Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 28

Memuat...

"Bagaimana ayahku?" Thio Ceng Ceng bertanya.

Im Siok-kun kertak gigi serunya bengis: "Dia".

memperkosa putriku yang terkecil Im Le-hoa dan meracunnya hingga pikun." Koan San-gwat tersentak kaget, sesaat ia melongo, lalu katanya: "Ini".

agaknya tidak mungkin!

Mana mungkin paman Thio melakukan?"" "Anggota Bu khek-kiam-pay kita terdiri dari kaum hawa.

Kalau bukan dia siapa yang berbuat" ".?" semula Aku tidak Percaya, tapi setelah aku bertemu murid Siau-lim-pay dan Butongpay maka dapatlah dipastikan tentu perbuatannya." Thio Ceng Ceng seperti kehilangan akal pikirannya yang jernih, tiba-tiba ia berteriak sambil menangis : "Kau bohong".

katu bohong?"." Di bawah sinar bulan tampak air muka Im Siok-kun pucat, dengan suara berat ia berkata "Tiang-hoa!

Bawa adikmu kemari!" Dengan muka sedih itu Tiang-hoa menuntun keluar seorang gadis berpakaian hitam, wajahnya cantik molek, usianya tujuh belasan, kedua matanya mendelong terus tidak bergerak, gerak-geriknya serba linglung.

Im Siok-kun mendelik kepada Thio Ceng Ceng, serunya gusar: "Tentu kau pun mahir ilmu pengobatannya, silahkan kau periksa buah karya bapakmu." Thio Ceng Ceng mengusap air mata maju ke depan si gadis, dia membalik kelopak matanya serta memeriksa dengan cermat, meraba urat nadinya pula, terakhir ia berikan kepada Peng Kiok-jin: "Toanio!

Harap beri sebutir Peng-sip-coat-pengsan!" Dengan serius Peng kiok-jin membuka buntalan menuang sebutir pil dan diberikan kepada Thio Ceng Ceng, Ceng Ceng jejalkan pil itu ke mulut si gadis.

Cepat Im Siok-kun membentak: "Obat apa yang kau berikan kepadanya?" Peng Kiok-jin segera menjawab: "Kau tidak usah kuatir, kami tidak akan memberinya racun!" Dengan perasaan tegang dan was-was Thio Ceng Ceng memeriksa denyut nadi si gadis lalu mengurut-urut, setelah itu ia mundur dua tindak menanti reaksinya, kulit mukanya berkerut-kerut gemetar.

Koan San-gwat maju mendekat serta bertanya: "Nona Thio!

Kenapa kau?" Sahut Thio Ceng Ceng prihatin : "Kalau obatku itu dapat menolongnya sadar?"".

?" tidak berani dia meneruskan ucapannya, beberapa saat Koan San-gwat seolah-olah ikut tenggelam, ia berdiri diam tak bergerak di sampingnya.

Entah berapa lama kemudian, biji mata itu mulai bergerakgerak, bibirnya bergerak menggumam beberapa patah kata.

Thio Ceng Ceng menjerit terus menangis keras menutup muka dengan kedua telapak tangannya, teriaknya: "Koantoako tiada muka aku hidup"..

Jantung Koan San-gwat berdebar keras, hampir ia tidak percaya dengan kenyataan di depan matanya.

Urusan menjadi jelas dan terbukti akan perbuatan Thio Hun-cu, apakah mungkin" Setelah menangis sekian saat, tiba-tiba Thio Ceng Ceng angkat kepala, katanya: "Tidak!

Betapapun aku tidak percaya akan perbuatan ayahku!" Koan San-gwat juga tidak putus asa, bujuknya: "Benar!

Akupun tidak percaya ?" oh ya, kalau gadis ini sudah pulih kesadarannya, marilah kita tanya kepadanya!" Segera Thio Ceng Ceng memburu ke depan gadis itu: "Adik cilik!

Seseorang telah mengganggu kau, siapakah dia?" Im Lee-hoa membuka lebar kedua biji matanya, dia tetap mendelong, sesaat baru menggumam: "Tidak!

