Tapi guruku tidak akan terjun kembali di dunia ramai.
Di waktu beliau menyerahkan Bing-tho-ling-cu kepada aku, beliau ada berpesan, katanya beliau hendak menghadiri sebuah pertemuan, selanjutnya hendak mengasingkan diri, maka beliau baru memaklumkan berita kematiannya, malah beliau juga memperingatkan kepadaku supaya tidak membocorkan rahasia ini, jikalau tidak terdesak oleh ucapan Toanio tadi, aku"." "Kemana dia hendak menghadiri pertemuan itu?" tanya Peng-toanio lebih lanjut.
"Hal itu aku sendiri tidak tahu," sahut Koan San-gwat sambil angkat pundak, "Segala apapun biasanya guru tidak pernah mengelabui aku, cuma soal pertemuan itulah sedikitpun aku tidak pernah mendengar kabar sebelumnya, pernah berulang kali aku mengajukan pertanyaan sedikitpun beliau tidak mau memberi keterangan kepadaku." Terunjuk mimik aneh yang selama ini belum pernah terlihat pada wajah Peng-toanio, tanyanya, "Kalau begitu tentu benar adanya!
Anehnya Tokko Bing akan mendapatkan tempatnya menetap, aku harus memuji dan mengumpaknya, akhirnya dia dapat mengambil keputusan setelah mengalami gelombang badai dan tekanan batin selama sekian tahun lamanya"." "Toanio," ujar Koan San-gwat ketarik, tanyanya, "Apakah kau tahu kemana tujuan guruku itu?" "Ya!" sahut Peng-toanio manggut-manggut.
"Dalam dunia ini mungkin cuma aku seorang yang tahu di mana tempat tinggalnya." "Dimana?" kini giliran Koan San-gwat yang terharu dan gelisah.
Perasaan hampa terbayang pada sorot mata Peng-toanio, katanya.
"Tidak bisa kukatakan, aku cuma tahu dia menghadiri pertemuan dengan siapa, dan salah sebuah tempat yang disebut Siau-se-thian.
Tapi sudah sekian tahun aku kelana di Kang-ouw selamanya belum pernah kudengar dan tidak tahu dimana letak Siau-se-thian itu"." Koan San-gwat rada kecewa, tapi dengan sabar ia bertanya, "Lalu dengan siapakah guruku mengadakan pertemuan" Dalam kejadian ini tentu ada latar belakang yang tersembunyi!" "Kalau Tokko Bing sendiri tak mau memberitahukan kepada kau, maka akupun tidak bisa menjelaskan kepadamu." Melihat air muka Koan San-gwat mengunjuk rasa kurang senang, sementara Thio Ceng Ceng juga hendak bicara, terpaksa ia menyambung sambil menghela napas, "Bukan aku sengaja jual mahal, soalnya dulu kita pernah melakukan sumpah yang sangat berat, seandainya aku mengorbankan jiwaku untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya, tapi tidak berani aku pertanggungjawabkan akan akibatnya.
Padahal Tokko Bing tidak kenal takut pada langit dan dumi, kenapa sampai sekian lamanya baru berani menghadiri pertemuan itu." Mendengar uraian ini Koan San-gwat semakin bingung, ucapan Peng-toanio tidak mengenai juntrungan yang diharapkan, malah satu sama lain kata-katanya rada kontras.
"Kongcu!" Peng-toanio menambahkan, "Baiklah kuberi bisikan kepada kau tentang jejak Tokko Bing ada hubungan erat dengan Unta terbang itu.
Kalau dalam pertemuan yang akan datang kau dapat mengalahkan dia, urusan selanjutnya akan beres, tapi bila kau ingin menjumpai gurumu, lebih baik kau jangan sampai mengalahkan dia"." "Kenapa bisa begitu?" "Aku hanya bisa bicara demikian saja, kau boleh main terka sendiri." Koan San-gwat tahu bahwa Peng Kiok-jin tidak akan banyak bicara lagi, maka dari unta terbang itu.
"Tapi aku harus mengalahkan dia atau harus kalah olehnya?" Sementara sorot mata Peng-toanio masih menatap dirinya, akhirnya berketetapan, katanya tegas, "Kalau benar ilmu silatku tidak becus, apa pula yang harus kukatakan, kalau tidak betapapun aku harus berdaya upaya dengan segala kemampuan dan kekuatanku demi menjaga kebesaran tradisi Bing-tho-ling-cu yang sangat disegani.
