Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 99

Memuat...

"Can Hong San, kami semua melihat bahwa engkau memang seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi, apa sesungguhnya yang menjadi dasar sikapmu hendak mengalahkan kami? Apakah engkau bermaksud untuk merampas kedudukan kami sebagai pimpinan para pejuang melalui perkumpulan Pouw-beng- pang?"

Can Hong San amat cerdik. Melihat sikap ketua ini, dia berhati-hati. Kalau ketua itu marah-marah dan menantangnya, hal itu bahkan dianggap tidak berbahaya. Kini, sikap pang-cu itu lembut namun pertanyaannya menyudutkannya.

"Pang-cu, seperti kukatakan tadi, aku amat setuju dengan gerakan Pouw-beng-pang dan bahkan aku bersedia untuk membantu. Dan kukatakan tadi bahwa yang menjadi pemimpin sebaiknya orang yang usianya masih muda agar bersemangat, tentu saja orang muda yang memiki ilmu kepandaian tinggi dan tidak kalah oleh yang tua. Bukan maksudku menentang Pouw-beng-pang."

Mendengar ini, legalah hati ketua itu. kalau pemuda yang berbahaya itu memperlihatkan sikap menentang, tentu dia akan terpaksa mengerahkan para pembantu dan anak buahnya untuk mengeroyok dan membunuhnya! Akan tetap ternyata pemuda itu tidak bermaksud demikian, dan kalau dapat ditarik sebagai pembantu, hal itu amat menguntungkan.

"Saudara Muda Can Hong San, jangan dikira bahwa menjadi seorang ketua itu mudah, asal memiliki kepandai tinggi dan keberanian besar seperti yang kau maksudkan. Tanpa perjuangan semua anggauta yang akan dipimpin, bagaimana mungkin orang menjadi ketua. Kalau engkau suka membantu kami, tentu engkau akan mendapatkan kedudukan yang sesuai dengan kepandaianmu dan mungkin dapat menjadi pembantu utama. Kami membutuhkan orang-orang yang berkepandaian tinggi, terutama orang muda seperti engkau. Akan tetapi, kalau engkau ingin menjadi ketua, engkau harus mendapat persetujuan dari seluruh anggauta yang diwakili oleh mereka yang kini hadir di sini, terutama sekali Saudara Yamali Cin karena suku bangsa Hui merupakan peserta pejuang yang paling kuat dan paling besar jumlahnya."

Mendengar ucapan itu, Hong San lalu memandang kepada mereka semua yang hadir di situ. Tentu saja Kim-bwe im-houw dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiong yang telah dikalahkan itu memandang kepadanya dengan sinar mata penuh rasa tidak suka. Akan tetapi yang lain pun biarpun ada yang memandang kepadanya dengan kagum, tidak memperlihatkan sikap tunduk. Jelaslah kalau dia merebut kedudukan ketua, biarpun dia akan mampu mengalahkan para pimpinan, dia akan menghadapi mereka semua sebagai musuh dan kalau mereka itu maju bersama menentangnya karena dia dianggap musuh, apalagi kalau mereka mengerahkan anak buah, tentu dia akan mati konyol.

"Can Pang-cu, siapakah yang ingin menjadi ketua Pouw- beng-pang? Aku baru saja datang dan belum mengenal lapangan, bagaimana mungkin aku menjadi ketua? Aku hanya merasa kagum dan suka akan perjuangan yang amat baik ini, dan kalau aku dapat diterima sebagai seorang pembantu, tentu aku akan mencurahkan semua kepandaian dan semangatku untuk memajukan perkumpulan Pouw-beng-pang dan akan membuat jasa sebanyaknya dan sebesarnya."

Mendengar ini, berubahlah sikap Ki bwe-eng Gan Lok, bahkan kini Kim kauw-pang Pouw In Tiong juga terenyum. Dia menghampiri Can Hong lalu berkata,"Kepandaian Saudara Hong San memang hebat sekali. Aku mengaku kalah, dan aku akan merasa beruntung sekali kalau dapat bekerjasama denganmu."

"Silakan duduk, Saudara Can, mari kita bicara sebagai rekan. Kuharap Nona Bu yang berkepandaian ting gi juga sependapat dengan Saudara Can dan sudi mencurahkan tenaga membantu perjuangan kami." kata ketua itu.

Bu Giok Cu merasa heran sekali me lihat betapa Hong San menyatakan ingin membantu kelompok pejuang yang bergabung dalam perkumpulan Pouw-beng pang itu. Akan tetapi hal itu bukan urusannya dan ia pun hanya secara kebetulan saja berada di situ bersama Hong San. Mendengar ucapan ketua Pouw-beng-Pang, ia pun menggeleng kepala sambil tersenyum. "Tentu saja aku sependapat kalau kalian atau siapa saja menentang para pejabat yang makan uang rakyat dan uang negara, pejabat yang menindas rakyat jelata, memaksa rakyat menjadi pekerja pembuatan terusan sebagai pekerja rodi tanpa dibayar. Akan tetapi aku sendiri tidak mau terikat, karena aku masih mempunyai tugas-tugas pribadi yang sangat penting dan yang harus kulaksanakan," katanya halus namun tegas, kemudian ia melirik ke arah Kim-bwe Sam-Houw karena mendengar mereka itu me¬ngeluarkan suara tawa.

"Ha-ha-ha, kenapa Nona tidak sekalian membantu Pouw- beng-pang? Dengan demikian, kami dapat mempererat persahabatan antara kami dengan Nona.

