"Untuk memimpin rakyat dalam masa damai, memang dibutuhkan pemimpin yang sudah berusia lanjut karena orang tua lebih teliti, sabar dan tekun. Akan tetapi, memimpin rakyat dalam masa perang, dibutuhkan seorang pemimpin yang masih muda, penuh semangat yang Menggebu, barulah diharapkan perjuangan akan berhasil baik!"
"Orang muda she Gan, kata-katamu sayang sekali kurang tepat!" bantah Kim-bwe-eng Gan Lok yang mulai merasa panas perutnya. "Dalam perjuangan, semangat besar saja tidak ada gunanya tanpa diimbangi kepandaian yang tinggi. Seorang pemimpin muda, biarpun semangatnya menggebu, jelas kepandaiannya belum matang dan pengalamannya belum luas sehingga perjuangan itu akan gagal."
"Keliru sama sekali pendapat Paman Gan itu!" Hong San membantah suaranya juga nyaring walaupun wajahnya masih berseri Jenaka. "Biarpun berpengalaman, mana mungkin seorang yang sudah tua dapat menjadi seorang yang gagah perkasa dan kuat? Semangatnya juga pasti sudah layu dan apa yang dapat diharapkan dari pimpinan yang tua loyo? Tentang kepandaian, belum tentu yang muda kalah oleh yang tua. Hal ini perlu dibuktikan. Aku yang masih muda ini, belum tentu kalah melawan orang-orang tua seperti kedua Paman yang menjadi ketua dan wakil ketua di sini!”
Mendengar ucapan yang mengandung tantangan ini, Kim- kauw-pang (Tongkat Monyet Emas) Pouw ln Tiong yang wataknya angkuh itu menjadi marah dan tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Dia sudah bangkit berdiri dan tubuh yang gendut pendek itu sama sekali tidak mengesankan ketika dia marah. Namun suaranya menggeledek karena dalam kemarahannya dia telah mengerahkan Khikang dari perutnya, dan matanya melotot mengeluarkan sinar berapi.
"Bocah she Can! Sungguh engkau sombong dan suka berlagak. Biarpun belum tentu aku Kim-kauw-pang Pouw In Tiong dapat mengalahkanmu, akan tetapi jangan dikira aku takut. Mari, coba bukti-bahwa omonganmu tadi bukan bual belaka!" Berkata demikian, Si Pendek gendut ini sudah melompat ke tengah dengan sambil memutar tongkatnya. Tongkatnya itu setinggi tubuhnya dan berlapis emas sehingga ketika diputar berubah menjadi payung emas yang lebar.
Giok Cu mengerutkan alisnya. Sebetulnya ia tidak setuju dengan sikap yang diperlihatkan Hong San tadi. Mereka datang sebagai tamu yang dihormati, akan tetapi pemuda bercaping lebar itu malah mengeluarkan kata-kata yang mengandung celaan dan tantangan dengan sikap memandang rendah terhadap tuan rumah. Akan tetapi karena ia pun tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Hong San, ia merasa bahwa segala tingkah laku pemuda itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Ia lupa bahwa datang dan bergerak di samping Hong San sehingga pihak tuan rumah menganggapnya sebagai sekutu atau kawan baik pemuda itu. Giok Cu diam dan ingin menyaksikan bagaimana perkembangan selanjutnya setelah Hong San ditantang mengadu ilmu oleh Kim-kauw pang Pouw In Tiong. Ia pun ingin melihat bagaimana lihainya Hong San dan bagaimana wakil ketua para pemberontak akan mempertahankan kehormatan dirinya sebagai seorang tokoh yang dipilih sebagai wakil ketua, la tidak akan mencampuri urusan mereka.
