Tiga orang Kim-bwe Sam-houw sudah bangkit berdiri dan berjajar menghadapi pemuda bercaping yang masih duduk dengan tenangnya, biarnya terkesan mengejek dan matanya yang jenaka memandang kepada tiga orang yang marah- marah itu.
"Keparat! Bangkitlah dan lawanlah kami kalau engkau memang laki-laki tantang seorang di antara Kim-bwe Sam- houw. Tiba-tiba, pemilik rumah makan itu datang berlari-lari, lalu sambil membungkuk-bungkuk kepada Kim-bwe Sam- houw, dia berkata, suaranya jelas membayangkan ketakutan.
"Mohon dengan hormat agar Sam-wi (Tuan Bertiga) menghentikan keributan ini."
Baru saja pemilik rumah makan bicara sampai di situ, orang termuda dari Kim-bwe Sam-houw yang tadi terkena lemparan kacang tepat pada hidungnya membentak, "Tutup mulutmu! Apak engkau ingin pula merasakan kerasnya cambukku?" Orang itu bertubuh tinggi kurus seperti pohon bambu, dan hidungnya besar maka mudah menjadi sasaran lemparan kacang tadi.
Akan tetapi pemilik rumah makan itu tidak mau pergi, melainkan memberi hormat dan berkali-kali mengangkat kedua tangan ke depan dada dan mengangguk-angguk. "Harap Eng-hiong (Orang gagah) tidak marah dan dengarkan dulu keterangan saya. Ruangan ini akan dilukai oleh rombongan Cang Tai-jin, pesanan mendadak dan itu rombongannya sudah hampir tiba di sini. Silakan Cu-wi (Anda Sekalian) pindah ke ruangan samping dan harap jangan membuat keributan." Mendengar bahwa ruangan itu akan dipergunakan rombongan Cang Tai-jin, sikap tiga orang jagoan itu berubah. Mereka adalah tiga orang yang menjadi kaki tangan atau pembantu utama dari pembesar itu, walaupun hanya sebagai orang-orang sewaan apabila diperlukan, bukan pegawai resmi. Maka, tentu saja mereka tidak berani membantah lagi dan biarpun mereka bertiga melotot ke arah pemuda yang masih mengenakan caping merahnya itu, namun mereka tidak berani lagi membuat ribut, bahkan mereka ikut pula menyambut ke luar rumah makan karena rombongan itu sudah datang didahului oleh pasukan pengawal.
Pemuda bercaping merah itu hanya mengangguk ketika pelayan menghampirinya dan minta dengan hormat agar di suka pindah duduk di ruangan samping "Biarlah kami yang akan memindahkan hidanganmu, Kongcu (Tuan Muda)," kata para pelayan. Juga beberapa orang pelayan menghampiri Giok Cu dan menawarkan hal yang sama. Melihat pemuda itu mengangguk, Giok Cu yang masih ingin tahu kelanjutan dari pertengkaran tadi, juga karena memang ia belum selesai makan, mengangguk. Hatinya memang mendongkol terhadap gangguan itu karena baginya tidak pada tempatnya kalau para tamu rumah makan umum harus mengalah terhadap pembesar yan manapun juga. Akari tetapi, ia tidak dapat menyalahkan pemilik rumah makan yang tentu saja takut dan tunduk terhadap pejabat setempat yang berkuasa penuh. Kebetulan sekali, tanpa disengaja karena mereka berada dalam keadaan panik dan tegang sehubungan dengan peristiwa keributan tadi yang disusul Kunjungan rombongan Cang Tai-jin yang tiba-tiba, para pelayan itu memindahkan hidangan Giok Cu diatas sebuah meja yang bersebelahan dengan meja pemuda bercaping merah itu. Dan agaknya tanpa disengaja, mereka duduk saling berhadapan, terhalang kedua buah meja.
