Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 33

Memuat...

maka mereka pasang pigura itu di atas tempat tidur." "Kejadian ini tentu sudah lama berselang." "Benar!

sudah tiga puluh tahun yang lalu, kala itu kami masih muda belia dan gagah bersemangat, entah bila Lionghoahwe dibuka kembali, apakah masih seramah dulu.

Mungkin beberapa orang diantaranya sudah tidak bisa hadir dalam pembukaan besar itu.

Begitu pula ayah Siau-hong sudah?"?" Bergerak hati Koan San-gwat, meski mulut tidak bersuara, namun dalam hati membatin "Liong-hoa-hwe" Hong Sinpang?"?"." Melihat bibirnya bergerak, Lok Heng-kun seperti tersadar, cepat ia berseru : "Anak jadah!

Jangan kau menyinggung urusan lama pula dengan aku!" " lalu ia mendahului masuk ke dalam rumah.

Koan San-gwat, Lau Sam-thay dan Lok Siauhong mengintil di belakangnya.

Tak lama kemudian mereka sudah di ruangan tamu.

Begitu menyingkap kerai, tampak Lok Siang-kun dan Liu Juyang sudah duduk di sana, dengan kikuk Lok Siau-hong lalu menceritakan pengalamannya semalam.

Tanpa sungkansungkan Koan San-gwat mencari tempat duduk di pinggir dengan perasaan kurang tentram, Lau Sam-thay duduk di sebelahnya.

Agaknya cerita Lok Heng-kun sangat menarik perhatian ketiga orang itu, setelah Lok Siau-hong selesai, baru Lok Heng-kun bertanya: "Dik !

cara bagaimana pula kalian mengetahui jejak tua bangka itu?" Liu Ju-yang tersenyum, ia mewakili menjawab."Kemaren hari ulang tahunku, setelah mengantar tamu pulang kutemukan dalam kamar sebuah kado yang lain dari pada yang lain." "Kado apakah itu?" tanya Lok Siau-hong.

"Sebuah lukisan persembahan panjang umur!" jawab Liu Ju-yang tertawa.

"Wah, tentu gambar genduk burikan mempersembahkan buah tho!" habis berkata baru sadar sudah kelepasan omong, cepat-cepat ialeletkan lidah sambil bermuka setan.

"Bukan genduk burikan tapi adalah kakek burik persembahkan buah tho!" Lok Heng-kun tertarik, tanyanya: "Apa-apaan maksudnya itu?" "Mungkin dia masih dendam pada peristiwa lama dulu, orang yang digambar dalam lukisan adalah muka burukku yang lalu, sepasang tangan memapah sebuah gundukan kotoran kerbau di atasnya tertancap sebuah bunga mekar!" Lok Heng-kan tertawa geli, Lok Siau-hong belum mengerti, tanyanya: "Apakah maksud gambar itu ?" Baru saja Liu Ju-yang mau membuka mulut, Lok Siang-kun sudah menyentak dari samping : "Berani Kau katakan!" Liu Ju-yang mengkeret, katanya berkelakar :"Perintah junjungan hamba tak berani membangkang.

Keponakanku yang baik, terpaksa pamanmu tidak bisa memberi penjelesan kepadamu." Dengan uring-uringan Lok Siang-kun memaki: "Selama tua bangka itu belum mampus, makan tidur kita tidak akan tentram, besok bila ketemu dia aku harus membuat perhitungan padanya, sudah sekian lama kita menyembunyikan diri, mungkin dia anggap jeri kepadanya." "Jangan terlalu keburu napsu adikku, tua bangka itu memang sulit dilayani, mungkin sekarang juga sulit diatasi?"" "Takut apa?" jengek Lok siang-kun marah-marah, "Masa beberapa tahun ini kita hidup nganggur belaka, besok bila tidak mampu mengganyangnya paling tidak membetot urat atau mematahkan beberapa tulangnya." "Tua bangka itu sih tidak perlu ditakuti yang dikuatirkan orang kepercayaannya itu ikut muncul.

Cit-tok-jiu-hoat orang itu lihay dan sulit dijaga-jaga?" Mendengar Cit-tok-jiu-hoat tergerak hati Koan San-gwat, Lau-Sam-thay segera menimbrung teriaknya : "Cit-tok-jiuhoat!