Bing-tho-ling-cu memang pernah kalah oleh tipu daya yang licik tapi tidak boleh terkalahkan dalam pertandingan silat." Peng-toanio menarik napas katanya, "Begini keputusan Kongcu, apakah kau hendak menemui gurumu pula?" "Tidak salah!
Guru pandang Bing-tho-ling-cu lebih berharga dari jiwanya sendiri, beliau orang tua mengajarkan ilmu silat kepadaku, bukan karena aku harus menjadi muridnya adalah ingin supaya aku dapat meneruskan kebesaran Bing-tho-Lingcu yang diagungkan.
Maka aku harus meletakkan dasar persoalan ini di tempat yang utama, baru bolehlah aku mempertimbangkan persoalan yang lain!" "Begitupun baik," ujar Peng-toanio manggut-manggut, "Keputusanmu ini memang benar!" Keputusan sudah diambil mereka jadi kehabisan bahan untuk meneruskan percakapan ini, maka Thio Ceng Ceng membuka suara sesaat kemudian, "Koan-toako, berapa jauh letak Tay-san-koan itu dari sini?" "Tidak jauh, menunggang kuda cepat, kira-kira sepuluh hari bisa sampai." "Unta terbang menjanjikan satu bulan yang akan datang, jangka waktu masih panjang,apa yang harus kita lakukan?" Berkerut alis Koan San-gwat, sahutnya, "Ya, benar-benar serba runyam, sebetulnya aku hendak menyelidiki keadaan Loh-hun-kok, tapi waktu tidak keburu"." "Ling-cu tidak usah kesana," segera Lau Sam-thay bicara, "Loh-hun-kok sudah kosong melompong tanpa dihuni seorangpun juga.
Sejak Khong Bun-thong mampus, Khong Bun-ki pun menghilang, berita itu kudengar dari para sahabat Kangouw yang memberi tahu kepadaku, kuduga hal ini tidak usah disangsikan!" Koan San-gwat manggut-manggut.
Thio Ceng Ceng bertanya lagi, "Lau-toako, apa kau pernah dengar berita tentang ayahku, dia bernama Thio Hun-cu"." Lau Sam-thay segera mengunjuk rasa kejut dan gugup, katanya, "Kiranya ayah nona adalah Thio tayhiap, sungguh aku berlaku kurang hormat".
sejak muncul sekali di Loh-hunkok, sampai sekarang belum pernah muncul lagi, banyak orang sedang mencari beliau." "Siapa saja yang mencari beliau" Untuk apa mereka mencari ayahku?" Lau Sam-thay garuk-garuk kepala, sahutnya, "Mereka adalah murid-murid dari berbagai aliran dan golongan besar, sedemikian besar tenaga yang mereka kerahkan untuk menemukan naga-naganya ada sesuatu urusan penting untuk segera diselesaikan, cuma duduk perkaranya aku tidak jelas, apakah nona sendiri tidak berada bersama ayahmu?" Thio Ceng Ceng geleng-geleng kepala, katanya sambil mengerut kening, "Rasanya mereka belum pernah ada hubungan dengan ayahku, kecuali mereka terkena racun berbisa, mau minta tolong hasilican ayahku." Lau Sam-thay manggut-manggut, ujarnya, "Ya, mungkin demikian, apakah nona dapat memperkirakan dimana sekarang ayahmu berada?" "Tidak tahu!
Rumah tinggal kita di puncak utara Thian-san, beliau mungkin menetap disana, kalau tidak senjata Koantoako berada disana kalau tidak mana bisa suruhan Unta terbang mengambilnya"." Mendadak Koan San-gwat menimbrung, "Lau-heng, apakah kau tahu beberapa kelompok orang yang sedang mencari paman Thio apakah rombongan yang berada paling dekat dengan tempat ini?" Lau Sam-thay berpikir sejenak lalu menjawab, "Yang terakhir adalah Bu-khek-kiam-pay dari Im-san, putri Ciangbunjin Im Siok kun yang bernama Im Tiang-hoa bulan yang lewat di tempat ini dan menetap di penginapan ini, dia pernah mencari tahu jejak Thio-tayhiap, lima hari yang lalu dia datang pula, mungkin tidak membawa hasil apa-apa." Koan San-gwat tertawa senang, katanya, "Kalau begitu kita tidak usah nganggur, kebetulan kita bisa menyelidiki persoalan ini!" Thio Ceng Ceng pun ingin tahu untuk keperluan apa beberapa rombongan orang itu hendak mencari ayahnya, segera ia mendukung niatnya, apa boleh buat terpaksa Pengtoanio menurut saja.
