Kini semua orang yang tadi menyerang kereta, juga puluhan orang Hui yang datang membantu, memandang kepada Giok Cu dan Hong San. Tiga orang diantara mereka, yaitu seorang yang memimpin orang-orang Hui, dan dua orang yang memimpin penyerangan pertama, sudah melangkah maju menghampiri dua orang muda itu. Mereka memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata.
"Terima kasih atas bantuan Ji-wi yang gagah perkasa. Akan tetapi sayang sekali bahwa sergapan kita terhadap pembesar lalim penindas rakyat itu gagal karena Huang-ho Sin-liong melindunginya!" "Siapakah kalian dan mengapa kalian menyerang kereta pembesar Liu itu?" Giok Cu bertanya sambil memandang tajam kepada tiga orang itu.
Tiga orang itu saling pandang, lalu orang yang menjadi wakil pembicara tadi tersenyum. "Kami adalah orang-orang yang membenci para pembesar lalim dan agaknya tidak berbeda dengan Ji-wi yang juga memusuhi mereka. Kami mewakili rakyat yang menderita tekanan dan penindasan sehubungan dengan pengerahan rakyat yang dipaksa untuk bekerja membangun terusan! Kami dipaksa, kalau tidak dapat menyogok, maka pemuda-pemuda kami dipaksa bekerja, gadis-gadis kami dipaksa pula bekerja di dapr umum dan untuk menghibur para mandor. Kami ingin memberontak terhadap para pembesar lalim yang menindas rakyat! Dan para kawan yang baik ltu adalah orang-orang suku Hui yang juga membenci pemerintah karena banyak antara mereka yangmenderita karena tanah hak milik mereka disepanjang sungai dirampas."
Hong San tertawa mengejek. "Wah, kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak?"
"Kalian memang benar! Para pembesar lalim yang melaksanakan pengumpulan tenaga pekerja terusan, memang patut dibasmi!" tiba-tiba Giok Cu berkata dan hal ini diam-diam mengejutkan hati Hong San. Kiranya gadis perkasa ini pun setuju dengan para pemberontak itu! Dia sendiri sebetulnya tidak perduli akan pemberontakan terhadap pemerintah. Dia hanya akan bertindak demi keuntungan diri sendiri. Dan apa untungnya menentang pemerintah? Akan tetapi karena dia melihat betapa gadis itu membenarkan mereka yang menentang pemerintah, dia pun pura-pura setuju.
"Memang, para pembesar itu menjemukan sekali, korup dan tukang menerima sogokan, mereka menindas rakyat untuk menggendutkan perut sendiri!"mengangguk-angguk, walaupun dalam hatinya berbisik bahwa apa salahnya dengan perbuatan seperti itu? Semua orang di dunia ini mencari kesenangan bagi diri sendiri!
Mendengar ucapan dua orang muda yang tadi mereka saksikan sendiri keIihaiannya, orang-orang yang menamai dirinya pejuang rakyat itu merasa gembira sekali. Mereka lalu mengundang Giok Cu dan Hong San untuk berkunjung ke tempat tinggal pimpinan mereka untuk berkenalan.
"Beng-cu (Pimpinan Rakyat) akan merasa gembira sekali kalau dapat bertemu dan berkenalan dengan Ji-wi yang gagah perkasa, yang tadi telah membantu kami."
Sebetulnya Hong San tidak tertarik akan tetapi karena Giok Cu ingin sekali tahu lebih banyak tentang orang-orang yang dianggapnya gagah perkasa dan berjiwa patriot, pembela rakyat tertidas itu, ia menerima undangan mereka dan dengan sendirinya Hong San menerimanya. Pemuda ini tidak ingin segera berpisah dari gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Maka, pergilah mereka berdua bersama tiga orang pimpinan itu, menyusup-nyusup ke dalam hutan dan akhirnya mereka tiba di dekat sebuah bangunan darurat yang berdiri di tengah- tengah hutan, di tempat yang amat liar dan tak pernah didatangi, orang dari luar.