Bukankah kita sudah saling berkenalan di rumah makan Ho Tin, Nona?" Yang mengeluarkan kata-kata itu adalah Loa Pin, si Tinggi Kurus Hidung Besar, orang termuda dari Kim-bwe Sam-houw yang kenal mata keranjang.

"Benar sekali," sambung Thio Kwan "Setelah Can Tai-hiap (Pendekar Besar) menjadi pembantu Gan Pangcu, berarti dia juga sekutu kami, dan kami akan merasa gembira kalau dapat bersekutu dengan Nona Bu."

Giok Cu tersenyum mengejek. Orang-orang macam ini sungguh berbahaya untuk didekati. Belum apa-apa, setelah mereka dikalahkan Hong San, kini sikap mereka sudah berbalik sama sekali, dan dengan nada menjilat mereka menyebut Hong San sebagai tai-hiap! Dan dia dapat menangkap makna yang genit cabul dalam kata-kata Loa Pin tadi.

"Hemmm, sungguh aku masih merasa terheran-heran melihat kalian bertiga tiba-tiba saja dapat berada di sini menjadi sekutu Pouw-beng-pang. tidak melihat kalian sebagai orang-orang yang menentang kepala daerah Siong-an ketika berada di rumah makan!" Mendengar ini, ketua Pouw-beng segera menjelaskan. "Hendaknya Nona mengetahui bahwa Kim-bwe Sam-houw ini ialah orang-orang kepercayaan yang menjadi utusan dari Cang Tai-jin yang menjadi sekutu kami."

Mendengar ini, sepasang mata Giok Cu terbelalak, bahkan Hong San juga merasa heran. "Bagaimana ini?" Giok Cu berseru. "Kalian adalah pejuang pembela rakyat yang menentang pembesar yang menindas rakyat jelata dan kini kalian bersekutu dengan Cang Tai-jin, seorang pembesar yang korup dan penyogok atasan?"

Mendengar ini, Gan Lok tertawa, ha-ha-ha, inilah, Saudara Can Hong San, merupakan hal-hal yang perlu dimiliki seorang pemimpin di samping hanya berkepandaian silat saja. Nona Bu, harap jangan heran mendengar ini. Kita menentang pemerintah yang menindas rakyat, maka perlu sekali bagi kita untuk bersekutu dengan beberapa orang pejabat yang dapat menyetujui perjuangan kita, atas dasar keuntungan bersama. Cang Taijin merupakan seorang pejabat yang dapat kami percaya dan yang dapat diajak bekerjasama.”

Diam-diam Giok Cu terkejut. Ia pun seorang yang cerdik dan tanpa banyak bertanya lagi ia pun dapat menilai macam apa adanya orang-orang yang menyebut diri para pejuang ini. Mereka tidak segan bersekutu dengan seorang pembesar atas dasar keuntungan bersama! Jelas bahwa yang menjadi dasar "perjuangan" mereka itu bukan demi rakyat, melainkan demi keuntungan bersama itulah! la menoleh kepada Can Hong San, dan pemuda itu kebetulan sedang memandang kepadanya. Hong San lalu berkata kepadanya dengan suaranya yang lembut.

"Nona Bu, memang baik sekali kala kita berdua membantu rakyat jelata dan melaksanakan tugas sebagai pendekar- pendekar sejati!" Giok Cu tersenyum, senyuman setengah mengejek. "Membela rakyat atau mencari kedudukan dan keuntungan pribadi?"

Wajah Hong San berubah agak kemerahan mendengar ejekan ini. Kalau saja dia tidak tergila-gila kepada gadis ini, tentu saja dia akan marah sekali. Akan tetapi dia memang seorang pemuda yang aneh dan cerdik, biarpun hatinya panas, dia mampu menahannya dan tetap tersenyum.

"Kedua-duanya, Nona Bu. Membela rakyat memang penting, akan tetapi mencari kemajuan pribadi juga penting."

Giok Cu bangkit berdiri. "Hemmm, bagiku, kedua kepentingan itu tidak mungkin dapat sejalan. Kalau sejalan, tentu perjuangan itu akan diselewengkan dan tersesat. Sudahlah, bukan urusanku, akan tetapi aku harus pergi sekarang. Gan Pangcu dan Saudara sekalian, selamat tinggal, aku harus pergi sekarang!" Berkata demikian, Giok Cu lalu meninggalkan ruangan itu tanpa banyak cakap lagi. Para pemimpin Pouw-beng-pang hanya memandang dengan heran. Tadinya mereka mengira bahwa nona itu adalah rekan atau teman baik Hong San, tidak tahunya agaknya di antara mereka tidak ada hubungan sama sekali.

“Can-taihiap, kenapa engkau tidak menahannya? Apakah ia bukan sahabat baikmu?" tanya Gan Lok yang kini juga menyebut tai-hiap kepada Hong San karena selain dia tahu bahwa pemuda itu pandai sekali dan berjiwa pendekar, juga untuk menyenangkan hati pemuda yang hendak diikatnya menjadi sekutu yang amat tangguh itu.

"Kami baru saja berkenalan," jawab Hong San sejujurnya dan dia mengerutkan alisnya dengan kecewa. Dia tidak rela membiarkan gadis itu pergi menin galkannya begitu saja. "Aih, kalau begitu, berbahaya se kali. Jangan-jangan ia akan menjadi mata-mata pemerintah dan membuka rahasia kita," kata pula ketua itu.

Hong San bangkit berdiri, "Mari kalian membantuku. Kita harus susul tangkap Bu Giok Cu itu kalau ia tidak mau membantu gerakan kita'"

Post a Comment