engkau menderita luka dalam. Cepat bersila nona dan kumpulkan hawa murni melakukan pernapasan dan perlahan- lahan usir hawa dalam dada itu!"
Giok Cu terkejut sekali dan ia merasakan sesuatu kelainan pada ulu hatinya yang terasa semakin nyeri. Teringatlah ia akan nasehat Hek-bin Hwesio ketika mengajarkan latihan pernapasan lan penghimpunan hawa sakti secara bersih, ketika hwesio sakti itu menggemblengnya. Hek-bin Hwesio memperingatkan agar ia tidak mempergunakan ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari Ban-tok Mo-li, terutama ilmu yang mengandung hawa beracun hitam. "Ilmu itu membahayakan lawan, juga membahayakan dirimu sendiri, Giok Cu," demikian antara lain hwesio sakti itu berkata. "Kalau engkau mempergunakan ilmu itu dan bertemu dengan lawan tangguh yang memiliki sin-kang lebih kuat darimu, engkau dapat terluka oleh hawa beracun itu yang membalik."
Kini ia teringat akan nasehat itu, maka cepat ia pun menyarungkan pedangnya, dan duduk bersila sambil memejamkan mata. Kedua kaki bersila di atas paha, kedua jari manis bertemu dan duduknya seperti kedudukan Kwan Im Pouw-sat. Dengan cepat ia menghimpun tenaga murni dan membiarkan hawa murni berputar-putar di pusar, lalu perlahar lahan, dengan sin-kang, ia mendorong keluar hawa yang menyesak di ulu hati Perlahan-lahan, hawa itu didorong luar melalui mulutnya sedikit demi dikit.
Han Beng terpesona. Melihat gadis itu membuka mulut dia seolah-olah melihat hawa beracun itu keluar, seperti air memancar dan hal ini mengingatkan dia akan sesuatu. Matanya terbelalak dan tak pernah berkedip dia menganati wajah yang matanya terpejam itu, melihat hidung itu, mulut yang terbuka itu, kemudian perlahan-lahan dia menghampiri mengitari dan memperhatikan kulit tengkuk yang kebetulan nampak karena rambut gadis itu agak awut-awutan dan bagian tengkuk terbuka sehingga nampaklah kulit tengkuk yang putih mulus akan tetapi di tengah-tengah nampak sebuah titik hitam sekali. Sebuah tahi lalat hitam. Han Beng merasa betapa jantungnya berdebar tegang dan seperti orang kebingungan dia lari lagi ke depan disitu, kini dia berlutut agar dapat memandang dan mengamati wajah gadis itu lebih jelas lagi. Seperti sedang mimpi Han Beng mengamati wajah itu dan dia menjadi semakin yakin. Giok Cu membuka matanya dan hampir ia menjerit ketika melihat pemuda tinggi besar itu berlutut di depannya, dekat hanya dalam jarak satu meter dan pemuda itu sedang mengamati wajahnya seperti orang mengamati sebuah lukisan yang aneh!
"Heiiiii! Apa yang kaulakukan ini? Mengapa engkau memandangku seperti itu?" la membentak dan suaranya nyaring mengejutkan. Han Beng yang memang sedang termenung itu, sedang melayang kepada kenangan lama, terkejut sekali dan dengan gugup dia pun menjawab dengan kacau, menurutkan jalan pikirannya yang tadi mengenangkan peristiwa masa lalu.
"Aku. aku sudah memijat-mijat perutmu sampai kempis
kembali!" Han Beng kaget sendiri mendengar ucapannya itu, apalagi Giok Cu. Gadis ini terbelalak, mukanya berubah merah sekali, matanya mencorong dan ia pun meloncat berdiri dan menghunus pedangnya.
"Kau. kau berani kurang ajar padaku, ya? Kaukira aku
sudah kalah tadi dan kau boleh membuka mulut mengeluarkan kata-kata yang bukan-bukan untuk menghinaku?"
"Eh, maaf......... sabarlah. tenanglah sekali lagi maaf.
Aku teringat akan masa lampau.......... engkau. bukankah
engkau Giok Cu. Bu Giok Cu?"
Kini Giok Cu terbelalak memandang kepada pemuda itu, alisnya berkerut lalu ia menghardik. "Hemmm, engkau tentu sudah mendengar namaku disebut orang tadi, apa anehnya itu?"
"Tidak. , tidak, Giok Cu. Ah, lupakah engkau
kepadaku? Lupakah engkau ketika kita berdua di Sungai Huang-ho berkelahi melawan naga, eh, ular itu, ke mudian perut kita kembung oleh air dan aku memijat perutmu agar airnya keluar dari perut? Kau lupa kepadaku?"
Kini sepasang mata yang jeli dan bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang itu terbelalak, dengan penuh selidik mengamati wajah Han Beng dan terbayanglah peristiwa belasan tahun yang lalu itu. Terkenanglah ia akan peristiwa yang amat hebat itu, ketika nyawanya berada dalam cengkeraman maut yang mengerikan, berkelahi dengan ular di air Sungai Huang-ho, terancam pusaran air, dan dijadikan keroyokan banyak sekali tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Di tempat itu pula ayah dan ibunya tewas, setelah menderita luka parah pukulan Sin-tiauw Liu Bhok Ki seperti yang diceritakan gurunya yang pertama, yaitu Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu. Tentu saja ia ingat kepada anak laki-laki yang menjadi kawan sependeritaan dalam peristiwa itu, anak laki-laki yang memang sudah menjadi sahabatnya sebelum terjadinya peristiwa itu karena orang tua mereka sama-sama pengungsi yang melarikan diri dari kerja paksa dan sama-sama menggunakan perahu dan bertemu di Sungai Kuning!
