" Khong Ling ling tertawa tawar, sahutnya.
"Kenapa tidak boleh aku, kau bisa jadi Bing tho ling cu, akupun boleh saja menjadi Hwi tho ling cu." "Aku pernah ketemu dengan orang yang bernama Ki Hauw, diapun mengatakan dirinya sebagai Hwi tho ling cu?" "Itupun tidak salah, Hwi tho ling cu tidak terbatas cuma satu orang saja, boleh dia boleh juga aku.
Aku adalah dia, dia adalah aku.." Sudah tentu Koan San gwat menjadi bingung dan tak mengerti, sekian lama ia menjublek mengawasi gadis dihadapannya ini, bukan saja ia tidak mengerti maksud kata katanya, iapun tidak percaya bahwa dia adalah Hwi tho ling cu itu.
Melihat orang berdiri rnenjublek, Khong Ling ling jadi berang teriaknya "Koan San gwat jangan kau pura pura pikun, masa kau tidak kenal aku?" "Sudah tentu aku kenal kau, waktu di Kun lun san?" "Jangan kau singgung tempat itu?" tukas Khong Ling ling dengan sikap kasar dan uring uringan.
"Sudah tentu kau tidak berani menyebut pula nama tempat itu karena disana kau melakukan perbuatan durhaka, dan berusaha membunuh guru sendiri?" "Kejadian itu bukan apa apa bagiku nenek tua renta tidak setimpal menjadi guruku.
Meskipun selama sepuluh tahun dia mengajar ilmu silat kepadaku tapi diapun telah nenyia nyiakan waktuku 10 tahun permainan cakar ayamnya itu dalam pandanganku sekarang, tidak berharga sepeserpun?" "Kentut, jangan mengudal mulutmu yang busuk.
Nada bicaramu ini masa terhitung seorang manusia?" "Orang she koan, kaupun jangan memaki orang.
Kau tahu kenapa aku tidak suka kau menyinggung urusan lama di Kun lun san itu.
Aku cuma benci pada diriku kenapa aku menyiakan kesempatan untuk membunuh musuh besar ayahku.
Waktu itu bila aku tahu kau adalah pembunuh ayahku, tentu?" "Khong Ling Iing!
kedengarannya mulutmu manis, sedangkan terhadap guru yang berbudi sedalam lautan kau berani membangkang, aku tidak percaya kau begitu simpatik akan kematian ayahmu." "Orang she Koan!" desis Khong Ling ling dengan marah yang meluap luap, serunya sambil melolos pedang : "Jangan cerewet lagi, patung emasmu ada diatas untamu, ayo keluar kan dan kita tentukan siapa menang siapa kalah.