Bukankah itu kepandaian yang dilancarkan oleh Hwi-lotho (Unta terbang)?" Liu Ju-yang; bertiga tersentak kaget, tanyanya: "Dari mana kau tahu Cit-tok-jiu-hoat, siapa pula itu Hwi-lo-tho ?" Segera Koan San-gwat mengisahkan pengalamannya, setelah itu ia menambahkan Cit-tok-jiu-hoat itu Peng Kiok-jin sendiri bisa memunahkannya, agaknya bukan merupakan kepandaian yang terlalu menakutkan!" Namun dengan nada berat Lok Heng-kun menjelaskan: "Cit-tok-jiu-hoat mempunyai ratusan perubahan yang sulit diraba.

Hwi-thian-ya-ce hanya mempu membebaskan salah satu tutukan yang paling gampang, tapi kalau toh ilmu macam ini sudah secara terang-terangan muncul di kalangan kangouw, malah orang itu menggunakan lencana unta terbang kurasa urusan ini tidak gampang diselesaikan." "Lok-cianpwe," Koan San-gwat bicara lagi, "Dari Cit-tok-jiuhoat kau menyinggung soal unta terbang, kini ada hubungan apa pula dengan peristiwa Ouw-hay-ih-siu dengan pertikaian kalian?" Lok Heng-kun menggeleng katanya: "Urusan ini tiada sangkut paut dengan kau." "Tidak!

Justru wanpwe merasa berhubungan erat, unta terbang secara terang-terangan hendak mengungguli unta saktiku itu.

Menurut dugaan wanpwe urusan jelas punya hubungan erat dengan guruku !" "Berdasar apa kau menganalisa sedemikian rupa?" tanya Lok Heng-kun.

"Soalnya setelah Unta terbang muncul dia menantang Wanpwe, untuk mengadakan pertemuan di Tay-san-koan.

Tatkala itu, Peng-cianpwemasih bersama Wanpwe, sedikit banyak bellau ada memberi kisikan kepadaku, bila ingin bertemu dengan guru, lebih baik jangan sampai mengalahkan orang itu?"." "Tidak mudah!

Hwi-thian-ya-ce berani memberitahu sedemikian banyak kepada kau," demikian ujar Lok-Heng-kun sambil manggut-manggut.

"Apakah cianpwe tidak sudi memberi petunjuk lebih lanjut?" pinta Koan San-gwat, dengan rasa tegang.

Lok Heng-kun tertawa genit, sahutnya sambil menggeleng : "Tidak bisa!

kita mempunyai kesukaran kita sendiri!" Koan San-gwat uring-uringan, dengusnya :"Hwi Siau-suthian, Liong-ho-hwe, Hong-sin-pang, ada segelap apa, akan datang suatu ketika aku akan bikin jelas semua urusan yang penuh misterius ini, akan kubeberkan ke seluruh Bulim.

Seketika berubah air muka Liu Ju-yang bertiga, sebat sekali Lok Heng kun dan Liu Ju-yang melejit maju ke kanan kirinya, sementara kedua tangan Lok-Siang-kun sudah menekan kursi siap menubruk maju pula.

Keruan tercekat Koan San-gwat, serunya: "Apa yang para cianpwe hendak lakukan kepada saya?" Sesaat lamanya baru Lok Heng-kun menghela napas, katanya, "Koan-hiantit!

aku memberanikan diri memanggilmu demikian, sebagai sahabat kental dari gurumu, pula memberi peringatan kepada kau, kuharapkan kau dapat menerima"." Koan San-gwat menghela napas, katanya: "Apakah Cianpwe juga ingin supaya aku sengaja mengalah kepada Unta terbang?" "Tidak!

Meski demikian mungkin membawa manfaat bagi Tokko Bing, tapi seluk-beluk Tokko Bing kami jelaskan sekali, kalau toh dia sudah menyerahkan lencana sakti kepada kau, tentu menaruh harapan besar kepadamu, betapapun dia tidak akan senang bila kau bertindak lemah ?"." "Bila hal itu membawa manfaat bagi Suhu, menang atau kalah bagi aku seorang tidak menjadi soal!" "Tidak perlu!" tiba tiba sikap Lok Heng-kun menjadi kasar dan beringas, "Peng Kiok-jin berkata demikian karena pengertiannya terhadap Tokko Bing masih kurang mendalam, pertemuan di Tay-san-koan, engkau harus menang, sekarang cuma ada satu jalan untuk kau membalas budi kebaikan gurumu!" "Cara bagaimana?" tanya Koan San-gwat.