Lau Sam-thay bersemangat dan kegirangan, perjamuan segera dilanjutkan lebih meriah sampai tengah malam baru mereka masuk kamar untuk istirahat.
Hari kedua pagi-pagi benar Lau Sam-thay sudah menyiapkan empat ekor kuda, segera ia persilahkan mereka berangkat, melihat kuda yang dipersiapkan itu segera Koan San-gwat berkata sambil tertawa lebar, "Agaknya Lau-heng ingin ikut mencari keributan juga?" Lau Sam-thay rikuh sahutnya menyengir, "Hobbyku memang suka menyelidiki urusan Bulim, aku buka penginapan dengan mengorbankan ongkos makan minum dan memberi gratis, tujuannya adalah mengorek keterangan orang-orang Kangouw itu, kapan dapat kesempatan sebaik ini, untuk meluaskan pengalaman harap Ling-cu sudi mengijinkan aku ikut serta." "Lau-heng sangat apal segala kejadian di Kangouw, tidak enak aku menolak maksud baikmu ini, kelak bila aku ingin mendirikan partai atau perguruan, orang-orang macam Lauheng justru tenaga yang kubutuhkan!" "Kalau Ling-cu punya cita-cita seluhur ini, meski badan hancurpun aku akan mengabdi dengan suka rela." Begitulah sambil bercakap-cakap mereka berangkat, sebagai orang setempat yang apal jalanan Lau Sam-thay menjadi penunjuk jalan.
Dari Lian-cu ke Im-san dengan kecepatan lari kuda membutuhkan tempo dua hari, mereka sudah menempuh perjalanan satu hari, Lau Sam-thay mencari penginapan untuk bermalam, nama Cit-sing-to memang cukup tenar di bilangan situ maka mereka memdapat pelayanan yang luar biasa.
Belum lama mereka istirahat, tampak Lau Sam-thay menggandeng Sun-cit masuk, mukanya pucat badan lemah lunglai, begitu melihat Koan San-gwat, Sun Cit lantas berlutut menangis gerung-gerung, katanya, "Ling-cu, harap kau suka membalas dendam kedua majikanku." Kata-kata yang tiada juntrungan ini benar-benar membuat Koan San -gwat melengak heran, tanyanya, "Sun Cit apa yang telah terjadi" Bagaimana dengan majikan kalian?" Sambil menangis Sun cit mengangsurkan sebuah bungkusan, waktu Koan San-gwat membukanya, isinya ternyata dua keping lencana tembaga Unta terbang, lencana unta terbang itu berlepotan darah.
Dengan heran, ia bertanya, "Apakah Loh-he-siang ing mengalami bencana?" "Benar, kedua majikan dibunuh oleh Unta Terbang di Buwikun, mereka dibunuh dengan kedua lencana tembaga ini"." "Di Bu-wi-kun!" ujar Koan San-gwat mengerut alis, "mana mungkin, mereka kan berada di Lokyang.
orang yang kau urus memberi kabar meski tumbuh sayap belum tentu dapat terbang sejauh itu, cara bagaimana mereka bisa berada di Buwikun?" Sambil sesenggukan Sun Cit menjelaskan, "Dua hari kemudian setelah rombongan kami berangkat.
majikan lantas mendapat kiriman surat yang dilepas dengan golok terbang, surat itu memberitahukan bahwa mereka hendak merampas barang kawalan kami karena kuatir kedua majikan cepat-cepat menyusul datang, tak duga sampai di Bu-wi-kun mereka terbunuh orang, utusanku kebetulan dapat mengurusi jenasah beliau.
Ling-cu harap kau bantu membalas dendam majikan!" "Urusan balas dendam semestinya aku tidak bisa menolak, tapi mereka adalah murid Ciong-lam-pay, menurut aturan Bulim, jamak kalau Ciangbunjin kalian Lu Bu-wi yang membereskan kejadian ini." Sun Cit meratap katanya, "Sebelum mati majikan ada berkata".