Dia bukan orang jahat, dia suka kepadaku, akupun suka kepadanya, dia hendak menikah dengan aku, akupun menjadi istrinya"." Im siok-kun merasa di luar dugaan, ia pun memburu maju, teriaknya: "Lee-hoa kau sudah gila?"?" Thio Ceng-Ceng makin panik, serunya: "Adik cilik, siapakah dia ?" "Aku tidak tahu, dia tidak memberi tahu kepadaku?" sahut Im Lee-hoa hampa.

Segera Koan San-gwat berkata pada Im Siok-kun: "kalau paman Thio mendapat pelayanan istimewa kalian, kenapa putrimu tidak kenal dia?" "Selamanya dia tidak pernah kenal dengan orang luar, sudah terus tidak tahu!" Kemba Thio Ceng Ceng menarik tangan Im Lee-hoa, tanyanya lagi: "Bagaimana bentuk wajah orang itu?" Im Lee-hoa diam sekian lamanya akhirnya menjawab dengan rasa sedih.

"Entahlah, aku sudah lupa!

Mungkin kalau ketemu sama dia aku bisa mengenalnya, waktu dia datang menemukanku, keadaan sangat gelap aku hanya mengenal suaranya." Mungkin bukan ayahnya, Thio Ceng Ceng agak lega.

Mendadak kedua mata Im Lee hoe bercahaya terang, suaranya lembut mesra: "Aku masih ingat jenggotnya, jenggotnya itu sangat bagus, lemas lembut seperti rambutku, waktu mengusap wajahku rasanya begitu hangat dan mengasikkan?"" Tiba-tiba Thio Ceng Ceng menjerit sekeras-kerasnya melepas tangan Im Lee-hoa terus putar tubuh dan lari.

cepat Im Siok-kun melintangkan pedang mencegatnya, bentaknya: "Duduk perkaranya sudah jelas, mau kemana kau?" Hati Thio Ceng Ceng seperti disayar-sayat sembilu, teriaknya sambil menangis gerung-gerung; "Jangan rintangi aku, aku hendak mencari ayah?"" Cepat Koan San-gwat menarik tangannya, bujuknya: "Nona Thio, kalau ayahmu benar seorang yang hina dina, kau tidak perlu mencari lagi!" "Tidak!" sahut Thio Ceng Ceng keras, "aku harus menemukan dia.

Aku akan bunuh dia lalu akupun bunuh diri.

Aku tidak mau membiarkan dia hidup, akupun tidak mau hidup lagi ?"" "Apa-apaan ucapanmu" Paman Thio, meski Thio Hun-cu layak dibunuh, bukan kewajibanmu untuk membunuhnya?"" "Tidak, aku sendiri yang harus bunuh dia!

Dia bukan lagi ayahku, aku bukan putrinya?"" "Sudah, kalian main sandiwara di hadapanku, kau kira aku bisa melepas kau pergi?" tukas Im Siok-kun menyeringai sadis.

Mandadak Thio Ceng Ceng beringas, hardiknya murka: "Minggir!

Sekarang siapa pun aku tidak perduli lagi, jangan kau merintangi jalanku." Im Siok-kun semakin berang, teriaknya: "Kalau kita tidak menemukan Thio Hun-cu, maka kau dulu yang harus menebus dosanya." Thio Ceng Ceng menjerit panjang, dengan gusar ia melolos pedang panjang dari punggungnya, hardiknya : "Berani kau merintangi aku, kubunuh kau, sekarang hasratku cuma membunuh orang"," Sebelum orang habis bicara, pedang Im Siok-kun sudah menukik laksana ular menyambar dari samping, lekas Thio Ceng Ceng angkat pedang menangkis dan balas menyerang, maka terjadilah pertempuran seru.

Karena bertangan kosong, Koan San-gwat kerepotan untuk melerainya, terpaksa ia minta bantuan Peng Kiok-jin: "Toanio!

Lekas kau cari akal untuk menghentikan amukannya !" "Kepadamu dia tidak tunduk aku punya akal apa?" sahut Peng Kiok-jin menyengir, "Aku maklum peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi bathinnya hingga pikirannya kacau balau".." Koan San-gwat semakin gopoh dan gelisah, sementara Thio Ceng Ceng sudah melabrak Im Siok-kun puluhan jurus.

Permainan Be-khek-kiam-hoat Im Siok-kun aneh menakjubkan, jurus-jurusnya serba berlawanan dari permainan pedang umumnya, setiap tipu serangannyapun sangat ganas dan keji.