"Yaitu semua persoalan yang kau kemukakan tadi, lebih baik kau lupakan sama sekali!" Baru saja bibir Koan San-gwat bergerak, Liu-Ju-yang pun sudah angkat bicara: "Karena hubungan kita dengan gurumu luar biasa, maka Kami mau menasehati kau.

Kalau tidak sesuai dengan apa yang pernah kau katakan tadi, seharusnya kita sudah ?"." Koan San-gwat melengak, tanyanya : "Seharusnya sudah apa?" Dari tempat duduknya Lok Siang-kun menjengek : "Seharusnya kau dibunuh, supaya soal ini tidak bocor!" Berubah kelam air muka Koan San-gwat.

Liu Ju-yang masih tertawa, ujarnya: "Sudahlah!

Siang-kun, dia terhitung angkatan muda, jangan kau gertak dia!" Lok Siang-kun masih marah-marah, serunya: "Bocah keparat macam dia masih suka ugal-ugalan, cepat atau lambat akan menimbulkan bencana?"" "Adikku!

cepat Lok Heng-kun menukas sambil tertawa.

"Kata-katamu terlalu berat, menurut pandanganku, dibanding Tokko Bing di waktu masih muda dia jauh lebih pintar dan cerdik, mungkin situasi yang akan datang bakal tergenggam di tangan generasi yang akan datang, siapa tahu bakal terjadi perubahan besar-besaran".?" "Maka dia harus tahu diri dan menjaga keselamatannya?" ujar Lok Siang-kun dengan nada yang sudah sabar.

"Hong-ji, kalian sudah setengah malaman tidak tidur, sudah tiba saatnya istirahat, lekas kau ke belakang, suruh mereka menyiapkan makanan sekedarnya lalu pergilah tidur, aku masih ada urusan dengan paman dan bibimu, tak bisa melayani tamu," kata-katanya ditujukan kepada putrinya, namun secara tidak langsung juga menyuruh Koan San-gwat dan Lau Sam-thay mengundurkan diri juga.

Sebagai seorang cerdik sudah tentu Koan San-gwat maklum kemana juntrungan kata-kata itu, tanpa diminta segera ia berdiri, ujarnya berkata tertawa : "Kalau Cianpwe tak memberi ingat, wanpwe sampai lupa makan tidak merasa lelah!" Lok Siau-hong percaya, lekas ia berkata :"Koan-toako.

Karena sejak tadi tidak kau katakan" Biar segera kusuruh Ongtoama menyiapkan pangsit mie untuk kalian!" tersipu-sipu ia bawa Koan San-gwat berdua mengundurkan diri.

Setelah Koan San-gwat bertiga tidak kelihatan, Liu Ju-yang bertiga berkumpul dan bicara bisik-bisik, entah apa yang mereka rundingkan.

Tengah hari dalam pendopo Si-yang-san ceng diadakan perjamuan, tampak dua laki-laki dan tiga perempuan.

Mereka menduga pertemuan nanti bakal terjadi sesuatu perkelahian yang cukup sengit, Lan Sam-thay yang tahu kepandaiannya sendiri teramat rendah, mungkin melindungi jiwa sendiri pun tidak akan mampu, terpaksa harus menyembunyikan diri di tempat yang agak jauh.

Kelima orang yang hadir dalam perjamuan itu, hanya Lok Siau-hong yang merasa tenang, tapi bukan takut atau jeri, dalam kehidupannya yang serba cukup dan tentrem.

belum pernah mengalami pertikaian yang menegangkan urat syarafnya.

Apalagi dia seorang gadis remaja yang mulai tumbuh gaireh hidupnya.

Maka dialah yang paling ribut, tanya ini tanya itu, mulutnya mengomel panjang pendek, kenapa tua bangka itu tidak lekas datang.

Sikap Liu Ju-yang justru sangat tenang dan dingin, cangkir demi cangkir, beberapa cangkir arak telah dihabiskan, mukanya sudah merah.

Lok Siau-hong lantas membujuk : "Kau jangan terlalu banyak minum, kalau sampa mabuk, urusan bakal terbengkalai karenanya." Sambil memicingkan mata Liu Ju-yang berkata tertawa : "Meminum arak aku melampiaskan rasa sebalku!

Post a Comment