Ditantang oleh wakil ketua itu, Hong San tersenyum. Memang inilah yang kehendakinya. Begitu tadi mendapat keterangan akan kekayaan yang dimiliki gerombolan pemberontak ini, hatinya sudah merasa amat tertarik, apalagi terdapat kemungkinan kemenangan besar dimana para pemimpin mendapat kesempatan untuk merebut tahta kerajaan. Betapa muluknya! Inilah yang dicarinya kekayaan besar dan kedudukan tinggi, dua hal yang dahulu juga dikejar- kejar mendiang ayahnya. Dia tahu bahwa ayahnya tidak pernah berhasil karena ayahnya mencarinya melalui jalan yang biasa dilalui golongan sesat. Dia sendiri harus mengubah siasat itu. Dia tidak ingin sekedar menjadi pimpinan golongan hitam yang selalu dimusuhi pemerintah. Kalau saja dia mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan! Maka, melihat kemungkinan, betapapun kecilnya bsgi gerakan ini untuk merampas kedudukan dan kelak menjadi pemimpin- pemimpin yang menguasai pemerintahan, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sikap tenang sekali, senyum tak pernah meninggalkan bibirnya, bangkit dan menoleh ke arah Giok Cu, seolah hendak minta persetujuannya atau hendak melihat bagaimana sikap gadis yang amat menarik hatinya itu. Akan tetapi, Giok Cu bersikap acuh saja, maka dia pun lalu melangkah dan menghsmpiri orang yang menantangnya.
Hong San melihat betapa banyak anak buah gerombolan pemberontak itu, juga orang-orang Hui yang puluhan orang banyaknya berada di luar, demikian ia pula Yalami Cin kepala suku Hui yang hadir di situ, kini menaruh perhatian. Mereka menonton dengan sikap tegang dan tertarik. Dia pun tersenyum, Inilah kesempatan baik baginya untuk memperlihatkan kepandaian dan menciptakan kesan yang baik, kalau dia ingin berhasil mendapatkan kedudukan seperti yang dikehendakinya.
"Paman Pouw In Tiong, sama sekali aku bukan sombong atau berlagak. Aku berbicara sejujurnya saja karena aku merasa kagum kepada semua saudara, yang telah berani melawan pemerintah yang menindas rakyat. Justeru karena aku kagum dan suka, maka aku ingin melihat pasukan pejuang yang kokoh kuat, dipimpin oleh orang-orang yang tepat, bukan oleh orang-orang tua yang sepantasnya hanya menjadi penasehat dibelakang saja. Kalau Paman masih penasaran dan hendak membuktikan kebenaran omonganku, silakan!" berkata demikian Hong San sudah mengeluarkan pedang dan sulingnya. Dengan lagak seorang pendekar yang gagah perkasa, dia pun memasang kuda-kuda, menyilangkan pedang dan suling di depan dada, tersenyum dan nampak tenang dan memandang rendah sekali.
Makin panas rasa hati Pouw In Tiong. adalah seorang pendekar yang terkenal kelihaiannya, nama julukannya sudah dikenal di dunia persilatan, terutama di sepanjang lembah Huang-ho sebelah selatan. Jarang ada ahli silat yang akan mampu menandingi tongkatnya yang berlapis emas itu. Selama bertahun-tahun ini, hanya Kim-bwe-eng Gan Lok saja yang mampu menandingi dan mengalahkannya ketika kelompok pejuang itu mengadakan pemilihan ketua. Akhirnya, Gan Lok yang terpandai dipilih menjadi ketua dan dia menjadi orang nomor dua, di samping masih ada belasan orang pembantu yang kesemuanya tidak ada yang dapat mengungguli ilmu kcpandainnya. Dia dihormati oleh ratusan orang anak buah persekutuan mereka, bahkan dihormati Yalami Cin, ke suku Hui yang mempunyai anak buah ribuan orang. Dan sekarang, seorang pemuda ingusan yang memiliki sedikit ilmu silat saja berani menghina dan menantangnya, mengatakan bahwa dia Gan Lok tidak tepat menjadi pemimpin para pejuang!
"Bocah she Can! Kalian datang sama Nona ini sebagai tamu dan kami hormati. Akan tetapi sekarang engkau menantang kami. Aku peringatkan bahwa kalau aku sudah menggerakkan Kim-kauw pang ini untuk menyerang orang andai kata orang itu tidak mati pun, sedikitnya tentu akan patah tulang dan terluka. Aku tidak ingin dikatakan sebagai orang yang mencelakai tamunya!"