"Kau............ aku Si Han Beng ?" Tanyanya, masih
gagap karena ragu-ragu.
Han Beng tertawa, bukan main gembira rasa hatinya karena pertanyaan gadis itu membuktikan bahwa memang benar dia berhadapan dengan Giok Cu!
"Benar, Giok Cu. Aku kawanmu senasib itu!"
"Han Beng. ! Benar engkau ini? Ah, engkau telah
menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, bahkan aku ........ aku sendiri kalah olehmu ”
"Ah, tidak, Giok Cu. Engkau tidak kalah, hanya engkau menderita luka.dalam, bukan karena pertandingan kita tadi. Dan engkau sendiri. wah, Giok Cu, sungguh tadinya
bagaimana mungkin aku dapat mengenalmu? Engkau sekarang, telah menjadi seorang gadis yang. amat cantik
jelita, dan memiliki ilmu kepandaian yang hebat pula! Eh, maafkan aku, Giok Cu, mungkin aku terlalu lancang dan harus menyebutmu nyonya ?"
Wajah Giok Cu berubah merah dan mulutnya cemberut, akan tetapi ia tidak marah. Bagaimana ia bisa marah kepada Han Beng, kawan baiknya ketika mereka masih kecil itu? Dahulu, setelah peristiwa hebat di Sungai Kuning yang membuat mereka saling berpisah, sering kali ia terkenang kepada kawan baiknya itu.
"Han Beng, jangan macam-macam! Aku belum menjadi nyonya, belum menikah."
Han Beng tertawa lepas dan gadis itu mengamati wajahnya. Masih seperti dulu tawanya, pikirnya, bebas dan membayangkan kejujuran.
"Kenapa engkau mentertawakan aku?" la bertanya, alisnya berkerut.
"Aku senang sekali, Giok Cu!"
"Senang? Aku belum menikah dan engkau senang?"
Kini kedua pipi Han Beng yang menjadi kemerahan, dan dia menjawab gagap, "Oh, tidak ! Aku senang bertemu
denganmu dan aku senang engkau masih galak seperti dulu!"
Giok Cu juga tertawa dan melihat gadis itu tertawa, jantung di dalam dada Han Beng berdebar keras. Alangkah manisnya Giok Cu! Ingin dia merangkul, ingin dia memondong, ingin dia membawa gadis itu menari-nari saking gembira, hatinya. "Dan engkau masih canggung seperti dulu. Berapa anakmu sekarang, Han Beng?"
"Anak?" Sepasang mata yang lebar itu terbelalak. "Aku tidak beranak!"
"Tentu saja, anak bodoh! Bukan engkau yang beranak, akan tetapi isterimu." Giok Cu sudah terseret dan hanyut dalam suasana dahulu sehingga, seperti dahulu, ia berani memaki Han Beng anak bodoh!
Han Beng tersenyum, girang agaknya mendengar makian sayang ini. "Isteri siapa? Aku belum beristeri."
Wajah yang cantik jelita itu berseri dengan cerahnya dan hal ini nampak nyata oleh Han Beng. "Wah, aku girang sekali mendengar engkau belum menikah, Han Beng!" kata Giok Cu dan giginya yang berderet putih rapi itu tersembul di balik sepasang bibirnya yang merekah.
"Kenapa, Giok Cu? Kenapa hatiku girang mendengar engkau belum menikah dan engkau pun gembira mendengar aku belum menikah?"
Mendengar pertanyaan ini, kembali wajah Giok Cu menjadi kemerahan.
"Ihhh, jangan menyangka yang bukan-bukan, engkau! Aku girang mendengar engkau belum menikah karena kalau sudah, isterimu tentu akan cemburu melihat kita bercakap- cakap!"
"Sungguh aneh, aku pun berpikir demikian!" "Kau hanya tiru-tiru saja!" Seperti dulu ketika mereka masih kecil, Han Beng yang selalu mengalah dan tersenyum menyudahi pertengkaran yang timbul. "Giok Cu, mari duduk yang enak dan kita saling menceritakan riwayat kita masing-masing semenjak kita saling berpisah di Sungai Huang-ho itu."
Mereka duduk berhadapan, di atas batu datar yang terdapat di tempat itu. Sejenak mereka saling pandang, penuh perhatian, penuh kegembiraan dan akhirnya Giok Cu menghela napas panjang. Mengenangkan masa lalu, ia teringat kepada ayah ibunya dan ia merasa berduka.
"Engkau berceritalah dulu," katanya.
"Nanti dulu, Giok Cu. Sebelum itu perlu aku merasa yakin benar bahwa lukamu di dalam tubuh itu tidak berbahaya. Kalau perlu, mari kubantu engkau menghalau luka itu agar sembuh sama sekali."
Giok Cu menggeleng kepala. "Tidak perlu, bukan luka oleh pukulan musuh melainkan karena salahku sendiri, dan nanti kuceritakan tentang itu."
"Apakah tidak sebaiknya kalau kita pulang ke rumahmu dan bicara saja sana? Aku ingin sekali bertemu dengan Ayah Ibumu. " Han Beng menghentikan bicaranya ketika
melihat betapa tiba-tiba gadis itu memandang kepadanya dengan wajah berubah pucat dan mata muram. "Kenapa Giok Cu. ?" tanyanya khawatir.