Ketika Giok Cu mengangkat muka memandang, ia bertemu pandang dengan sepasang mata yang amat tajam mencorong dan bagian hitam mata itu amat hitam sehingga menambah ketajaman pandang mata itu. Sejenak saja mereka saling pandang, sinar mata mereka bertaut, kemudian pemuda bercaping merah itu tersenyum dan bangkit berdiri sambil mengangkat tangan ke depan dada dan menjura.
"Aku mohon maaf, Nona, bukan maksudku hendak bersikap kurang ajar karena berani menyapamu, akan tetapi agaknya memang nasib telah mempertemuan kita dengan peristiwa tadi. Aku Can Hong San merasa berbahagia sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan Nona yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.”
Kalau saja kata-kata dan sikap pemuda bercaping merah itu menunjuk kekurangajaran, sudah pasti Giok Cu tidak akan sudi melayaninya. Akan tetapi, pemuda bernama Can Hong San itu bersikap amat sopan, bicaranya halus kata-katanya indah menunjukkan bahwa dia terpelajar, maka iapun merasa senang dan tidak enak kalau tidak melayani. Giok Cu bangkit berdiri pula dan membalas penghormatan orang.
"Terima kasih, Saudara Can Ho San. Engkau terlalu memuji. Namaku Giok Cu dan aku pun girang dapat berkenalan dengan engkau."
Sepasang mata yang hitam tajam itu berkilat tanda bahwa dia bergembir asekali. Hong San mengisi cawannya dengan arak, kemudian mengangkat cawan Itu sambil memandang kepada Giok Cu.
"Nona Bu Giok Cu, maukah engkau menghabiskan secawan arak bersarnak untuk menghormati perkenalan kita ini?"
Giok Cu tersenyum. Ia pun mengisi cawannya dengan anggur dan mereka berdua mengangkat cawan masing- masing sambil tersenyum dan minum isinya sampai habis. Setelah menurunkan kembali cawan kosong di atas meja, Hong San mengangguk hormat.
"Terima kasih, Nona Bu. Engkau sungguh berbudi dan ramah sekali, di samping gagah perkasa."
Giok Cu tersenyum, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkan wajah girang mendengar pujian itu. "Harap jangan terlalu memuji!"
Pada saat itu, terdengar canang dipukul dan nampaklah serombongan pasukan pengawal memasuki pintu depan rumah makan dan mereka berdiri berbaris disepanjang pintu masuk. Kepala pasukan pengawal masuk dan berseru kepada pemilik rumah makan yang menyambut tergopoh-gopoh.
"Apakah tempat pesta untuk Cang Tai-jin sudah dipersiapkan?"
"Sudah............ sudah ruangan ini telah
dikosongkan dan dibersihkan."
Komandan itu lalu memeriksa dengan pandang matanya yang tajam. Dia mengerutkan alisnya melihat seorang pemuda dan seorang gadis makan ruangan samping yang terhalang tembok pendek. Melihat ini, pemilik rumah makan segera menghampirinya.
"Mereka itu tamu-tamu dari luar kota yang sedang makan. Akan tetapi sudah saya minta pindah ke ruangan samping yang tidak terpakai. Ruangan ini saya kira sudah cukup luas untuk rombongan Cang Tai-jin."
Karena pemuda dan gadis itu tidak mendatangkan kesan berbahaya, komandan itu mengangguk, lalu keluar lagi. Tak lama kemudian, terdengar bunyi kaki kuda dan roda kereta, dan sebuah kereta besar berhenti di depan rumah makan Ho- tin yang terkenal memiliki hidangan! lezat dan juga merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an. Seorang pria gendut berjenggot panjang turun dari kereta, dibantu oleh para pengawal. Usianya sekitar lima puluh tahun, dari pakaiannya mewah, pakaian seorang pembesar. Dia adalah Cang Tai-jin, kepala daerah kota Siong-an yang berkuasa di kota itu dan sekitarnya. Para pengawal Itu nampaknya amat hormat kepadanya ketika membantunya turun dari kereta, bahkan ada yang cepat berlutut membersihkan sepatu pembesar itu dari debu, menggunakan lengan bajunya!