Mendengar ucapan wakil ketua dari persekutuan pejuang itu, Giok Cu merasa tidak enak juga. Maka cepat ia berka "Hendaknya semua orang mengetahui bahwa kedatanganku bersama Saudara Can hanya kebetulan saja. Di antara kami tidak ada hubungan persahabat kami pun merupakan orang- orang yang baru saja bertemu dan berkenalan, oleh karena itu, apa yang dia lakukan bukanlah tanggung jawabku. Harap aku tidak di ikut-ikutkan!" lalu cepat ia menambahkan, "Aku pun bukan seorang tamu yang suka menghina tuan rumah yang telah Menerimaku dengan baik. Pernyataanku ini sejujurnya, bukan berarti aku takut menghadapi apa dan siapa pun."
Wajah Hong San menjadi agak kemerahan mendengar ucapan gadis itu. Akan tetapi, karena memang kenyataannya demikian, dia pun hanya tersenyum, lalu berkata halus, "Nona Bu memang tidak ada sangkutannya dengan keinginanku menguji kepandaian para pimpinan pejuang. Paman Pouw, jangan khawatir, tidak akan ada yang menuduhmu tuan rumah yang mencelakai tamunya, karena tongkatmu itu sama sekali tidak akan mampu melukai aku, apalagi Menjatuhkan aku. Majulah dan buktikan sendiri!"
Biarpun ucapan ini nadanya halus, namun tetap saja masih mengandung ejekan yang memandang rendah. "Bagus, Can Hong San, lihat tongkatku!" bentak Pouw In Tiong yang memang wataknya angkuh dan keras. Tongkat yang diputar- putar seperti payung itu kini menjadi sinar bergulung-gulung dan tiba-tiba mencuat ke arah Hong San dengan kecepatan kilat dan terdengar suara mengaung tanda bahwa tongkat itu memang berat dan berbahaya sekali.
Biarpun sikapnya memandang rendah kepada lawan, namun Hong San yang cerdik sekali itu sama sekali tidak memandang rendah, bahkan dia bersikap hati-hati dan tenang. Sikapnya memandang rendah tadi hanya merupakan pancingan agar dapat memperoleh jalan memperlihatkan kepandaiannya dan menundukkan para pimpinan persekutuan itu.
"Tranggggg. !" Bunga api berpijar ketika ujung tongkat
bertemu pedang. Dalam pertempuran tenaga ini, Hong San sengaja hendak mengukur sampai dimana kekuatan lawan, maka dia hanya mengerahkan tiga perempat tenaganya saja. Dan akibat benturan tenaga melalui senjata mereka, keduanya terhuyung kebelakang. Melihat kenyataan ini, Pouw In Tiong terkejut sekali. Dia telah menyerahkan semua tenaganya, namun ketika pemuda itu menangkis, dia sampai terhuyung dan telapak tangannya terasa panas. Walupun pemuda itu juga terhuyung, namun hal ini sudah membuktikan bahwa pemuda itu memang memiliki tenaga yang sama kuatnya dengan dia. dilain pihak, Hong San tersenyum dan merasa girang. Dia tahu bahwa tenaganya lebih kuat. Kembali Pouw In Tiong menyerang, sekali ini menggerakkan tongkatnya dengan cepat dan dia memainkan ilmu tongkat Kim-kauw-pang-hoat yang kabarnya merupakan ilmu tongkat yang hebat, warisan dari ilmu tongkat yang dimainkan oleh Sun Go Kong Si Raja Monyet! Di dalam cerita dongeng See-yu terdapat seorang tokoh monyet dewa bernama Go Kong yang amat sakti. Sun Go Kong ini memiliiki tongkat emas yang disebut Kim-kauw-pang. Benar atau tidak ilmu tongkat yang dimainkan Pouw In long itu warisan dari Sun Go Kong, tidak ada yang tahu karena Sun Go Kong pun hanya merupakan seorang tokoh dalam dongeng saja, dongeng tentang perjalanan seorang pendeta Buddha melakukan perjalanan dari Tiongkok ke India dan di sepanjang perjalanan bertemu dengan siluman-siluman yang mengganggunya. Dongeng tentang konflik antara kebaikan dan kejahatan, tentang setan-setan dan dewa-dewa.
Namun, diam-diam Hong San harus mengakui bahwa memang tongkat ditangan Si Gendut Pendek itu berbahaya sekali. Ilmu tongkat yang dimainkann amat tangguh, mempunyai gerakan yang kuat dan cepat. Bagaimanapun juga, karena tingkat kepandaiannya lebih tinggi dengan mudahnya dia mampu menghindarkan semua serangan tongkat, bahkan melakukan pembalasan dengan pedang diseling oleh totokan-totokan suling di tangan kiri.
Yang merasa terkejut sekali adalah Kim-kauw-pang Pouw In Tiong. Setelah bertanding selama dua puluh lima jurus belum juga dia mampu mengalahkan lawannya. Apalagi kini dia merasakan betapa setiap kali tongkatnya bertemu pedang, tangannya tergetar semakin keras beberapa kali hampir saja ujung sulingberhasil menotok jalan darahnya sehingga dia terpaksa melempar tubuh kebelakang untuk menyelamatkan diri. Nafasnya sudah mulai memburu. Maklum, usianya yang sudah enam puluh empat tahun itu tentu saja tidak dapat disamakan dengan daya tahannya dua tiga puluh thun yang lampau. Sedangkan lawannya Ialah seorang yang masih muda belia, maka jelaslah kalau mengandalkan daya tahan dan pernapasan, dia akan kalah!
"Singggggg ......... brettt. !" Kim-kauw-Pang Pouw In
Tiong terkejut bukan main dan dia terhuyung. Ujung bajunya terpotong oleh sambaran pedang! Dalam keadaan terhuyung, dia masih dapat mengerakkan tongkatnya menyerang dengan sambaran ke arah kepala lawan, serangan yang juga dimaksudkan agar lawan tidak dapat mendesak dia yang sedang terhuyung. Akan tetapi, Hong San sudah menyelipkan suling di ikat pinggangnya dan dengan tangan kirinya, dia menyambut tongkat yang gerakannya tidak begitu kuat lagi. Dia berhasil menarik menangkap ujung tongkat, ditariknya dengan pengerahan tenaga sehingga pemilik tongkat itu ikut tertarik. Kalau Hong San menghendaki, dalam keadaan seperti itu, sekali menggerakkan pedangnya tentu dia akan dapat merobohkan lawan bahkan membunuhnya seketika, tetapi dia terlalu cerdik untuk berbuat seceroboh itu. Pedangnya tidak digerakkan, akan tetapi kakinya yang bergerak menyambar ke depan dalam sebuah tendangan yang terarah.
"Desssss!!" Tubuh wakil ketua terlempar dan tongkatnya berpindah tangan.
Kim-kauw-pang Pouw In Tiong meringis dan merangkak, berusaha utuk bangun. Melihat ini, Kim-bwe-eng Lok menjadi marah sekali. Melihat wakilnya dirobohkan tamu, tanpa alasan dia merasa terhina dan dia pun sudah bangkit berdiri.
"Orang muda she Can, engkau sungguh keterlaluan. Karena tamu sudah melakukan pelanggaran, aku sebagai tuan rumah terpaksa harus memberi hajaran!" Dia sudah melolos senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang golok yang gagangnya dipasangi rantai besi yang panjangnya ada dua meter, rantai yang tadinya melilit pinggangnya. Juga dia memasang¬kan sabuk tempat penyimpanan belasan batang pisaunya. Ketua ini dijuluki Kim bwe-eng (Garuda Ekor Emas) karena dia pandai mempergunakan senjata rahasia pisau terbang yang bentuknya seperti 4 ekor burung dan berwarna merah. Pisau-pisau itu disimpan di sabuk dan dapat pergunakan setiap saat dan kabarnya, ketua ini memiliki kepandaian yang didisebut Pek-pouw-coan-yang (dalam jarak seratus kaki mengenai sasaran), bahkan ada yang bilang bahwa sambitan pisau terbang dari ketua ini tidak pernah tidak mengenai sasaran!