Dalam keadaan marah, inti sari ilmu pedangnya sukar dikembangkan.

Setelah mendapat petunjuk dan gemblengan Soat-lo Thay thay, kepandaian Thio Ceng Ceng sudah berlipat ganda, permainan pedangnya sangat hebat dan gerak perubahannya laksana setan kelelap malaikat muncul, setiap jurus serangannya menempatkan dirinya dalam posisi yang lebih menguntungkam sehingga Im Siok-kun terdesak mencakmencak, saking gugupnya ia berkaok-kaok: "Hayo!

maju semua, cacah hancur tubuh perempuan laknat ini!" Anak murid Bu-khek-kiam-pay serempak melolos pedang terus menyerbu dari berbagai penjuru, hawa pedang berkilauan memberondong ke arah Tnio Ceng Ceng dengan rapi.

Koan San-gwat hendak maju membantu, lekas Peng kiok-jin menariknya, katanya: "Tidak perlu kau harus turun tangan!

Nona Ceng sudah cukup berkelebihan!" Memang tindak tanduk Thio Ceng Ceng lebih kejam dan nekat, meski ia hanya menggunakan sebilah pedang, tapi permainannya sedemikian cepat, umpama hujan badai juga tidak akan menembus pertahanannya yang rapat, para pengepungnya saling terdesak mundur dan terpental pontangpanting oleh perbawa ilmu pedangnya.

Keruan Im Siok-kun semakin murka bentaknya beringas : "Hayo maju semua, adu jiwa dengan dia.

Meski seluruh warga Im habis tertumpas, jangan kita lepaskan perempuan laknat ini!" Thio Ceng Ceng juga semakin murka, teriaknya; "Terpaksa aku harus membunuh, kalian yang memaksa aku berbuat demikian?"".." "Bunuhlah!

Kau sama dengan bapakmu.

keparat yang patut dihancur leburkan." Caci maki urang lebih menggelorakan darah Thio Ceng Ceng, dimana pedangnya berkelebat bagai kilat menyambar beruntun terdengarlah suara jerit dan pekik kesakitan, kecuali Im Siok-kun dan beberapa orang yang berkepandaian tinggi, banyak diantara mereka roboh terluka.

Banyak senjata putus, lengan tergores atau pergelangan tangan kutung dan ada pula yang tubuhnya cacat.

Mata Im Siok-kun merah padam dan membara, teriaknya beringas: "Keparat, biar aku adu jiwa dengan kau!" Cepat sekali ujung pedang menusuk ulu hati, serangan ini cukup ganas dan lihai, pedang Thio Ceng Ceng, yang menyambar kuping kirinya pun tidak dihiraukan, ia agaknya bertekad gugur bersama.

Sebat sekali Thio Ceng Ceng miringkan tubuh meluputkan diri, sementara gaya serangan pedangnya masih meluncur tanpa berubah.

Sekarang Koan San-gwat tidak bisa berpeluk tangan, sigap sekali ia jemput sebilah pedang di tanah terus melejit : "Trang" pada waktunya ia berhasil menangkis pedang Ceng Ceng, menolong jiwa Im Siok-kun.

Sejenak Thio Ceng Ceng tertegun, serunya keren, "Koan San-gwat, kau pun hendak membunuhku?" "Tidak" sahut Koan San-gwat dengan keren.

"Aku tidak membunuh kau, tapi kau pun jangan membunuh orang!" Deras air mata Thio Ceng Ceng, tanpa banyak kata, Ia menerjang keluar kepungan.

Im Siok-kun terus lari sekencang-kencangnya.

Koan Sangwat bergerak hendak mengejar, cepat Peng Kiok-jin menahan dari belakang, katanya: "Biarkan dia pergi.

Sekarang perlu memberi ketenangan padanya.

Untuk sementara waktu kau jangan temui dia, aku akan mengawasi dirinya." Koan San-gwat hendak menolak, cepat Peng Kiok-jin menggoyangkan tangan, katanya: "Urusan ayahnya, akupun belum percaya.

Lebih baik carilah Thio Hun-cu, gunakan waktu luangmu untuk membuat penyelidikan dalam persoalan ini." Selesai berkata lantas memburu ke arah Thio Ceng Ceng menghilang.

Post a Comment