Bangunan darurat itu terjaga kuat dan di belakang bangunan itu terdapat sebuah dataran luas dimana terdapat banyak sekali pria yang sedang berlatih silat. Kiranya tempat ini menjadi sarang para pemberontak yang menamakan diri mereka pejuang rakyat itu. Dan memang harus diakui bahwa banyak pula penduduk dusun, terutama mereka yang masih muda, yang melarikan diri karena tidak mau dijadikan pekerja paksa, di tampung oleh gerombolan ini dan menjadi anggauta "pejuang". Dipandang sepintas lalu, memang mereka pantas dinamakan pejuang yang hendak membela rakyat dari penindasan para pembesar yang menyalahgunakan perintah dari istana dalam hal pembuatan terusan itu. Giok Cu sendiri tertarik dan merasa kaget kepada mereka, maka ia mau diajak kesitu untuk bertemu dan berkenalan dengan orang yang menjadi beng-cu (pemimpin rakyat), yaitu yang memimpin gerakan membela rakyat tertindas itu.
Di dekat bangunan besar terdapat pula banyak pondok yang didirikan oleh para anggauta pemberontak, bahkan terdapat pula banyak wanita dan kakan-kanak, yaitu keluarga dari mereka yang terpaksa melarikan diri, yang dikejar-kejar petugas untuk menjadi pekerja paksa. Melihat ini, Giok Cu merasa makin suka kepada mereka. Ia teringat akan keadaan dirinya sendiri. Orang tuanya juga terpaksa melarikan diri dusun mereka. Mendiang ayahnya, Hok Gi, adalah seorang pejabat lurah Kiong-cung, di tepi Huang-ho. Karena ayahnya itu dipaksa oleh pembesar atasan untuk mengumpulkan semua pemuda dusun itu agar menjadi pekerja paksa, ayahnya merasa tidak sanggup dan diam-diam melarikan diri karena dia tahu akan kegagalan atau ketidaksanggupan itu tentu akan berakibat hukuman berat baginya. Dalam pelarian ini, ayahnya dan ibunya tewas oleh. Liu Bhok Ki! Sampai
sekarang, ia belum berhasil menemukan Liu Bhok Ki yang membunuh ayah dan ibunya! Karena persamaan nasib itulah maka diam-diam Giok Cu merasa suka kepada para pemberontak ini.
Mereka memasuki rumah dan setelah tiga orang pimpinan para penyerang kereta Liu Tai-jin tadi melaporkan ke dalam, Giok Cu dan Hong San dipersilakan masuk ke dalam ruangan belakang, sebuah ruangan yang luas dan di situ ketulan sedang diadakan pertemuan tara para pimpinan pejuang dan berapa orang suku bangsa Hui. Di atas meja panjang sederhana terdapat hidangan sederhana dan arak, dan ada sembilan orang duduk mengepung meja panjang, saling berhadapan dan suasananya cukup gembira dan bersemangat.
Ketika dua orang muda itu memasuki ruangan, sembilan orang yang sudah menerima laporan itu segera bangkit berdiri dengan sikap hormat. Seorang diantara mereka, seorang laki- laki yang usianya kurang lebih enam puluh empat tahun, segera berkata dengan suara nyaring.
"Selamat datang, dua orang Saudara Muda yang lihai. Kami girang sekali mendengar bahwa Ji-wi (Anda Berdua) telah membantu anak buah kami. Silakan Ji-wi mengambil tempat duduk!"
Giok Cu dan Hong San mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu mereka mengambil tempat duduk yang masih kosong, menghadapi kakek yang bicara tadi. Setelah mereka duduk, sembilan orang itu pun duduk dan kakek tinggi kurus yang wajahnya menyeramkan itu segera menuangkan arak kedalam dua cawan bersih dan memberikannya kepada dua orang tamu muda itu. "Saudara sekalian, mari kita memgucapkan selamat datang kepada orang pendekar muda ini! Ji-wi, silakan minum dan menerima ucapan selamat datang dari kami!" Berkata demikian, dia berdiri mengangkat cawan arak, diturut oleh delapan orang lain dan terpaksa Liok Cu dan Hong San juga mengangkat cawan arak mereka dan meminumnya.
Giok Cu dan Hong San juga mem¬perkenalkan diri dan Kim-bwe-eng Gan Lok berkata sambil tersenyum. "Kunjung Ji- wi sungguh menambah kegembiraan kami. Kami mendengar bahwa Ji-wi memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan