Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 91

Memuat...

Akan tetapi pembesar itu sendiri agaknya tergesa-gesa, mendorong para pengawal yang membantunya setelah dia berada di bawah kereta, kemudian dia sendiri menyingkap tirai kereta sambil membungkuk hormat dan berkata dengan suara merendah, "Silakan, Tai-jin, silakan turun dari kereta. Mari, pergunakan kedua tangan saya untuk berpijak." Cang Tai-jin sudah merangkap kedua tangan agar menjadi tempat berpijak bagi orang yang hendak turun, karena dari kereta ke atas tanah memang agak tinggi sehingga tanpa pijakan perantara, akan menyulitkan bagi seorang pembesar yang mengenakan pakaian kebesaran.

Sebuah kepala menguak keluar dari tirai dan nampaklah tubuh seorang pria berusia lima puluh lima tahun yang kurus tinggi, wajahnya dingin berwibawa. Melihat sikap Cang Tai-jin yang menjadi tuan rumahnya, pembesar tinggi kurus itu menggeleng kepalanya.

"Harap Cang Tai-jin jangan repot-repot, biar pengawalku saja yang mermbantuku turun." Dia lalu memberi isyarat kepada seorang pengawal yang bersama dua belas orang anak buahnya mengawal di belakang kereta itu. Komandan pengawal itu cepat berlari menghampiri dan dia membantu pembesar tinggi kurus itu turun dari kereta.

Sambil membungkuk-bungkuk penuh hormat, dengan mulut menyeringai, kini pembesar setempat yang menjadi tua rumah itu mempersilakan tamunya untuk memasuki rumah makan. Tamunya itu disebut Liu Tai-jin (Pembesar Liu) yan berpangkat lebih tinggi dan datang dari kota raja, melakukan tugasnya sebaga utusan jaksa Tinggi di kota raja untuk melakukan inspeksi dan penyelidikan terhadap para pejabat di daerah. Semua pejabat sudah mendengar bahwa Jaksa Tinggi mengutus seorang petugas melakukan penyelidikan di sepanjang Sungai Kuning, maka tentu saja setiap kali datangi sebuah kota, dia disambut nn dielu-elukan oleh para pejabat daerah. Apalagi tugasnya itu sungguh amat mendatangkan rasa takut dalam hati para pejabat.

Ketika dua orang pembesar ini memasuki ambang pintu, mereka disambut oleh pemilik rumah makan dan semua karyawannya. Yang disambut adalah Cang Tai-jin, karena mereka semua tentu saja ikut kepada kepala daerah ini. "Selamat datang, Cang Tai-jin yang dia. !" seru pemilik

rumah makan itu, diikuti oleh para karyawannya dan icreka semua berlutut, seperti menghadap seorang kaisar saja Melihat penyambutan ini, sejenak Cang Tai-jin tersenyum menyeringai dengan girang, akan tetapi segera dia tergopoh- gopoh berkata.

"Jangan memberi hormat kepadaku saja! Hayo cepat kalian sambut dengan penuh kehormatan kepada Liu Tai-jin dari kota raja ini!"

Melihat sikap pembesar setempat itu demikian hormatnya kepada tamunya, pemilik rumah makan dan para karyawannya terkejut, maklum bahwa tentu pembesar tinggi kurus yang disebut Liu Tai-jin itu lebih tinggi pangkatnya.

"Selamat datang, Liu Tai-jin yang mulia. !" Mereka

berseru dan kini mereka memberi hormat kepada Liu T-jin.

Pembesar tinggi kurus itu menggerakkan tangan kanannya dengan sikap tak sabar. "Sudahlah, kalian bangkitlah bekerja!" katanya. Pemilik rumah makan dan para karyawannya segera bangkit dan dua orang tamu agung itu persilakan duduk di tempat kehormatan. Sebuah kereta ke dua muncul dan turunlah sepuluh orang gadis cantik dengan pakaian warna- warni, mereka masuk diikuti oleh serombongan penabuh musik.

Segera tempat itu penuh dengan bau harum yang keluar dari pakaian para penari dan penyanyi itu, dan tak lama kemudian, setelah semua pemain musik dan gadis penghibur itu memberi hormat kepada dua orang pejabat tinggi, terdengar suara musik mengiringi nyanyian dan tarian para gadis itu.

Pesta pun dimulai, hidangan lezat yang masih mengepul panas dikeluarkan dan dua orang pembesar itu mulai makan minum sambil menoton tarian lemah gemulai dan nyanyian yang merdu merayu. Suasana menjadi gembira sekali. Para pasukan pengawal menjaga tempat itu dengan ketat, bahkan orang-orang yang menonton di luar rumah makan, diusir pergi. Tamu-tamu baru hanya diperkenankan masuk melalui pintu samping yang langsung menuju ke ruangan samping di mana Giok Cu dan Hong San masih duduk. Mereka sudah selesai makan, akan tetapi memperpanjang waktu duduk mereka dengan memesan tambahan minuman dan makanan kecil. Sejak tadi, kedua orang muda ini nonton pertunjukan yang mereka anggap amat menarik itu. Para penyanyi dan penarinya, selain cantik-cantik, juga pandai. Mereka adalah gadis-gadis penghibur yang paling terkenal, didatangkan Cang Tai-jin dari lain kota dengan bayaran mahal.

Tiba-tiba pemuda bercaping lebar tertawa lirih sehingga Giok Cu menengok dan memandang kepadanya. Pemuda itu sedang memandang ke arah dua orang pembesar, dan seolah-olah dia tahu bahwa suara tawanya itu menarik perhatian Giok Cu, karena dia segera berkata "Nona Bu, lihat, bukankah pembesar gendut itu sungguh merupakan seorang penjilat besar? Orang sekitarnya bersikap hormat dan menjilat kepadanya, dan lihai sikapnya ketika menemani dan melayani pejabat tinggi kurus itu. Menjilat-jilat yang berlebihan sekali!" Kembali Ho San tertawa lirih dan melanjutkan. "Dia seperti seekor babi gemuk yang mendengus-dengus, ha-ha!"

Giok Cu juga tersenyum geli. Mereka berani bicara lirih karena kegaduhan dan nyanyian itu membuat mereka dapat leluasa bicara tanpa khawatir terdengar dua orang pembesar itu.

"Hemmm, orang yang suka menjilat ke atas biasanya suka pula menginjak ke bawah. Contoh seorang pembesar yan korup dan sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya!" Giok Cu berkata dengan sikap muak membayangkan sikap sebagian besar pembesar yang wataknya seperti itu.

"Aku ingin sekali melihat mereka semua itu telanjang!" Hong San kembali tertawa. Giok Cu memandang kepadanya dengan alis berkerut. "Telanjang? Apa maksudmu?" la curiga kalau-kalau pemuda yang mendatangkan rasa kagum dalam hatinya itu ternyata hanya seorang pemuda hidung belang dan kata-katanya tadi dimaksudkan untuk melihat para gadis penghibur itu telanjang!

"Ya, bertelanjang bulat! Ha-ha, tentu lucu sekali melihat pembesar itu telanjang bersama pengawalnya dan para karyawan rumah makan. Mereka hanya merupakan sekumpulan orang telanjang, seperti babi-babi yang tidak ada perbedaannya, hanya gemuk dan kurus tentu saja, akan tetapi tak seorang pun tahu mana pembesarnya, mana pengawal dan mana pula pelayan rumah makan! Aku berani bertaruh, tak seorang pun yang akan tahu perbedaannya!"

Giok Cu tertawa. Kiranya itu yang dimaksudkan pemuda yang gembira itu "Aku tahu perbedaan antara mereka kalau mereka ditelanjangi!" Hong San menghentikan tawanya tiba-tiba saja dan mukanya berubah aneh seperti orang marah. "Eh? Engkau tahu perbedaannya?" tanyanya, dan matanya penuh rasa penasaran, Giok Cu tidak melihat perubahan ini dan ia pun menjawab sambil tersenyum.

"Si Pejabat akan memaki-maki dan mengancam yang menelanjangi, pengawalnya akan mencak-mencak dan mengamuk, sedangkan karyawan itu hanya akan menangis dan minta ampun."

Berubah pula pandang mata Hong San dan kini dia tertawa bergelak sehingga Giok Cu menoleh ke ruangan tengah, khawatir kalau suara ketawa itu akan mengganggu pesta pembesar.

"Ha-ha-ha, engkau benar, Nona Bu, Akan tetapi itu pun karena mereka masih mengenakan pakaian ke dua, yaitu! kedudukan dan pangkat. Coba kalau pada suatu hari pembesar itu dipecat dan seorang karyawan diangkat menggantikan pangkatnya, tentu keadaannya menjadi terbalik pula. Ha-ha-ha!"

Giok Cu tertawa pula dan mengangguk. la teringat akan wejangan yang pernah di dengarnya dari gurunya yang ke dua, yaitu Hek-bin Hwesio. Pendekar Sakti itu pernah bicara tentang penghormatan yang dilakukan orang pada umumnya dengan menceritakan sebuah peristiwa. Seorang pemuda meninggalkan kampungnya sampai bertahun-tahun dan dia berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Pada suatu hari, dia pulang ke kampungnya dan sengaja mengenakan pakaian biasa, pakaian petani sederhana eperti ketika dia berangkat dan dikunjungilah seorang sahabatnya. Sahabat ini menerimanya dengan acuh, bahkan sikapnya menghina seolah kedatangannya itu hanya mengganggu saja, dan ada kecurigaan kalau-kalau dia datang untuk berhutang! Sikap sahabatnya ini membuat dia penasaran dan dia pun pergi. Beberapa hari kemudian dia datang kembali, sekarang mengenakan pakaian indah dan serba mahal, serba baru. Seketika sikap sahabatnya itu berubah. Dia diterima dengan ramah,dipersilakan duduk dan dijamu hidangan yang enak! Pemuda itu lalu menanggalkan baju dan sepatunya, menggantungkan baju di kursi, menaruh sepatu di meja dan dia pun dengan sikap hormat mempersilakan baju dan sepatu itu untuk makan minum. Sahabatnya menegur sikapnya yang aneh ini dan dia menjawab, "Bukankah yang kauhormat itu pakaian dan sepatuku? Bukan diriku yang kausuguh hidangan, melainkan pa kaian dan sepatuku inilah!"

Demikianlah cerita gurunya itu dan ia pun mengerti. Penghormatan yang kita lakukan ini, yang disebut kebiasaan umum, sesungguhnya hanyalah merupakan pemujaan terhadap benda, kekuasaan kedudukan mulia, kecantikan, kepandaian dan sebagainya. Bukan manusianya yang dihormati, melainkan yang melekat pada si manusia pada saat itu. Seorang pembesar dihormat sampai berlebihan karena kedudukannya yang tinggi, kekuasaannya yang besar, karena si penghormat ini memiliki pamrih, karena si penghormat ini dikuasai oleh daya rendah dan nafsu. Namun, begitu si pembesar kehilangan kedudukan dan kekuasaannya, maka penghormatan itu pun akan lenyap dengan sendirinya!

Karena itu, bagi seorang bijaksana, tidak akan silau oleh segala kelebihan lahiriah itu, tidak akan menjilat dan memuja orang yang kebetulan memiliki kelebihan lahiriah. Juga dia tidak akan mabuk oleh kelebihan lahiriah kalau kebetulan dia yang memiliki, karena semua itu hanya sementara saja, tidak abadi. Kasih sayang antar manusia bukan kasih sayang yang terdorong oleh kelebihan lahiriah, melainkan kasih sayang antara manusia itu sendiri. Jauh lebih baik miskin lahiriah namun kaya batiniah daripada miskin batiniah kaya lahiriah, walaupun tentu saja sebaiknya adalah kaya akan kedua- duanya. Dalam arti kata, secara lahiriah, dia memiliki kedudukan yang baik dan kehidupan yang serba cukup, juga secara batiniah dia memiliki kasih sayang terhadap semua manusia, berbudi baik dan selalu mentaati petunjuk Tuhan. Segala yang nampak gemerlapan, seperti kepandaian, kecantikan, kekayaan atau kedudukan, semua itu dapat lenyap. Pemujaan terhadap semua itu hanya menunjukkan ketamakan karena dorongan nafsu. Pemujaan dari orang lain, terhadap diri kita yang sedang ada kelebihan lahiriah adalah palsu. Pemujaan dan penjilatan itu sewaktuk-waktu dapat berubah menjadi kebencian. Oleh karena itu, siapa berpegang kepada kelebihan lahiriah untuk mendapatkan kebahagiaan, takkan pernah berhasil. Yang didapatkan melalui nafsu hanyalah kesenangan, dan kesenangan adalah saudara kembar kesusahan yang setiap waktu akan menggantikan kedudukan saudara kembarnya.

Manusia itu sama, dalam arti kata sama-sama sempurna sebagai ciptaan Tuhan, sama-sama menerima berkah berlimpah dari Yang Maha Kasih. Yang berbeda itu hanyalah pakaian, termasuk kebudayaan, tradisi, agama, pangkat kedudukan, harta, kulit dan sebagainya. kalau kulit pembungkus tubuh dan daging sudah rusak habis oleh kematian, apa yang tinggal? Kerangka dan tengkorak. Sama pula, tidak ada lagi yang cantik atau yang buruk, yang kaya atau yang miskin. Yang tinggal berbeda mungkin hanya bentuk nisan kuburannya!

Giok Cu semakin tertarik kepada pemuda yang selain tampan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, ternyata juga halus tutur sapanya dan luas pula pandangannya itu. Sebaliknya, Hong San kini sudah tergila-gila benar kepada Giok Cu. Belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis seperti Giok Cu. Biarpun dia hanya mencuri-curi pandang, dia sudah melihat jelas betapa gadis itu lincah jenaka, gembira dan penuh gairah hidup, wajahnya demikian cantik jelita dan manis, dengan dandanan yang rapi dan pantas walaupun tidak terlalu pesolek. Memang sejak menjadi murid Hek-bin Hwesio, Giok Cu tidak begitu pesolek lagi seperti ketika ia masih menjadi murid Ban tok Mo-li. Kini pakaian dan dandanan rambutnya rapi dan segalanya nampak bersih, namun cukup sederhana, tidak mewah. oooOOooo

Tiba-tiba Hong San memberi isyarat kepada Giok Cu untuk mendengarkan. Mereka berdua mengerahkan tenaga kearah pendengaran mereka yang menjadi peka sekali sehingga mereka dapat mendengarkan percakapan antara kedua orang pembesar itu.

Post a Comment